BAB 7 | Apartemen Kemarin?

1237 Words
Daisy sibuk dengan setumpuk dokumen kerja sama dengan beberapa brand partner di mejanya. Sejak Mbak Renna mengumumkan akan resign bulan depan, pekerjaannya jadi semakin menumpuk. Tentu saja Daisy lelah, tapi hal ini bisa menjadi momentum untuknya agar dipromosikan menggantikan Mbak Renna sebagai brand partnership lead. “Daisy, bisa ke ruangan saya sebentar?” Daisy mengerjapkan matanya heran bercampur antusias. CEO-nya sampai repot-repot ke lantai tempatnya bekerja hanya untuk memanggilnya? Apa Pak Gio mau membahas soal pengganti Mbak Renna? Daisy ingin menjerit saking antusiasnya! “Baik, Pak. Saya segera ke sana.” Daisy bangkit dari duduknya sambil membenarkan rok pink-nya yang sedikit kusut. Dia berusaha keras menyembunyikan senyumnya, namun pada akhirnya senyum kecil itu lepas juga. “Good luck, ya!” Nessa memberi semangat sambil berkedip centil. “Ck, good luck apanya!” balas Daisy sambil berusaha memasang wajah datar. Jangan senang dulu, Daisy. Belum tentu Pak Gio mau ngebahas soal promosi! Tolong jangan ke-PD an dulu! “Kalau udah jadi bu leader, jangan lupa traktirannya.” Namun celetukan Nessa membuat hati Daisy kembali melambung tinggi. Ini kalau dia sampai jatuh, Nessa harus tanggung jawab pokoknya! *** “Saya harus handle proses kerja sama dengan Wiyoko Techwear?” “Benar. Wiyoko Techware sedang menyiapkan produk baru berupa smartwatch yang cocok digunakan saat olahraga. Mereka tertarik menjadikan influencer kita yang punya branding gaya hidup sehat sebagai ambassador-nya, dan saya mau kamu yang meng-handle project ini.” “Sa-saya, Pak? Bapak yakin?” tanya Daisy takut-takut. Wiyoko Group merupakan perusahaan raksasa di bidang teknologi yang membawahi banyak anak perusahaan, salah satunya Wiyoko Techware. Suatu kehormatan bagi PopShift Management—agency artis dan influencer yang masih tergolong baru—mendapatkan kontrak sebesar ini. Tapi, ini sungguh harus Daisy yang meng-handle-nya? Daisy memang sesumbar ingin menjadi pengganti Mbak Renna, tapi ya tidak harus langsung mendapat project dengan tanggung jawab sebesar ini juga, kan? Apalagi posisinya juga belum jelas. Sejak tadi CEO-nya bahkan belum sama sekali membahas mengenai promosi-nya! “Be-begini, Pak. Apa ini project yang awalnya akan di-handle Mbak Renna?” “Benar.” “Kalau begitu apa nggak sebaiknya orang yang akan menggantikan Mbak Renna aja yang ambil project ini?” Daisy berusaha mengode atasannya. Siapa tahu memang atasannya ingin menjadikannya pengganti Mbak Renna? Jika memang begitu, Daisy akan dengan senang hati menerima project dengan tanggung jawab sebesar ini. “Saya masih belum memutuskan siapa pengganti Renna.” Belum memutuskan? Jadi orangnya belum tentu aku? Terus kenapa ngasih project sepenting ini ke aku?! “Begini, Pak. Bukan maksud saya menolak tugas dari bapak, tapi project lain yang dilimpahkan Mbak Renna ke saya sejak beberapa hari yang lalu juga masih menumpuk. Apa nggak sebaiknya bapak kasih project ini ke yang lain?” Daisy tahu project ini bisa menjadi batu loncatan untuknya agar dipromosikan, tapi hal itu juga belum pasti kan? Belum lagi perusahaan itu Wiyoko Techwear—anak perusahaan Wiyoko Group tempat mantan pacarnya bekerja! Bagaimana kalau selama proses kerja sama berlangsung, Daisy harus berpapasan dengan Yeremia? Atau lebih parahnya malah Yeremia yang menjadi perwakilan perusahaannya? Dia tidak mau terlibat dengan Yeremia, apalagi menyangkut pekerjaan—karena Daisy tidak yakin bisa memasang senyum karir jika bertemu dengan pria itu! “Saya cuma percaya kamu.” Idih, apa-apaan sih itu?! Ini beneran bosku? “Saya dengar kamu batal tunangan dengan Yeremia?” Pertanyaan bosnya membuat dahi Daisy mengerut. Bosnya memang mengenal Yeremia karena pria itu memang pernah bekerja di perusahaan ini, dan saat itu hubungannya dengan Daisy juga bukan rahasia. Semua karyawan di sini mengetahui hubungannya dengan Yeremia. Dan lagi, tidak ada peraturan yang melarang sesama karyawan untuk berpacaran. “Bapak dengar dari siapa?” Seingat Daisy gosip yang menyebar justru dirinya yang sudah bertunangan dengan Yeremia. “Waktu ke pantry, saya nggak sengaja dengar Nessa ngasih klarifikasi ke beberapa karyawan yang lagi asyik gosipin kabar pertunangan kamu dengan Yeremia.” Dasar, Nessa! “Iya, info dari Nessa memang benar.” “Jadi sekarang kamu jomblo?” Kenapa jadi bahas soal statusku, sih! “Pokoknya saya nggak bisa terima project dengan Wiyoko Techwear, Pak.” Daisy memilih kembali ke topik utama. Lagipula kenapa juga jadi membahas-bahas statusnya? Apa bosnya ini tidak tahu kalau membicarakan status itu sangat sensitif untuk orang yang baru putus seperti Daisy?! “Kenapa? Kamu takut ketemu sama mantan pacar kamu? Saya dengar sekarang dia kerja di Wiyoko Techwear?” Dasar bos sialan! Daisy meremas ujung roknya—kebiasaannya jika sedang gugup atau kesal. “Saya bisa membedakan mana urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Alasan saya menolak karena project yang dilimpahkan ke saya sudah sangat banyak, sedangkan masih banyak anggota tim yang kekurangan project. Ada baiknya bapak menyerahkan project ini ke orang-orang tersebut,” kata Daisy—sambil berusaha menjaga intonasi suaranya agar tidak kelepasan naik tiga oktaf. “Kalau kamu bisa memastikan project ini berjalan dengan lancar, saya bisa pertimbangkan kamu untuk menjadi pengganti Renna. Kamu nggak butuh promosi?” Promosi?! Nah, ini dia yang aku tunggu! “Bapak serius, kan?” “Kapan saya pernah bercanda?” “Oke, saya akan terima project ini.” Masa bodoh mau ketemu Yeremia atau apapun itu, yang penting karirnya melesat! “Sekarang saya boleh tanya soal status kamu, kan?” Pertanyaan Gio selanjutnya, membuat rasa antusias Daisy menguap. Kenapa jadi ke pertanyaan itu lagi, sih? “Maaf, saya nggak bisa jawab kalau soal itu,” tolak Daisy dengan sopan. Wajah Gio tampak keberatan. “Kenapa?” “Karena itu kehidupan pribadi saya.” “Oke. Kamu boleh keluar.” Cuma begitu saja? Bukannya Daisy berharap didesak oleh Gio atau bagaimana, dia hanya mengira Gio orang yang keras kepala yang akan terus mendesaknya sampai mendapatkan jawaban yang dia mau. Tidak disangka Gio malah menyerah semudah itu. Ah, mikir apa sih aku ini? Pak Gio nanya gitu juga pasti cuma iseng. Nggak mungkin ada maksud lain, dan jawabanku juga nggak penting-penting amat buat dia. Bisa-bisanya tadi Daisy sempat berpikir yang bukan-bukan! *** Daisy mencari-cari barang kesayangannya di tas tangan berwarna putih gadingnya, namun meski sudah dia keluarkan semua isinya, barang yang sedang dicarinya tetap saja tidak ketemu. Ada dimana, sih? “Cari apaan, sih?” Nessa yang baru saja datang dari toilet menatap Daisy heran. “Nes, tadi kamu lihat aku ngeluarin sapu tangan nggak?” tanya Daisy tampak panik. “Sapu tangan? Sapu tangan apa?” “Sapu tangan pink motif bunga-bunga yang biasa aku bawa.” “Oh, sapu tangan itu? Kayaknya dari pagi lo nggak ada ngeluarin barang itu.” Nah, iya kan? Jadi seharusnya masih ada di tas. Tapi kenapa nggak ada? “Terus dimana dong?” gumam Daisy panik. Dia bahkan sudah akan menangis. Sapu tangan itu bukanlah sapu tangan biasa. Itu adalah barang pemberian ayah kandungnya. Dulu mendiang ayahnya sempat bekerja di pabrik garmen, dan ayahnya suka membawa sisa kain tidak terpakai untuk disulap menjadi barang-barang cantik, salah satunya sapu tangan itu. Sejak kecil Daisy selalu membawa sapu tangan itu kemana-mana. Benda itu sudah seperti jimat keberuntungan untuknya. “Tenang dulu, coba lo inget-inget terakhir bawa sapu tangan itu kemana?” kata Nessa, berusaha membuat Daisy sedikit lebih tenang. Kemana, ya? Seingatnya dia selalu meletakkan sapu tangan itu di dalam tasnya dan membawanya kemanapun dia pergi. Kemarin… “Pasti ketinggalan di apartemen kemarin!” “Apartemennya siapa?” “Aku pergi dulu ya, Nes.” Daisy buru-buru merapikan barang-barangnya. “Lo mau balik? Katanya mau lembur?” “Besok aja lemburnya.” Saat ini Daisy punya hal yang lebih penting dari sekedar lembur!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD