Tidak Lembur

1208 Words
Karena kekhawatiranku yang semakin mendalam, aku memutuskan untuk datang ke kantor tempat Mas Iwan bekerja. Aku sengaja datang tepat sebelum jam pulang kerja. Dengan begitu, aku bisa memastikan, apakah Mas Iwan benar-benar kerja lembur atau justru alasan saja. Aku pun sengaja berdiam diri di suatu tempat terlebih dulu untuk mengawasi kehadiran Mas Iwan yang mungkin akan pulang. Mungkin saja ia telah membohongiku tentang kerja lemburnya. Namun, setelah sekian lama ditunggu, batang hidungnya tak kunjung kelihatan. Anehnya juga, aku tak melihat mobil Mas Iwan yang seharusnya masih terparkir. Akhirnya, aku keluar dari persembunyian dan memutuskan bertanya kepada petugas keamanan yang sedang berjaga. “Mohon maaf, Pak, apakah suami saya yang bernama Pak Iwan masih ada di dalam? Katanya ada kerja lembur, tapi saya sengaja datang ke sini karena ada kepentingan mendadak. Apakah Bapak bisa memanggilkan suami saya, karena ini benar-benar mendesak.” Aku sengaja beralasan demikian kepada petugas keamanan tersebut agar ia mau memanggilkan suamiku jika laki-laki itu masih benar ada di dalam. “Oh, Pak Iwan, kebetulan beliau pulang lebih awal, Bu. Katanya memang ada kepentingan mendadak. Apa Ibu belum bertemu dengan beliau? Mungkin kira-kira setengah jam lalu beliau sudah pulang. Mungkin saja Ibu berpapasan di jalan. Apa Pak Iwan tidak memberitahu Ibu lewat pesan?” Jantungku berdegup. Apa ini? Mas Iwan sudah membohongiku dan malah pulang lebih awal? Apa yang sebenarnya Mas Iwan sembunyikan? “Oh, iya mungkin kami berpapasan, tapi mohon maaf, apakah Pak Iwan tidak memberikan alasan lain tentang kepentingan mendadak itu, Pak?” selidikku lagi. “Kalau itu saya kurang paham, Bu. Beliau pasti sudah meminta izin ke pihak yang lebih berwenang. Saya hanya mengetahui sebatas itu saja, Bu.” Penjelasan petugas keamanan itu tidak membuat perasaanku merasa tenang. Justru semakin tidak menentu. “Jadi saya harus bertanya sama siapa, Pak?” Guratan kecemasanku bertambah jelas. “Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Beliau sudah pulang. Aktivitas di kantor memang sudah selesai. Coba saja Ibu menelepon Pak Iwan. Di kantor ini jarang ada yang kerja lembur, kalau bukan ada sesuatu yang benar-benar mendesak. Semua pekerjaan dilakukan sesuai jam kerja sehingga semua tepat pada waktunya.” Penjelasan itu kembali membuatku tercengang. Jadi, selama ini, apa yang Mas Iwan lakukan? Bukankah setiap tanggal tertentu di awal bulan Mas Iwan pulang terlambat dengan alasan lembur? “Ibu, permisi. Kami juga harus bersiap-siap.” Petugas keamanan itu mengagetkanku. Beberapa saat, aku terhanyut dalam lamunan. Di dalam kepalaku ada banyak tanda tanya yang mengusik ketenangan. “Baik, Pak. Saya pamit dulu, terima kasih untuk informasinya.” Aku memang kecewa karena tidak mendapatkan apa yang aku harapkan. Namun, kali ini aku jadi bisa memastikan kebenaran tentang kerja lemburnya yang sama sekali tidak nyata. Mas Iwan hanya mengada-ada. Tentu semua itu ada alasannya. Aku harus cepat bertindak agar semua yang disembunyikan oleh suamiku cepat terungkap. Ponsel kuambil di dalam tas. Aku segera mencari nomor WA milik suamiku. Saat menemukannya, aku segera menghubunginya. Namun, tulisan yang tertera di layar hanya memanggil. WA milik laki-laki itu sengaja dimatikan. Benar-benar membuatku geram. “Apa yang kamu lakukan sih, Mas? Apa kamu benar selingkuh? Aku kurang apa sih buat kamu? Kenapa kamu malah mencari wanita lain? Kata-katamu tadi pagi juga bohong kan? Nyatanya sekarang kamu begini. Dasar pembohong!” Gemuruh di dalam d**a semakin terasa. Aliran darahku terasa memanas. Rasanya ingin sekali memaki Mas Iwan detik ini juga. Namun, keberadaannya pun tak aku ketahui. Bagaimana aku bisa menemukannya? Ponselku mendadak berbunyi. Ada pesan masuk. Aku berharap pesan itu dari Mas Iwan. “Ini suamimu kan, Rum? Dia sedang menggendong siapa? Anak perempuan yang usianya sekitar lima tahunan. Kelihatannya anak itu lagi sakit. Kamu tahu siapa anak yang suamimu gendong, Rum?” Pesan yang dikirim oleh Ayu semakin membuatku kalang kabut. Ia menyertakan foto yang memperlihatkan Mas Iwan sedang menggendong seorang anak kecil. Aku segera menelepon Ayu untuk menginterogasinya agar semua lebih jelas. “Halo, Yu. Kamu melihatnya di mana?” tanyaku tanpa memberi salam karena perasaanku tak lagi menentu. “Di klinik Siaga. Kebetulan aku lagi mau antar keponakan berobat terus lihat suamimu lagi jalan ke mobil sambil gendong anak. Aku foto karena curiga. Kamu nggak tahu siapa anak itu, Rum?” Ayu menjelaskannya dari ujung sambungan. “Apa suamiku sudah pergi dari klinik itu?” Aku semakin khawatir. “Sudah. Belum lama. Anak yang dibawa sama suamimu memangnya siapa, Rum?” tanya Ayu lagi karena aku tak menjawabnya. “Aku nggak tahu, Yu. Nggak kenal. Apa suamiku hanya berdua dengan anak itu, Yu? Nggak ada perempuan yang kamu lihat bersama Mas Iwan?” Pertanyaanku semakin terperinci. “Nggak tahu juga, Rum. Aku hanya melihatnya berdua bersama anak perempuan. Di mobil nggak kelihatan ada orang lain atau nggak. Sebenarnya ada apa sih, Rum? Iwan kan orangnya nggak aneh-aneh. Kenapa sekarang gendong-gendong anak perempuan yang kamu nggak tahu itu siapa. Iwan nggak cerita apa-apa sama kamu?” Nada bicara Ayu kini terdengar cemas. Aku menggeleng secara tak sadar. “Aku nggak tahu dia siapa, Rum. WA Mas Iwan nggak aktif. Aku juga bingung apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tadi kamu nggak menyapa Mas Iwan, Yu?” “Aku nggak sempat, Rum. Posisiku lumayan jauh. Itu juga aku sempatkan mengambil foto saat yang lain ribut tentang kondisi ponakanku. Maaf kalau aku malah menambah masalahmu tanpa memberikan solusi, Rum.” Aku hanya bisa menghela napas. Apa yang diberikan oleh Ayu memang menambah beban pikiran, tetapi dengan seperti itu, aku bisa tahu apa yang sedang Mas Iwan lakukan meski belum ada penjelasan. “Memang menambah pikiran, tapi aku jadi tahu apa yang sedang Mas Iwan perbuat. Terima kasih sudah memberiku sedikit jalan untuk mencari tahu kebenaran yang terjadi. Dengan foto ini, aku bisa tanyakan langsung sama Mas Iwan.” “Aku hanya bisa berdoa untukmu, Rum. Semoga apa yang terjadi memang jalan yang terbaik untukmu. Aku tutup dulu teleponnya ya?” “Iya, Yu. Sekali lagi terima kasih ya, Yu.” Sambungan terputus. Aku kembali berusaha untuk menghubungi Mas Iwan. Tetap saja tidak ada jawaban. WA miliknya sengaja dimatikan. Entah apa yang sedang laki-laki itu lakukan. Apa yang aku rasakan sekarang sungguh tak menentu. Ada gemuruh di dalam d**a ini. Hidup terasa tidak tenang. Sekitar pukul tujuh malam, Mas Iwan belum juga pulang. Sejak tadi, emosiku semakin bertumpuk. Isi kepalaku seakan ingin meledak karena banyaknya pikiran-pikiran buruk. Marah, gelisah dan sedih. Semua bercampur aduk. Dadaku terasa ada yang mengimpit. Sesak dan engap. Jika terus diingat dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, air mataku pun tumpah. Bayangan tentang kejadian buruk mengisi pikiranku. Kapan laki-laki yang memang sudah menjadi suamiku itu akan pulang? Begitu pentingkah urusan yang sedang ia lakukan sehingga mengabaikan istrinya? Biasanya pun meski berpamitan pulang terlambat, ponselnya masih tetap bisa dihubungi. Kenapa sekarang tidak? Apa gara-gara anak perempuan yang digendong itu sedang sakit? Mungkinkah namanya Ara? Lalu, siapa dia? Sejak tadi aku tak bisa diam. Selalu berpindah-pindah tempat hanya untuk mencari ketenangan. Namun, tetap saja d**a ini bergejolak. Semua akan terjawab jika Mas Iwan pulang. Namun, entah kapan ia akan datang. Dari arah halaman depan, aku mendengar ada mobil yang datang. Aku segera mengintip. Ya, orang yang datang adalah Mas Iwan. Aku tak sabar lagi untuk mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Emosiku sudah ada di ubun-ubun. Laki-laki itu harus bisa menjelaskan semua yang telah terjadi. Juga tentang foto yang telah Ayu kirimkan kepadaku. Siapa gadis kecil yang sedang digendong olehnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD