Tentang Masa Lalu

1917 Words
o0o "Ya Tuhan, kenapa anakku tega melakukan ini kepadaku? Kenapa?" Edrick menangis terisak. "Suamiku, tolong tenangkan dirimu!" Anna mengelus-elus pundak suaminya. "Apa kamu sudah mendapatkan kabar dari Merri?" tanya Anna kepada dua anak lelakinya yang masuk ke dalam kamar beliau. "Mama kami tidak tahu di mana teman-teman Merri tinggal. Lalu ke mana kita harus mencarinya? Hanya Agnes yang kita tahu alamatnya, tapi dia bilang Merri tidak ada di sana," jelas Median. "Aku bersumpah! Kalau dia kembali ke rumah aku akan mencukur rambutnya hingga botak!" ancam Edrick seraya mengepalkan tangan beliau, geram. Nenek Syan bersama dua cucu menantunya di dalam kamar dan masih berusaha untuk ditenangkan. Wanita tua itu menolak untuk makan apapun apalagi untuk meminum obat. Beliau hanya ingin Merri segera kembali. "Mbak, apa kamu sudah berhasil menghubungi Mer?" tanya Mela, kakak ipar Mer alias istri dari Median. "Belum, Mel. Handphone-nya masih dinonaktifkan," jawab Lusiana. "Lalu bagaimana bila terjadi apa-apa dengan cucuku?" tanya Nenek Syan. "Mer sudah dewasa, Nenek. Dia past bisa menjaga dirinya sendiri," tutur Mela seraya mengelus-elus tangan nenek yang penuh keriput. o0o "Yang kamu lakukan ini salah besar, Mer! Aku marah sama kamu!" tegas Agnes. Dia merangkul Merri ketika wanita itu dalam masalah apapun, tapi merangkul bukan berarti membenarkan atas setiap tindakan yang Merri lakukan. "Maafkan aku, Nes! Aku nggak memiliki pilihan lain," sesal Merri. "Kamu memiliki pilihan ketika orang tua Satria melamarmu. Kamu bisa bilang enggak saat itu juga, bukan setelah semuanya dipersiapkan hanya tinggal menunggu akad lalu kamu kabur tanpa jejak!" omel Agnes. "Aku mau menolak saat itu juga, tapi ... tapi Bang Sat bilang dia cinta sama aku-" "Lalu kamu terbang melayang-layang ke angkasa karena ada lelaki yang mengungkapkan rasa cintanya sama kamu gitu?" sambar Agnes membungkam mulut Merri rapat-rapat. Wanita itu menundukkan kepalanya karena Agnes seperti paham dengan isi kepalanya. "Cuma kegeeran doang terus saat sadar belum siap nikah lalu kabur," desis Agnes sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Wanita itu menyunggingkan senyum miring merutuki kegilaan Merri yang sudah diambang batas. "Kamu harus bertanggung jawab, Mer! Ada dua nama baik keluarga yang kamu coreng namanya!" tegas Agnes. "Lalu bagaimana kalau ... kalau Bang Satria tahu keadaan yang sebenarnya? Kamu tahu kan?! Aku terkenal alim dan nggak pernah keluar dengan lelaki mana pun selama ini. Aku hanya pergi bekerja, lalu pulang, tidur, baca buku. Mana pernah aku keluyuran malam? Ke clubbing, ke ... ah pokoknya ekpektasi mereka begitu tinggi tentang aku, bahwa aku wanita suci yang tak seperti wanita-wanita lainnya yang sudah mengobralkan kesucian mereka dengan lelaki yang bukan suaminya," terang Merri dengan panjang lebar. Kedua tangannya sampai bergerak-gerak ketika bicara. "Apapun yang kamu omongin, kamu tetap salah, Mer! Sekarang pulanglah! Temui keluargamu dan keluarga Satria!" Agnes melingkarkan jemari tangannya menggenggam pergelangan tangan Merri dan menarik tubuh wanita itu agar segera berdiri. "Aku belum mau pulang, Nes. Aku masih mau ada di sini," rengek Merri bersikeras untuk tetap mempertahankan posisinya sehingga aksi tarik-tarikkan antar kedua sahabat ini pun tak terelakkan. "Aku mohon! Jangan usir aku! Aku nggak punya teman sebaik kamu, Nes." Merri mengiba, ia menangis dan membuat Agnes menjadi tak tega. "Apa kamu tahu? Ini bukan hanya masalah kehormatanku yang dia renggut, tapi hatiku juga ... aku masih mencintainya, Nes. Dia cinta pertamaku, dia lelaki baik yang bisa membuat aku nyaman," cetus Merri dengan bercucuran air mata. "Tapi dia ninggalin kamu, Mer. Itu artinya dia nggak baik," sahut Agnes dengan lemah lembut tak bernada tinggi seperti yang sudah-sudah. "Dia tetap baik di mata aku, Nes .... " ucap Merri. Agnes memeluk sahabatnya tersebut untuk memberikan Merri ketenangan. Ada beban moril baginya yang tak bisa Agnes pahami karena dia tak berada di posisi Merri. "Aku yakin, dia memiliki alasan yang kuat kenapa dia pergi. Nggak hanya ninggalin aku, tapi juga kuliahnya," imbuh Merri. Maka, Agnes tak memaksa Merri untuk pergi. Mungkin wanita itu butuh waktu beberapa hari untuk berpikir, untuk merenung dan menenangkan dirinya. o0o Satria membuka kancing jasnya dengan kasar hingga bulatan pengait baju itu pun ada satu buah yang harus terkoyak dan jatuh di lantai kamarnya yang beralas karpet tebal berwarna merah. Lelaki yang frustasi karena gagal menikah itu pun melempar kain mahal yang ibunya pesan dari designer ternama dengan asal-asalan. Jas itu mengenai sebuah vas bunga yang tergeletak di atas meja. Lalu karena belum cukup untuk melampiaskan rasa marahnya, maka Satria menarik jas itu dengan kuat hingga vas bunga kaca yang tertutup jas tersebut ikut bergeser dan pecah berantakan. "Kenapa kamu tega, Merri? Kenapa?" jerit Satria dengan lantang hingga urat-urat di lehernya terlihat menonjol. "Aku udah siapin rumah mewah untuk kamu, mobil, semua fasilitas yang bisa bikin kamu nyaman hidup sama aku, tapi ... kenapa kamu hancurin semuanya? Kenapa? Apa kurangnya aku?" Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Pertanyaan itu yang berkali-kali keluar dari mulut Satria. Secara tampang dia cukup menawan, secara ekonomi dia pun mapan. Satria pun siap berjanji untuk membahagiakan Merri, wanita yang sejak dahulu menjadi incaran hatinya. Namun, ternyata semua yang dia miliki tak cukup untuk bisa menaklukan hati si bungsu yang keras kepala. "Apa kamu sudah gila, Satria? Kenapa kamu buat kamar kamu berantakan?!" tegur Denias. Sang ibu bergegar pergi ke kamar anaknya setelah mendengar suara benda yang pecah dari arah kamar tersebut. Satria adalah anak semata wayang di keluarga ini. Harapan ibu dan ayah hanya ada pada Satria. Jangan dibilang kalau mereka tak menginginkan Satria melepas masa lajang, jelas sekali menimang cucu dari Satria adalah angan-angan yang ingin segera mereka wujudkan. Namun, kenyataan memalukan ini begitu membuat mereka terpukul dan kecewa. Mau bagaimana lagi selain dihadapi? "Ibu tahu kan kalau aku mencintai Merri?" tanya Satria kepada sang ibu yang menjadi kawannya berbagai rasa selama ini. Dengan Denias, ia bisa mencurahkan segala isi hatinya tanpa ragu. "Ibu tahu, Nak. Ibu pun sama kecewanya denganmu, ibu marah tapi ... ibu mohon jangan berlarut! Lihatlah, Sayang!" Denias menggandeng tangan Satria. Beliau menuntun Satria ke sebuah cermin besar yang tergantung di dinding. "Lihatlah dirimu, Sayang!" perintah Denias seraya menghadapkan tubuh Satria berdiri menghadap kaca. Meski pakaiannya sudah awut-awutan, rambutnya acak-acakan, tapi Satria masih terlihat tampan. Tak sedikit pun pesonanya hilang meski penampilannya awut-awutan. Satria melihat pantulan dirinya di cermin. Dia berdiri dengan tak antusias, pundak tegapnya pun terlihat melengkung ke bawah. "Anak ibu ganteng sekali, banyak yang mau denganmu, Satria. Kamu ini lelaki, jangan mau harga dirimu diinjak-injak oleh perempuan. Sekarang saja dia meninggalkanmu tanpa pesan, lalu bagaimana kalau dia menjadi istrimu? Apa kamu tetap menginginkannya menjadi istrimu?" jelas Denias, berusaha untuk membuka pikiran anaknya agar tak terpaku pada satu wanita yang membuatnya kecewa. Pada kenyataannya populasi wanita lebih banyak dibandingkan pria. Bahkan satu orang lelaki bisa saja memiliki lebih dari satu istri, lantas kenapa Satria harus membuang waktunya demi satu wanita yang tak menganggap dirinya berharga? Itu yang sedang Denias tekankan kepada anaknya. "Merri itu wanita baik-baik, Ibu. Di jaman sekarang ini apa ada wanita yang seperti dia? Dia hanya menghabiskan waktunya di rumah dan bekerja, dia nggak pernah keluyuran. Dia menjaga harga dirinya ibu ... dia membatasi pertemanan dengan lelaki." Satria tetap saja membela Merri. "Aku yakin dia nggak mungkin pergi dengan lelaki lain, Ibu. Dia nggak punya teman lelaki selama ini," imbuh Satria. "Lalu apa alasannya pergi kalau bukan demi laki-laki lain, Satria? Benar kata ayahmu, itu alasan yang masuk akal," sanggah Denias. "Karena kita terlalu cepat merancang pernikahan, Bu. Dia belum siap untuk menikah. Jadi aku rasa ... aku akan cari dia dan mengulang rencana pernikahan kita lagi di waktu yang dia sudah benar-benar siap," terang Satria. "Ibu kecewa denganmu, Satria! Bisa-bisanya kamu merendahkan harga dirimu!" berang Denias tak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya. "Terserah apa katamu! Ibu menyerah!" Denias mengangkat kedua tangannya pertanda beliau sudah mengangkat bendera putih untuk menasehati anaknya. Beliau melangkahkan kaki keluar dari kamar anaknya. "Bukannya Ayah dulu juga mengejar ibu mati-matian? Kenapa aku nggak boleh, Bu?" decit Satria membuat jejak kaki Denias tertahan. Wanita yang masih membiarkan sanggul modern cantik menempel di rambutnya itu pun berbalik badan menatap kembali anak lelakinya. "Tapi ibu tidak pernah merendahkan harga diri ayahmu, Nak. Saat ibu bersedia untuk menikah, maka ibu konsekuen dengan apa yang ibu katakan," tutur Denias dengan mimik wajah yang tegas. o0o Dua hari berlalu, Merri tak juga mau menyalakan ponselnya karena bisa dijamin akan banyak panggilan dan juga chat yang masuk ke dalam gawaynya tersebut. Di dalam persembunyiaannya, di rumah Agnes, Merri mengurung dirinya di kamar tamu. Tak jarang ia menangis ... begitu susahnya ia untuk bangkit dari masa lalu yang begitu berkesan untuknya. "Aku bahkan masih ingat lembutnya sentuhan tangan Verrel ketika menyentuh seluruh tubuhku," lirih Merri seraya meraba tubuhnya sendiri seolah tangannya adalah tangan kekasihnya yang kini menghilang entah ke mana. "Ciumannya, desahannya ... aku masih ingat semuanya, Tuhan. Aku tahu ini salah, tapi ... aku bahagia dengan dosa yang aku dan dia lakukan karena aku percaya suatu saat nanti kita pasti bertemu dan akan menikah. Iya ... kita akan mengulang cinta dan napsu kita seperti dulu lagi, sebagai pasangan yang halal." Merri berbicara seorang diri. Ia terus berusaha untuk berpikir positif bahwa semua hanyalah tinggal masalah waktu saja. Tuhan akan menyatukan mereka di saat yang tepat, itu yang Merri percayai. Merri membuka tas kopernya di mana di situ terdapat sebuah foto usang yang masih dia simpan. Iya, foto delapan tahun yang lalu di mana dia dan Verrel merayakan hari jadi mereka yang kedua tahun. Verrel memeluk Merri tepat di pinggangnya dengan begitu mesra. Senyum mereka terulas menggambarkan kebahagiaan di antara keduanya. Flashback. "Aku berharap kita akan selamanya bersama, Sayang," ucap Verrel seraya menggenggam kedua tangan Merri lalu menciumnya dengan mesra. "Aku juga begitu, Sayang," sahut Merri. "Nanti setelah aku lulus kuliah aku segera mencari pekerjaan dan aku akan meminangmu. Kamu akan jadi istriku, Merri," kata Verrel dengan sangat serius. Cintanya untuk Merri bukan kaleng-kaleng. Bahkan lelaki itu sudah membayangkan banyak hal tentang masa depannya dengan sang kekasih hati. "Aku tunggu kamu datang untuk melamarku, Sayang," ucap Merri begitu mendambakan agar waktu itu segera tiba dan dia menyandang sebagai Nyonya Verrel Ardianov. Sepasang sejoli ini menghabiskan waktu mereka di sebuah restoran yang sudah Verrel booking beberapa hari sebelum anniversary mereka tiba, sehingga semuanya sudah sangat dipersiapkan dengan baik. Ini candle light dinner yang sangat romantis dan berkesan untuk Merri sendiri. "Sayang, ayo kita pulang! Aku sudah ngantuk sekali." Merri menguap dengan cukup lebar. "Oke, siap, Sayang!" Verrel adalah lelaki yang selalu menuruti apa yang Merri inginkan. Tak pernah ada satu pun penolakan kasar yang keluar dari mulut lelaki itu ketika Merri merengek meminta sesuatu kepadanya. "Terima kasih, Sayang ... " Merri mengulas senyum lalu membubuhkan sebuah ciuman di pipi lelakinya itu. Naas! Hujan turun begitu lebat hingga jarak pandang berkurang. Ditambah anginnya yang kencang mengombang-ambingkan pepohonan membuat orang-orang yang masih bergentayangan di jalan menjadi was-was. "Sayang, bagaimana ini? Aku nggak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini?" tanya Verrel kepada Meri yang nampaknya sudah tak tahan dengan rasa kantuknya sementara perjalanan masih sangat jauh. Di tengah jalan, banyak polisi memakai jas hujan berpelencar dan menghentikan kendaraan yang hendak melintas. Tak lama setelah itu polisi yang lainnya terlihat memasang palang panjang terbuat dari plat/besi membentang menutup akses yang akan dilewati oleh Verrel untuk menuju ke arah kota mereka. Verrel menginjak pedal remnya dalam-dalam ketika salah satu pihak yang berwajib melambaikan tangannya meminta dia untuk segera menghentikan laju mobilnya. "Dimohon untuk putar balik, Mas! Ada dua pohon tumbang dan menutup akses jalan," kata bapak polisi tersebut dengan suara yang tak terlalu jelas karena tertelan dengan suara hujan yang deras. Namun, Verrel bisa mengerti apa yang bapak itu katakan. Semua arus kendaraan diputar balik. Sepertinya evakuasi ini akan memakan waktu yang lama. Lagi pula Verrel kesulitan berkemudi dengan jarak pandang yang seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD