BAB 3 | Balas Dendam?

1825 Words
Daisy keluar dari mobil Juan dengan berat hati. Sejujurnya dia belum merasa cukup membujuk pria itu agar mau menerima tawarannya. Seharusnya tadi dia lebih berusaha lagi. “Tunggu.” Gadis itu menahan mobil Juan dan mengetuk pelan kaca mobilnya. “Kenapa?” tanya Juan setelah menurunkan kaca mobilnya. “Soal penawaranku tadi…, tolong pertimbangkan baik-baik,” ujar Daisy dengan tatapan penuh harap. “Aku pikir-pikir dulu,” jawabnya, terlihat tidak tertarik. Juan sudah akan menaikkan kaca mobilnya kembali, namun Daisy kembali menahannya. “Kamu beneran bakal pikirin penawaranku baik-baik, kan? Aku mohon pertimbangkan baik-baik penawaranku tadi. Aku bakal kasih apapun ke kamu. Uangku memang nggak banyak, tapi kalau kamu mau—” “Sebegitu pengennya kamu balas dendam ke mantan kamu?” potong Juan cepat. “Balas dendam?” “Kamu ngelakuin ini semua buat balas dendam ke mantan kamu, kan?” Balas dendam? Entahlah. Yang jelas Daisy hanya ingin melihat Yeremia menyesal karena telah membuangnya demi adik tirinya. Daisy hanya ingin membuktikan pada Yeremia kalau dia mampu memiliki pria yang lebih dari dirinya. Apa itu termasuk balas dendam? “Iya. Aku mau dia menyesal,” kata Daisy mantap. “Jadi tolong bantu aku, sebagai gantinya aku juga bakal bantu kamu…” “Itupun kalau kamu butuh bantuanku,” lanjut Daisy tidak yakin. Memang apa yang bisa dia lakukan untuk pria itu? “Akan aku pertimbangkan.” Setelah itu Daisy mulai menjauh dari mobil Juan, dan mobil pria itu perlahan menjauh meninggalkan kediamannya. “Daisy.” Daisy menoleh dan mendapati Yeremia sedang berjalan ke arahnya. Sejak kapan dia di sana? Dia nggak dengar ucapanku tadi, kan? “Jadi dia beneran pacar kamu?” Daisy langsung menghela napas lega. Sepertinya pria itu memang tidak mendengar pembicaraannya dengan Juan. “Ya. Kenapa? Ada masalah?” “Kita baru putus seminggu yang lalu, tapi kamu udah punya pacar?” Daisy mendengkus keras, merasa lucu dengan ucapan pria di depannya. “Kamu sendiri gimana? Baru seminggu putus dan kamu malah udah mau nikah,” sindirnya. “Kamu tahu situasiku berbeda. Aku terpaksa karena Rhea terlanjur hamil.” “Terpaksa? Waktu nidurin adikku kamu nggak terpaksa? Giliran disuruh nikahin, kamu bilang terpaksa? Dasar berengsek!” “Malam itu kecelakaan. Aku nggak sengaja nidurin adik kamu. Maaf, karena aku baru bisa ngejelasin semuanya sekarang. Aku nggak pernah selingkuh sama Rhea. Kami—” “Tapi Rhea bilang kalau hubungan kalian sudah jalan satu tahun,” potong Daisy. “Dia bilang begitu? Itu bohong, Daisy! Aku nggak pernah selingkuh dari kamu. Kami memang beberapa kali jalan bareng, tapi kami nggak punya hubungan yang seperti itu. Hubungan kami cuma sebatas—” “Jadi kamu sering ketemu Rhea di belakangku?” “Cuma beberapa kali,” balas Yeremia gugup. “Beberapa kali? Kayaknya saking seringnya sampai kamu lupa angka pastinya, ya?” sindir Daisy sambil tersenyum sinis. “Nggak gitu, Sayang. Tolong dengerin—” “Stop panggil aku begitu!” Pria yang sudah menghamili adik tirinya, yang bahkan beberapa jam lalu sedang membicarakan tanggal pernikahannya dengan perempuan lain, tapi bisa-bisanya masih punya keberanian memanggilnya dengan panggilan sayang? Sepertinya Yeremia memang sudah kehilangan akal. “Kehamilan Rhea murni kecelakaan, Daisy. Dia yang jebak aku. Dari awal aku nggak pernah mau nyentuh dia.” Daisy hanya diam. Dia hanya ingin tahu sampai mana kegilaan yang ingin Yeremia sampaikan kepadanya. Meski sejujurnya perutnya sudah mual hebat karena mendengar hal menjijikkan ini. “Hari itu kami memang ketemu di bar dekat kantorku. Tapi bukan atas kemauanku, Rhea sendiri yang maksa datang buat nemenin aku. Kebetulan hari itu aku memang butuh teman ngobrol, dan karena kamu nggak suka tempat kayak gitu, jadi aku terima waktu Rhea—” “Karena aku nggak suka datang ke tempat kayak gitu, jadi kamu ngajak cewek lain?” “Enggak gitu. Maksudku—” “Cukup. Sekarang penjelasan kamu udah nggak ada gunanya lagi. Sekarang Rhea udah terlanjur hamil, dan kamu harus tanggung jawab atas hal itu.” “Tapi Daisy…” “Yere, sekarang kamu udah cukup menjijikkan di mataku. Jadi, jangan bikin aku makin jijik sama kamu. Ngerti kamu?” Setelah mengatakan itu, Daisy berlalu memasuki rumahnya. Sekarang dia ragu apakah dia harus melanjutkan rencana balas dendamnya? Jika dia berpacaran dengan Juan, maka dia harus sering-sering bertemu Yeremia untuk menunjukkan pada pria itu kalau dia berhasil mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya. Tapi setelah tadi bertemu dan berbicara langsung dengan pria itu, Daisy tidak yakin apa dia benar-benar mau melanjutkan rencana itu. Karena ternyata bertemu dengan Yeremia tidak membuat perasaannya membaik sama sekali, dia justru muak! *** Juan menatap nomor bertuliskan “Daisy” di layar ponselnya dengan senyum kecilnya. Sejujurnya tangannya gatal ingin menghubungi gadis itu—namun bukan untuk menyetujui ajakan gila gadis itu untuk berpacaran pura-pura, melainkan hanya ingin sedikit bermain-main saja. Bertemu dengan Daisy ternyata tidak seburuk itu. Gadis manis namun cerewet itu ternyata cukup membantu menghilangkan rasa bosannya. Dia jadi ingin sedikit bermain-main. “Juan.” “Ya, Ma?” “Kamu ngeliatin apa sih dari tadi? Kerjaan lagi? Mama kan udah bilang kalau lagi makan itu jangan ngurusin kerjaan dulu.” Juan buru-buru menyimpan ponselnya. Ucapan ibunya menyadarkannya kalau sejak tadi dia sibuk memandangi sesuatu yang tidak penting. Apa yang terjadi padanya? Tidak biasanya dia seperti ini. “Pacar yang kamu bawa kemarin, kamu serius sama dia?” Pertanyaan ibunya membuat Juan yang tadi sibuk dengan air minumnya tersedak hingga terbatuk-batuk. “Kamu ini kenapa, sih? Dari tadi ada aja tingkahnya, hati-hati dong, Juan! Kamu itu udah kepala tiga tapi cerobohnya kayak balita!” omel ibunya. “Maksud Mama, Daisy?” tanya Juan hati-hati. “Memangnya kamu punya pacar lain selain dia?” gerutu ibunya lagi. “Kami kan belum lama pacaran, Ma. Masih belum mikir soal nikah.” “Iya, Mama juga nggak buru-buru kok. Lihat kamu udah punya pacar aja, Mama juga udah seneng. Anaknya juga cantik, sopan lagi. Kapan-kapan ajak Daisy ke rumah, ya? Mama mau ajak dia bikin kue. Mama kan juga pengen punya temen di rumah.” Binar bahagia di mata ibunya membuat Juan merasa bersalah. Dan lagi, dia juga harus segera mengatakan pada ibunya kalau mereka sudah putus. Bahaya kalau ibunya tiba-tiba memaksanya untuk membawa Daisy ke rumah. Dia harus beralasan apa nanti? “Ma, sebenernya aku…” “Tadinya Mama udah mau jodohin kamu sama Hera, anaknya Tante Ira. Tapi karena—” “Ma! Kan aku udah bilang aku nggak suka dijodoh-jodohin.” “Tapi ini Hera, dia kan teman masa kecil kamu. Kalian juga masih deket kan sampai sekarang? Jadi Mama pikir kamu bakal setuju. Lagian kata Tante Ira, Hera udah lama loh suka sama kamu. Jadi kalau kamu nggak serius sama Daisy, Mama ada niatan buat jodohin kamu sama dia.” “Aku serius sama Daisy, jadi jangan jodoh-jodohin aku, apalagi sama Hera.” “Kenapa?” “Karena aku nggak suka.” Setelahnya Juan bangkit dari duduknya dan bersiap pergi ke kantor. “Hari ini aku mau pulang ke apartemen,” pamitnya. “Katanya mau nginep di sini dua hari? Kok baru sehari udah pulang?” “Aku kangen Molly.” “Ck, kucing mulu yang kamu kangenin! Sama Mama kamu nggak kangen?!” Juan berjalan cepat meninggalkan meja makan. Menginap di rumah orang tuanya selalu sukses membuat pikirannya kacau. *** Juan memasuki lift kantornya, dan kotak besi itu membawanya ke lantai teratas—tempat dimana ruang eksekutif berada. Begitu sampai di lantai yang dituju, Juan keluar dan beberapa sekretaris dari eksekutif lain mulai menyapanya ketika tidak sengaja berpapasan di lorong. “Pagi, Pak Juan.” Juan membalas seadanya. Beginilah kepribadian Juan. Dia memang tipe atasan yang tidak terlalu suka mengumbar senyum, apalagi suara. Jadi kejadian kemarin bersama Daisy termasuk ‘sangat’ langka. Daisy termasuk orang asing baginya, mereka baru bertemu beberapa jam, namun Daisy sudah bisa melihat berbagai senyum bahkan tawa Juan. Selain itu, Juan juga merasa menjadi cerewet jika berdekatan dengan gadis itu. Juan kembali terkekeh mengingat hari itu, hingga membuat orang-orang yang berpapasan dengannya meliriknya penasaran. “Pagi, Pak Juan. Di dalam ada Pak Darren yang sedang menunggu bapak.” Felicia—sekretaris Juan memberikan informasi yang selalu ia dengar setiap pagi. Ya, si tengik itu memang selalu mampir ke ruangannya setiap pagi. “Gimana kencannya? Lancar?” Sambut Darren begitu Juan memasuki ruangannya. “Begitulah,” jawab Juan singkat. “Agensi pacar sewaan yang gue kasih tahu oke, kan? Orangnya gimana? Cantik? Tante Ghina percaya dia pacar lo?” Semalam dia memang membawa pacar sewaan karena saran dari Darren. Tapi semuanya berujung musibah karena si pacar sewaan malah batal datang karena sakit perut mendadak. Beruntung ada Daisy. Malam yang penuh kesalahpahaman, namun cukup menyenangkan. “Begitulah,” jawab Juan lagi-lagi. Dia tidak berniat menceritakan soal Daisy kepada Darren. Cukup dia saja yang tahu soal itu. “Ngomong-ngomong sepupu gue nanti bakal dateng ke kantor lo, jadi kayaknya lo harus hubungin pacar sewaan lo lagi.” “Sepupu? Sepupu yang mana?” “Siapa lagi? Sepupu gue yang paling cantik dan tergila-gila sama lo sejak kecil, si Hera. Dia nggak percaya waktu Tante Ghina bilang lo udah punya pacar, jadi dia mau klarifikasi ke orangnya langsung,” kata Darren sambil terkikik kurang ajar. Darren yang paling tahu betapa kesalnya Juan jika sudah berhadapan dengan sepupu cantiknya yang super keras kepala itu. “Bilang ke dia gue lagi nggak di kantor.” “Cara kayak gitu nggak akan bikin dia mundur. Cara terbaiknya ya lo tunjukin langsung kalau lo emang punya pacar. Sewa lagi aja cewek semalem, Tante Ghina aja bisa lo kibulin, si Hera juga pasti bakal percaya.” Menyewa cewek semalam? Yang mana? Daisy maksudnya? Andai dia bisa membayar Daisy, dia pasti sudah melakukannya. Sayangnya kalau dia menghubungi Daisy sekarang, gadis itu pasti akan mengajaknya pura-pura pacaran dengan tenggat waktu yang entah sampai kapan dan melakukan serangkaian rencana menggelikan di otak kecil gadis itu. Itu merepotkan, dan Juan tidak mau melakukannya. “Kenapa, sih? Dia nggak bisa disewa dadakan?” tanya Darren saat mendapati wajah sahabatnya yang tampak bimbang. “Dicoba dulu aja. Kalau nggak mau, kasih bayaran yang mahal. Cewek bakal berubah pikiran kalo udah lihat duit,” saran Darren. “Bayangin aja, cukup nyewa cewek sekali, abis itu lo bakal bebas sepenuhnya dari Hera. Bukannya itu yang lo mau?” Bujuk rayu Darren membuat Juan mulai mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Pria itu dengan cepat mencari kontak Daisy. Namun bukannya meneleponnya, Juan malah sibuk memandangi deretan nomor Daisy di layar ponselnya dengan gamang. Keraguan terlihat jelas di matanya. Darren yang menyadari itu segera menyadarkan Juan dari keraguannya. “Buruan! Keburu Hera dateng. Dia bilang bakal dateng pas jam makan siang nanti, pacar sewaan lo kan juga butuh siap-siap, jangan terlalu mendadak!” peringatnya, semakin membuat Juan kelabakan. Darren sialan! Dengan kesal, Juan segera menekan tanda dial. Berselang beberapa detik, suara halus yang ia dengar semalam terdengar kembali, namun kali ini melalui sambungan telepon. Kemarin dirinya yang menentang keras rencana konyol Daisy. Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa sekarang Juan akan benar-benar menjilat ludahnya sendiri?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD