Elwin mendadak diam, tawanya pun sirna begitu melihat wanita tua membuka pintu untuknya. "Oma, ini Elwin." Tongkat yang di bawa wanita tua, yang Elwin panggil Oma itu, jatuh ke tanah seketika. Mungkin karena terlalu terkejutnya. "Kau ... Elwin. Cucuku?" Tidak lagi menggunakan bahasa Jerman. Wanita itu memakai bahasa sama dengan Elwin dan Jesty. Bahasa Indonesia. "Iya, Oma." Terdapat air menggenang di sepasang mata Oma Elwin. Kejutan untuknya, kehadiran satu-satunya cucu yang ia rindukan. Oma, langsung memeluk Elwin. Beliau tidak hentinya mengatakan, "Cucu ku, Elwin." "Kau sudah besar sekarang," ujar Oma dengan bahasa Indonesia, dalam pelafalan yang kurang jelas. Maklum, ia lebih sering menggunakan bahasa di sini untuk berinteraksi bersama tetangga. "Kau datang ke sini untuk Oma." Om

