Sudah lewat jam pulang kerja, namun Juan masih setia di meja kerjanya sambil memandangi sapu tangan pink bermotif bunga-bunga milik seseorang, dan seseorang itu adalah gadis yang kemarin menghapus air mata serta membersit hidungnya tanpa malu-malu di hadapan Juan.
Juan terkekeh lagi. Hari ini entah sudah berapa kali ia tertawa. Lagi-lagi ia membayangkan wajah bengkak si pemilik sapu tangan pink ini, belum lagi dengan mata dan hidung memerahnya.
“Mulai gila lo?” Darren datang tanpa pemberitahuan seperti biasanya, membuat Juan buru-buru menormalkan ekspresi wajahnya.
“Bisa nggak jangan asal masuk ruangan orang sembarangan? Lo nggak punya tangan buat ketuk pintu?” sindir Juan, sambil melirik kesal ke arah sahabatnya.
“Biasanya juga begini,” balas Darren tidak peduli. Pria itu malah dengan santainya duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari meja kerja Juan. Sikap tidak peduli Darren membuat Juan mendengkus keras.
“Ngapain tadi lo senyum-senyum begitu? Beneran udah gila?” Darren kembali mengulang pertanyaannya.
“Kapan gue senyum-senyum?”
“Lo nggak sadar dari tadi masang ekspresi menjijikkan sambil ngeliatin kain pink di tangan lo?” ucap Darren tidak habis pikir.
Kemudian mata Darren tertarik dengan benda yang membuat sahabatnya senyum-senyum tidak jelas. “Itu punya siapa? Gebetan lo? Kalau pacar nggak mungkin, gue tau lo lagi jomblo.” Darren mulai mendekat, semakin penasaran dengan kain pink di tangan Juan.
Namun Juan buru-buru memasukkan kain itu ke saku jasnya. “Bukan urusan lo.”
“Lo beneran punya gebetan?”
“Ngapain ke sini?” Juan berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak mau menceritakan perihal Daisy kepada siapapun, termasuk kepada sahabatnya.
“Gue mau ngajak lo makan-makan bareng anggota tim gue yang lain.”
“Dalam rangka apa?”
“Project gue kemarin sukses besar. Jadi gue mau traktir tim gue makan malam sebagai bentuk apresiasi. Gue ajak lo sekalian karena kasihan ngeliat lo setiap hari makan malem sendirian di apartemen,” kata Darren dengan tampang mengejeknya. Bukannya terharu, Juan justru ingin melempar wajah sahabatnya itu dengan benda keras di sekitarnya.
“Gue skip dulu.”
“Kenapa? Lo mau lembur?”
Juan menggeleng. “Gue udah ada janji sama seseorang.”
Darren jadi penasaran. “Siapa?”
“Bukan urusan lo,” kata Juan dengan wajah lempengnya.
Hal itu tentu membuat Darren berdecak. Kenapa sahabatnya itu sok misterius sekali?
“Lo beneran punya gebetan?”
“Gue bilang, bukan-urusan-lo!” Kali ini Juan menekankan kata demi kata agar sahabat keponya itu paham!
“Cewek mana nih yang bisa luluhin cowok yang nggak doyan cewek kayak lo?”
“Jangan sembarangan!” Kali ini Juan benar-benar melempar benda keras di sekitarnya—kali ini case airpod di mejanya yang dia gunakan untuk melempar Darren, jika sahabatnya itu masih bicara sembarangan, mungkin laptop di atas mejanya yang akan melayang ke wajah Darren.
“Oh, masih doyan sih, cuma nggak mau nikah aja. Padahal nikah enak, lho. Bisa-bisanya ada orang yang nggak mau nikah.”
“Kayak lo pernah nikah aja!”
“Nikah sih belum, kalo kawin udah.”
“Berengsek, pergi sana! Sebelum laptop gue melayang ke muka lo!”
Darren tertawa puas melihat wajah sepat sahabatnya. “Kawin enak lho, lo nggak mau nyoba sekali gitu? Abis makan malem gue mau ke club sama anak-anak yang lain, sekalian nyari cewek di sana. Join ajalah, daripada sendirian di apartemen juga ngapain? Nge-date sama kertas-kertas lo itu lagi?” kata Darren sambil melirik malas pada tumpukan kertas yang tampak berantakan di atas meja Juan. Pemandangan yang sangat tidak memanjakan mata. Baru memandangnya saja Darren sudah mual.
“Gue udah bilang ada janji sama seseorang. Kalo mau nyari cewek ya pergi aja sana, gue nggak tertarik.”
“Gue kenalin cewek-cewek seksi di sana. Dicoba dulu, jangan langsung nolak gitu.”
“Nggak tertarik.”
“Lo nggak lagi suka gue, kan?”
“Si gila!!” Kali ini Juan melempar asbak kayu ke badan Darren. Mulut orang ini jadi semakin sembarangan!
“Ya lagian diajak seneng-seneng nolak mulu,” kata Darren sambil mengusap-usap lengannya yang terkena lemparan asbak.
“Kalo mau pergi ya pergi aja sana. Jangan ganggu gue.”
“Ck, iya-iya!! Gue pergi!” Darren pergi dengan tampang memberengut. Susah sekali membawa Juan ke tempat tongkrongannya. Sebenarnya dia juga tahu kalau Juan 100% normal. Sahabatnya itu sudah beberapa kali pacaran dengan perempuan kalangan atas, namun hubungannya tidak ada yang awet. Paling lama hanya bertahan tiga bulan.
Itu karena Juan yang memang tidak pernah serius dengan para wanita itu. Jangan pikir Juan ini playboy yang suka main-main dengan banyak perempuan. Sama sekali bukan begitu. Hanya saja Juan memang dari awal tidak berniat menikah, dan Darren juga sangsi sahabatnya itu pernah merasakan yang namanya jatuh cinta.
Selama ini Juan menjalin hubungan dengan pacar-pacarnya terdahulu hanya karena para wanita itu yang mengajaknya berpacaran lebih dulu, dan Juan menerimanya hanya agar mereka tidak berisik dan terus-terusan mengganggunya.
Itulah alasan hubungannya tidak pernah awet, karena dia pacaran hanya agar para perempuan itu tidak terus menerornya dengan ajakan kencan yang terus-menerus. Dan setelah tiga bulan, biasanya para perempuan itu tidak akan tahan dengan sikap cuek Juan dan berakhir meminta putus.
Darren jadi menantikan perempuan mana yang akan membuat Juan bertekuk lutut. Darren berdoa semoga saja Juan jatuh cinta pada perempuan yang tidak menyukainya! Dia ingin melihat seorang Juan mengemis-ngemis cinta dari seorang gadis yang tidak menginginkannya. Dia ingin melihat Juan tidak berdaya karena cinta!
***
“Sudah sampai?” Juan mulai bersiap-siap turun sambil membereskan barang-barangnya.
“Ya. Aku udah sampai di lobby. Aku harus tunggu di sini, atau langsung naik ke ruangan kamu? Kebetulan kartu akses lift-nya juga masih di aku.”
Suara gadis di seberang telepon membuat Juan tersenyum. “Tunggu di situ aja, biar aku yang turun,” kata Juan sambil melangkahkan kakinya cepat.
Beberapa jam yang lalu Daisy meneleponnya—panggilan yang cukup mengejutkan mengingat gadis itu tidak pernah menghubunginya lebih dulu.
Daisy tidak akan pernah menghubunginya lebih dulu jika tidak ada yang penting, dan suara panik gadis itu saat menanyakan keberadaan sapu tangan pink-nya yang mungkin tertinggal di apartemennya malam itu langsung membenarkan tebakan Juan.
Sambil menunggu lift turun ke lantai terbawah, Juan memandangi sapu tangan milik gadis itu di tangannya.
“Kenapa dia sepanik itu? Apa yang istimewa dari kain pink ini?” gumam Juan penasaran.
Apa ini dari mantan pacarnya?
Mendadak wajah Juan berubah keruh. Tangan besarnya menggenggam kasar kain di tangannya hingga kusut.
Aneh, Kenapa dia kesal ya?
“Oh, Juan! Disini!” Sesampainya di lobby, Juan langsung menemukan sosok gadis yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.
Juan berjalan mendekat ke arah gadis yang baru saja bangkit dari sofa yang disediakan di area lobby perusahaan. Selagi berjalan mendekat, mata Juan dengan lamat mengamati penampilan Daisy.
Gadis itu masih mengenakan pakaian kerjanya—hari ini gadis itu mengenakan rok pink dengan kemeja putih.
Pink?
Lagi-lagi warna itu mengingatkannya pada sapu tangan sialan itu.
“Kamu bawa sapu tangannya?” tanya gadis itu tidak sabar.
Seharusnya Juan mengatakan iya, toh saat ini sapu tangan itu memang ada di saku jasnya. Tapi mulutnya tanpa kontrol malah mengatakan sebaliknya, “Nggak.”
“Nggak? Maksudnya? Kamu bilang sapu tangannya di kamu?”
“Aku kira begitu, tapi setelah aku cari ternyata nggak ada.” Kehohongan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Terus ngapain tadi kamu nyuruh aku ke sini?!” Daisy tidak bisa lagi membendung rasa kesalnya.
Saat dia bertanya di telepon, pria itu berkata seolah-olah sedang membawa sapu tangannya bahkan menyuruhnya untuk cepat-cepat menemuinya. Namun saat Daisy sudah ada di sini, Juan malah berlagak tidak tahu apa-apa.
“Kamu udah cari di setiap sudut apartemen kamu? Kayaknya ada di meja ruang tamu, kamu sudah cek disana?”
“Kenapa aku harus repot-repot cari di setiap sudut apartemenku? Kamu pikir aku se-nganggur itu?” kata Juan sambil melipat kedua tangan di depan tubuhnya.
“Aku cuma minta tolong, Juan! Sapu tangan itu penting buat aku!”
Wajah Juan semakin mengeruh.
“Kamu mau sapu tangan itu?”
Daisy mengangguk dengan sungguh-sungguh. Tentu saja dia menginginkan sapu tangan itu.
“Kalau begitu ayo ke apartemenku.” Lagi-lagi mulutnya bicara sembarangan dengan sendirinya. Juan sendiri juga kaget dengan apa yang baru saja diucapkannya.
Juan sangat benci ketika ada orang yang memasuki kediaman pribadinya, tapi kenapa dia malah mengundang gadis asing itu ke kediamannya? Itu pun tidak cuma sekali, tapi dua kali!
Tolong dicatat! Dua kali!
Benar kata Darren, sepertinya Juan memang sudah mulai gila!