BAGIAN SATU (EPILOG)

1103 Words
Tubuh Sarah membatu setelah mendengar ucapan Elisabeth, perempuan ini benar-benar mirip dengan gambaran yang Tomi katakan pada Sarah saat mereka masih baru tinggal di markas ini. Air mata yang semulanya di kira Sarah sudah habis, keluar membanjiri wajahnya, tubuhnya terjatuh karena tidak mampu lagi menahan rasa sakit di hatinya. “Maafkan aku.” Gumamnya berkali-kali namun masih bisa terdengar oleh Elisabeth. “Tomi mati karena menyelamatkanku, aku--, seharusnya aku saja yang mati, maafkan aku yang telah merenggut satu-satunya keluarga mu yang tersisa.” Ucap Sarah dengan tubuh yang bergetar hebat. “Kalau aku menjadi Tomi, aku juga akan melakukan hal yang sama Sarah.” Ucap Elisabeth sambil memeluk tubuh Sarah di lantai, sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak ikut keluar dari matanya, di bandingkan dengannya, kesedihan yang di rasakan Sarah, pasti akan lebih menyakitkan. Kehilangan seseorang kekasih yang sangat di cintai, adalah salah satu hal yang paling menyakitkan di dunia ini. “Berdirilah Sarah. Tolong ceritakan semuanya pada ku.” Ucap Elisabeth. Kedua perempuan itu duduk di atas sebuah sofa berwarna cokelat, lagi-lagi James keluar dari ruang dimana Elisabeth dirawat, namun kali ini dia di usir bersama-sama dengan Frans. “Kenapa kau terlihat seperti orang bodoh tadi Frans?” Ucap James mengingat saat Frans tidak mampu melawan omelan Sarah. “Sarah dan Elisabeth memiliki sifat yang hampir-hampir mirip, kalau kau berlaku kasar padanya saat dia sedang marah. Kau akan langsung mati di tempat. James tertawa menyadari kebenaran di perkataan Frans, meskipun memiliki sikap yang kasar sepertinya Sarah memiliki hati yang sangat lembut seperti hati Elisabeth, buktinya saat Sarah mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan Elisabeth, segala emosi dan pertahanan yang ada di dalam dirinya lenyap seketika menjadi isak tangis dan penyesalan.. “Aku ingin kau menjaga mereka berdua James.” “Bagaimana bisa aku menjaga mereka? Aku saja tidak pandai menjaga diri ku sendiri, justru seharusnya mereka yang menjaga aku, monster mematikan seperti Elisabeth tidak perlu sampah seperti ku.” Ucap James yang berhasil mendapat pukulan dari Frans. “Kenapa kau berisik sekali? Aku tidak menyuruh mu untuk menjaga mereka seperti itu. Tapi kau harus bisa menjaga hati mereka. Dengan hati yang rapuh seperti itu mereka akan cepat mati. Aku tidak mau mereka mendahuluiku ke neraka.” Ucap Frans sambil mengeluarkan cerutu dari dalam sakunya. Dengan cepat James mengambil cerutu dari tangan pria tua itu lalu membuangnya. “HEI?!” “Kau tidak boleh merokok Frans! Mau sampai berapa kali aku melarang mu?” “Apa kau mau memukul ku? Aku akan melaporkan kepada Elisabeth kalau kau memukul pacarnya. Kita lihat siapa yang akan di bela olehnya.” Ucap James, Frans tertawa sepuasnya bahkan sambil menahan sakit perut. “Sejak kapan kau jadi pemberani seperti ini? Selamat ya anak muda. Jaga cucu ku baik-baik, kalau kau sampai menyakitinya aku akan membunuh mu saat itu juga.” “Baik bos!” *** Sudah satu tahun berlalu setelah peperangan berhasil di menangkan oleh para pemberontak, keadaan yang damai di setiap distrik maupun istana ini lah yang selama ini di idamkan oleh mereka, tidak ada lagi perbedaan kasta. Seluruh kekayaan berlimpah yang di miliki para bangsawan di tarik oleh kerajaan, demi menyeimbangkan tingkat perekonomian masyarakatnya. Pernikahan dini yang selama ini cukup memakan korban juga berkurang, anak-anak di dalam panti memiliki keluarga yang mau menampung mereka, anak-anak terlantar juga mendapatkan pendidikan dan perhatian yang cukup baik dari pemerintah maupun dari orang-orang di sekitarnya. Tangis yang selama ini menghiasi Nusantara, sekarang berubah menjadi tawa dan sorak sorai bahagia dari masyarakat. Agra yang saat ini sedang memantau keamanan dari sebuah gedung tinggi menguap karena bosan. “Apa yang harus ku lakukan kalau Nusantara jadi se-aman ini?” Gumamnya malas lalu kembali pulang untuk menghadiri upacara pengangkatan temannya. Perempuan bergaun putih dan jubah merah berlambang burung garuda berjalan di depan para rakyat yang saat ini sudah berkumpul untuk menyaksikan sejarah baru terukir , Aruna berdiri sambil menyentuh bandul kalung merah pemberian terakhir Raja Sadewa di atas tahtanya dengan anggun dan senyuman yang lembut. Sambil membawa sebuah mahkota yang dihiasi dengan batu-batu berlian, Agra berjalan mendekati Aruna, lalu memakaikan mahkota yang indah itu di kepalanya. “Aku persembahkan pada seluruh dunia! Ratu Nusantara. Aruna Dineshcara Widjanarka!” Sahut Agra dengan bangga. “Panjang umur yang muliasa Ratu!” Sorak seluruh rakyat dengan gembira. Sambil tersenyum Aruna mengangkat tangan kanannya ke arah rakyat untuk merespon kegembiraan yang dirasakan oleh mereka. Aruna duduk diatas singgahsananya sambil menatap Dylan yang berdiri diantara rakyat. “Kau terlihat sangat cantik.” Ucap Dylan tanpa mengeluarkan suara. Aruna tersenyum lalu menunduk setelah ia tau apa yang dikatakan oleh Dylan. “Jangan menunduk! Kau itu Ratu! Sombong sedikit dong.” Ucap Agra yang berdiri disamping Aruna. “Kau terlihat cantik dengan gaun itu Agra, menurut ku kau lebih baik mulai berdandan seperti ini saja, lihat, laki-laki disana menatap mu sedari tadi tanpa berkedip sedikitpun.” “Diam lah. Jangan mengatur-atur aku.” “Hei, aku ini Ratu sekarang, kau berani menentang perintah ratumu?” “Kau memerintahkan aku untuk memakai gaun setiap hari?” “Aku hanya ingin kau terlihat cantik, ingat Agra, kau sudah tua, kau harus mulai memikirkan untuk mengeluarkan Agra-agra junior dari dalam perut mu.” “Stop!” Aruna mengangkat tangan kanannya di hadapan semua orang, dan mengheningkan sorak-sorai dan tepuk tangan yang sebelumnya memenuhi lingkungan di sekitar Aruna. Dari atas balkon istana Aruna mengatakan peraturan-peraturan baru yang harus di patuhi seluruh rakyat setelah ia resmi di lantik. “Saya, Aruna Dineshcara Widjanarka berjanji akan memberikan kehidupan yang nyaman kepada seluruh rakyat, tanpa adanya diskriminasi dan kesenjangan baik ekonomi maupun sosial” “Panjang umur Yang Mulia Ratu!” “Panjang umur Yang Mulia Ratu!” Seluruh rakyat berteriak suca cita sambil melemparkan berbagai jenis bunga ke arah sang ratu. Peraturan Ratu Aruna No 1 Tahun 2303. Dengan diangkatnya Ratu Aruna Dineshcara Widjanarka, segala peraturan yang diciptakan Raja Arkasena Nakula Widjanarka mengenai tes fisik kerajaan, dihapuskan. Peraturan Ratu Aruna No. 2 Tahun 2303 Seluruh penduduk Nusantara, baik yang tinggal di lingkungan Kerajaan, maupun yang tinggal di lingkungan Distrik, memiliki Hak yang sama rata. “Astaga, Aruna terlihat benar-benar cantik.” Bisik Dylan pada Sarah yang berdiri disamping Elisabeth. “Jangan membuat ku mual.” Ucap Sarah pada Dylan. Dengan senyuman penuh kebahagiaan Aruna melambaikan tangannya di hadapan rakyat. Namun tanpa ia sadari seseorang berwajah asing yang tidak dikenali oleh orang-orang di sekitarnya sedang menatap Aruna dengan penuh kebencian. Laki-laki itu menggenggam bandul dari sebuah kalung pemberian ayahnya, kalung itu berbentuk sama persis dengan kalung yang tergantung di leher Sang Ratu baru Nusantara hanya saja memiliki warna yang berbeda yaitu warna biru tua. Aku akan merebut tahta itu kembali! -SPECIMEN BAGIAN 1, RAMPUNG-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD