BAB II PROLOG

1273 Words
            Perempuan dengan gaun berwarna putih yang tersingkap di kaki nya terbangun saat diri nya samar samar mendengar suara laki laki yang sedang berbincang di depan kamar nya.             Grace perlahan turun dari tempat tidur nya menghindari setiap jebakan yang ada di bawah sana. Mata nya yang berwarna biru melihat ke arah teman teman nya yang masih tertidur pulas bahkan tidak bergerak sedikit pun bagai kan orang mati.             “Bagaimana dengan anak nomor 503?”             “Aku rasa dia masih belum mampu, dia belum bisa di keluar kan dari tempat ini.”             “Tapi kita harus memberi kan seorang perempuan tahun ini.” Tersenger suara perempuan menjawab perkataan laki laki di depan nya.             Grace kembali berbaring di tempat tidur nya saat ia mendengar langkah kaki yang mengarah ke kamar mereka. Namun sayang karena terburu buru, kaki Grace jadi tertusuk besi tajam yang di letak kan di bawah setiap tempat tidur kamar itu.             Saat gagang pintu mulai bergerak, Grace bergegas menutup kaki nya yang berdarah dengan selimut berwarna merah milik nya.             “Aku rasa aku mendengar suara dari dalam sini.” Ucap perempuan itu.             “Mereka semua tertidur. Ayo kita kembali.” Ucap laki laki itu lalu berjalan keluar meninggal kan kamar bersama dengan perempuan itu. Grace menghembus kan nafas lega lalu kembali tertidur.             Tak lama setelah orang orang tersebut mengecek kamar Grace mentari pun mulai terbit dan menunjuk kan sinar nya. Grace turun dari tempat tidur nya, sudah tidak ada lagi besi tajam yang ada di lantai seperti tadi malam.             “Ayo turun,” ucap seorang perempuan berambut pendek seperti laki laki pada Grace.             Grace mengangguk dan ikut berbaris menuju sebuah ruangan dengan nuansa serba putih, mereka berbaris di depan sebuah alat pemindai yang akan menuang kan segelas cairan berwarna putih untuk mereka minum setiap pagi nya.             “Apa kau pernah mempertanya kan kenapa kita harus meminum ini setiap pagi?” tanya perempuan disamping Grace.             Perempuan berkulit putih dengan rambut hitam legam yang sangat pendek itu adalah Jasmine, putri dari salah satu guru yang menahan mereka di kastil yang sangat besar ini.             “Kenapa aku harus mempertanya kan nya? Ini kan vitamin. Baik untuk tubuh kita,” jawab Grace santai. Namun sebenar nya ia memikir kan hal yang berbeda dari ucapan nya.             Sejak dia berusia tujuh tahun, ia sudah di titip kan ke dalam sekolah ini dan sampai sekarang pun tidak ada satu pun orang tua yang datang untuk melihat kondisi anak anak mereka disini.             “Ayo makan,” ucap Jasmine seraya menarik tangan Grace masuk ke dalam cafetaria.             Seluruh murid yang di d******i oleh perempuan duduk dimeja mereka sesuai dengan nomor yang ada di tato pergelangan tangan mereka. Grace menatap sekeliling nya, pemandangan ditempat ini benar benar membosan kan, semua murid di tempat ini hanya mengguna kan terusan berwarna putih bersih, padahal Grace ingin sekali memakai baju dengan warna hijau kesukaan nya, namun seperti nya hal itu tidak akan pernah terjadi.             Semua guru di tempat ini menuhan kan warna putih.             “Selamat pagi anak anak ku yang rupawan,” ucap seorang perempuan tua dari atas sebuah mimbar.             Bibir nya yang berkerut tersenyum lebar, tangan nya terentang dengan sangat lebar seolah ingin memeluk semua orang yang hadir di ruang makan tersebut.             “Ah, setiap hari aku selalu merindukan kegiatan perjamuan pagi seperti ini, ibu sangat senang jika semua anak kandung ku dapat berkumpul di tempat yang sama,”             “Kenapa dari dulu dia menganggap kita itu anak kandung nya? Apa karena dia kasihan kita di buang oleh orang tua kita?” tanya Grace tidak suka.             “Mungkin karena dia tidak pernah memiliki anak jadi dia sangat senang dengan kita semua,”             “Ah aku lapar, kenapa setiap pagi kita harus mendengar kan pidato sebelum sarapan?” gerutu Jasmine.             “Aku juga tidak tau kenapa nenek nenek itu tidak bisa diam setiap pagi?”               Bersamaan dengan ucapan Jasmine setiap perkataan yang keluar dari mulut wanita tua itu terhenti seketika.             “Grace Veranda,” ujar nya sambil menunjuk ke arah meja Grace dan Jasmine.             “Mampus kita,”             “Masa sih dia bisa dengar percakapan kita?”             Wanita tua itu adalah kepala sekolah dari Ezerta Academy, semua orang di tempat ini memanggil nya dengan sebutan Ibu Ratu. Tidak ada yang tau nama asli nya siapa. Tapi karena dia diperlu kan dengan sangat baik oleh semua guru layak nya seorang ratu, maka seluruh murid pun menyebut nya seperti itu.             “Kamu, bawa Grace ke ruangan putih,” ucap nya pada Jasmine.             Jasmine menghembus kan nafas nya kasar, ternyata pagi ini dia dan Grace tidak mendapat kan sarapan seperti murid murid lain nya.             Di dalam akademi ini tidak ada yang boleh melakukan kegiatan di luar dari jadwal yang telah di tetap kan, jika melanggar orang tersebut akan di masuk kan ke sebuah ruangan rahasia, mereka menyebut nya dengan sebutan ruangan merah.             Tidak ada seorang pun yang kembali setelah memasuki ruangan tersebut.             “Semua ruangan disini berwarna putih. Kenapa hanya ruangan ini yang di namakan ruangan putih?” tanya Jasmine.             “Mana ku tau,” jawab Grace seraya mengikuti Jasmine masuk ke dalam ruangan yang berisi obat obatan itu.             Ezerta Academy adalah sebuah sekolah yang terletak di atas tebing ber dampingan dengan hamparan laut lepas, se jauh mata memandang hanya ada laut dan hutan bakau disekitar nya. Selain orang orang yang tinggal di tempat ini, Grace tidak menemukan satu pun makhluk hidup lain yang tinggal disini, bahkan seekor semut pun tidak pernah Grace temukan.             “Grace Veranda.” Terdengar suara berat dari seorang perempuan yang berdiri di belakang Grace dan Jasmine.             “Salam ibu Ratu,” ucap mereka berdua berbarengan sambil menunduk kan kepala nya sedikit seraya Ratu masuk ke dalam ruangan tersebut.             “Kita langsung saja ke inti nya,” ucap Ratu setelah ia duduk diatas kursi kebesaran nya.             “Noda merah apa di kaki mu itu?” Tanya Ratu sambil menunjuk setitik noda hitam ujung gaun Grace.             “Noda?”             “Kau terbangun semalam?”             “Tidak,” sanggah nya cepat.             “A-ku juga tidak tau kenapa kaki ku terluka,”             “Kau tidak minum s**u sebelum tidur?” tanya Ratu lagi, Grace menggeleng cepat, ia takut di hukum karena tidak mengikuti peraturan akademi yang ada.             “Aku meminum nya!”             “Jangan berbohong,”             “Dia tidak berbohong bu, aku yang menemani nya setiap malam, aku melihat nya meminum s**u tadi malam dengan mata kepala ku sendiri,” ujar Jasmine berusaha untuk menyelamat kan Grace.             “Hm, ya sudah, kalau begitu masuk ke ruang belajar kalian masing masing.” Ratu menghembus kan nafas nya malas lalu membiar kan Grace dan Jasmine masuk ke dalam kelas mereka.             “Udah? Gitu doang? Cuma gara gara noda merah gak jelas itu kita gak dapat sarapan pagi ini,” keluh Jasmine.             “Sekarang aku harus menunggu sampai jam 12 siang nanti untuk makan,”             “Maaf,” ucap Grace merasa bersalah.             “Tidak perlu, tapi aku masih penasaran, dari mana noda itu berasal? Bukan nya sebelum tidur kita harus mengganti baju bersih?”             “Umm... ada yang ingin ku kata kan pada mu,”             “Apa?”             “Seperti nya mereka meletak kan obat tidur di dalam s**u kita,”             “Obat tidur?”             “Ya,”             “Kenapa?”             “Aku juga tidak tau, tadi malam aku tidak me minum s**u tersebut, dan subuh tadi aku bangun karena ingin ke kamar kecil, kau tau, di bawah setiap tempat tidur kita, ada paku paku yang tertanam,”             “Aku tidak tau itu untuk apa tapi itu yang melukai kaki ku tadi malam,” ucap Grace sambil menunjuk kan luka kecil di kaki nya,”             “Aku semakin curiga, seperti nya ada yang di sembunyi kan oleh pihak akademi kepada kita,”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD