o0o
Verrel rasanya tak tega melihat Merri meringkuk di dalam mobilnya dengan keadaan tertidur pulas. Nampaknya wanita itu kedinginan karena ac mobil yang menyala rendah ditambah dengan hujan yang begitu deras. Sedangkan itu, lalu lintas berjalan lambar seperti rombongan siput yang berbaris di antrian.
"Kayaknya aku nggak mungkin bisa bawa Merri pulang tepat waktu, terus gimana coba? Bisa-bisa kita pulang pagi kalau begini keadaannya," desah Verrel sedikit pusing mengingat dia dan Merri berpacaran dengan status backstreet yang itu artinya pasti keluarga Mer tidak tahu kalau wanita itu kini sedang menghabiskan waktu bersamanya.
Melihat kekasihnya tidur dengan kedinginan membuat Verrel menjadi tak sampai hati. Ia melepas jaket yang ia kenakan lalu ia balutkan ke tubuh wanita itu untuk membantu menghangatkan tubuh Merri.
"Sudah jam sembilan lebih lima belas menit sedangkan perjalanan pulang normal saja membutuhkan waktu dua jam," gumam Verrel yang masih setia dengan kemacetan yang panjang.
Lalu, di depan sana radius sekitar sepuluh meter-Verrel melihat sebuah plang tinggi dengan lampu yang menyala terang. Meski hujan deras, tapi tulisan besar yang ada di tiang reklame tersebut masih bisa ia baca dengan jelas. Motel Citra Hening.
"Apa enaknya aku bermalam aja, ya? Kasihan juga kalau Merri tidur meringkuk begini," kata Verrel sambil mengetuk-ngetuk stang bundar yang menjadi kemudi mobilnya.
Verrel berpikir sejenak, hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk berbelok ke motel tersebut. Paling tidak di hotel tersebut Merri bisa beristirahat hingga keadaan kondusif dan bisa melanjutkan perjalanan pulang kembali.
Verrel menghentikan mobilnya di tempat yang teduh, lalu dia keluar dari dalam kendaraan roda empatnya, tapi ia membiarkan Merri tetap tertidur di dalam sana. Verrel akan membangunkan wanita itu ketika dia sudah mendapatkan kamar untuk mereka. Karena nampaknya motel ini dalam keadaan ramai. Banyak orang yang memilih untuk menginap ketimbang terus bermacet-macetan di perjalanan seperti yang Verrel putuskan saat ini.
"Permisi, selamat malam!" Verrel menyapa dengan ramah. Bajunya terlihat sedikit basah karena meski ia menghentikan mobilnya di tempat yang teduh, tapi untuk menjangkau ke receptionist dia harus melintas ke daerah yang tak tertutup oleh atap.
"Selamat malam, Kakak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya receptionist perempuan itu dengan ramah seraya mengulas senyum.
"Mbak, apa di sini masih ada dua kamar yang available?" tanya Verrel. Guntur yang menggelegar cukup kencang membuat Verrel harus meninggikan nada suaranya agar si penjaga front office ini bisa mendengarnya.
"Mohon maaf, Kakak! Hanya tertinggal satu kamar saja yang tersedia malam ini. Karena yang lainnya sudah full, Kakak," terang receptionist tersebut masih dengan ramah.
"Aduh ... hanya tinggal satu ya, Mbak?" Verrel garuk-garuk kepala. Dia berpikir masa iya dia mau satu kamar sama Merri?
"Bagaimana, Kakak? Bisa dipastikan seluruh hotel di daerah sini penuh semua mengingat ini adalah weekend."
Benar juga kata receptionist itu. Verrel tak akan mendapatkan tempat yang lain untuk bermalam ditambah jalanan pun macet tidak karuan. Ke mana dia akan mencari penginapan? Itu hanya akan membuang-buang waktu saja bukan?
"Kak, masih ada kamar kosong?" tanya seorang lelaki yang datang dan menyela pembicaraan antara Verrel dan si receptionist.
"Mbak, saya ambil kamarnya," sambar Verrel dengan cepat karena takut kamar yang hanya satu-satunya itu diambil oleh orang lain kalau dia kelamaan berpikir.
"Baiklah, Kakak," sahut petugas hotel tersebut. "Mohon maaf, Kakak! Kamar sudah penuh semua, ya," ucapnya seraya mengatupkan kedua tangannya pertanda permintaan maaf.
"Haduuh ... nggak tahu deh mau nyari di mana lagi, mana jalanan macet semua," gerutu lelaki tersebut seraya mengacak rambutnya dengan frustasi. Mendengar itu Verrel merasa sangat bersyukur karena mendapatkan kamar tersebut terlebih dahulu.
Setelah semua pembayaran lunas, maka Verrel mengikuti arahan petugas untuk menunjukkan di mana kamarnya berada. Hingga sampailah di sebuah rumah kecil bertingkat dengan sebuah garasi di bawahnya. Itulah kamar yang akan Verrel dan Merri tempati malam ini.
"Terima kasih banyak, Mas," ucap Verrel seraya mengulurkan tips untuk abang-abang berbadan kurus langsing yang telah mengantarnya.
Merri masih tertidur pulas hingga Verrel tak tega untuk membangunkannya. Akan tetapi, suara petir yang menyambar dengan kencang, menggelegar lebih kencang dari yang sebelum ini berhasil membuat Merri terbangun karena kaget. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan semakin kaget ketika tak didapati Verrel ada di sebelahnya.
"Sayang, kamu di mana?" Merri kebingungan plus ketakutan. Hingga akhirnya suara ketukan kaca jendela mobil yang ia duduki membuat wanita itu menoleh dengan segera.
"Sayang!" seru Merri dengan nada tinggi. Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi manja.
"Maaf, Sayang! Habisnya kamu tidur pules banget," ucap Verrel seraya membuka pintu mobilnya.
"Mm ... aku yang minta maaf, Sayang. Aku ketiduran," sahut Merri lalu mengerucutkan bibirnya seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Verrel.
"Aku tahu kamu lelah karena perjalanan jauh. I am so sory karena ngajakin kamu dinner di tempat yang jauh," tutur Verrel dengan begitu lembutnya. Lelaki itu mengusap sudut mata Merri yang terlihat kotor.
"Ada beleknya, ya?" Merri jadi malu, tapi Verrel sama sekali tak jijik menyentuh kotoran matanya.
"Sedikit, Sayang ... kamu tetap cantik meski beleken juga, hahahaha .... " canda Verrel hingga membuat Merri tersipu malu.
"Bisa aja kamu, Sayang," decit Merri lalu memukul d**a Verrel pelan.
"Tapi ... kenapa kita ada di sini? Ini hotel kan?" Merri tersadar kini dia berada di tempat yang asing.
"Iya, Sayang. Aku terpaksa harus sewa motel karena jalanan macet, hujan deras sekali, jarak pandang tak jelas, lalu ada pohon tumbang juga. Aku kasihan sama kamu kalau harus tidur sepanjang malam di mobil. Pastinya nggak nyaman kan?" jelas Verrel dengan panjang lebar dan sedetail mungkin. Semua yang dia katakan sesuai dengan fakta di lapangan.
"Cuma satu kamar?" tanya Merri dengan kening berkerut-kerut dan jantung yang berdebar kencang, pasalnya selain dia ijin pergi dengan Agnes dan berjanji akan pulang sebelum jam sebelas malam, ini juga akan menjadi momen pertama kalinya dia berada dalam satu ruangan hanya berdua bersama dengan Verrel.
"Sayang, jangan prasangka buruk dulu tentang aku! Aku terpaksa harus menyewa satu kamar karena semua kamar penuh dan hanya bersisa kamar ini saja. Kalau aku menolak, maka nggak ada lagi hotel yang bisa kita booking. Semuanya penuh, Sayang," jelas Verrel dan alasannya ini dapat diterima oleh Merri.
"Iya, baiklah, Sayang," sahut Merri sembari menyunggingkan senyum simpul.
"Kalau begitu kita masuk, ya! Kamu boleh melanjutkan tidurmu."
Verrel masuk ke dalam kamar tersebut beriringan. Kamar yang nyaman dan sesuai dengan budget yang harus Verrel keluarkan.
"Kamu tidurlah di tempat tidur, aku akan tidur di sofa malam ini," ucap Verrel.
"Terima kasih, Sayang." Meri sangat bersyukur karena memiliki kekasih yang sepengertian Verrel. Lelaki yang tak pernah marah dan bersikap kasar kepadanya itu selalu memperlakukannya bak purtri raja.
"Sama-sama, Sayang. Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan," tanya Verrel. Tak ada habisnya perhatian yang lelaki itu berikan kepada Merri. Sekecil apapun kebutuhan Merri akan selau Verrel perhatikan, hingga rasanya Merri harus berjuta-juta kali bersyukur karena memiliki kekasih seperti dia.
"Aku masih kenyang, Sayang," jawab Merri seraya merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Ya sudah kalau kamu lapar bilang sama aku, Ya!"
Singkat cerita. Merri justru tak dapat menutup matanya ketika ia mendapatkan tempat yang nyaman untuk melanjutkan mimpinya. Entahlah kenapa dia merasa lebih nyenyak tidur di mobil daripada di sini.
Udara yang dingin membuatnya enggan untuk keluar dari balik selimut. Ia sibuk menonton film romantis berbahasa Inggris di salah satu chanel televisi asing. Dan inilah awal mula di mana dua anak muda ini bisa melakukan tindakan yang di luar dari batas mereka.
Verrel yang tadinya tidur di atas sofa, berpindah ke atas ranjang karena tak kuat dengan hawa dingin yang menusuk ke tulang meski ac sudah diatur di temperatur yang paling tinggi. Walaupun mereka tetap menjaga jarak aman dengan tak berhimpit-himpitan, karena memang kasurnya sangat lebar tetap saja jantung keduanya bertabuh tak karuan. Merri dan Verrel berbaring di tepian-tepian ranjang hingga di bagian tengah terlihat kosong melompong.
"I love you, Baby." Sebuah dialog adegan romantis yang pemeran pria dan wanita lakoni hingga akhirnya berujung pada sebuah ciuman bibir yang panas di antara dua pelakon tersebut.
Merri menutup matanya, seolah takut mata kotornya akan ternoda. Berbeda dengan Verrel yang diam-diam sudah terbiasa menyaksikan adegan tak senonoh yang demikian. Maklum laki-laki memang kerap iseng dengan hal-hal yang berbau dewasa.
"Matiin aja, Sayang!" perintah Verrel. Dia takut kalau Merri tak nyaman lalu berpikiran yang macam-macam.
"Nggak, Sayang," jawab Merri seraya mengggelengkan kepalanya.
"Udah tanggung dikit lagi selesai filmnya," imbuh Merri lalu membuka kedua telapak tangan yang sejak tadi menutupi matanya.
"Ya sudah kalau sayang masih pingin nonton," kata Verrel. Lelaki itu memang selalu menuruti apa yang Merri inginkan.
Maka adegan romantis yang tadinya hanya berciuman kini sudah ke mana-mana. Dua orang kekasih yang sedang berduaan di dalam kamar itu pun telah menanggalkan pakaian mereka masing-masing meski tak diekspos secara detail, tapi orang dewasa pasti paham ke mana arah adegan itu menuju.
Jantung Merri berdetak kencang. Dia ingin menutup matanya lagi dengan kedua tangan, tapi kenapa enggan karena rasa penasaran yang lebih besar. Segitu polosnya kah Merri? Bukan tak pernah melihat film begituan, tapi permasalahannya sekarang dia menonton drama dua satu plus tersebut bersama Verrel bukan dengan Agnes atau teman-teman ceweknya yang lain. Jelas damage-nya pasti akan beda.
Sepasang kekasih yang ada dalam film romance tersebut kini saling bertukar keringat di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua. Iya, seperti Verrel dan Merri saat ini, berbagi selimut dalam satu ranjang.
Jantung Verrel dan Merri berdebar sangat kencang. Ada sengatan-sengatan listrik yang menjalar di tubuh keduanya. Hingga ... "Derr!" Suara petir kembali menyambar hingga membuat Merri refleks merapatkan tubuhnya kepada Verrel. Dua insan itu pun saling berpelukkan dengan tubuh yang tampak jarak.
Wajah Merri dan Verrel saling berhadapan hingga helaan napas mereka bersahut-sahutan sama lainnya. Merri tampak malu-malu ketika Verrel mengelus pipi wanita itu dengan begitu lembut.
"Oh ... faster, Baby!" Suara rintihan di layar kaca membakar gelora di antara keduanya.
Hingga ... mereka tak dapat mengontrol hawa napsu mereka yang bergelora. Malam ini Merri melepaskan harta yang paling berharga miliknya untuk diambil oleh Verrel, sang kekasih hati yang sangat dia cintai.
Merri menangis setelah melakukannya dan membuat Verrel merasa sangat berdosa. Lelaki itu menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga komitmennya untuk tak menyentuh Merri sebelum mereka sah di pelaminan.
"Maafkan aku, Sayang! Aku sungguh minta maaf," sesal Verrel. Ia pun menangis seperti Merri yang tak henti menitikkan air matanya.
"Aku janji aku akan menikahimu dan mempertanggungjawabkan semua yang aku lakukan," ucap Verrel lalu mengecup kening Merri dengan sangat lembut.
Merri sangat nyaman dengan sentuhan dan juga perhatian yang kekasihnya berikan. Hingga dia berpikir bahwa tak ada satu pun lelaki di dunia ini yang bisa menggantikan Verrel. Dia terus berdoa semoga hubungan mereka langgeng hingga akhir hayat.
Flashback off.
"Hiks ... hiks .... " Merri terisak-isak ketika memori berkasihnya dengan Verrel kembali berulang dalam ingatannya. Wanita itu tak dapat membendung kesedihan yang selama bertahun-tahun dia pendam. Hal ini pulalah yang membuat Merri menutup diri dan hati dari setiap lelaki yang ingin mendekatinya. Bukan hanya karena kehormatannya yang sudah Verrel renggut, tapi juga seluruh isi hatinya.
"Betapa aku harus merasa malu ketika Nenek Syan berkali-kali mengatakan kalau seorang wanita harus memberikan mahkotanya hanya untuk suaminya. Tak ada silsilah anggota keluarga yang melakukan hubungan di luar nikah begitu pun juga yang nenek harap darimu, Merri." Merri mengingat-ingat kata wanita yang begitu menyayanginya setelah ibunya. Bebannya semakin bertambah ketika ia harus membuat orang tuanya begitu kecewa dengan apa yang sudah dia lakukan. Sedangkan tak ada satu pun dari keluarganya yang tahu bahwa Merri pernah memiliki kekasih. Iya, larangan untuk berpacaran sebelum menikah membuat Merri dan Verrel harus bersembunyi-sembunyi dari keluarga.