Chapter 5

2465 Words
Apa yang menimpa Alex beberapa waktu lalu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, dia menjadi tontonan semua pegawai di kantornya ketika keluar ruangan dengan wajah penuh lebam. Bahkan terdapat beberapa luka di wajah tampannya, hantaman yang diterima wajahnya bukan sebuah pukulan dari pemuda yang baru beranjak dewasa. Dia memutuskan untuk menjeda, memberi waktu bagi Halsey dan keluarga Jacob untuk menerima hubungan mereka. Karena sudah sejak lama reputasinya di mata keluarga bangsawan berpengaruh di Britania Raya itu tidak baik. Terlebih lagi setelah kejadian itu, melibatkan dirinya dengan keluarga Jacob, terutama Luke Jacob bersaudara. “Sial!!!” Hanya umpatan penuh kegeraman itu yang terus saja meluncur dari mulut seorang Alexander Harris, lelaki flamboyan putra sulung Sir George Harris, Perdana Menteri Inggris. Rupanya meyakinkan keluarga Jacob akan keseriusannya bukanlah sesuatu yang mudah, selalu saja dia gagal. Terlebih lagi bayang-bayang masa lalu itu kembali menyeruak, menjadi mimpi buruk yang seakan tiada akhir di dalam tidurnya. Setiap malam dia harus terus terbangun, wajah penuh kesedihan dan derita itu selalu hadir sejak hari itu, hari di mana Nick menyebutkannya dengan lantang dan penuh amarah. Tetapi hal ini tidak akan membuatnya mundur untuk memperjuangkan Halsey, barang selangkah saja, dia tidak akan goyah untuk menjadikan Halsey ratu di istana cintanya. Meski itu artinya dia harus berulang kali melawan malaikat maut yang selalu mengintainya, membayanginya dengan kisah tragis di masa lalunya. “Tuan, di depan ada Nona Amy ingin bertemu,” ucap sekretaris Alex yang tampilannya sudah seperti model majalah dewasa. “Katakan padanya jika sekarang aku sedang ada pertemuan penting, dan tidak bisa untuk bertemu dengannya,” jawab Alex mencoba fokus pada tumpukkan berkas di atas meja kerjanya. “Baik, Tuan,” ucap wanita seksi itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, sehingga menampilkan belahan dadanya yang membuat Alex muak. “Oh, ya, satu lagi. Mulai besok kau dipindah tugaskan ke kantor cabang di Perancis. Jadi tolong siapkan semua berkas yang diperlukan oleh Luther,” ucap Alex dengan sinisnya. “Me-mengapa, Tuan?” tanya wanita itu sedikit manja. “Lion sedang membutuhkan seorang Manajer, dan kau ku angkat untuk menjadi manajer di sana.” “Sungguh? Anda serius, Tuan?” tanyanya antusias dan hanya dijawab Alex dengan anggukan. Setelah itu sekretaris Alex keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan lelaki itu sendiri larut dalam pikirannya. Tubuhnya memang berada di tempat ini, tetapi tidak dengan hati dan pikirannya. Terlalu banyak yang dia pikirkan, sampai dia tidak sadar jika ada seseorang telah memasuki ruang kerjanya. Menatapnya bingung dan penasaran, bahkan dia sampai mengernyitkan kening sejak tadi. “Apa yang terjadi, Kak?” “Aah... Sejak kapan kau datang?” tanya Alex menatap wajah teduh adik perempuannya. “Sejak Kakak menatap figura di atas meja,” jawab gadis itu santai. “Ada apa kau ke mari, Alice?” tanya Alex menghampiri adiknya yang duduk di sofa. “Aku hanya ingin mengunjungi Kakak karena sudah beberapa minggu ini tidak pulang ke mansion. Dan ku dengar dari Luther, kau terluka,” jawab Alice memeluk kakaknya singkat. “Cih. Kekasihmu itu tidak ada pekerjaan lain selain melaporkan semua kegiatanku padamu?” “Aku hanya ingin memastikan kalau Kakak tidak kembali membuat masalah dengan keluarga Jacob. Jangan sampai Kakak membuat Ayah harus berlutut di bawah kaki Lord Philips Jacob karena perbuatan Kakak.” “Rupanya kau juga tidak mempercayaiku,” decih Alex karena kesal adiknya juga tidak percaya akan perasaannya pada Halsey. “Aneh saja kau yang playboy dan sudah dewasa bisa jatuh cinta dengan gadis seperti dia. Dan parahnya lagi dia adik sepupu bungsu dari orang yang memusuhimu.” “Aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta padanya, tetapi sampai saat ini pun perasaanku masih sama untuknya,” jawab Alex pasti dengan mata menerawang ke figura foto yang terdapat di atas meja kerjanya. “Aku tidak tahu semanis apa gadis itu sekarang, karena terakhir kali melihatnya sebelum semua itu terjadi pada Alana,” ucap Alice hati-hati. “Aku harus mengunjunginya, dan tolong kau urus pekerjaanku di sini,” Alex mengecup kening adiknya dan berlalu pergi. Alice masih bingun dengan pekerjaan yang diberikan sang kakak, karena lelaki itu telah berlalu meninggalkannya seorang diri di ruangan seluas ini. Lengkap dengan tumpukan dokumen di atas meja kerja Alex, membuat kepalanya sakit mendadak. Terlebih lagi dia terlalu malas untuk menghubungi sang kekasih, karena biasanya dia akan lebih memilih untuk berkencan dengan Luther daripada menyelesaikan pekerjaan sang kakak. Tetapi kali ini dia akan membantu Alex untuk menyelesaikan pekerjaannya, setidaknya menguranginya sedikit. “Semoga Tuhan memberi jalan untukmu, Kak,” gumam Alice saat melihat pintu kayu di depannya telah kembali tertutup rapat. *** “Kau mengapa, Sayang?” tanya Emily melihat putri kecilnya sejak tadi hanya menekuk wajah. “Halsey bosan di rumah, Bu,” rengeknya dengan wajah yang sangat menggemaskan. “Jadi ingin bekerja?” Pertanyaan Emily barusan sontak saja menarik perhatian Halsey. Wajahnya yang sejak tadi ditekuk sudah tampak kembali ceria. Matanya berbinar senang saat mendengar kata ‘bekerja.’ Dia segera menggeser duduknya mendekati sang ibu. Menggoyang-goyangkan tangan Emily yang tersenyum hangat padanya. “Boleh?” tanyanya dengan puppy eyes-nya yang menggemaskan. “Kau ingin mencoba bekerja seperti kakak-kakakmu, kan?” tanya Emily lagi yang diangguki Halsey dengan antusiasnya. “Baiklah kalau itu keinginanmu, Sayang. Ibu akan mengajarkanmu bagaimana membuat lamaran pekerjaan,” ucap Emily setelah mengacak poni putri bungsunya. “Ibu serius? Halsey boleh bekerja?” tanyanya lagi untuk memastikan dan diangguki oleh sang ibu. “Yeay!!!” Halsey bangkit dari duduknya dan bersorak girang sambil menari-nari. Akhirnya dia bisa melakukan hal yang sudah lama dilakukan oleh teman-temannya. Mencari pekerjaan dan bekerja di sebuah perusahaan dengan usahanya sendiri. Dia tidak ingin jika keluarganya ikut campur, karena selama ini dia selalu hidup nyaman. Karl bahkan telah meminta salinan ijazah Halsey dari Universitas tanpa mencantumkan nama ‘Jacob’ sesuai permintaan putrinya. Lagi-lagi kekuasaan keluarga merekalah yang bekerja. “Mulai besok Halsey akan tinggal di apartemen dan naik bus seperti orang lain!!!” soraknya lagi dengan girangnya, bahkan dia tidak melihat perubahan raut wajah ibunya. “Apa???” Halsey dan Emily menoleh ke asal suara, rupanya Harry baru menuruni tangga dan mendengar ucapannya. Raut wajahnya jelas sekali menunjukkan kalau dia tidak suka dan bahkan mungkin tidak setuju dengan ucapan sang adik. Bagaimana bisa seorang Halsey Claire Jacob tinggal di sebuah apartemen? Bahkan menaiki angkutan umum yang seumur hidupnya tidak pernah terjadi. Gadis itu telalu berbeda dan istimewa bagi keluarga mereka, bak sebuah mutiara yang harus terjaga di dalam cangkang yang kokoh. “Halsey akan mulai menjadi orang biasa sejak besok,” jawabnya lagi dengan cengirannya yang lucu. “Apa selama ini kau tidak nyaman hidup seperti ini, Sayang?” tanya Emily tanpa memutus tatapan dari wajah cantik putrinya. “Nyaman, hanya saja terlalu nyaman. Sampai-sampai Halsey tidak tahu bagaimana kehidupan orang lain di luar sana. Halsey ingin berguna seperti semua Kakak, semuanya bekerja dan bermanfaat bagi orang lain. Dan selama ini Halsey hanya duduk nyaman menjadi penonton,” jawab Halsey bersemangat yang berhasil membuat ibu dan kakaknya takjub. “Dari mana belajar kata-kata itu?” tanya Harry penasaran. “Dari TV.” “TV apa yang bicara seperti itu? TV milik Andrew?” tanya Harry lagi karena penasaran dan diangguki oleh Halsey. “Aku melihat sosialita Jerman di TV, dia diwawancara saat menghadiri charity. Aku takjub dengan pola pikir dan jawabannya saat ditanya wartawan.” “Jadi kau ingin mencoba jadi orang lain?” tanya Emily penuh selidik. “Tidak, Bu. Halsey hanya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi orang biasa, tanpa ada orang yang takut atau segan berhubungan dengan kita,” jawab Halsey yang diangguki ibu dan kakaknya. “Baiklah... Baiklah... Semua sudah diurus dan apartemen, biar Ibu minta Sarah untuk menyiapkannya,” ucap Emily lagi sebelum berllau setelah mengecup kening putrinya. “Itu apartemen mewah, Bu,” tolak Halsey setengah berteriak dan membuat Harry menutup telinganya. “Tidak ada bantahan, Sayang,” ucap Emily tegas penuh penekanan. “Tap—“ “Setuju atau tidak sama sekali?” “Baiklah,” jawab Halsey pasrah dengan bahunya yang langsung lunglai. Harry hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adik manjanya. Beberapa hari lalu dia dan Henry baru mengetahui jika ayah mereka tengah mengurus dokumen yang akan digunakan Halsey untuk melamar pekerjaan. Mereka heran saja mengapa Halsey harus repot-repot melamar pekerjaan jika kakek mereka telah menyiapkan beberapa perusahaan atas namanya? Dan akhirnya semua pertanyaannya terjawab hari ini, bahwa adiknya ingin memiliki kehidupan normal seperti orang-orang kebanyakan. “Kau sebegitu inginnya menjadi orang biasa?” tanya Harry menepuk pahanya agar sang adik merebahkan kepala di atas pahanya. Halsey langsung merebahkan kepala di atas paha kakaknya. Walau Harry terkenal jahil dan sedikit kejam, tetapi sebenarnya lelaki itu adalah sosok yang penyayang. Apalagi padanya, Halsey sangat tahu itu. “Jadi mengapa Kakak sangat membenci Alex?” tanya Halsey penasaran. “Kami tidak membencinya, Sayang. Hanya saja reputasi lelaki itu sudah sangat buruk, kami tidak ingin kau mengalami apa yang gadis-gadis itu alami," ucap Harry sembari membelai lembut rambut cokelat adiknya. “Tetapi dia tidak pernah kasar padaku,” bela Halsey yang sudah benar-benar jatuh cinta pada Alex. “Cukup untuk kami menjagamu, dan jangan sampai sesuatu yang membuatmu menentang kami adalah akhir dari segalanya, kar—“ “Karena kami tidak ingin kehilanganmu, Tuan Putri,” Henry datang dari arah depan dan memutus ucapan saudara kembarnya. “Halsey terharu,” gadis itu bangkit dari tidurnya dan memeluk Harry dan Henry dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. “Gadis manis...” gumam kedua kakaknya bersamaan. *** Suasana sebuah kafe di dekat Sungai Thames begitu ramai siang ini. Banyak muda-muda tengah menghabiskan waktu mereka bersama untuk santap siang. Tak jarang beberapa dari mereka tengah memamerkan kemesraan di depan umum. Dan sekarang di sebuah meja yang menghadap langsung ke Sungai Thames, sepasang kekasih tengah asik berbicara. Gadis cantik itu tersenyum manis sembari menunjukkan beberapa foto di album yang dia bawa. “Dia manis, kan?” tanya gadis itu pada sang kekasih yang terlihat tampan dengan wajah dinginnya. Lelaki itu tidak banyak merespons, dia hanya melirik sekilas dan tersenyum pada sang gadis. Mau berapa banyak pun gadis cantik dan manis yang ditunjukkan padanya, hanya ada satu gadis yang bisa menarik perhatiannya. Yaitu gadis cantik yang duduk di depannya saat ini, Alana Hiddleston. “Mengapa kau selalu menyukai adik sepupu Nick dan Sarah?” tanyanya penasaran, karena Alana sering kali menceritakan lerihal adik sepupu sahabat dan musuhnya. “Halsey sangat manis dan menggemaskan, kau harus bertemu dengannya suatu saat nanti,” ucap Alana dengan senyum manisnta yang sekali lagi membuat Alex luluh. “Untuk apa?” Alex menaikkan sebelah alisnya dan menatap manik mata kekasihnya. “Entahlah, ku rasa kau akan menyumainya. Dia sangat manis dan menggemaskan, biasa Kak Nick mengajaknya ke rumah,” cerita Alana yang hanya diangguki oleh Alex. Karena lelaki itu terlalu malas mendengar nama sang musuh, entah apa alasan mereka berkelahi dulunya. Atau lebih tepatnya saling menabuh genderang perang di kubu masing-masing. Namun dia berusaha untuk tidak membuat masalah dengan Nick, karena saat ini dia tengah berkendan dengan salah satu sepupu Nick dari keluarga Smith. “Aku tidak akan menyukainya, karena aku hanya menyukaimu,” ucap Alex meraih tangan kekasihnya dan menciumnya dengan lembut dan sayang. “Tuan...” “Tuan Alex...” “Hmmm...” Alex bergumam dan sedikit menggeliat di atas kursi penumpang mobil yang sejak setengah jam lalu membawa tubuhnya. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum benar-benar membali pada alam sadarnya. Dia tampak termenung sesaat, lagi-lagi mimpi itu kembali datang menghantuinya. Rupanya benar kalau sekarang kata-kata Alana beberapa tahun lalu menjadi kenyataan. Dia bemar-benar menyukai adik kecil para konglongmerat Inggris itu. Bahkan lucunya lagi dia akan menjadi pengemis restu dan cinta dari keluarga Jacob. “Kita sudah sampai, Tuan,” ucap pria setengah baya yang sejak tadi mengendarai mobil Alex menuju daerah pinggir Kota London. “Terima kasih,” Alex hanya mengucapkan kalimat itu sebelum menuruni mobil mewahnya. Da terus berjalan memasuki sebuau gerbang hitam dengan beberapa aksen emas. Di kiri dan kanan jalannya terdapat pohon oak yang menyejukkan. Matanya menatap nanar beberapa bangunan kecil dengan patung-patung yang diukir indah. Hingga langkahnya berhenti tepat di sebuah bangunan kecil dengan patung sebuah wanita dengan kerudung menutupi kepalanya. “Hai... Apa kabarmu?” tanya Alex yang tangannya membelai lembut sebuah nama yang terukir di bangunan kecil itu. “Ku harap sekarang kau bahagia dan tenang di sana. Maaf aku jarang mengunjungimu akhir-akhir ini, terlalu banyak pekerjaan dan ku rasa kau tahu apa yang saat ini aku alami,” lirih Alex dengan wajah sedihnya yang jarang dia tampakkan di wajah tampannya. Selama ini dia lebih dikenal dengan sifat ramah dan flamboyannya. Bahkan dia rela mendapat gelar sebagai seorang playboy, semua itu demi menutupi bagaimana rapuhnya dia selama ini. Bagaimana pun juga dia sama seperti manusia pada umumnya, yang memiliki perasaan. Namun sebisa mungkin dia menutupinya dan bersikap layaknya lelaki yang tidak pernah merasa sakit dan terluka. “Sudah beberapa tahun sejak kepergianmu, dan aku masih merasa sulit untuk menerimanya. Aku masih mencintaimu, Alana,” lirihnya lagi. “Kau tidak mencintainya lagi, Alex. Kau hanya merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya,” suara lembut dan tenang seorang wanita menyadarkan Alex dari keterpakuannya dan segera berbalik ke asal datangnya suara. “Kimmi?” “Ya, ini aku. Dan apa yang kau lakukan di makam adikku?” tanya wanita cantik bernama Kimberly Hiddleston itu. “Aku merindukannya,” lirih Alex setelah meletakkan bunga krisan berwarna merah muda di sebuah vas marmer yang ada di depan bangunan kecil itu. “Ku dengar sepupuku menghajarmu karena mendekati adiknya?” tanya Kimberly ikut berjongkok di depan Alex. “Keluarga sepupumu mencoba menghalangiku untuk meraih cinta adik mereka,” jawab Alex terdengar sangat tidak suka. “Kau mencoba meraih cinta dengan cara mengorbankan keselamatannya. Jauhi dia, Alex. Jangan sampai Halsey mengalami apa yang dialami oleh adikku, Alana,” nasihat Kimberly pada Alex yang kini tengah menatap kosong ukiran nama mendiang kekasihnya. “Nick sudah sangat membencimu sebelum apa yang menimpa Alana, dan kau membuatnya makin membencimu setelah kematian adikku. Dan ku rasa wajar saja jika Nick sampai menghajarmu, kau pantas mendapatkannya, Alex. Kau tidak pernah bisa menjamin jika Halsey akan baik-baik saja jika bersamamu. Mencintaimu, menjadi kekasihmu sama saja dengan bertaruh nyawa. Hal ini bukan seperti permainan judi di meja kasino, Alex.” “Tetapi aku sungguh menyukainya, bahkan aku mencintainya. Dia adalah gadis yang bisa menghidupkan hatiku setelah kepergian Alana,” ucap Alex dingin. “Aku hanya menasihatimu sebagai Kakak dari gadis yang harus kehilangan nyawa karena menjadi kekasihmu,” ucap Kimberly dengan wajah datarnya sebelum kembali berdiri dan berjalan meninggalkan Alex. “Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi dan siapa yang melakukannya!” Alex ikut berdiri dan membuat langkah Kimberli berhenti dengan tubuh mereka saling memunggungi. “Justru karena kau tidak tahu siapa pelakunya, maka dari itu aku menasihatimu. Kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, terlalu gelap bahkan setelah beberapa tahun,” ucap Kimberly lagi sebelum benar-benar berlalu meninggalkan Alex yang terpaku menatap makam mendiang kekasihnya, Alana Hiddleston.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD