Berawal dari ciuman pertama yang direbut oleh seorang Alexander Harris, gadis ceria seperti Halsey terlihat berbeda. Gadis itu lebih banyak menyendiri dan sesekali dia tersenyum seperti orang yang tengah kasmaran. Siang ini dia tengah berada di kantor Nick, meminta bantuan kakak sepupunya itu untuk membuat sebuah surat lamaran pekerjaan. Tetapi niat awalnya tersebut sepertinya terkendala dengan tingkah anehnya saat ini, bagaimana tidak jika sejak tadi dia terus tersenyum menatap rangkaian bunga mawar merah di atas meja coktail ruang kerja Nick.
“Apa kau sudah gila, Dik?” tanya Nick dengan sebelah alis terangkat.
“Huh? Apa, Kak?” tanyanya mendongakkan kepala dan menatap Nick dengan wajah polosnya.
“Kakak tanya apakah kau sudah gila? Sejak tadi ku perhatikan kau terus tersenyum menatap mawar di meja itu,” jawab Nick acuh.
“Mawarnya indah, tetapi sayang berduri.”
“Mengapa kau tidak minta bantuan Martin saja untuk membuat surat lamaran kerja?” tanya Nick pada Halsey yang kembali menatap bunga mawar merah itu.
“Memang Kak Martin bisa?” tanyanya bangkit dari duduk dan berjalan menuju Nick.
“Tentu saja, dia yang menyeleksi semua pegawai baru di perusahaan yang Kak Anthony tangani,” ucap Nick yang membuat Halsey mengangguk-anggukkan kepalanya.
Nick sungguh gemas melihat tingkah adik kecilnya yang manis ini, walau terkadang menyebalkan. Dan tentu saja dia harus memberi penjagaan ekstra dari Alexander Harris. Karena dia bisa melihat jika musuhnya itu memiliki misi untuk mendapatkan adiknya. Nick tidak pernah rela adik kecilnya jatuh ke tangan lelaki b******k seperti Alex.
“Kalau begitu antarkan Halsey ke tempat Kak Martin,” rengeknya pada Nick yang sudah mendengus sebal karena lagi-lagi pekerjaannya terganggu.
“Kakak sedang sibuk, Tuan Putri,” jawabnya sembari mencubit gemas pipi adik kecilnya yang menggemaskan.
“Jadi bagaimana?”
“Hubungi saja Martin, minta dia untuk menjemputmu,” ucap Nick memberikan ponselnya pada Halsey agar menghubungi Martin.
“Tidak diangkat,” keluh Halsey dengan ponsel Nick yang menempel di telinganya.
“Sabar. Mungkin dia sedang sibuk,” ucap Nick yang masih tetap sibuk dengan keyboard laptopnya.
“Ah—halo,” sapa Halsey dengan cerianya ketika mendengar suara Martin di seberang sana.
“—“
“Jemput aku, ya, Kak.”
“—“
“Di kantor Kak Nick. Sekarang.”
“—“
“Bye.”
Halsey membanting tubuhnya di kursi hadap di depan meja kerja Nick. Dia memberikan kembali ponsel kakak sepupunya yang menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Tak berapa lama ponsel Halsey terdengar berdering, dan gadis itu tampak ragu untuk menjawabnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya karena takut jika akan membuat kakak sepupunya marah.
“Angkat saja, mengapa tidak kau angkat?” ucap Nick menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya dengan sebelah alis terangkat.
“Tetapi,” Halsey terdengar ragu.
“Angkat sekarang atau kau ingin Kakak yang menjawabnya?”
“Tidak!!! Biar Halsey saja,” jawab Halsey cepat semakin membuat Nick curiga.
Akhirnya Halsey menjawab panggilan dari lelaki yang sudah mengisi hati dan harinya beberapa minggu ini. “Halo.”
“—“
“Di kantor Kak Nick,” jawabnya dengan melirik Nick dari sudut matanya dan sialnya lirikan itu ditangkap oleh Nick yang kini menatapnya tajam.
“—“
“Jangan!!! Aku tidak ingin kalian bertengkar,” ucap Halsey sedikit panik saat Alex mengatakan akan menjemputnya.
“Siapa yang menghubungimu?” tanya Nick memicingkan matanya pada Halsey.
“Xander, Kak,” jawab Halsey jujur walau dia takut jika kakak sepupunya marah.
“Xander? Siapa?” tanya Nick semakin menuntut.
“Alexander Harris.”
Brak...
Nick menggebrak meja kerjanya dan bangkit dari duduknya saat mendengar adik kecilnya menyebut nama musuhnya. Dia cukup terkejut mendengar jika adiknya berhubungan dengan Alex. Sejak kapan? Nick sama sekali tidak tahu jika adiknya bisa bicara akrab dengan Alex.
“b******k!!! Jangan pernah menghubungi adikku!” bentak Nick pada Alex setelah merebut ponsel yang sedari tadi menempel di telinga Halsey.
“—“
“b******k!!! Kalau kau mau bermain, cari obyek lain. Jangan adikku!!!” geram Nick karena Alex menantangnya di seberang sana.
“Kak,” lirih Halsey sedikit ketakutan.
“Kau juga, Halsey. Sudah pernah Kakak katakan untuk menjauhinya, tetapi sekarang apa yang kau lakukan?” Nick berusaha menahan emosinya agar tidak meluap dan membuat Halsey semakin takut.
“Tet-tetapi dia kekasih Halsey, Kak,” ucap Halsey sedikit tergagap dan berhasil membuat mata Nick membola tidak percaya.
“Apa?”
“Halsey mencinta Alex, Kak,” tangis Halsey pun pecah karena dia sungguh sudah merasa jatuh cinta pada Alex.
“Kau berhasil membuatku merasa bersalah karena Halsey menangis. b******k kau, Alex!!!” bentak Nick pada Alex di seberang sambungan sana sebelum menutup panggilannya dan membawa tubuh adiknya yang bergetar karena tangis ke dalam pelukannya.
“Jangan menangis, Kakak sangat menyayangimu dan tidak ingin kau merasa tersakiti nantinya,” ucap Nick membelai lembut punggung sang adik.
“Tetapi, Kak—“ isak Halsey tertahan karena ternyata semenyakitkan ini mencintai seseorang yang tidak disukai oleh saudara-saudaranya.
“Sssttt...” Nick berusaha menenangkan adiknya yang masih menangis.
“Ternyata ini yang dirasakan Kak Sarah pada Dave, rasanya semenyakitkan ini,” isak Halsey semakin menjadi.
Pintu ruang kerja Nick terbuka dan menampilkan wajah tampan serta menenangkan Martin. Asisten pribadi sekaligus sepupu Anthony Jacob itu bingung melihat Nick sedang menenangkan Halsey yang menangis. “Ada apa, Nick?” tanya Martin.
“Martin, tolong kau antar Halsey pulang ke mansion Paman Karl. Ada sesuatu yang harus ku lakukan,” ucap Nick melepaskan pelukannya pada tubuh sang adik.
“Kakak jangan menyakiti Alex,” Halsey memohon agar Nick tidak menyakiti Alex.
“Ada apa dengan Alex?" tanya Martin tidak mengerti.
“Lelaki b******k itu menjadikan Halsey kekasihnya tanpa sepengetahuan kami?” geram Nick dengan buku jari yang telah memutih karena ia menggenggam tangannya dengan kuat.
“Apa?”
“Tetapi Halsey cinta dengan Alex, Kak,” tangis Halsey kembali luruh.
“Kau mencintainya dan Kakak tahu, tetapi Alex bukanlah lelaki baik untukmu.” Nick memegang bahu Halsey yang bergetar karena tangis pilunya.
“Tolong aku, Martin. Aku akan menghubungi Harry dan Henry perihal ini,” ucap Nick.
“Jangan, Kak!” Halset memegang lengan kakak sepupunya.
“Kau sudah mulai bermain rahasia dengan kami, Tuan Putri. Kakak yakin semua ini diajarkan oleh si b******k itu,” ucap Nick meninggalkan ruang kerjanya dan Halsey yang saat ini ditenangkan oleh Martin.
“Sssttt... Jangan menangis, air matamu terlalu berharga untuk menangisi lelaki sepertinya,” ucap Martin memeluk Halsey dan membelai punggungnya dengan sayang.
“Sebegitu buruknya kah?” tanya Halsey terisak.
“Kalau sampai keluarga Jacob melarangmu, itu artinya Alex memang tidak sebaik yang kau tahu,” Martin mengucapkannya dengan mata sendu, karena jujur saja dia memiliki perasaan pada gadis dalam pelukannya. “—karena bersamanya kau hanya akan tersakiti dan menderita,” lanjutnya dalam hati.
“Halsey harus apa?”
“Kau sudah dewasa, Tuan Putri. Kau tahu mana yang tepat untukmu, dan sayangnya Alex bukanlah pilihan tepat untukmu.”
***
“Di mana Alexander Harris?”
“Anda ingin bertemu dengan Tuan Harris?” tanya resepsionis di gedung EDGE Tech milik Alexander Harris.
“Hubungi atasanmu segera, katakan Harry Jacob ingin bertemu,” ucap Harry berusaha tenang.
Nick tampak tidak sabar menunggu konfirmasi jika dia dan kedua adik sepupu kembarnya biisa menemui Alexander Harris. Kedua tangannya merasa sudah sangat gatal ingin menghantam wajah sombong Alex. Tak berapa lama resepsionis itu mengatakan bahwa mereka diizinkan untuk naik ke lantai di mana ruang kerja Alex berada. Tak butuh waktu lama bagi Nick untuk menerjang tubuh alteltis Alex hingga tersungkur di lantai. Tepat menghadap London Eyes yang terlihat jelas dari dinding kaca ruang kerja lelaki yang menghapus lelehan darah dari sudut bibirnya yang sobek.
Bugghhh!!!
“b******k!!! Ku katakan jangan pernah mendekati adikku!!!” teriak Henry yang biasanya terlihat tenang namun kini telah menggila saat mendengar kabar dari Nick tentang hubungan sang adik dengan Alex.
“Aku mencintainya!!!” teriak Alex tidak terima dengan pukulan Henry pada wajah tampannya dan dia membalas dengan meninju wajah tampan Henry.
“Bohong!!!” teriak Nick dan Harry bersamaan.
“Aku serius, bahkan aku telah berhenti bermain dengan wanita lain," ucap Alex merapikan kerah kemejanya.
“Kau selalu berucap begitu, bahkan beberapa tahun lalu juga mengatakan hal yang sama,” Nick menarik kerah Alex yang berhasil mendorong tubuhnya.
“Kalian yang selalu menghalangiku untuk mendekati Halsey! Bahkan kalian sengaja menjauhkannya dariku!” teriak Alex tidak terima dengan semua perlakuan keluarga padanya.
“Kau b******k!!!” kini Harry yang mendaratkan tinjunya di wajah Alex.
“Kalian tidak bisa menyalahkan cinta!!” Alex balas menyerang Jacob bersaudara namun dia kalah jumlah.
“Cinta katamu? Persetan dengan kata cinta yang kau ucapkan itu, b******k! Kau lupa apa yang terjadi pada Alana!!!” bentak Nick yang berhasil membuat tubuh Alex menegang di tempat.
Seketika itu juga tubuh Alex membeku, Nick baru saja menyebutkan nama seseorang yang telah lama tidak dia dengar. Lebih tepatnya sebuah nama yang berusaha dia lupakan sekeras mungkin, meski pada kenyataannya dia sulit melupakan kenangan itu. Sekelebat bayangan masa lalu muncul, menyergap kesadarannya, membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Henry untuk menghujami lelaki yang berani mengencani adiknya dengan pukulan.