Pesan dari Dinda

1145 Words
“Assalamualaikum, Mas. Aku minta jatah uang sekarang. Ara sakit, harus cepat-cepat berobat. Maaf selalu merepotkanmu.” “Waalaikumsalam. Tidak masalah. Sudah menjadi tanggung jawabku.” Begitulah isi percakapan antara Mas Iwan dengan seorang perempuan bernama Dinda yang terjadi sekitar pukul empat pagi tadi. Istri mana yang tidak naik darah saat membaca pesan seperti itu. Ara? Sakit? Siapa lagi nama perempuan ini. Sungguh membuat pikiranku semakin berpikiran negatif. Kenapa Mas Iwan punya tanggung jawab pada perempuan lain di luar sana? Kalau bukan selingkuh, terus apa? Mas Iwan poligami? Dadaku naik-turun membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Laki-laki yang selama ini aku percaya, sekarang malah berani berbuat seperti ini? Jahat sekali! Pernikahan kami terjadi memang karena ada campur tangan keluarga. Terutama orang tua Mas Iwan begitu menyayangiku. Arum Puspita, itulah namaku. Wajahku tentu secantik nama yang orang tuaku berikan. Meski pernikahan yang terjadi terkesan dijodohkan, tetapi Mas Iwan memang sangat mencintaiku. Semua mengalir sesuai keinginan, tanpa paksaan. Saat kami masih dalam tahap pengenalan, aku tahu, Mas Iwan sudah bekerja di tempat yang sama seperti sekarang. Namun, orang tuanya pernah bercerita, jika penghasilannya cukup untuk menafkahiku. Mereka menyebut nominal. Aku pun setuju. Kalau hidup ini hanya mengandalkan cinta, sepertinya tidak bisa. Kebutuhan apa pun di dunia ini, selalu membutuhkan uang. Karena aku sangat mempercayai perkataan calon mertuaku itu, sampai setelah aku sah menjadi istri dari anaknya, aku tak pernah bertanya tentang penghasilan Mas Iwan lagi. Laki-laki itu sudah memberiku jatah belanja yang sesuai dengan perkiraan. Saat aku meminta pun, ia langsung memberikan. Semua itu tentu membuatku bahagia. Namun, berjalannya waktu, Mas Iwan tetap bungkam tentang masalah pekerjaan dan gajinya. Apalagi ada waktu-waktu tertentu yang mengharuskannya pulang terlambat. Tentu saja, bertambahnya usia pernikahan, bertambah pula rasa penasaranku. “Arum! Apa yang kamu lakukan? Barang-barangku kenapa berantakan di meja seperti itu?” Suara milik suamiku itu membuatku terkejut. Aku menoleh dan melihatnya dengan tatapan penuh kebencian. Mas Iwan mendekatiku dengan langkahnya yang panjang. Ia terlihat cemas dan cepat-cepat berjalan menghampiriku. “Dinda itu siapa, Mas? Ara yang katanya lagi sakit itu juga siapa? Kamu selingkuh, Mas!” Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung mencecarnya dengan pertanyaan yang ada di dalam kepalaku. Tanda tanya begitu besar ditambah kecurigaan yang membuat amarahku terpancing. Aku tak tahan jika harus berpura-pura tidak tahu. Mas Iwan seketika merebut ponsel yang ada di genggamanku. Tanpa menjawab apa-apa, ponsel itu disimpan di saku bajunya. Ia juga memunguti barang-barangnya yang berserakan di meja dan memasukkannya lagi ke dalam tas. “Mas! Jelaskan semuanya! Jangan diam saja begitu!” Aku menarik lengannya. Namun, Mas Iwan masih membisu dan hanya menepis tanganku. “Mas! Kamu beneran selingkuh, ha! Sudah berani bermain di belakangku? Mas!” Mas Iwan yang sudah membereskan semua barangnya, kini menatapku dengan tajam. “Selama ini aku sudah memperlakukanmu dengan baik, Dek. Kenapa kamu berbuat seperti ini? Kamu nggak sopan tahu, main geledah tas suami dan buka ponsel tanpa izin. Biasanya kamu juga nggak begini kok. Jangan diulangi lagi!” Lisan Mas Iwan justru menasihatiku dengan nada yang sengaja ditekan. Pertanyaanku tak dijawab, ia malah terkesan memarahiku seperti ini. Apa ia tak menyadari kesalahannya yang sudah jelas kupergoki? “Sikapmu semakin aneh, Mas. Mana ada istri yang tidak curiga. Tentang gaji selama bekerja juga aku nggak tahu pasti. Kamu nggak pernah bicara apa-apa. Ditambah lagi ada pesan yang seperti itu. Aku curiga, Mas. Siapa mereka?” “Kebutuhanmu selama ini sudah lebih dari cukup kan? Kalau kamu minta lagi pun, aku berusaha menuruti kemauanmu. Apa masih kurang?” Mas Iwan bergegas pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya. Aku masih belum puas dengan jawabannya. Tangan Mas Iwan kuraih dan coba untuk menahannya. “Orang kamu nggak pernah cerita gajimu berapa, ditambah sering pulang telat kalau sudah tanggal muda. Tentu aku keberatan, bahkan sangat keberatan. Aku istrimu! Pantas kalau mengetahui semua jumlah gaji yang kamu dapat. Pantas juga mendapatkan uang belanja lebih kalau memang kamu kerja lembur. Atau jangan-jangan kamu memang berselingkuh, Mas! Siapa Dinda dan Ara, Mas!” Meski berusaha kutahan dengan menarik tangannya, laki-laki itu tetap melangkah dengan susah payah. “Aku harus kerja. Nanti terlambat.” “Jawab dulu, Mas! Kalau tidak, aku akan mengadu pada orang tuamu!” Mas Iwan tiba-tiba berhenti. Ia kembali menatapku dengan raut wajahnya yang datar. “Mereka hanya temanku yang sedang butuh bantuan. Aku tidak selingkuh. Sudah kan? Kamu sudah puas kan? Nggak usah mengadu atau nanti kamu tahu akibatnya kalau masih coba-coba nekat berbicara.” “Hanya teman? Kenapa kamu bilang mereka tanggung jawabmu, Mas? Kamu jangan membohongiku!” Menurutku alasan yang klise itu tidak cukup. Kalau memang hanya sebatas teman, kenapa suamiku seakan mau mengorbankan diri sebesar itu dengan kata tanggung jawab yang dikirim untuk Dinda? Bukankah perempuan bernama Dinda itu pasti punya seorang suami? Kenapa malah meminta-minta pada laki-laki lain? Atau bahkan, suaminya memanglah suamiku. Namun, kata Mas Iwan hanya teman. Bagaimana bisa aku mempercayai perkataannya? “Sudahlah, jangan diperpanjang. Itu hanya sebatas kata-kata. Aku sudah jujur sama kamu. Mereka hanya temanku yang pantas dibantu. Jangan lagi bertanya tentang gajiku. Kamu kunafkahi kan? Kemauanmu kuturuti juga kan? Mau apa lagi? Aku harap, permasalahan ini tak lagi diungkit. Aku bukan laki-laki yang suka bermain perempuan lain di luar sana. Kamu istriku, tentu aku mencintaimu. Jangan pernah bercerita apa pun tentang kejadian ini pada keluargaku. Kamu paham kan, Sayang?” “Tapi, Mas, aku butuh kejujuranmu. Butuh penjelasanmu secara jelas dan tidak ada yang ditutup-tutupi.” Aku masih belum puas. Banyak kejanggalan yang tetap kurasakan. Mas Iwan membuang napasnya dengan kasar. “Aku harus ngomong apa lagi? Aku sudah jujur sama kamu. Aku nggak selingkuh, Sayang.” “Jangan bohong, Mas! Aku yakin, ada sesuatu yang kamu sembunyikan, atau jangan-jangan kamu menikah lagi sama perempuan bernama Dinda itu? Iya, kan, Mas?” Kepala Mas Iwan menggeleng. Ia berdecak. Ia kembali membuang napasnya. “Jangan aneh-aneh. Mereka hanya teman yang butuh bantuan saja. Tidak lebih. Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku harus kerja, nanti malah telat.” Kecupan mendarat lembut di keningku. Mas Iwan berusaha untuk tenang dan menganggap permasalahan ini hanya perkara yang tidak penting. Namun, bagiku masalah ini cukup mencurigakan. Laki-laki itu masuk ke mobil tanpa bisa kucegah. Ia menyalakan mesinnya dan pergi meninggalkanku yang masih dipenuhi tanda tanya besar. Aku kembali masuk ke dalam rumah dan duduk dengan tatapan kosong. Banyak yang aku pikirkan. Tulisan di dalam pesan itu tentu tak bisa dianggap remeh dan main-main, meski Mas Iwan mengatakan pesan itu hanya sebatas tulisan. Artinya tetap berbeda bagiku, tulisan itu menimbulkan kecurigaan yang cukup besar. Bagaimanapun caranya nanti, aku harus bisa mencari tahu siapa sebenarnya Dinda dan Ara yang katanya sedang sakit sehingga meminta uang kepada suamiku. Katanya sebatas teman, tetapi hubungan laki-laki dan perempuan dewasa tentu riskan jika terlalu dekat. Apalagi suamiku sendiri yang menulis di pesan jika mereka tanggung jawabnya. Harus kugali semuanya. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur gara-gara perempuan lain. Apalagi harus berbagi uang yang harusnya menjadi milikku seutuhnya. Aku tak sudi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD