Tidak Selingkuh

1288 Words
Mas Iwan keluar dari mobil dengan senyum yang mengembang. Wajahnya tampak bahagia. Kaki jenjangnya melangkah mendekatiku. Sedangkan aku, menatapnya sinis penuh rasa tidak suka. “Dek, tumben kamu nunggu aku di depan begini. Aku jadi bahagia, Dek.” Ia mengecup keningku. Aku sedikit menolaknya. “Kamu kenapa? Kok kayak nggak senang begitu?” tanya Mas Iwan lagi. “Dari mana kamu, Mas?” Mataku menatapnya dengan sangat tajam. “Apa maksudmu? Aku baru pulang kerja kan, Dek? Pertanyaanmu aneh-aneh saja.” Laki-laki itu berjalan memasuki rumah. “Mas! Jujur! Kamu ini dari mana? Jangan membohongiku terus!” Aku membuntutinya. Mas Iwan berbalik badan dan kembali melihat mataku. Keningnya mengernyit seolah bingung dengan apa yang aku tanyakan. Bisa-bisanya bersandiwara seperti itu. “Kenapa kamu bertanya dengan suara selantang itu, Dek? Kamu kenapa sih? Dari tadi pagi sikapmu aneh.” Aku memelototinya. Ia tetap tak paham dengan pertanyaanku? Atau hanya berpura-pura agar boroknya tak diketahui. Dasar laki-laki pembohong! “Kamu itu yang aneh, Mas! Tadi aku sempat ke kantormu dan ternyata di sana tidak ada yang kerja lembur. Kamu membohongiku, Mas! Kamu dari mana, Mas? Tolong jangan mengelak lagi. Katakan semua kejujurannya.” “Buat apa kamu ke kantorku segala, Dek? Tinggal diam saja nggak usah banyak berulah. Aku sudah menafkahimu dan menuruti permintaanmu. Kenapa malah bertindak tak sopan begitu?” Sorot mata Mas Iwan sekarang berubah. Tadi tatapannya penuh kelembutan, sekarang berbeda. Ia seakan kecewa padaku. Seharusnya, aku di sini yang dikecewakan olehnya, bukan malah dia yang bertindak seperti ini. Setelah mengatakannya, Mas Iwan kembali melangkah sengaja meninggalkanku dengan segala rasa penasaranku. Hatiku semakin terasa sakit. “Kamu masih bisa berbicara seperti itu, Mas? Kamu sudah ketahuan dua kali, tapi masih belum mau mengakui kesalahanmu? Kamu sudah nggak mencintaiku lagi, Mas? Kamu menyembunyikan sesuatu di belakangku dan sudah membohongiku. Kamu jahat, Mas!” Aku mengejarnya dan berusaha meraih lengannya agar langkahnya terhenti. Namun, seperti tadi pagi, Mas Iwan tak peduli. Di sini aku yang tersakiti, kenapa Mas Iwan malah bertindak seperti orang yang kecewa dan marah padaku? Laki-laki egois. “Mas! Katakan sesuatu, Mas! Jangan hanya diam. Apa yang kamu sembunyikan dariku, Mas! Pasti kamu sudah selingkuh kan?” Tangan yang kekar milik Mas Iwan sudah kugenggam erat. Dengan sekuat tenaga menahannya agar mau menurutiku. Namun, sia-sia. Mas Iwan tak acuh. “Mas! Lihat aku! Aku punya bukti kalau kamu sudah berselingkuh. Kamu memang jahat!” Berkat kalimat itu, Mas Iwan kembali menatapku. “Maksudmu apa? Aku nggak pernah selingkuh. Apa kamu nggak tahu, betapa aku menghormatimu sebagai istriku? Kenapa kamu malah menuduhku macam-macam? Jadi istri yang taat, bukan seperti ini.” Aku tercengang. Laki-laki ini tetap tak mau mengakui? Malah menasihatiku dan memarahiku seperti ini? Dia yang salah, bukan aku. “Kamu menggendong siapa, Mas? Siapa anak perempuan ini? Itu anakmu? Selama pernikahan kita, aku tak pernah melihat anak itu dari pihak keluargamu. Kamu sengaja berbohong kepadaku demi mengantar anak ini periksa ke dokter, Mas? Kamu pulang cepat, tapi ngomongnya mau lembur. Demi anak ini, Mas? Sebenarnya siapa anak ini?” Layar ponsel yang bergambar Mas Iwan sedang menggendong anak perempuan, kuperlihatkan tepat di hadapannya. Wajah suamiku kini terlihat sangat terkejut. Ia membelalakkan mata. Lantas, merebut ponselku secara paksa. Aku ingin mempertahankannya, tetapi sia-sia. Kekuatanku tak sebanding dengannya. “Mas! Apa-apaan sih! Serahkan ponselku! Kamu nggak bisa mengelak lagi. Aku sudah punya bukti. Katakan, Mas! Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan? Siapa anak perempuan itu? Perempuan bernama Dinda itu siapa? Jelaskan semuanya, Mas!” Karena takut Mas Iwan akan menghapus foto itu, aku berusaha untuk mendapatkan ponselku kembali. Namun, Mas Iwan menahanku dengan tangannya yang kekar. Ia mendekapku sangat erat. Bahkan aku merasa engap. “Dari siapa kamu mendapat foto ini, Dek?” tanyanya. “Sakit, Mas! Lepaskan aku! Aku nggak bisa bernapas!” Setelah mengatakannya, Mas Iwan melonggarkan dekapannya, tetapi tak melepaskanku. “Katakan dulu, kamu mendapat foto ini dari siapa?” “Harusnya kamu yang menjawab pertanyaanku lebih dulu, Mas! Nggak penting aku mendapatkannya dari siapa. Aku hanya ingin tahu, apa yang kamu sembunyikan dariku, Mas! Kamu selingkuh, Mas? Atau malah punya istri lain di luar sana dan itu anakmu yang sedang sakit? Iya kan, Mas! Kamu jahat, Mas!” “Dek, aku sudah berapa kali ngomong sama kamu, aku itu nggak pernah selingkuh. Aku menghormatimu sebagai istriku. Jadi katakan, kamu mendapatkan foto ini dari siapa, sebelum aku benar-benar marah padamu dan kamu tahu akibatnya.” Mas Iwan malah mengancamku. Aku tak habis pikir. “Memangnya aku takut sama kamu, Mas? Aku nggak mau mengatakannya, Mas. Apa yang akan kamu lakukan kalau aku nggak mematuhi perkataanmu? Kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa. Aku tahu, kamu itu sangat menghormati keputusan orang tuamu. Aku akan menceritakan segalanya pada orang tuamu, kalau kamu selingkuh dan mungkin sudah punya anak diam-diam di belakangku. Kamu nggak mau semua itu terjadi kan, Mas?” Senjata terampuh yang selama ini aku punya adalah mertuaku. Selama ini, jika Mas Iwan tak sependapat denganku, aku akan mengancam akan menceritakan kepedihanku kepada orang tuanya. Mereka memang sangat menyayangiku. Bahkan lebih sayang padaku dibandingkan dengan anaknya sendiri. Tentu Mas Iwan tak berkutik. Laki-laki itu memang sangat baik serta penurut. “Aku akan menceraikanmu dan masa bodoh dengan perkataan orang tuaku. Selama ini, aku sudah berusaha menjadi suamimu yang baik dan patuh pada orang tua, tapi kalau kalian masih saja memanfaatkan kebaikanku demi kepentingan kalian, aku bisa memberontak. Katakan, foto ini dari siapa?” Dekapan Mas Iwan semakin erat, aku kembali merasakan kesakitan. Mendengar kata-kata yang keluar dari lisan suamiku yang begitu yakin, aku sangat terkejut. Baru kali ini, ia menantangku. Sebelumnya, ia tak pernah seperti ini. Begitu pentingkah mereka, sehingga laki-laki penurut ini bisa berubah dan menentang ancamanku? “Mas! Kenapa kamu berubah! Ada apa ini, Mas? Siapa mereka?” “Dek, tolong katakan, foto ini dari siapa?” Pertanyaan itu penuh penekanan. Tangan kekarnya semakin erat mendekapku hingga aku benar-benar merasa sesak dan kesakitan. “Sakit, Mas!” Aku masih bungkam tentang foto yang Ayu kirimkan. Aku tetap berusaha melepaskan diri. “Katakan, Sayang. Atau saat ini juga aku akan menalakmu.” Aku semakin tak habis pikir, Mas Iwan bersungguh-sungguh ingin menceraikanku demi melindungi identitas anak perempuan itu. Tentu aku tak terima. Namun, tentang perceraian, aku tak bisa. Aku mencintai Mas Iwan. Ia adalah suami yang sangat baik dan tidak pernah memarahiku kecuali hari ini. Jika berpisah dengannya, aku tak yakin bisa mendapatkan lagi laki-laki seperti dirinya. “Dari Ayu.” Akhirnya, aku pun menjawabnya meski berat. Mas Iwan diam. Sepertinya ia sibuk mencari sesuatu di ponselku. “Halo, Yu. Apa kamu yang memotretku saat menggendong anak perempuan di klinik? Kalau iya, hapus foto di ponselmu. Dia anak temanku, jadi tolong jangan menyebarkan fitnah yang bukan-bukan. Tolong dihapus ya? Besok atau kapan, aku akan datang ke rumahmu untuk memastikannya. Terima kasih sebelumnya.” Ternyata Mas Iwan langsung menghubungi Ayu. Ia sangat menginginkan semua bukti benar-benar lenyap. Apa yang sebenarnya Mas Iwan sembunyikan? Perasaan di dalam dadaku bergemuruh begitu dahsyat. Mas Iwan masih sibuk dengan ponselku. Tidak berselang lama, laki-laki itu akhirnya melepasku. Badanku sudah terasa sakit. Aku tak menyangka, suamiku sendiri berani melakukan semua ini padaku. “Ini ponselmu, Dek. Jangan ulangi lagi ya? Aku tulus mencintaimu, jadi jangan hancurkan cintaku dengan rasa penasaranmu. Biar semua tetap menjadi urusanku yang tidak perlu kamu ketahui. Anak itu namanya Ara, dia anaknya Dinda. Aku tidak selingkuh. Dinda hanya temanku. Aku capek, mau mandi terus istirahat. Maaf kalau pelukanku malah membuatmu merasa sakit. Aku mohon, jangan diulangi lagi dan jangan pernah bertanya apa pun tentang temanku kepada orang tuaku. Kalau kamu nggak mau menurut, dengan terpaksa, detik itu juga, aku akan menalakmu.” Keningku dikecup oleh Mas Iwan. Suamiku pergi dengan bibir yang mengembang. Setelah apa yang dilakukannya itu, ia masih bisa sesantai itu dan mengancamku pula? Jiwaku sungguh bergejolak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD