“Apa lagi ini?!” Bentak Arka tepat didepan wajah Adam.
“Maafkan saya yang mulia.” Jawab Adam yang dihadiahkan sebuah tamparan keras tepat diatas luka goresan di wajahnya.
“Apa dia bisa diselamatkan?” Ucap Arka pada seorang dokter didepannya.
“Saya akan mengerahkan semua kemampuan saya dan tim untuk menyelamatkan nona Beatriz yang mulia.”
Arkan menarik nafas panjang menahan seluruh amarah didalam dirinya, bahkan putri kecilnya belum dikuburkan, sekarang apa lagi yang harus ia hadapi? Kematian Beatriz? Kenapa semua rencana yang telah disusunnya bertahun-tahun selalu saja gagal.
“Kenapa kau tidak menuruti perintahku? Aku menyuruh mu untuk membereskan kericuhan di distrik 1 tapi dengan bodoh kau pergi ke markas The Unknown dan menyerahkan semuanya pada Beatriz!”
“Ampuni saya Yang Mulia, saya mendapat kabar bahwa Estomihi Bornslav ada di markas. Jika saya berhasil membunuhnya mungkin hal itu dapat menghibur anda yang baru saja kehilangan Tuan Putri.” Ucap Adam yang lagi-lagi dihadiahkan tamparan dari Arka.
“Kau benar-benar berhasil membuat ku marah Adam, kalau bukan karena kau sudah ku anggap seperti adik ku sendiri, kau pasti sudah berada di gudang mayat saat ini.” Ucap Arka sambil memijat dahinya.
“Adakan pertemuan dengan kekaisaran Agneta dan negara lainnya.” Ucap Arka sambil meninggalkan ruangan.
Laki-laki tersebut melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar dengan nuansa emas dan hitam dan dilengkapi berbagai lukisan tidak jelas yang terpajang rapi disana. Sambil menangis Arka menatap lukisan dirinya dan Putri Maria yang duduk di pangkuannya.
“Maafkan ayah.” Ucapnya sambil terisak.
“Arka” Ucap seorang perempuan sambil memeluknya dari belakang. Dengan cepat Arka membalikkan badannya. Ia benar-benar mengenali suara ini, sesaat setelah ia menatap wajah perempuan didepannya Arka langsung terjatuh dan bersujud didepan perempuan itu.
“Maafkan aku! Aku benar-benar seorang ayah yang tidak berguna!” Jerit Arka dengan sangat kuat sampai seluruh pelayan yang ada di istana tersebut dapat merasakan kepedihan yang sedari tadi di pendam oleh sang Raja.
Perempuan itu menunduk dan memeluk sang Raja sambil menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
“Putri kita, putri kecil kita. Sekarang sudah tiada. Semua ini salah ku. Aku tidak pernah memperhatikannya, aku terlalu sibuk menyusun rencana yang sama sekali tidak ada gunanya!”
“Jangan salahkan diri mu yang mulia.” Ucap perempuan itu dengan lembut menahan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakan Arka. Putri Maria yang malang, gadis kecil itu terlalu manis dan pintar untuk mendapatkan orang tua yang buruk seperti dirinya dan Raja Arkasena.
“Maafkan aku, selama ini kau harus menjaga Putri Maria sendirian. Seharusnya sebagai ibunya, aku selalu ada disisinya.”
“Ini karena keluarga ku yang tidak mengizinkan ku menikahi wanita biasa. Maaf kan aku karena hubungan ini kau harus terpisah dengan putri mu dan bersembunyi di negara lain.”
“Tidak apa yang mulia, kau membawa ku kesana untuk keselamatan ku sendiri, namun jika kau tidak keberatan, mulai saat ini aku ingin mendampingi mu sebagai Ratu Nusantara.”
Arka mengangkat badannya dan membiarkan Hana menunduk dikakinya.
“Maafkan aku atas kelancangan ku ini yang mulia. Aku hanya ingin menemanimu, aku sudah lelah hidup sendirian, tanpa ada nya diri mu disisi ku rasanya seperti aku hampir gila.”
“Berdirilah dan angkat kepala mu. Ratu ku .” Ucap Arka yang memberikan senyuman lebar di wajah Hana. Setidaknya kematian putrinya itu tidak hanya memberikan kesedihan saja, namun juga kebahagiaan atas status barunya yaitu seorang Ratu.
“Terimakasih Arka. Aku akan membantu mu untuk menangkap pembunuh putri kecil kita dengan semua kemampuan yang ku miliki.”
“Pelayan!” Sahut Arka dan sedetik kemudian seorang pelayan masuk menghampirinya.
“Anda memanggil saya yang mulia?” Ucap pelayan tersebut sambil menunduk.
“Ya. Umumkan ke seluruh Istana dan seluruh distrik, bahwa wanita yang sangat ku cintai, istri ku Hana Bornslav, Ratu dari Nusantara. Telah kembali.”
***
“Apa?!” Sahut Aruna tersedak.
“Jangan bercanda.” Ucap Tomi tidak percaya.
“Ya, mana mungkin kau bisa membunuhnya sendirian.” Ucap Dylan.
“Dua laki-laki ini memang cari masalah terus ya dengan ku.”
“Aku benar-benar sudah membunuhnya dan aku melihat linggis itu menembus tubuhnya dengan mata kepala ku sendiri.” Ucap Agra. Perempuan itu beranjak duduk diranjangnya tanpa memperdulikan rasa sakit pada seluruh tubuhnya
“Apa yang terjadi? Bagaimana kita bisa pindah ke rumah sebagus ini?”
“Saat kau tak sadarkan diri, kami memutuskan untuk ikut dengan Fransiscus Alvero ke tempat ini.” Jawab Aruna.
“Ya, perjalanan kami begitu tenang karena mulut mu itu tidak bergerak sama sekali.” Ucap Dylan spontan dan langsung dihadiahkan dengan sebuah batu yang melayang memukul kepalanya dari belakang oleh Agra.
“Kenapa kalian jadi mudah sekali percaya dengan orang asing?”
“Aku rasa kita memang lebih baik berada disini.” Ucap Tomi.
“Hohoho, tumben kau mengatakan hal itu? Kenapa?”
“Iya, biasa nya kau hampir sama dengan Agra.” Ucap Sarah.
“Hei, jangan samakan aku dengan laki-laki bodoh itu.” Ucap Agra.
“Aku baru saja berbicara dengan Frans, kita tidak bisa menghancurkan Arka dengan kemampuan yang belum matang seperti saat ini.”
“Kenapa tidak bisa? Kita hanya perlu menyusup ke istana lalu membunuhnya.” Ucap Agra.
“Hal itu akan berhasil jika kita hanya melawan Arka dan Istana.”
“Memangnya siapa lagi yang kita lawan?” Ucap Dylan.
“Negara-negara lain yang bekerja sama dengan Nusantara.”
“Negara lain? Memangnya apa rencana Arka sampai menyatukan negara lain?” Ucap Aruna.
“Menguasai dunia.” Jawab Tomi.
“Nusantara bukanlah satu-satunya negara yang melakukan eksperimen ini pada rakyatnya, negara-negara tersebut juga melakukan hal yang sama bahkan dengan serum terkuat.”
“Serum?”
“Ada 5 serum dengan masing-masing level yang ditandai dengan warnanya. Biru dengan level terendah, hijau dan merah level menengah, hitam level terkuat dan putih dengan kekuatan pelindung.”
“Mereka menyuntik ku dengan serum berwarna putih dulu.” Ucap Aruna.
“Ya, Aku disuntik dengan cairan berwarna hijau.” Ucap Agra.
“Aku biru. Bagaimana dengan Beatriz? Bisa saja ia disuntikkan dengan serum berwarna hitam. Dia tidak pernah bercerita tentang pengalamannya saat tes dulu.”
“Aku yakin Beatriz memiliki serum merah dalam dirinya.” Ucap Tomi.
“Ya, tidak mungkin dia memiliki serum hitam, buktinya aku sudah berhasil mengalahkannya tadi.”
“Kalau merah saja sudah memiliki kemampuan yang mengerikan seperti Beatriz bagaimana dengan serum berwarna hitam?”
“Aku tidak tau, yang pasti, tingkat keberhasilan serum tersebut sangatlah kecil.”
“Dari mana Frans tau semua informasi ini?”
“Apa kau tidak curiga kalau sebenarnya Frans membawa kita kemari atas perintah Arka? Kita semua tau Frans terkenal dengan kesetiaannya pada Istana.” Ucap Agra.
“Aku tidak tau. Tapi kita membutuhkan semua fasilitas di tempat ini untuk berlatih, aku mau sebisa mungkin kita berlatih dengan baik karena kalau memang ini termasuk dalam rencana Arka untuk menjebak kita.” Ucap Tomi terpotong oleh perkataan Agra.
“Kita akan menghancurkannya di tempat ini.” Ucap Agra lalu dibalas anggukan mantap dari Tomi