BAB 5 | Pilih Kasih

1140 Words
Setelah kembali ke kantornya, pikiran Daisy tidak bisa lepas memikirkan sosok Juan. Dari tadi otaknya sibuk memikirkan rentetan syarat yang akan ia tulis di kontrak kencan mereka nanti. Dia harus menulis kontraknya dengan hati-hati. Juan bukan orang sembarangan. Strateginya harus matang ketika berhadapan dengan orang seperti Juan. “Daisy!” “Eh, iya?” Daisy menoleh ke samping. “Dari Tadi gue panggil juga!” ucap temannya kesal. “Ngelamunin apa, sih?” “Bukan apa-apa,” kata Daisy sambil kembali fokus menekuri layar monitor di depannya. “Tadi kamu mau bilang apa, Nes?” “Gue nanya, gimana makan malamnya kemarin?” Diingatkan soal itu, bahu Daisy langsung terkulai lesu. “Aku nggak ikut makan malamnya sampai selesai. Aku kabur.” “Tuh, kan?! Gue bilang juga apa? Emang harusnya lo nggak usah ikut dari awal, lo sih nggak mau dengerin gue,” omel Nessa. Nessa adalah satu-satunya teman dan satu-satunya orang yang tahu tentang kisah cintanya bersama Yeremia. Nessa juga tahu sehancur apa Daisy saat adik tirinya mengaku dihamili pacarnya—mantan pacar maksudnya. Nessa juga yang melarang Daisy habis-habisan untuk datang ke acara makan malam keluarga yang akan membahas tanggal pernikahan Yeremia dan Rhea. “Kamu tahu Mamaku kan, Nes? Aku nggak akan bisa nolak permintaannya.” “Lo yakin dia ibu kandung lo? Kenapa dia sebegitunya di pihak Rhea dari pada lo yang anak kandungnya sendiri?” ujar Nessa jengkel. Nessa tahu ibu Daisy memang sangat menyayangi Rhea, tapi dia tidak menyangka rasa sayangnya akan sebesar ini. Bahkan saat tahu Rhea hamil dengan pacar putri kandungnya, ibu Daisy malah menyuruh Daisy merelakan pacarnya demi Rhea. Saat mendengar cerita itu dari Daisy, Nessa benar-benar kesal. Ingin rasanya dia memberi perhitungan pada ibu sahabatnya itu. “Mama cuma nggak mau ditinggal Papa,” ujar Daisy lemah. Ayah kandung Daisy meninggal sejak usia Daisy masih kecil. Sejak itu, hidupnya bersama ibunya bisa dikatakan memprihatinkan. Mereka hidup dalam kemiskinan, namun sejak bertemu dengan ayah tirinya, hidup Daisy menjadi serba berkecukupan. Daisy bisa bersekolah di tempat yang bagus, hidup dengan layak, punya rumah yang mewah. Semua itu ia dapat dari ayah tirinya. Karena itu, ibunya selalu menomor satukan Rhea karena ibunya beranggapan jika ia menyayangi Rhea, maka suaminya juga akan semakin menyayanginya. Awalnya Daisy setuju dengan pola pikir ibunya, namun semakin kesini ibunya jadi semakin berlebihan. Ibunya terlampau menyayangi Rhea sampai-sampai melupakan perasaan putri kandungnya. Sejak kecil, Daisy selalu dipaksa mengalah untuk Rhea. Usia Daisy hanya satu tahun di atas Rhea, namun dia dipaksa menjadi sosok kakak yang harus menyerahkan apapun yang dia punya demi adiknya. Mulai dari mainan, pakaian, kasih sayang ibunya, dan kini Rhea bahkan mengambil calon suaminya. “Ibu lo gila sih menurut gue. Sayang suami sih sayang suami, tapi nggak segitunya juga kali. Nggak semua hal yang dilakuin Rhea harus dibenarkan. Kalo gue jadi nyokapnya Rhea, udah gue gampar tuh anak. Jadi cewek kok minus akhlak banget, bisa-bisanya calon laki kakaknya diembat juga!” Nessa mulai berapi-api. “Biarin ajalah. Lagian mereka cocok kok.” Nessa mengangguk menyetujui. “Bener sih, cocok karena sama-sama berengsek.” Keduanya tertawa geli. Sekarang Daisy sudah tidak lagi mellow setiap kali membicarakan hal ini. Dia sudah ikhlas jika Yeremia menikah dengan Rhea. Hanya saja, dia malas jika harus berada satu ruangan dengan dua orang itu. Kedua orang itu membuatnya muak. “Ngomong-ngomong, orang kantor ngira kemarin lo tunangan.” Kali ini Nessa berbicara sambil berbisik-bisik. “Hah? Kok bisa?” “Mereka kan tahu lo pacarnya si Yere. Terus si Nita lihat lo kemarin di restoran sama keluarga besar katanya, ada Yere sama keluarganya juga. Jadi Nita kira lo lagi ada pertemuan keluarga gitu dan mulai nyebarin gosip itu ke anak kantor yang lain.” Karena Yeremia sempat bekerja di perusahaan ini, juga sering mengantar jemput Daisy selama mereka berpacaran, jadi banyak teman kantornya yang mengenal Yeremia. “Ck, pantesan dari tadi orang-orang ngucapin selamat mulu! Ternyata gara-gara itu?” Nessa menatap Daisy nelangsa. “Apa mau gue aja yang klarifikasi?” “Nggak usah. Cuekin aja,” kata Daisy. Dia juga tidak punya waktu mengurusi gosip tidak jelas itu. Tapi meski berusaha tidak memikirkan gosip itu, sebenarnya Daisy tetap kepikiran! Bagaimana tidak? Seminggu yang lalu rekan-rekannya menyadari ada cincin di jari manisnya, dan mau tidak mau Daisy jujur bahwa Yeremia memang sudah melamarnya meski belum secara resmi. Daisy sudah sesumbar acara pertunangannya akan berlangsung minggu depan, tapi sekarang berakhir berantakan. Sejujurnya dia malu jika harus jujur pada yang lainnya. “Udah jangan dipikirin,” kata Nessa yang sadar dengan wajah masam sahabatnya. “Aku malu, Nes.” “Ngapain malu? Yang harusnya malu itu ya si Yere! Kenapa jadi lo yang malu?” Iya juga, sih… Tapi gagal nikah itu juga hal yang memalukan, kan? Mana sudah sesumbar lagi! “Udah, entar gue bantu cari cowok baru. Cowok nggak cuma Yere aja!” “Nggak tertarik,” kata Daisy dengan tampang cemberut. “Kenapa? Gagal move on lo?” ledek Nessa. “Enggaklah, enak aja! Aku mau fokus karir dulu,” bantah Daisy. Dia tidak sudi dianggap gagal move on. “Lagian mantanku juga nggak bagus-bagus amat!” Tawa Nessa pecah. “Emang! Mata lo kelilipan kali lima tahun ini, sampai nggak sadar kalau lagi macarin buaya darat.” Ya, sepertinya memang begitu. “Ngomong-ngomong soal fokus karir, Mbak Renna katanya mau resign bulan ini,” kata Nessa. Info Nessa kali ini membuat Daisy tertarik, “Serius?” Mbak Renna adalah ketua tim mereka. Daisy dan Nessa bekerja di PopShift Management—perusahaan yang menaungi para artis dan influencer papan atas. Mereka sendiri bekerja sebagai Brand Partnership yang bertugas menjalin kerja sama dengan brand-brand yang tertarik menggunakan para artis mereka sebagai model produk, brand ambassador, atau untuk sebatas endorsement. Kabar resign Mbak Renna tentu seperti angin segar bagi Daisy yang sudah kebelet naik jabatan. Dia ingin dipromosikan, punya karir tinggi, dan gaji yang tinggi juga tentunya. “Gue denger dari anak HR, katanya Mbak Renna mau ikut suaminya ke luar kota. Kesempatan lo nih buat dapet promosi.” “Emang lo enggak?” “Nggak tertarik. Gue mau kerja seadanya aja di sini biar bisa fokus ke bisnis kecil-kecilan yang lagi gue rintis.” Nessa memang sedang membangun bisnisnya bersama sang pacar. Jika bisnisnya berkembang pesat, kemungkinan Nessa akan resign agar bisa fokus ke bisnis tersebut. “Saran gue banyak-banyakin cari muka ke Pak Gio deh,” kata Nessa yang dibalas Daisy dengan tatapan keberatan. “Kenapa jadi Pak Gio? Yang ngasih rekomendasi pengganti Mbak Renna kan ya Mbak Renna sendiri?” “Tapi kan harus atas acc bos besar kita. Lo lupa siapa yang punya perusahaan?” Tanpa sadar Daisy berdecak, malas sekali kalau harus berurusan dengan bos juteknya itu. Bisa tidak dia dapat promosi tanpa harus dekat-dekat si bos, apalagi sampai harus cari muka? Jangankan cari muka, berada di satu ruangan yang sama saja Daisy sudah malas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD