DUA PULUH SATU

1155 Words
Aruna berjalan memasuki sebuah ruangan dengan aroma asap rokok yang begitu pekat, perempuan itu memandang ke arah pot bunga matahari yang sudah mau mati, tangannya yang anggun menyentuh bunga tersebut dan memberikan kesegaran yang baru didalam bunga itu.             “Lama-lama kau terlihat benar-benar seperti malaikat sungguhan” Ucap Frans dengan cerutu di bibirnya.             “Apa aku mengganggu pagi mu?” Ucap Aruna.             “Tentu saja tidak, suatu kehormatan jika seorang veteran seperti ku dikunjungi oleh Tuan Putri.”             “Jangan memanggil ku seperti itu, gelar itu tak pantas di sematkan pada ku.”             “Tapi faktanya kau memang keturunan Raja.”             “Panggil saja aku Aruna, aku lebih nyaman jika kau memanggil ku dengan sebutan itu.”             “Baiklah. Apa yang kau inginkan dari ku Aruna?”             “Tentu kau sudah paham betul maksud ku datang kemari, aku ingin mengetahui tentang identitas ku yang sebenarnya, dan kenapa aku harus di asingkan ke distrik 2?”             Setelah mengunci sebuah ruangan di rumahnya, Frans mengajak Aruna duduk bersama di ruang tamu.             “Aku tidak tau harus memulai darimana, aku harap aku bisa menceritakannya pada mu dengan jelas. Jadi dengarkan aku baik-baik.”             Nusantara, 28 April 2281             “Apa-apaan kau ini Arjuna?! Kau ingin menikahi pelayan mu ini? Yang benar saja!!” Bentak Ratu Diana pada Raja Arjuna, matanya menatap Ardella dengan penuh rasa benci.             Bagaimana bisa seorang raja, Arjuna Dewa Widjanarka jatuh cinta pada seorang pelayan dapur rendahan seperti Ardella. Masih banyak wanita bangsawan lain yang lebih pantas untuk dijadikan selir. Mengangkat seorang pelayan menjadi selir Raja tentu akan menjadi gosip besar di kalangan bangsawan, Diana tidak akan mungkin mau menahan rasa malu akibat kebodohan suaminya itu             “Aku mencintainya, bahkan aku lebih mencintai Ardella dibandingkan perempuan angkuh seperti mu Diana.” Ucap Arjuna yang langsung menyayat hati sang Ratu.                    “Apa kau bilang? Bahkan seujung rambut ku pun tak pantas kau sandingkan dengan perempuan kotor ini! Sini kau dasar p*****r rendahan!!” Jerit Diana penuh amarah, dengan sangat keras wanita itu menjambak pelayan didepannya sampai beberapa helai rambut Ardella tercabut.             “Hentikan Diana!” Perintah Arjuna pada kedua pengawal setianya termasuk Frans yang berdiri tegap disana.             “Kalau sampai tangan kotor kalian menyentuhku, besok pagi ku pastikan anak kalian kepala melihat kepala ayahnya terpenggal sempurna di atas tempat tidurnya!” Ucap Diana tak main-main, sontak kedua pengawal itu mundur selangkah dan tak berani mendekati Diana.             Dari tahtanya Arjuna menatap Diana tanpa rasa cinta sedikitpun. Dia terpaksa menikahi wanita itu karena permintaan terakhir ayahnya, bahkan langsung mendapatkan pewaris tahta darinya pun tidak membuat Arjuna bahagia. Baginya Ardella seratus kali lebih baik dan cantik dibandingkan Diana.             Walaupun dari latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang rendahan, Ardella memiliki paras dan perangai yang lebih cantik dibandingkan bangsawan-bangsawan lain yang pernah dijumpai oleh Arjuna.             Ardella begitu rendah hati, perhatian, rajin, pintar dan juga lembut. Bahkan di hari pertama Arjuna bertemu dengan Ardella dia bisa langsung jatuh cinta dengan pelayan itu. Pesona Ardella Dineshcara benar-benar membuatnya terpana.             “Lepas tangannya sebelum aku benar-benar mencampakkan mu dari Istana ini Diana.” Desis Arjuna sungguh-sungguh.             Dengan berat hati Diana melepas jambakannya dari rambut Ardella, pelayan itu menangis tersedu-sedu dibawah kaki sang Raja. Melihat itu saja membuat Diana sangat mual dan ingin muntah.             “Bagaimana kau bisa mencintai seorang lintah darat sepertinya?! Aku tidak mau tau Arjuna! Aku adalah Diana Ressalla! Ratu dari Nusantara. Kau kira hanya karna kau seorang Raja, kau bisa mendepak ku begitu saja?”             “Tidak semudah itu Arjuna. Mulai hari ini, aku tidak akan mengasihani mu lagi. Silahkan kau bersenang-senang dengan p*****r kotor mu itu, aku tidak peduli. Tapi kalau sampai kau menjadikannya selir. Aku akan membunuh mu.”             “Kau tau ucapan mu tadi sudah cukup untuk membuat mu terpenggal di hadapan seluruh rakyat.”             “Terserah. Aku tidak peduli, lebih baik aku terpenggal daripada harus menahan malu karena kau menikah dengan seorang perempuan rendahan seperti dia.” Ucap Diana lalu pergi meninggalkan suaminya dan selingkuhan suaminya itu di altar kerajaan.             Sekuat tenaga Diana menahan tangisannya, rasa cinta dan segala hal yang sudah dikorbankannya pada Arjuna ternyata tak juga mampu membuat laki-laki itu jatuh kedalam pelukannya. Jangankan untuk mencintainya, bahkan untuk tersenyum pada Diana saja sepertinya Arjuna tidak pernah, selama ini yang ia ketahui suaminya itu terlalu sibuk mengurus permasalahkan istana dan mengembangkan sumber daya di masing-masing distrik, tapi ternyata tanpa Diana sadari, selama ia jauh dengan sang Raja, Arjuna malah bermain api dengan perempuan lain.             Kalau saja Arjuna bermain dengan perempuan bangsawan lain, mungkin Diana bisa terima, sudah wajar seorang raja memiliki beberapa selir. Tidak masalah, tapi ini seorang pelayan? Bagaimana seorang ratu di sandingkan dengan pelayan rendahan? Arjuna benar-benar bodoh!             “Maaf Yang Mulia Ratu, Pangeran memanggil anda untuk datang ke ruang belajarnya.”             “Bahkan pada sang pewaris tahta pun dia tidak pernah peduli,  ayah macam apa kau ini Arjuna?”             “Ibu! Lihat! Aku berhasil membuat cairan yang bisa membersihkan seluruh luka dan jamur pada tubuh hewan hingga  bersih total hanya dalam waktu 3 hari.”             “Wah! Betapa beruntungnya Nusantara karena akan mendapatkan seorang raja yang sangat cerdas seperti anak ku ini hahahah” Sahut Diana dengan bangga, setidaknya Arka mampu menghiburnya dari keterpurukan yang diberikan oleh Arjuna kepadanya.             Diana menatap mata Arka lekat-lekat, sebuah ide cemerlang melintas di pikirannya, selain menjadi penghibur, Arka juga bisa menjadi harapan baru baginya untuk melawan Arjuna. Ia sangat tau bagaimana sifat sang Raja, hanya karna perkataanya tadi, Arjuna tidak akan mau menuruti perintahnya, satu-satunya cara untuk mengendalikan Arjuna adalah dengan memiliki kekuasaan yang lebih besar daripadanya.             “Arka anak ku.”             “Ya ibu?” Ucap Arka dengan suara polosnya.             “Bolehkah kau membuat sebuah cairan yang bisa melumpuhkan seseorang?”             “Aku belum pernah membuat cairan seperti itu, jika aku belajar tentu aku bisa membuatkannya untuk ibu. Tapi untuk apa ibu menyuruh ku membuat cairan itu? Siapa yang akan ibu lumpuhkan.”             “Arka sayang, saat ini sudah terlalu banyak kriminal yang masuk kedalam penjara, ibu ingin memberikan cairan itu pada mereka yang nakal, sehingga para penjaga tidak kesulitan mengawasi mereka.”             “Ah! Ibu benar, cairan seperti itu pasti akan mempermudah pekerjaan para penjaga penjara. Aku akan mempelajarinya bu, aku akan memberikan cairan itu langsung pada mu jika cairan itu sudah selesai.”             “Anak ku memang yang terbaik!” Ucap Diana bahagia.             “Ibu minta dosisnya jangan terlalu tinggi ya nak, ibu ingin mereka perlahan-lahan menjadi lumpuh, kalau mereka masih nakal ibu akan memberikan cairan itu terus menerus sampai ia benar-benar tidak bisa menggerakkan badannya lagi. Tapi kalau mereka mau menurut, ibu akan mengampuni mereka.”             “Kau terlihat seperti malaikat tanpa sayap bu, bahkan kau masih peduli dengan para kriminal itu, aku bangga mempunyai ibu seperti mu.”             “Ya, aku juga sangat bangga dan bahagia memiliki mu Arka.”             Tenang saja nak, ibu akan mempersiapkan segala yang terbaik untuk mu. Kau akan menjadi Raja selanjutnya setelah Arjuna mati. Bukan anak pelayan kotor itu, tapi kamu, putra semata wayang ku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD