Bukti Lenyap

1288 Words
“Apa maksudmu sih, Mas?” Pertanyaan itu terucap cukup lantang, tetapi Mas Iwan sama sekali tak peduli. Napasku berat. Emosiku berkumpul di dalam d**a. Bagaimana tidak, suamiku malah tersenyum dan berbicara seolah mengancamku. Ia tetap kukuh menyebut wanita bernama Dinda itu hanya temannya. Bocah perempuan itu ternyata benar bernama Ara dan anak dari Dinda. Namun, Mas Iwan tak berbicara apa pun tentang status bocah itu selain anaknya Dinda. Apakah benar Ara bukanlah buah cinta Dinda dengan Mas Iwan? Aku memutuskan untuk tidak membuntuti Mas Iwan. Percuma saja kalau terus bertanya. Hatiku justru nantinya akan bertambah hancur karena sikapnya yang tak acuh. “Fotonya sudah nggak ada. Mas Iwan, sebenarnya apa sih yang kamu sembunyikan dariku? Harusnya jujur saja. Aku ini istrimu!” Emosiku bertambah besar kala mengetahui foto yang dikirim Ayu telah lenyap. Laki-laki itu sengaja menghapus bukti yang bisa kutunjukkan pada keluarganya. Namun, jika foto itu masih ada, sepertinya aku ragu karena ancamannya. Apa yang kurasakan, bahkan dari lubuk hati terdalam sudah sangat nyaman dengan semua sikap yang Mas Iwan miliki, hingga rasanya berat jika harus bercerai darinya. Laki-laki baik sepertinya susah didapat. “Yu, aku minta fotonya lagi.” Kalimat itu aku kirim ke WA milik sahabatku. Ayu langsung menelepon saat pesan itu terkirim dan dibaca olehnya. “Aku sudah menghapusnya. Suamimu tadi kan telepon lewat nomor ini, kamu tahu kan? Nada bicaranya bikin aku takut, Rum. Nggak biasanya suamimu begitu. Maaf ya.” Suara Ayu terdengar dari ujung telepon. Mulutku berdecap. Kecewa, itu yang aku rasa sekarang. Bagaimana cara untuk mengetahui kebenarannya? Aku tidak percaya kalau Dinda dan anaknya hanya sebatas berteman dengan Mas Iwan. Suamiku terlihat sangat mementingkan mereka. Apalagi pesan yang Mas Iwan tulis untuk Dinda. Baginya mereka adalah tanggung jawabnya. Kenapa bisa begitu? “Aku harus bagaimana dong, Yu. Kata Mas Iwan anak perempuan itu hanya anak temannya. Tapi, aku tetap curiga karena perhatiannya Mas Iwan yang menurutku berlebihan. Aku bingung, Yu.” “Tadi Iwan juga ngomong gitu sama aku. Memangnya, anak itu anaknya siapa, Rum? Apa kamu nggak kenal?” “Nggak, Yu. Makanya aku khawatir. Teman Mas Iwan perempuan, Yu. Namanya Dinda. Mereka juga saling bertukar pesan. Apalagi Mas Iwan kelihatan sangat perhatian. Aku tanya, katanya hanya teman. Tapi, dalam pesan itu, Dinda minta uang sama Mas Iwan untuk berobat anaknya dan Mas Iwan malah membalas kalau mereka tanggung jawabnya. Itu aneh dan berlebihan kan, Yu? Aku nggak terima, Yu.” “Sampai segitunya? Aku yang bukan istrinya saja curiga, apalagi kamu, Rum. Coba deh, tanya sama mertuamu. Kamu kan disayang banget sama mereka. Mungkin mereka bisa membantumu.” “Mas Iwan mengancam akan menalakku kalau berani membicarakan masalah ini sama mertuaku, Yu. Kamu tahu kan, Mas Iwan itu orangnya sangat baik. Dia penurut. Aku minta apa saja dituruti, aku nggak mau pisah darinya, Yu. Mungkin nggak ada laki-laki sebaik Mas Iwan lagi di luar sana.” Sesakit apa pun hati ini karena sikap Mas Iwan hari ini, tidak mengubah perasaanku kepadanya. Entah apa perasaan ini, cinta atau hanya sebatas memanfaatkan sikapnya yang terlampau baik. Meski aku tidak tahu penghasilan Mas Iwan seutuhnya, tetapi suamiku telah menafkahiku dengan sangat baik. Bahkan, permintaanku selalu dituruti. Jumlah yang diberikan kepadaku pun cukup banyak. Ia tak pernah menanyakan ke mana habisnya uang yang telah diberikan. Terkadang, mungkin bahkan sering, aku selalu perhitungan dengannya. Aku meminta agar ia lebih mendahulukan kepentingan dan permintaanku dari yang lainnya. Ia mengabulkannya. Bagaimana aku bisa melepas laki-laki sebaik Mas Iwan? Laki-laki penurut meski tak romantis. Namun, hari ini begitu berbeda. Mas Iwan seperti orang lain yang tak kukenal. Gara-gara kecurigaanku ditambah bukti-bukti yang jelas terlihat oleh mataku tentang perempuan bernama Dinda, membuat sisi lain yang disembunyikan suamiku terkuak. Ada sesuatu yang istimewa di antara keduanya. Bahkan, demi melindungi perempuan dan anak itu dari keluarganya sendiri, ia berani mengancamku. “Iwan sampai begitu demi perempuan bernama Dinda itu, Rum? Kayaknya bukan hanya sebatas teman kalau begitu, Rum. Iwan takut hubungannya dengan perempuan itu diketahui oleh keluarganya, jelas kalau ada yang aneh. Kamu harus bertindak, Rum.” Ayu mengomporiku yang memang ingin segera menyelesaikan permasalahan ini. “Iya, tapi bagaimana caranya? Foto yang kamu punya saja sudah dihapus, aku nggak punya bukti untuk ditunjukkan kepada mertuaku. Aku juga takut ditalak sama Mas Iwan kalau nekat bercerita.” “Benar juga sih, laki-laki kayak Iwan yang nggak banyak tingkah malah akan terlihat menyeramkan setelah bertindak atau berbicara meski sekali. Kalau nggak bisa minta bantuan sama mertuamu, terpaksa dong, kamu harus melakukannya sendiri. Kalau menurutku, sikap Iwan itu mencurigakan. Apalagi urusannya sama perempuan lain yang sudah punya anak. Aku akan membantumu, Rum.” Aku membuang napas. Dadaku semakin merasa sesak. Semua perkataan Ayu memang tak salah. Mau tak mau aku harus memikirkannya dengan serius. “Terus aku harus gimana, Yu?” “Coba deh, ambil nomor WA perempuan itu dari ponselnya Iwan. Terus kamu pura-pura jadi Iwan dan mengajaknya bertemu. Aku ikut biar jadi saksi dan akan kurekam sebagai bukti.” Kepalaku mengangguk. Aku paham dengan rencana yang Ayu buat. Tinggal memikirkan bagaimana caranya mengambil ponsel milik Mas Iwan tanpa ketahuan. Setelah kejadian tadi pagi, suamiku mungkin akan menjaga benda pipih itu agar aku tak bisa membuka privasinya lagi. Padahal selama ini kami saling terbuka, meski diriku cuek karena terlampau mempercayainya. “Janji ya? Kamu bakal membantuku sampai masalah ini selesai. Aku beneran bingung, Yu. Nggak nyangka kalau Mas Iwan bakalan main perempuan seperti ini. Ngomongnya sih Cuma teman, tapi aku nggak percaya karena kepeduliannya yang sangat berlebihan. Kalau hanya teman, kenapa mau repot-repot antar anak dari perempuan itu periksa ke klinik? Ada suaminya kan? Bikin hatiku meradang. Apalagi Mas Iwan malah santai menganggap masalah ini bukan hal yang besar. Aku istrinya kan, Yu? Bisa-bisanya dia begitu!” Amarah yang semakin membara menjadikan lisanku tak bisa dikontrol. Pikiran negatif di dalam kepala menyembul dan rasanya ingin meledak. Aku tak mungkin diam saja meski Mas Iwan mengancamku. Seharusnya urusannya adalah urusanku juga. Apa susahnya menceritakan semuanya pada istrinya? “Sabar, Rum. Kamu jangan gegabah. Iwan saja tetap santai dan tidak menganggap permasalahan ini serius, kamu juga harus pura-pura melupakan kejadian ini. Kalau suamimu sedikit lalai, kamu ambil kesempatan. Percuma kamu melawannya dengan emosi yang meledak-ledak, kayaknya Iwan tetap nggak akan menggubrismu. Mungkin karena perempuan itu, rasa cintanya sudah berkurang untukmu. Jadi ya gitu, Iwan lebih memilih cerai daripada masalah ini sampai didengar keluarganya.” “Tapi, Yu, kata Mas Iwan dia itu cinta sama aku.” Entah mengapa, aku tetap saja membela suamiku. Ayu berdecap. “Kalau cinta sama kamu, nggak mungkin dong, kamu sampai diancam seperti itu?” “Dek!” Mas Iwan memanggilku dari kamar. Katanya mau istirahat, apa yang sekarang ia inginkan? “Iya! Ada apa, Mas!” sahutku. “Yu, udah dulu ya, Mas Iwan memanggilku. Tuh kan, dia memang menganggap masalah ini bukan masalah besar. Sikapnya sama saja seperti biasanya, seperti tidak ada yang terjadi sama sekali. Bikin tambah jengkel saja. Aku tutup.” Telepon terputus. “Dek!” panggilnya lagi. Mas Iwan memang seorang suami yang terkesan sangat membutuhkan istrinya. Apa pun keperluannya, selalu memintaku untuk menyiapkannya. Dengan seperti itu pula, aku merasa sangat dihargai. Aku merasa, jika Mas Iwan jauh dariku, ia tak bisa berbuat apa-apa. Namun, setelah membaca pesan di ponselnya, rasa itu kian luntur. Aku mulai mencurigai suamiku. “Iya, Mas? Ada apa? Katanya mau istirahat?” tanyaku. Nada bicaraku masih ketus. “Kok nada bicaramu masih begitu sih, Dek? Masih mikirin masalah yang tadi? Aku kan sudah ngomong, kamu nggak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku nggak selingkuh, Sayang.” Laki-laki itu mendekatiku. Ia berdiri di hadapanku sambil tersenyum. “Terus apa kalau bukan selingkuh, Mas? Kamu menikah lagi kan?” Emosiku semakin terpancing. “Nggak, Sayang. Tolong buatkan aku kopi ya? Kayaknya enak kalau istirahat sambil ngopi. Tolong ya, Sayang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD