BAB 2 | Mau Jadi Pacarku?

1303 Words
Daisy menautkan jarinya di atas pangkuannya dengan gelisah. Setelah mengucapkan kebohongan kalau pria asing di sampingnya adalah pacarnya, kini Daisy terjebak di dalam mobil si pria itu, yang entah dia harus bersyukur atau tidak karena si pria ini meng-iya-kan kebohongannya dan bahkan mengajaknya pulang bersama untuk menambah bumbu-bumbu kebohongan. Kabar baiknya, dia jadi tidak terlalu terlihat menyedihkan di hadapan Yeremia dan Rhea. Daisy masih mengingat bagaimana ekspresi dua orang itu saat dia mengatakan kalau pria tampan dan tinggi di sampingnya ini adalah pacarnya. Ngomong-ngomong soal tampan, Daisy setuju kalau pria di sampingnya memang tampan. Daisy melirik pria di sampingnya yang sibuk menyetir dengan pandangan fokus ke depan. Alis tebal, rahang tajam, serta tubuh yang kekar namun tidak berlebihan memang membuat pria di sampingnya pantas disebut ‘tampan’, bahkan Daisy dengan senang hati mengatakan kalau pria di sebelahnya jauh lebih tampan dari Yeremia. Tidak hanya lebih tampan, pria itu juga jauh lebih kaya—terlihat dari mobil yang saat ini sedang mereka naiki. Mobil ini hanya bisa dimiliki oleh kalangan atas saja. Bahkan mobil ini adalah mobil impian Yeremia, namun pria itu masih harus menabung beberapa tahun lagi demi bisa membeli mobil impiannya. Tidak disangka kini Daisy justru dengan mudah duduk di mobil impian mantan pacarnya. Bolehkah dia merasa bangga? “Jadi nama kamu Daisy?” Suara berat dan rendah milik pria di sampingnya membuat Daisy berhenti mengamati pria di sampingnya. Matanya benar-benar jelalatan! “I-iya,” jawab Daisy gelagapan. Kini dia tidak berani lagi menoleh ke samping. Dia sadar dia sudah terlibat dengan pria yang levelnya jauh di atasnya. Ya Ampun, Daisy! Anak konglomerat mana yang lagi kamu ajak jadi pacar bohongan?! “Saya Juan. Dan sepertinya, sekarang kita impas. Saya salah karena sudah sembarangan bawa kamu ke depan orang tua saya, tapi saya juga sudah bantu kamu tadi.” “Iya. Terima kasih atas bantuannya,” balas Daisy seadanya. “Jadi tadi itu keluarga kamu?” Daisy mengangguk. “Laki-laki tadi kakak kamu?” Pertanyaan Juan membuat Daisy menegang. “Bukan. Dia… calon suami adik saya.” “Saya kira dia kakak kamu, matanya tajam banget ngeliatin saya, saya kira dia begitu karena dia kakak kamu.” Daisy meremas ujung roknya gelisah. Yeremia menatap tajam Juan? Benarkah? Tapi kenapa? Apa pria itu cemburu? “Juan…” “Ya?” “Kamu mau nggak jadi pacarku?” Juan menginjak rem dengan tiba-tiba hingga membuat tubuh keduanya terpental ke depan, untungnya Juan dengan sigap menahan tubuh bagian depan Daisy sehingga kepala gadis itu tidak terbentur dashboard. “Kamu mau bunuh aku?!” Karena kesal, bahasa formal yang sejak tadi Daisy gunakan sudah ia buang begitu saja. Juan menatap lampu merah di depannya dengan napas terengah-engah. Ajakan tiba-tiba itu jelas membuatnya kaget. “Jadi pacar kamu? Kamu udah nggak waras, ya?” hardik Juan, membuat Daisy panik. “Cuma bohongan aja, enggak beneran.” “Kenapa?” Kenapa? Entahlah, Daisy juga tidak tahu. Pemikiran itu muncul begitu saja tanpa bisa dia cegah. Yang jelas, dia senang saat Juan bilang kalau Yeremia kesal saat ia memperkenalkan Juan sebagai kekasihnya. “Kamu mau bikin laki-laki tadi cemburu?” Daisy langsung melotot ke arah pria itu. Kok dia bisa tahu? “Dia mantan kamu?” Dia ini cenayang, ya? “Tebakan saya benar, kan?” Daisy memejamkan matanya kesal karena ucapan pria itu memang benar. Tapi dia bukan ingin membuat Yeremia cemburu, dia hanya ingin membuat pria itu kesal. Itu saja! “Tapi dia bakal jadi adik ipar kamu. Bukannya tindakan kamu ini agak sedikit—” “Mereka selingkuh di belakangku!” “Adikku hamil seminggu sebelum acara pertunanganku. Aku cuma mau bikin mereka menyesal, itu aja,” jawab Daisy jujur. “Cuma itu aja? Kamu nggak mau rebut mantan kamu lagi?” “Enggak! Kamu pikir aku mau sama cowok sampah kayak dia?” Juan terkekeh mendengar jawaban jujur Daisy. “Gadis pintar,” puji Juan di sela tawa tipisnya. “Jadi gimana? Kamu mau?” Juan masih diam. Tampak berpikir. “Kalau aku setuju, memangnya aku dapat apa?” Karena Daisy berbicara santai dengannya, Juan jadi ikutan bicara santai juga. “Kamu juga bisa manfaatin aku,” kata Daisy dengan senyum mengembangnya. Sesaat Juan bisa melihat lesung pipit tipis di pipi kiri Daisy saat gadis itu tersenyum. “Memanfaatkan dalam hal apa?” “Kamu juga butuh pacar bohongan untuk dikenalkan ke orang tua kamu, kan? Orang tua kamu sudah kenal aku, jadi lebih bagus kalau kita lanjutkan sandiwara ini, kan?” Juan tersenyum tipis. “Aku tinggal bilang kalau kita sudah putus, setelah itu tinggal bawa perempuan sewaan yang berbeda ke hadapan mereka. Apa susahnya?” Senyum lebar Daisy menghilang. “Tapi… kalau kamu manfaatin aku, kamu nggak perlu keluar uang,” bujuk Daisy lagi. Bagus Daisy, sekarang kamu sudah seperti perempuan yang sedang menjual diri! “Apa aku kelihatan seperti orang yang kekurangan uang?” Pertanyaan menohok itu membuat Daisy mematung. Gadis itu melirik interior mobil Juan dan juga barang-barang mewah yang melekat di tubuh pria itu. Juan sudah punya segalanya, lantas hal apa yang bisa dia tawarkan untuk pria itu? “Ini.” Pria itu memberikan ponselnya pada gadis itu. “Masukkan nomor kamu, kalau aku tertarik aku bakal hubungin kamu.” Mata Daisy kembali berbinar cerah. Ia meraih ponsel itu dan dengan senang hati memasukkan nomornya ke dalam ponsel pria itu. “Aku tunggu kabar baiknya,” ucapnya sembari mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Lesung pipit itu terlihat lagi. Tanpa sadar Juan jadi ikut tersenyum. Apakah Juan akan menghubungi gadis itu? Entahlah. Mungkin saja, jika dia sedang bosan dan ingin bermain-main. Dan sepertinya, bermain-main dengan gadis itu cukup menyenangkan. “Berapa usia kamu?” tanya Juan, masih dengan tatapan intens yang mengarah ke Daisy. Tatapannya sedikit membuat Daisy memasang sikap waspada. Bagaimanapun juga, Juan tetaplah orang asing. “Kenapa memangnya?” tanyanya hati-hati. “Aku cuma nggak mau pacaran sama anak di bawah umur, ya walaupun cuma sekadar bohongan,” ucapnya tanpa beban. Anak di bawah umur? Siapa? Aku?! “Aku udah 25 tahun!” ucapnya kesal. Enak saja dia dibilang anak di bawah umur! Usianya sudah sangat pantas untuk menikah. “Aku sudah 30 tahun dan aku nggak tertarik pacaran sama perempuan yang usianya jauh di bawahku,” balas Juan. “Cuma beda lima tahun, Juan! Itu bukan perbedaan usia yang jauh. Lagian kita cuma pacaran bohongan. Memang apa pentingnya usia?” desak Daisy tidak sabar. “Orang tuaku lebih suka kalau aku menjalin hubungan dengan wanita yang usianya matang. 25 tahun itu terlalu muda.” “Kamu kan bisa bohong?! Bilang aja kalau aku udah 30 tahun.” Juan melirik Daisy dari atas ke bawah. “Kamu pikir mereka bakal percaya? Penampilan kamu lebih kelihatan kayak anak kuliahan,” ucapnya tanpa perasaan. “Tapi tadi mereka kelihatan seneng-seneng aja kok waktu ketemu aku.” Daisy masih bersikeras. Masa iya dia ditolak cuma karena masalah umur? Menjadi pacar bohongan Juan ternyata lebih susah dari melamar pekerjaan! “Di pertemuan selanjutnya aku bakal pakai gaun yang lebih proper lagi. Kalau orang tua kamu suka yang dewasa, aku bakal pakai gaunku yang seksi.” Juan tersenyum miring. Pembicaraan ini jadi semakin menarik saja. “Seseksi apa?” godanya. “Kamu mau yang kayak gimana?” “Aku suka warna merah.” Juan malah meladeni ucapan ngawur Daisy. Entah kenapa Juan jadi lebih banyak bicara saat berhadapan dengan gadis itu, padahal biasanya dia malas membicarakan sesuatu yang tidak jelas seperti ini. “Aku punya gaun warna merah! Pendeknya setengah paha. Kamu mau yang—” “Cukup.” Sepertinya sudah cukup bermain-mainnya. Dia tidak mau memanfaatkan gadis polos hanya untuk menghilangkan rasa bosannya. “Aku akan hubungi kamu kalau aku tertarik.” “Tapi ada baiknya kamu nggak berharap banyak,” lanjut pria itu dalam hati. Dia malas berurusan dengan perempuan, dan gadis ini juga termasuk di dalam daftar yang ingin dia hindari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD