Daisy sibuk dengan berkas-berkas kerja sama bersama beberapa brand yang sedang dia tangani. Beberapa hari ini dia lembur. Tapi tidak masalah, siapa tahu kerja kerasnya beberapa hari ini membuatnya berhasil dipromosikan. Semoga saja.
Beberapa kali ponselnya berdenting menandakan pesan masuk, Daisy hanya mengeceknya sekilas—siapa tahu itu perwakilan dari brand yang sedang dia handle. Namun dia berdecak karena lagi-lagi itu pesan dari Juan. Pria itu tidak ada kerjaan, ya? Kenapa dari tadi terus mengganggunya?
Setelah beberapa kali Daisy abaikan, si pemilik nomor langsung menelponnya. Sudah beberapa kali ia reject, namun pria itu masih tidak menyerah. Merasa jengah, Daisy akhirnya memilih untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Kenapa, sih?” kesal Daisy begitu dia mengangkat panggilan tersebut.
“Galak banget.”
Daisy mendengkus kian keras. Dia bisa membayangkan wajah pria itu yang pasti sedang meledeknya.
“Ada urusan apa? Aku lagi sibuk,” kata Daisy to the point.
“Kamu lagi kerja?”
“Hmm,” balas Daisy malas-malasan.
“Di jam segini?”
“Iya! Sebenernya kamu ada perlu apa? Kalau nggak ada yang penting, aku tutup telponnya.”
“Soal perjanjian itu gimana? Kamu udah selesai bikin syarat-syaratnya?”
Pertanyaan Juan membuat Daisy urung menutup teleponnya. Dia melirik ke tumpukan kertas yang baru dia print tadi pagi.
“Udah.”
“Bagus. Setelah kamu selesai kerja, kita ketemu sebentar. Aku mau baca persyaratan di dalam kontraknya.”
Daisy menghela napas lelah. Pria itu mengajaknya bertemu? Di jam segini? “Besok aja, ini udah kemaleman. Aku juga capek, mau langsung pulang.”
“Aku yang bakal jemput kamu sekaligus anterin kamu pulang. Kita obrolin perjanjiannya di perjalanan pulang aja.”
“Tapi aku capek, Juan…” rengek Daisy. Saking lelahnya, Daisy sampai tidak sadar sedang bertingkah sok imut seperti ini.
“Kan aku yang nyetir.”
Memang. Tapi Daisy sedang tidak ada energi membahas soal kontrak tidak penting itu. Lagipula dia sudah tidak tertarik dengan perjanjian konyol itu, tapi kenapa Juan begitu bersikeras?
“Kabarin kalau kamu sudah selesai lembur, aku bakal langsung jemput kamu.”
Ya, memangnya Daisy bisa apa? Dia mana bisa mengalahkan keras kepalanya si anak konglomerat ini?
***
“Pihak pertama tidak diperbolehkan mengganggu atau mencampuri kehidupan pribadi pihak kedua. Tidak boleh ada bentuk ancaman apapun, terlebih jika ancaman tersebut dapat mengganggu keselamatan atau keberlangsungan hidup pihak kedua, termasuk yang berkaitan dengan karir.”
Juan tertawa mendengar poin tersebut. “Kamu masih takut aku menyalahgunakan kekuasaan?”
Saat ini mereka sedang berada di perjalanan menuju rumah Daisy. Seperti janji Juan, pria itu yang akan mengantar Daisy pulang. Dan selama perjalanan pulang, Daisy sibuk membacakan poin-poin perjanjian yang ingin ia ajukan pada pria itu.
“Aku harus jaga-jaga, karena orang yang terlibat sama aku sekarang bukan orang sembarangan.”
“Memangnya aku siapa?” Juan melirik jahil ke arah Daisy.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu!”
“Ya kan aku tanya, di mata kamu aku ini siapa? Aku penasaran.”
“Kenapa kamu penasaran?”
“Kita kan sekarang partner, apa salahnya berbagi pandangan?”
Daisy mencebik kesal, meski begitu dia tetap meladeni pertanyaan kurang kerjaan Juan. “Kamu Juan Wiyoko. Si pewaris perusahaan raksasa—Wiyoko Group,” kata Daisy dengan tampang meledek.
“Itu aja?”
Daisy mengangguk.
“Cuma itu aja yang kamu tahu? Aku kira kamu bakal kasih aku jawaban yang menarik.”
“Ekspektasi kamu yang ketinggian! Bisa kita lanjut bahas isi kontrak perjanjiannya? Kenapa jadi bahas yang nggak penting?” ujar Daisy dengan wajah kesalnya. Daisy bukan tipe orang yang suka marah, tapi sejak kenal Juan, kepribadiannya jadi berubah.
“Silakan,” balas Juan santai.
Daisy berdecih. Lihat senyum miring pria itu? Ekspresinya seolah meremehkan lawan bicaranya! Kenapa Juan selalu berekspresi seperti itu setiap kali berhadapan dengannya? Apa dia pikir Daisy orang yang bisa dia anggap remeh?
“Perjanjian ini cuma berlaku selama seminggu sejak berkas ini ditanda tangani.”
Poin kali ini membuat raut wajah Juan tampak keberatan. “Cuma seminggu? Kamu bercanda, kan? Mana ada orang pacaran cuma seminggu?”
“Aku serius.”
“Nggak ada orang pacaran cuma seminggu, Daisy! Yang bener aja kamu.”
“Pokoknya aku cuma mau seminggu,” balas Daisy keras kepala. Sudah dia bilang dia tidak mau berurusan terlalu jauh dengan orang seperti Juan.
“Tiga bulan.”
“Seminggu.”
“Dua bulan.”
“Aku bilang, cukup sem—” Juan baru saja memberhentikan mobilnya di depan rumah Daisy, dan di depan pagar rumahnya, Daisy bisa melihat mantan pacarnya sedang berciuman dengan adik tirinya.
Tubuhnya menegang seketika. Dia selalu berpikir dia sudah move on sepenuhnya dari Yeremia, lagipula apa bagusnya pria itu? Namun setelah melihat Yeremia mencium wanita lain dengan mata kepalanya sendiri, hati Daisy kembali sakit.
Hubungan lima tahun bersama Yeremia nyatanya tidak bisa dia lupakan semudah itu.
“Juan.”
“Ya?” Balas Juan dengan tampang datar.
“Kamu mau kemana setelah ini?” tanya Daisy, masih dengan pandangan yang fokus ke arah pasangan tidak tahu malu yang masih asyik mencium bibir satu sama lain.
“Pulang,” balas Juan sambil memperhatikan ekspresi Daisy yang sulit diartikan. Dia tahu gadis itu sedang hancur, namun gadis itu berusaha keras untuk tidak menangis.
“Pulang kemana?”
“Ke apartemenku.”
Hening setelahnya.
“Kamu mau ikut?” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Juan.
“Boleh?” Dan seolah sama-sama sedang gila, Daisy pun dengan sadar menyerahkan dirinya dibawa ke apartemen pria yang baru dua hari ini dia kenal.
Sepertinya sakit hati membuat logika Daisy tidak bekerja.
***
Juan tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke apartemennya, bahkan Darren—sahabatnya saja belum pernah menginjakkan kakinya di apartemen ini.
Sejauh ini hanya ibunya saja yang pernah datang ke sini, dan Daisy menjadi orang kedua yang ia biarkan masuk ke dalam apartemennya. Sepertinya Juan mulai gila.
“Dua bulan.” Suara serak Daisy memecah keheningan di antara keduanya yang sibuk saling diam sejak menginjakkan kaki di ruang tamu apartemen Juan.
Sejak tiba di apartemen Juan, Daisy sibuk menangis dan Juan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Dan sekarang, dengan mata dan hidung memerahnya, Daisy mulai kembali membahas kontrak mereka seolah tidak pernah menangis meraung-raung seperti beberapa jam lalu.
“Aku setuju pura-pura pacaran selama dua bulan,” lanjut Daisy sambil sesekali membersit hidungnya dengan sapu tangan pink bermotif bunga-bunga miliknya.
Juan tersenyum geli, merasa lucu dengan wajah bengkak Daisy akibat kebanyakan menangis. Namun Juan berpura-pura tidak tahu, dan memilih untuk fokus pada kontrak yang sedang mereka bahas.
“Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?” Beberapa jam yang lalu, Daisy masih kekeh menolak usulannya untuk pura-pura pacaran selama dua bulan, tapi kenapa gadis itu tiba-tiba berubah pikiran?
“Apa ini karena kejadian tadi? Kamu kesal setelah mergokin mantan kamu ciuman sama adik kamu sendiri, makanya tiba-tiba kamu setuju sama penawaranku?”
“Ya.” Daisy tidak mengelak.
“Seperti yang kamu bilang, kita bisa saling memanfaatkan satu sama lain,” kata Daisy dengan raut wajah serius.
Setelah dipikir-pikir, rasanya tidak adil membiarkan Yeremia dan Rhea bebas begitu saja setelah membuatnya sehancur ini. Daisy juga ingin membuat mereka hancur, dan dia akan menghancurkan keduanya melalui Juan.
“Kamu mau apa? Mau pria itu aku pecat?”
Daisy menggigit bibir bawahnya keras-keras. Seharusnya dia menyetujui usulan Juan secepat kilat. Pria itu sudah mengkhianatinya, membuatnya merasa tidak diinginkan dan tidak berharga. Yeremia tentu sangat pantas mendapatkan hal itu. Namun…
Apakah dia benar-benar menginginkan hal itu? Sebenarnya, apa yang dia harapkan dari hubungan pura-pura ini?
“Jangan. Kamu nggak perlu berbuat sejauh itu.” Sialnya, hati nurani Daisy lagi-lagi lebih mendominasi. Yeremia harusnya bersyukur memiliki mantan sebaik dirinya!
“Lalu imbalan apa yang kamu mau? Kamu bisa menambahkannya di kontrak sekarang juga, aku akan setuju apapun itu.”
Lihat? Partner-nya ini memang bukan orang sembarangan. Jika Daisy ingin Yeremia hancur saat ini juga, Juan pasti akan mengabulkannya dengan mudah. Tapi lagi-lagi Yeremia beruntung memiliki mantan pacar sebaik dirinya.
“Untuk sekarang, aku cuma mau bikin Yere menyesal karena udah ngehianatin aku. Aku juga mau ngebuktiin ke Rhea kalau aku bisa dapetin pacar yang jauh lebih baik dari Yere,” ujar Daisy berapi-api.
“Rhea?”
“Dia adik tiriku.”
“Apa hubungan kalian memang nggak baik sejak awal?”
“Begitulah,” jawab Daisy murung. Meski Rhea selalu bertingkah seolah hubungan mereka baik-baik saja, namun Daisy sadar kalau gadis itu selalu menginginkan apapun yang dimilikinya. Gadis itu selalu merebut apapun yang dimilikinya, termasuk Yeremia.
“Jadi apa rencana kamu?”
“Minggu depan ada acara kumpul keluarga di rumahku. Yeremia juga bakalan datang.”
“Terus?”
“Aku mau kamu juga datang. Aku udah bantu kamu buat jadi pacar pura-pura kamu di depan si Hera-Hera itu. Sekarang giliran kamu buat bantu aku.”
“Jadi kamu mau pamer karena sudah punya pacar baru?” goda Juan.
“Bukan. Aku mau pamer kalau pacarku sekarang levelnya jauh di atas Yere!”
Juan sedikit kaget dengan jawaban tidak terduga itu. Gadis ini ternyata cukup blak-blakan. Menarik juga.
“Ngomong-ngomong, karena kamu tahu Yere kerja di anak perusahaan kamu, apa mungkin Yere juga kenal kamu?”
“Kayaknya enggak. Waktu ketemu di depan restoran waktu itu, dia juga nggak kenal aku kan?” Lagipula Juan jarang datang ke anak perusahaan Wiyoko Group. Sehari-hari dia hanya bertugas di kantor pusat.
“Orang-orang nggak banyak yang kenal aku. Wajahku juga jarang masuk berita atau majalah, aku kurang suka kalau informasi pribadiku menjadi konsumsi publik,” terangnya panjang lebar.
Sejauh ini hanya orang-orang di kantor pusat saja yang hafal wajahnya, sedangkan orang-orang di anak perusahaan Wiyoko Group banyak yang belum tahu wajah Juan.
“Bagus! Kalau begitu kita bakal kasih kejutan ke keluarga besarku,” kata Daisy penuh semangat. Dia membayangkan bagaimana reaksi keluarga besarnya jika tahu kalau dia berpacaran dengan pewaris tunggal Wiyoko Group—perusahaan induk tempat ayah tiri dan mantan pacarnya bekerja. Daisy penasaran bagaimana reaksi mereka nanti? Terutama reaksi Rhea—adik tirinya.
Apakah kali ini Rhea juga akan merebut pacarnya lagi?