Chapter 6

2462 Words
Langit biru Kota London begitu cerah hari ini, meski tertutup awan-awan putih, namun masih terlihat sangat indah dari balkon sebuah apartemen mewah di pusat kota. Aroma khas cat yang baru dipoles cukup menusuk hidung, namun hal itu membuat Halsey senang karena pada akhirnya dia akan memiliki unit apartemennya sendiri. Terlebih penting lagi dia akan tinggal seorang diri di sini, tanpa penjagaan ketat dari keluarga besarnya, dia bisa berlaku layaknya orang biasa. Bukan berarti kehidupannya selama ini tidak menyenangkan, hanya saja ingin merasakan apa yang orang awam rasakan, kebebasan. “Yeay!!! Terima kasih, Kak!” Halsey bersorak dan memeluk tubuh Sarah yang juga balas memeluknya. “Kau suka dengan interiornya, Tuan Putri?” tanya Andrew yang membawa tubuh gemuk Niall dalam gendongannya. “Tentu saja aku suka, tetapi apakah ini adalah apartemen termurah yang perusahaan Kakak miliki?” tanya Halsey yang diangguki oleh Andrew. “Kalau yang seperti aku tinggali ini murah, bagaimana yang paling mahalnya?” tanya Halsey penasaran. “Seperti milik Luke, Anthony dan Nick. Mereka pemilik unit apartemen termahal di perusahaanku, dan kau pasti pernah mengunjunginya,” jawab Andrew mengacak poni adik sepupu istrinya. “Hwaaa...” “Sudah. Mengapa kau harus sampai sejauh ini, Tuan Putri? Apa menjadi bagian dari keluarga Jacob tidak membuatmu nyaman?” tanya Sarah penuh perhatian. “Bukan begitu, Kak. Aku hanya ingin berusaha menggapai sesuatu dengan usahaku sendiri. Seperti kalian yang tidak hanya mengelola perusahaan dari Kakek. Kalian juga membangun kerajaan bisnis sendiri, tanpa campur tangan Kakek atau keluarga Jacob lainnya,” jawab Halsey sembari menatap Kota London dari balik dinding kaca unit apartemennya. “Baiklah kalau itu keinginanmu. Dan bagaimana hubunganmu dengan Alex?” tanya Sarah penasaran, karena dia juga mendengar kalau ketiga saudaranya sudah menindak Alex yang dengan lancangnya mengencani adik mereka. “Entahlah... Semuanya melarangku untuk dekat dengannya, sedangkan Halsey sudah merasa sangat nyaman jika berdekatan dengannya,” lirih Halsey yang memeluk tubuhnya sendiri. “Semoga saja Alex bisa memperjuangkanmu,” ucap Andrew menguatkan Halsey. “Semoga saja...” lirih Halsey sebeluk berlalu memasuki kamar tidurnya dan meninggalkan Sarah dan keluarga kecilnya. “Ku harap suatu saat dia mengerti tentang kekhawatiran kami akan keselamatannya,” lirih Sarah yang menghampiri suaminya untuk mengambil alih tubuh gemuk Niall yang sudah terlelap. “Masih belum diketahui siapa dalang dari semua itu?” tanya Andrew yang hanya dijawab dengan gelengan oleh sang istri. *** Alex masih sibuk dengan tumpukan dokumen di atas meja ketika seseorang memasuki ruangannya. Lantai yang dilapisi karpet tebal itu menjadi faktor pendukung tidak sampainya suara langkah kaki ke telinganya. Dia begitu fokus membaca dokumen yang belum diselesaikan oleh Alice beberapa waktu lalu. Hingga sebuah suara lembut menyapa, barulah Alex mengangkat kepala dan menurunkan sedikit kacamata bacanya sebatas hidung. “Kau selalu sibuk seperti ini?” “Brice!!!” sorak Alex seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri gadis cantik berambut pirang yang duduk di depannya. “Wow, wow, wow... Sesak, Bung,” kekeh Brice berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Alex. “Kapan kau tiba? Bukankah kau masih senang hidup di Melbourne?” “Kemarin malam, tetapi aku tidak sempat berkunjung ke mansion orang tuamu. Aku langsung mengerjakan beberapa pekerjaan di kantor Ibu,” jawab gadis itu merapikan rambutnya yang sudah diacak-acak Alex. “Seharusnya kau menghubungiku, jadi aku bisa berkunjung ke penthouse orang tuamu,” ucap Alex lembut sembari mendudukkan diri di sofa yang sama dengan Brice. “Tidak perlu. Oh, ya, ke mana sekretarismu yang seksi itu?” tanya Brice dengan kepala menoleh ke arah pintu. “Ku pindahkan ke Lion,” jawab Alex tak acuh. “Mengapa?” “Dia selalu berpenampilan layaknya seorang jalang dan mencoba menggodaku. Dia pikir aku akan tertarik?” sungut Alex kesal. “Biasanya kau suka berhubungan dengan seorang jalang, mengapa kali ini Kau tidak tertarik?” tanya Brice penasaran dengan reaksi lelaki di dekatnya ini. “Aku sudah menemukan cinta sejatiku,” jawab Alex dengan senyum hangatnya. “Aah... Akhirnya...” ucap Brice setengah bersorak. Alex dan Brice masih larut dalam perbincangan panjang karena sudah beberapa bulan ini mereka tidak bertemu. Kebetulan Brice adalah sahabatnya sejak kecil, bahkan Alex sudah menganggap Brice sebagai adiknya. Ponsel Alex berdering saat dia tengah bercengkrama dengan Brice. Matanya menyipit melihat siapa yang menghubungi dari layar ponsel. “Halo, Ratuku,” sapa Alex dengan senyumannya saat menjawab panggilan di ponselnya. “—“ “Baiklah, aku akan menemuimu malam ini.” “—“ “Aku mencintamu,” ucap Alex sebelum memutus sambungan dan mengembalikan ponselnya ke dalam saku. “Siapa? Kekasih barumu?” tanya Brice. “Ya. Dan maaf, Brice, malam ini aku belum bisa berkunjung ke penthouse ibumu. Kekasihku ingin bertemu.” “Baiklah, aku mengerti dan semoga kalian bahagia,” ucap Brice dengan senyuman hangatnya yang membuat Alex tersenyum senang. Sebagai gantinya Alex mengajak Brice makan siang dengan kedua adiknya, kebetulan Eliot, adik bungsunya baru saja pulang dari perjalan bisnis di Zurich. Setelahnya Alex mengajak Brice untuk makan siang bersamanya dan kedua adiknya. Kebetulan Eliot juga baru tiba dari mengurus perusahaannya di Zurich. Sekarang keempatnya tengah duduk di sebuah ruangan VIP untuk menikmati makan siang mereka. Alice bahkan terlihat sangat akrab dengan Brice. “Bagaimana hubunganmu dengan Claire?” tanya Eliot yang sudah tahu tentang hubungan kakaknya dengan putri bungsu dari keluarga Lord Philips Jacob. “Cukup baik dan bisa kita tidak membicarakannya di sini?” tanya Alex sedikit memberi isyarat dengan matanya pada Eliot agar diam dan diangguki oleh sang adik. “Kalian membicarakan apa?” tanya Brice yang memang tidak mendengar percakapan Eliot dan Alex. “Tidak ada, kami hanya membicarakan bagaimana perusahaan di Swiss,” jawab Eliot berbohong. Sebenarnya keluarga Harris juga mengetahui kabar hubungan Alex dan Halsey. Bahkan mereka juga tahu apa yang telah dilakukan Nick, Harry dan Henry pada Alex beberapa waktu lalu. Hanya saja mereka lebih memilih diam dan tidak mendebatnya. Karena George Harris pun seberapa b******k putra sulungnya itu, jadi dia tahu apa yang mendasari ketakutan keluarga Jacob kalau nanti Halsey hanya akan disakiti. Bahkan mereka juga ikut menutupi identitas Halsey dari orang lain, termasuk Brice. “Lalu mengapa Kau kembali ke London, Eliot?” tanya Brice. “Tentu saja aku harus kembali, London adalah rumahku. Dasar gadis bodoh!” ucap Eliot menyentil kening Brice sampai merah. Gadis berambut pirang itu mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan perlakuan Eliot yang diterima. Dia bisa merasakan keningnya sedikit perih akibat jentikkan jari Eliot, Brice sangat yakin jika sekarang jentikkan itu meninmbulkan bekas merah. Sedang Alex dengan kedua adiknya hanya tertawa melihat Brice yang kesal karena kejahilan Eliot. *** “Kau serius mengundang Alex?” tanya Sarah yang sedang bermain dengan putranya. “Mengapa? Apa Halsey tidak boleh mengundangnya, Kak? Apa sekarang Kakak juga melarangku berkencan dengan Alex seperti yang lainnya?” tuduh Halsey oada Sarah yang justru tengah memberikan tatapan tajamnya. “Bukan begitu. Kau ini selalu saja, aku hanya khawatir dia mempermainkanmu seperti gadis-gadis lain.” “Tetapi Alex mengatakan kalau dia sungguh mencintaiku, Kak.” “Kau tidak pernah bisa tahu apa yang dia pikirkan dan lakukan di belakangmu, karena yang kau lihat hanya seperti apa dirinya saat ini di hadapanmu. Saranku, jangan terlalu menarih hati dan asa padanya, karena kau akan kehilangan arah jika pada kenyataannya tujuan Alex bukan lagi dirimu,” ucap Sarah sebelum menciumi pipi bulat putranya yang tertawa riang. “Aku berharap Alex tidak akan menyakitiku...” lirih Halsey yang terdengar pasrah di telinga Sarah dan Andrew yang baru saja dating menyusul sang istri. Halsey merasa bosan setelah menidurkan Niall, akhirnya dia memilih untuk mengganggu para pelayan yang tengah memasak untuk makan malam. Kebetulan malam ini keluarganya akan berkumpul di apartemen Halsey. Mereka ingin memastikan bahwa putri kecil itu terpenuhi segala kebutuhannya. Langit biru yang sejak tadi siang menjadi payung indah kota, berganti dengan warna jingga yang menghangatkan. Halsey terlihat begitu ceria dengan senyum manis yang terus saja menghiasi wajah cantiknya. Seluruh anggota keluarganya telah datang ke apartemen mewah yang dia tempati ini, lebih tepatnya keturunan Lord Philips Jacob. Besok akan menjadi awal baru baginya, berdoa agar keberuntungan berpihak padanya yang akan menjadi orang biasa tanpa bayang-bayang nama besar keluarga Jacob. Tadi siang dia mendapatkan pos-el dari sebuah perusahaan tekhnologi terbesar di Inggris. Semoga saja dia bisa mendapatkan pekerjaan itu, meski dia tidak memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Halsey hanya berharap Tuhan berbaik hati padanya. Sampai tiba waktunya makan malam dan satu persatu keluarganya datang. Halsey terlihat sangat ceria saat ini, apalagi besok dia akan memulai wawancara kerja pertamanya di salah satu perusahaan tekhnologi terbesar di Inggris. Dia berdoa agar kebetuntungan selalu berpihak padanya, termasuk esok hari. “Jadi besok kau wawancara kerja di mana, Sayang?” tanya Philips pada cucu kecilnya yang sedang bergelayut manja di lengan sang istri. “Di EDGE Tech, Kek. Bagaimana?” “Awal yang bagus untuk karirmu, semoga seterusnya jadi lebih mudah. Dan kau harus bersyukur karena Kakek tidak terlibat dalam proses lamaran pekerjaanmu ini,” ucap Philips mengecup kening cucunya yang tersenyum senang sembari beralih memeluknya. “Kau melamar kerja di mana, Dik?” tanya Nick yang sejak tadi sibuk mengganggu keponakannya sampai menangis. “EDGE Tech, Kak,” jawab Halsey yang masih menenggelamkan wajah di d**a hangat sang kakek. “APA???” pekik Nick, Harry dan Henry heboh. “Biarkan saja Halsey menentukan pilihannya sendiri. Dia sudah cukup dewasa dan bukan gadis manja seperti yang orang-orang katakan di luar sana,” tegur Katherine dingin karena dia merasa kasihan melihat cucu bungsunya yang selalu merana tiap kali mencurahkan isi hatinya. Jika semua orang selalu melihat Halsey sebagai sosok yang ceria dan penuh semangat, sayangnya hal itu hanya tampilan luarnya saja. Di mata orang lain dia terlihat sangat biasa saja, seperti anak-anak bangawan pada umumnya. Kehidupan bergelimang harta, dicintai keluarga, dan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa harus memeras keringat seperti mereka yang berasal dari kalangan biasa. Tidak banyak yang tahu isi hati gadis itu sebenarnya, karena selama ini hanya sang nenek lah yang selalu menjadi tempatnya mencurahkan isi hati. Sejak memilih untuk bersekolah di sekolah biasa, bukan sekolah kalangan bangsawan Britania Raya, Halsey mulai mendapatkan perlakuan kurang baik dari orang-orang sekitarnya. Kebanyakan dari mereka mengucilkan Halsey dengan sikap tak acuh, bahkan sering kali dia harus menerima kata-kata umpatan penuh kebencian yang ditujukan padanya. Hanya karena dia cucu di keluarga bangsawan, hanya karena dia terlahir sebagai putri di keluarga berada, hanya karena kasih sayang berlebih dari orang-orang di lingkup keluarnya, dan karena dia adalah bagian dari keluarga Jacob yang disegani. Bagi sebagian ornag yang mengetahui perlakuan kurang baik yang diterimanya, hal itu hanyalah sebuah hal biasa. Tidak pantas untuk dibesar-besarkan, apalagi jika harus melibatkan keluarganya. Tetapi baginya, seorang gadis kecil yang mencoba untuk membuka diri, bersosial dengan dunia luar, dan dengan orang lain di luar kalangan bangsawan atau konglongmerat, hal itu sungguh menyakitkan. Kekerasan fisik memang tidak diterimanya, tetapi kekerasan verbal yang diterima masih membekas hingga kini. Membuatnya merasa harus merubah diri, mencoba untuk menjadi rakyat biasa, menjalani harinya seperti orang biasa. Hal ini pula lah yang mendasari Lord Philips Jacob menutup akses media akan sosok cucu bungsunya, Philips selalu berhasil membungkam media yang berusaha untuk menampilkan informasi tentang Halsey. Semua itu mereka lakukan semata-mata untuk membuat Halsey merasa aman dan nyaman. “Terima kasih, Kakek, Nenek,” ucap Halsey sebelum mengecup pipi kakek dan neneknya. Kedua orang tua Halsey sama sekali tidak mengetahui dengan beban psikologis yang ditanggung oleh putri mereka selama ini. Terlalu sibuk dengan bisnis yang mereka geluti, membuat rasa percaya Halsey untuk bercerita pun tidak sekuat rasa percayanya pada sang nenek. Karena sejak kecil Halsey terbiasa tinggal dengan Lily, terlalu banyak hal yang telah mereka lalui bersama. Sedangkan dengan keenam kakaknya, rasanya mustahil dia bisa menceritakan masalah serangan verbal yang diterimanya ini pada mereka. Karena dunia pun sudah tahu seperti apa tabiat keenam saudaranya, mereka tidak akan segan untuk menghilangkan orang-orang yang menjadi penghalang. Jika kelima keturunan laki-laki dari keluarga Jacob itu memilih jalur kekerasan sebagai penyelesaiannya, berbeda dengan Sarah. Wanita berwajah dan tatapan dingin itu lebih memilih untuk menghancurkan perekonomian mereka, menghabiskannya hingga tak tersisa. Itulah sebabnya Halsey lebih memilih untuk menyimpan deritanya seorang diri, daripada dia membuat lebih banyak orang menderita karena dirinya. “Apa mereka tahu, Nek?” tanya Halsey setengah berbisik. “Tidak, Sayang,” jawab Lily setengah berbisik. “Halsey sayang Nenek...” ucapnya sebelum menghujami wajah sang nenek dengan kecupan. “Nenek juga sangat menyayangimu, Tuan Putriku,” kekeh Katherine saat menerima ciuman dari cucu bungsunya yang sangat manis hanya sedikit lebih lemah dari keenam cucunya yang lain. Bel apartemen Halsey berbunyi, memecah fokus keluarga tersebut pada gadis yang tengah bergelayut manja pada sang nenek. Nick mengambil inisiatif untuk membuka pintu apartemen dan melihat siapa yang dengan lancangnya mengganggu acara keluarga mereka. Dengan membawa tubuh gemuk Niall di dalam gendongannya, Nick membuka pintu dan tidak pernah memperkirakaan akan melihat sosok yang paling dia benci di dunia ini. Wajahnya berubah tidak bersahabat, matanya menyipit seperti elang yang tengah bersiap menerkam mangsanya dari angkasa luas. “Ada apa kau ke sini?” tanyanya tetoris. “Halsey mengundangku,” jawab Alex santai dan menganggukkan kepalanya sedikit sebagai hormat pada anggota keluarga Jacob yang lebih tua. “Kau sudah datang?” tanya Halsey riang dan setengah berlari menghampiri Alex. Cup Alex mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir sensual sang kekasih, membuat pipi sang dara merona merah. Sedangkan yang lain hanya terpaku, menatap tak percaya dengan apa yang mata mereka lihat. Bagaimana bisa seorang Alexander Harris berani mengecup bibir Halsey di hadapan mereka? Bahkan kini sang putri manis itu bergelayut manja di lengan kokoh sang kekasih, merasa nyaman dan tenang dengan keberadaan Alex di sisinya. Jika Halsey tersenyum senang dengan kehadiran Alex, namun tidak dengan saudara-saudaranya yang sudah menatap tajam ke arahnya. “Kalian?” tanya Karl menunjuk putrinya dan Alex bergantian. “Kami adalah sepasang kekasih, Tuan Karl Jacob. Dan saya harap Anda merestui hubungan kami, saya akan membuatnya bahagia,” jawab Alex pasti dan semakin membuat ketiga cucu Philips Jacob mendengus sebal. “Ehem... Sekarang waktunya makan malam, semua sudah hadir, kan?” Philips berdeham sesaat untuk menetralkan suasana. Suasana yang seharusnya hangat itu berubah sedikit tegang ketika kehadiran Alex. Walau akhirnya mereka tetap melanjutkan acara makan malam dengan kondisi itu, dengan Philips, Paul dan Edward tampak sesekali berusaha menetralkan suasana tegang yang tercipta. Mereka sesekali bertanya tentang keluarga dan perusahaan milik keluarga Harris. Tentu saja tanpa menyenggol sedikit pun tentang EDGE Tech yang besok akan menjadi tempat Halsey melakukan wawancara kerja. Meninggalkan acara makan malam keluarga Jacob dengan Alexander Harris di apartemen Halsey. Di sebuah pemakaman di tepi Kota London, seseorang tengah menatap marah sebuah bangunan makam. Dia tidak peduli jika saat ini langit sudah gelap, bahkan bulan dan bintangpun enggan menampakkan diri. Mereka memilih untuk berlindung di balik pekatnya langut malam. “Bahkan setelah mati pun kau masih merepotkan, Alana! Tidak akan ku biarkan gadis mana pun kembali merebut Alex dariku, termasuk gadis pilihanmu!” geramnya marah sebelum meninggalkan makam Alana Hiddleston.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD