BAB 4 | Kontrak Perjanjian

2222 Words
“Halo?” “Daisy?” tanya Juan memastikan. “Iya. Ini siapa?” Apa ini? Baru semalam mereka bertemu dan mengobrol bersama, namun dia sudah melupakan suaranya?! “Ini Juan.” “Oh, Juan…” Kenapa nadanya begitu? “Soal rencana kamu semalam, aku setuju. Siang nanti datang ke kantorku, aku butuh bantuan kamu. Kamu bilang bisa bantu apapun, kan?” Juan tentu tidak lupa dengan janji manis yang semalam gadis itu lontarkan kepadanya. “Hmm, soal itu… sebenernya aku berubah pikiran. Kayaknya aku udah nggak terlalu tertarik sama rencana itu.” Balasan Daisy tentu membuat Juan kesal. Semalam gadis itu membujuknya habis-habisan, dan sekarang dengan entengnya dia bilang berubah pikiran. Apa gadis itu sengaja mempermainkannya? “Jangan macam-macam kamu. Jam makan siang nanti datang ke kantorku, lokasinya aku kirim lewat pesan singkat.” “Tapi, Juan…” “Datang atau aku bilang ke mantan kamu kalau kita cuma pura-pura pacaran?” “Memangnya kamu kenal mantanku?” Pertanyaan Daisy terdengar seperti tantangan di telinganya. “Yeremia Santoso, kan? Anak dari Sergio Santoso. Ayahnya salah satu petinggi di anak perusahaan milik ayahku, kebetulan anaknya juga kerja di sana.” “Ka-kamu tahu?” Jangan ragukan ingatan Juan yang tajam. Bagi kebanyakan orang menghafal wajah seseorang mungkin sulit, tapi bagi Juan itu hal yang cukup mudah. “Jam satu siang kamu udah harus sampai, jangan sampai terlambat.” “Tunggu!” “Apalagi?” Juan mulai jengah. “Tapi sekarang aku lagi di kantor, jadi aku nggak tahu bakal bisa sampai sana tepat waktu atau enggak.” “Kirim lokasi kantormu, aku bakal kirim sopir ke sana.” “Tapi kantorku jauh.” “Nggak masalah.” Sepertinya gadis ini sengaja ingin membuat-buat alasan agar tidak perlu ke kantornya. “Tapi hari ini aku nggak bawa gaun seksi.” Kali ini alasan konyol Daisy membuat dahi Juan mengerut. “Gaun seksi? Buat apa?” “Kamu bilang penampilanku harus kelihatan dewasa kalau ketemu Mama kamu.” Kali ini Juan tidak bisa lagi menahan tawa gelinya. Dia tidak menyangka Daisy akan benar-benar mempercayai ucapan gilanya semalam. Gadis ini benar-benar membuatnya kesal sekaligus gemas. “Nggak perlu pakai gaun seksi, pakai aja apa yang menempel di badan kamu sekarang. Lagipula hari ini kita bukan mau ketemu mamaku.” Setelah tidak ada lagi sanggahan dari lawan bicaranya, Juan pun menutup panggilannya. “Wow.” Darren bertepuk tangan sambil memandang sahabatnya penuh kekaguman. “Apa?” balas Juan bingung. “Ini pertama kalinya gue lihat ekspresi lo yang seberagam itu. Kalau karyawan di sini lihat wajah lo tadi, mereka pasti bakal terheran-heran,” kata Darren yang masih terkagum-kagum. “Pangeran es kita akhirnya cair juga.” Kali ini ucapan Darren mendapat lemparan pulpen besi dari Juan. Dia merasa ucapan Darren berlebihan. Dia ini bukan orang yang tidak bisa tersenyum dan tertawa sama sekali, dia hanya jarang menampilkannya. *** Daisy melirik sekitarnya dengan gugup. Dia memang selalu begini ketika berada di lingkungan yang tidak familiar baginya. “Aku udah di lobby,” kata Daisy pada Juan di seberang telepon. “Bilang ke resepsionis di sana kamu mau ketemu Juan Wiyoko. Aku udah bilang ke dia buat ngasih kamu kartu akses ke lift khusus.” Daisy menuruti ucapan Juan, dan benar dia langsung diberi kartu akses begitu memberitahukan namanya. Kantor ini luas, jauh lebih luas dibanding kantornya. Tentu saja, ini kan kantor pusat Wiyoko Group—perusahaan raksasa yang membawahi perusahaan-perusahaan besar lainnya, termasuk perusahaan tempat Yeremia bekerja. Daisy mengerucutkan bibirnya kesal begitu mengingat ancaman yang diberikan Juan lewat telepon tadi. Dia juga baru tahu kalau Juan adalah anak dari pemilik Wiyoko Group sekaligus pewaris tunggal dari perusahaan raksasa tersebut. Daisy merutuki dirinya sendiri, dia benar-benar telah berurusan dengan orang yang salah! “Sudah sampai?” sambut Juan saat mendapati Daisy yang baru saja memasuki ruangannya. Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya dia sampai juga di ruangan si bos besar ini! “Aku nggak bisa lama-lama, setelah istirahat aku udah harus balik ke kantor.” “Nggak lama kok. Kita cuma perlu makan siang sebentar. Kita makan di restoran dekat kantor aja. Tempatnya tepat di sebelah kantor, jadi nggak perlu macet-macetan di jalan.” Juan segera bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan bersama Daisy. “Jadi kita mau ketemu siapa?” tanya Daisy saat mereka sudah berada di dalam lift. “Perempuan.” “Mantan kamu?” “Bukan.” “Terus siapa?” “Orang yang perlu kamu buat percaya kalau kamu pacarku,” jawab Juan sambil mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba. Daisy kaget dan langsung mundur hingga punggungnya tanpa sengaja menabrak dinding lift dengan keras. Gadis itu meringis. “Sakit?” tanya Juan khawatir. “Kenapa tiba-tiba begitu, sih? Aku kan jadi kaget!” kesal Daisy sambil memukul bahu pria jangkung itu. Di saat bersamaan, pintu lift terbuka dan aksi keduanya tertangkap beberapa pasang mata hingga membuat Daisy kikuk sendiri. “A-ayo turun, banyak yang ngeliatin dari luar,” kata Daisy tidak nyaman. Belum lagi dengan Juan yang masih saja mengusap-usap punggungnya hingga membuat banyak pasang mata di sana semakin memandangnya dengan rasa penasaran. Daisy langsung menghindar, mengambil jarak aman dari sosok Juan ‘si penarik perhatian’. “Ayo buruan ke restoran, aku kan udah bilang nggak bisa lama-lama, nanti aku telat balik ke kantor,” kata Daisy lagi. Padahal alasannya ingin cepat-cepat pergi karena tidak tahan dengan tatapan orang-orang di sana. Namun aksi Juan selanjutnya malah semakin menyita perhatian. Pria itu tanpa persetujuan Daisy langsung menggenggam tangannya dan menariknya melewati beberapa pasang mata yang terus mengulitinya. “Kenapa harus pegangan tangan gini, sih?” Daisy terus berusaha menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Juan. “Kamu ke sini buat akting jadi pacarku, kan? Namanya orang pacaran ya harus pegangan tangan,” kata Juan dengan entengnya. Tidak salah juga, sih… Jadi dengan pasrah Daisy membiarkan Juan menggenggam dan menarik tangannya entah kemana. Biar sajalah, toh ini terakhir kalinya ia menginjakkan kakinya di sini dan ini juga akan menjadi kali terakhir dia menjadi pusat perhatian di perusahaan besar ini. *** Daisy meremas rok span selututnya gugup. Di depannya ada wanita cantik bertubuh semampai dengan dress ketat merah yang sepertinya ‘tipe’ Juan sekali. Wanita ini sepertinya seumuran Juan, tubuhnya tinggi, selera fashionnya bagus. Dia sudah seperti model ternama, atau jangan-jangan dia memang model? Setelah memperhatikan wanita itu, Daisy memandangi penampilannya sendiri dan tanpa sadar merasa rendah diri karena saat ini dia hanya mengenakan kemeja putih polos dengan rok span berwarna peach yang pendeknya selutut. Penampilannya seperti gadis kantoran pada umumnya, tidak ada yang spesial. Tapi bisa-bisanya Juan membawanya untuk menemui wanita spek model seperti ini. Apa Juan pikir wanita itu akan percaya kalau dia adalah pacarnya? “Jadi dia pacar kamu?” Wanita itu kembali memandangi Daisy dengan tatapan meremehkannya. Daisy tidak suka itu! “Ya.” “Jadi selera kamu yang seperti ini?” Daisy mengerutkan keningnya tanpa sadar. Yang ‘seperti ini’ apa maksudnya?! “Kalau kamu suka perempuan yang penampilannya biasa aja kayak gini aku juga bisa kok. Aku bisa dandan jadi apapun yang kamu suka. Kamu tinggal bilang aja, Juan.” Daisy kembali mengerutkan dahinya. Dia menatap wanita di depannya yang sedang memandang Juan penuh cinta. Cinta? Itu bukan cinta, tapi obsesi namanya! Menurutnya wanita ini agak tidak waras. Wajar Juan sampai memaksanya ikut ke sini untuk mengatasi wanita gila ini. Tapi gara-gara Juan dia jadi ikut terjebak dalam situasi ini, bersama wanita gila ini pula! “Hera, dari dulu bukan kamu yang aku mau. Mau kamu berubah jadi kayak apapun, aku tetap nggak akan suka sama kamu.” “Tapi kenapa? Aku kurang apa?” “Nggak ada yang kurang dari kamu. Aku cuma nggak mau kamu.” “Tapi aku mau kamu, Juan,” rengek wanita itu membuat Daisy merinding. “Selama ini aku lunak ke kamu karena kamu sepupu dari sahabatku. Kita juga teman masa kecil, dan keluarga kamu juga berteman baik dengan keluargaku. Tapi kalau kamu masih seperti ini, jangan salahkan aku kalau sampai bertindak kasar,” kata Juan yang sepertinya sudah lelah menghadapi perempuan gila itu. “Kok kamu ngomongnya gitu, sih? Kamu berubah, Juan! Kenapa kamu begini? Apa gara-gara cewek itu?!” Daisy langsung bersikap siaga, jaga-jaga kalau tiba-tiba kuku runcing wanita itu mampir ke wajah cantiknya. Awas saja kalau berani, dia akan melempar gelas di depannya ke wajah wanita gila itu. Jangan pikir Daisy takut! “Jangan bawa-bawa Daisy. Dengan atau tanpa dia, aku tetap nggak akan mau sama kamu. Jadi jangan ganggu pacarku, sedikit aja kamu sentuh dia, aku bakal ngasih perhitungan ke kamu. Kamu tahu kan aku nggak pernah main-main sama omonganku?” Daisy melirik ke arah pria di sampingnya. Pria itu terlihat menyeramkan. Dia tampak berbeda dari sosok Juan yang dia kenal. Atau memang begini sosok aslinya? *** “Mau mampir ke ruanganku dulu?” Acara ‘pura-pura pacarannya’ sudah selesai. Daisy sudah melakukan tugasnya dengan baik, dan sekarang saatnya dia kembali ke kantor. Namun tiba-tiba saja Juan memberinya tawaran yang terdengar tidak menarik di telinganya. “Aku mau langsung ke kantor.” “Aku antar kalau begitu.” “Enggak usah, aku naik taksi aja,” tolak Daisy. Dia ingin mengakhiri hubungannya dengan Juan sampai di sini saja. Setelah melihat sosok Juan hari ini, Daisy sadar kalau dia tidak boleh bermain-main dengan sosok se-berpengaruh Juan. Level mereka terlalu berbeda. “Aku antar aja biar lebih cepet.” “Sopir kamu tadi kemana?” Pertanyaan Daisy membuat Juan mengerutkan dahinya tidak suka. “Kenapa memangnya?” “Biar sopir kamu aja yang antar aku. Kamu kan sibuk, jam istirahat juga udah hampir habis.” Daisy masih berusaha membujuk Juan untuk mengurungkan niatnya. “Kenapa kamu begini?” Kali ini wajah Juan terlihat serius. “Begini gimana?” “Kamu sengaja menghindari aku?” Daisy meremas ujung roknya. Pria itu seperti punya kemampuan membaca pikiran. Sejauh ini tebakannya tentang Daisy selalu benar. “Aku cuma ngerasa nggak seharusnya kita terlalu sering berhubungan.” Wajah Juan semakin berkerut tidak suka. “Kenapa?” “Karena kamu orang yang berpengaruh.” “Berpengaruh? Apa maksudnya?” Saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor ini, Daisy sudah berpikir kalau Juan memiliki karir yang bagus. Dia pria yang sukses. Namun saat tahu nama lengkap pria itu dari resepsionis, juga saat menginjakkan kaki di ruangan pria itu, Daisy sadar kalau mereka hidup di dunia yang berbeda. Pengaruh Juan terlalu menakutkan untuknya, terutama saat pria itu mengancam dirinya soal Yeremia. Tidak hanya Yeremia yang bekerja di anak perusahaannya, melainkan ayah tirinya juga. Jika keluarganya tahu dia membuat masalah dengan pria seperti Juan, Daisy pasti akan berada dalam masalah. “Aku cuma ngerasa levelmu terlalu jauh di atasku. Itu bikin aku takut.” “Kamu takut aku menyalahgunakan kekuasaan?” Wajah Juan terlihat tersinggung. “Bisa dibilang begitu.” Daisy memilih jujur. “Kamu pikir aku orang yang nggak bisa membedakan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi?” “Tapi buktinya kamu ngancem aku soal Yere!” “Aku cuma bakal bocorin rahasia kamu, bukan berarti aku bakal pecat dia. Lagian buat apa juga?” kata Juan dengan tampang meledek. Tapi ini bukan soal Yere, tapi ayah tiri Daisy! Kalau Juan sampai tahu kalau ayahnya juga bekerja di anak perusahaannya, bisa jadi pria itu juga akan menjadikan hal ini senjata. “Pokoknya aku nggak mau berhubungan sama kamu lagi!” “Aku yang memutuskan, bukan kamu.” Nah, lihat kan? Sikap sok suka merintahnya kumat lagi! “Kamu sudah setuju jadi pacar pura-puraku, jadi kamu harus menyelesaikan tugas kamu sampai akhir.” “Kapan aku setuju?!” “Dengan kamu datang ke sini hari ini, itu artinya kamu sudah setuju.” Lagipula Juan masih sangat membutuhkan jasa Daisy karena dia yakin Hera tidak akan menyerah semudah itu. Dia pasti masih akan menerrornya setelah ini. “Kamu juga bisa manfaatin aku kalau mau.” Daisy terdiam. Kalimat itu terdengar familiar, dan sedetik kemudian dia ingat kalau itu kalimat yang pernah ia katakan pada Juan saat dia membujuk pria itu untuk setuju menjadi pacar pura-puranya. Dia sengaja menyindirnya, ya?! Daisy kesal sekali, terlebih saat dia melihat senyum miring di wajah pria itu. “Kenapa harus aku?! Kamu kan banyak uang, sewa aja perempuan lain buat jadi pacar kamu!” Daisy sudah tidak mampu lagi menjaga nada suaranya. “Sayangnya, ibuku sudah terlanjur hafal wajah kamu. Begitu juga dengan Hera.” “Hera?” “Perempuan yang tadi,” jelas Juan. Argh, menyebalkan! Sekarang hubungannya dengan Juan pasti tidak akan selesai dengan mudah, dan kenapa juga dia pernah menawarkan ajakan konyol itu pada laki-laki di depannya ini?! “Oke, aku setuju jadi pacar pura-pura kamu. Tapi aku punya beberapa persyaratan.” “Apa itu?” “Aku perlu mikirin detailnya dulu. Begitu syarat-syaratnya udah aku buat, kamu harus tanda tangani berkasnya.” Juan mengerutkan dahinya bingung. Sudut bibirnya berkedut, merasa konyol dengan ide kekanakan gadis di depannya. “Jadi kamu mau perjanjian ini ditulis di atas kertas?” tanya Juan, masih dengan mempertahankan senyum gelinya. Beberapa orang yang lewat tampak memandangi pria itu. Ngomong-ngomong saat ini mereka masih berada di lobby perusahaan, dan para karyawan tentu terheran-heran melihat pemandangan langka itu—kapan lagi mereka bisa melihat senyum bosnya? Ya, meski senyumnya hanya segaris. “Ya! Aku mau kontrak di atas kertas.” Karena Juan bukan orang sembarangan, maka Daisy perlu kontrak untuk memberi batasan-batasan agar pria itu tidak bertindak seenaknya. Rakyat jelata seperti Daisy harus punya strategi agar tidak dimanfaatkan oleh orang berpengaruh seperti Juan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD