Perkenalan Widya

1044 Words
Widya pov Hai aku Widya Astuti Permana, anak tunggal dari ayah Irwan Permana dan bunda Novie Permana. Mereka gak bisa kasih aku adik, karna katanya waktu dapetin aku juga rada susah. Jadi, ya gitu deh. Oke, skip sekarang gue seorang siswi kelas 12 IPS 1 di sekolah SMA JAYA. Salah satu sekolah yang bisa dibilang cukup terkenal lah di kota Bandung ini, tentunya dengan berbagai prestasi yang udah sering sekolah raih. Meski bukan aku juga sih yang ikut nyumbang dalam hal prestasi itu. Ah gak penting! "Pagi Ayah, pagi Bunda."sapa ku saat masuk ke ruang makan, di mana sudah ada Ayah dan Bunda duduk di kursi masing-masing. "Pagi sayangku."jawab Bunda sambil mencium pipiku. "Pagi sayangku cintaku setelah Bunda."jawab Ayah sambil tersenyum melirik Bunda penuh kasih sayang. "Ish Ayah mah gitu..."sambil ku cium pipi Ayah, ku duduk di sampingnya sembari cemberut. "Lah kan emang iya, sebelum ada kamu Ayah udah sayang sama cinta duluan ama Bunda..."ucap Ayah semakin menggodaku karna liat aku cemberut. "Ya kan Bun?" sambungnya mencari pembelaan dari Bunda. "Iya in aja deh biar cepet..."jawab Bunda sambil mengisi piringku dengan nasi goreng buatan Bunda yang paling enak. "Haha Bunda bisa aja!"tertawa ku dengar jawaban Bunda yang membuat Ayah langsung terdiam manyun. Begitulah waktu pagiku, hampir setiap hari penuh dengan canda tawa. Dan aku suka. *** Tiba di sekolah, aku berjalan melewati lorong-lorong yang sudah agak ramai oleh murid-murid, yang entah apa yang sedang mereka lakukan. Aku sih mending langsung masuk kelas daripada harus nongki-nongki gak jelas gitu. "Eh, kok tumben ya Sandi belum datang..."ucapku dalam hati sambil melihat ke seluruh penjuru kelas. Mencari sesosok makhluk yang bernama Sandi. Iya Sandi, sahabat aku satu-satu nya dari jaman masih pakai baju putih merah. "Apa dia sakit?"aku masih bertanya-tanya sendiri, setelah ku duduk di kursi yang ada di depan meja guru kelas ku. Author pov Di tempat lain, tepatnya di sekolah SMA SEBELAH ada sepasang kekasih yang baru saja menjalin hubungan beberapa minggu. Seorang remaja pria yang baru saja menurunkan kekasihnya dari sepeda motor sport miliknya di depan gerbang sekolah. "Sandi sayang, kenapa sih kamu gak pindah sekolah ke sini aja? Kan biar kita bisa terus sama-sama, gak harus kepisah gini."ucap sang kekasih dengan manja. "Ya gak bisa lah, Irda sayang. Aku kan juga dibayarin orangtua aku sekolahnya, ya kali aku main pindah sekolah gitu aja sih. Yang penting kan kita masih bisa jalan sepulang sekolah."jawab Sandi dengan lembut. "Eumm iya juga yaa, hehe..."ucapnya sambil menggelayut manja di tangan Sandi. "Yaudah aku ke sekolah dulu ya, nanti pulang sekolah aku jemput. Daah..."Sandi pun berlalu mengendarai sepeda motor nya kembali pergi dari SMA SEBELAH menuju sekolahnya. Untung saja jarak sekolahnya tak jauh dari sekolah sang kekasih. SMA JAYA "Ish Sandi mana sih, kok belum dateng juga..bete deh!"gerutu Widya sambil terus mondar mandir di depan kelas nya. "Mana ditelfon gak diangkat-angkat lagi ih!"sambungnya lagi terus memencet layar hp nya. "Hei Wid, ngapain sih dari tadi bulak balik aja. Ngalangin jalan orang aja deh."ucap Fajar sang ketua kelas yang dari tadi memperhatikan Widya di dalam kelas, menghampiri Widya yang tengah berdiri di depan kelasnya. "Ngalangin gimana sih Jar, itu kan masih ada jalan."jawab Widya malas, seraya kembali fokus pada layar hp miliknya. "Ya terus ngapain kamu bulak balik terus kayak gitu, gak ada kerjaan lain apa?"ucap Fajar mengulangi pertanyaannya tadi. "Gak ada, aku tuh lagi nungguin Sandi tau! Dia hubungin kamu gak, sapa tau dia ijin atau sakit gitu?" "Yaelah kirain lagi ngapain, dia gak ada ngehubungin aku.. ya mungkin aja dia telat, gak usah cemas gitu ngapa?"seru Fajar santai, sembari melipat kedua tangannya di dada. "Ya tapi kan..."ucapannya terpotong, saat tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya. "Nungguin yaa..."ucap Sandi tiba-tiba tepat di telinga Widya. "Ish Sandi ih, ngagetin aja! Kamu darimana dulu sih kok baru dateng, biasa nya kan kamu duluan yang dateng. Ini udah mau bel baru dateng, aku kira kamu tuh sakit atau.."ucap Widya panjang lebar tanpa jeda. "Ssstttt !"potong Sandi sambil menutup mulut Widya dengan jari telunjuk nya. "Udah ayo masuk!"sambung nya sambil merangkul pundak Widya, masuk ke dalam kelas. Melewati Fajar yang masih setia di tempatnya, melihat kepergian mereka. "Huh, udah dateng aja orang nya aku ditinggalin! Dasar, gak peka!"gumam Fajar pelan, seraya melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Namun, tatapannya tak lepas dari Widya dan Sandi. "Kapan Wid, aku bisa sedeket itu sama kamu? Kayak kamu deket sama Sandi..."batin Fajar saat melihat keakraban Widya dan Sandi. Layaknya sepasang kekasih. "Apaan sih? Buang jauh-jauh pemikiran itu Jar!! Gak usah banyak ngarep!!"kembali batin Fajar berbicara, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Hingga tak sadar, teman sebangkunya memperhatikan sikapnya itu. "Woy, Lo kenapa?"tanya Naufal, teman sebangku Fajar. "Hah? Aku?"sembari menunjuk dirinya sendiri heran. "Emang aku kenapa?"tanya nya polos. "Lah, maneh dari tadi geleng-geleng pala mulu. Kayak lagi dengerin musik dugem tau gak?!"jelas Naufal gemas. "Wah ngarang, mana pernah lah aku dengerin musik kayak gitu?"ujar Fajar mengibaskan tangannya pada Naufal. "Ya kali Jar. Terus ngapain?Atau lagi bayangin yang 'enaena' ya?"tanya Naufal sembari menaik turunkan kedua alisnya. pletak "Awww sakit jir!"Naufal meringis, mengusap kepalanya yang dijitak oleh Fajar. "Daritadi kamu tuh ngawur mulu ngomongnya!"ucap Fajar kesal. "Ya gak usah jitak juga kali ah, sakit ogeb!"keluh Naufal masih mengusap kepalanya. "Itu sih derita Lo!"ujar Fajar santai. Tak lama bel pun berbunyi, tanda jam pelajaran akan di mulai. Guru pun masuk ke dalam kelas masing-masing, termasuk kelas Widya. Widya dan Sandi duduk bersebelahan, fokus memperhatikan penjelasan guru di depan mereka. Tak heran, karna mereka berdua adalah murid yang berprestasi. Bahkan dari kelas 10 mereka sudah sering menjadi juara kelas. Setelah kurang lebih 3 jam mereka mendengarkan ocehan gurunya dan menyalin semua catatan di papan tulis, akhirnya mereka bisa terbebas. Apalagi kalau bukan karna jam istirahat. Waktunya untuk memanjakan perut mereka. Namun ada juga yang malah mojok. "Sandi, tadi kamu kemana dulu sih? Kok tumben telat..."tanya Widya yang masih penasaran, akan alasan sahabat nya itu. Kini mereka sedang duduk di bangku yang ada di kantin sekolah nya. "Aku tadi, nganterin dulu Irda..."jawab Sandi dengan senyuman tengilnya menatap Widya. "Irda..?"tanya Widya mengernyitkan keningnya heran. Hai...maaf yaa kalo cerita nya gak nyambung gak asik atau gimanaa gitu... namanya juga baru nulis, masih belum ada pengalaman. semua nya ini real cuma karangan aja, dari mulai nama tokoh sampe ke nama sekolah.. jadi harap maklum yaa... boleh pencet love nya yaa dan komen sepuasnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD