Chapter 3

1956 Words
Keluarga Jacob disibukkan dengan pesta pernikahan Luke dan Belle yang diadakan di beberapa negara yang berbeda. Setelah upacara pernikahan yang digelar tertutup di Indonesia, keluarga seorang Marquis dari Bordeaux itu juga mengadakan sebuah pesat pernikahan mewah untuk cucunya. Tak lupa sebuah pesta mewah digelar oleh keluarga Jacob di London. Kini sudah tiba waktunya bagi Halsey untuk menikmati kehidupan layaknya seorang putri. Gadis itu tidak melakukan hal berarti dalam hidupnya selama ini, selain menikmati luapan kasih sayang dan perhatian keluarga besarnya. Gadis itu menghempaskan bokongnya secara kasar di atas sebuah sofa klasik di ruang santai mansion mewah orang tuanya. Pipinya menggembung ketika melihat lirikan menggoda sang ibu yang tengah membaca sebuah majalah. “Bu...” rengeknya yang membuat Emily mengangkat wajah untuk sekadar melihat wajah lucu putri bungsunya. “Ada apa, Tuan Putri?” tanya Emily menghampiri Halsey dan duduk di sisi sang putri. “Halsey bosan,” rengeknya lagi dan semakin membuat sang ibu gemas. “Jika kau merasa bosan, mengapa tidak melanjutkan pendidikan saja? Kau belum mengambil gelar PhD, bukan?” tanya sang ibu mengusap lembut kepala putri bungsunya. “Tidak mau. Halsey bosan harus terus sekolah, tetapi tidak sekali pun pernah bekerja.” “Tuan Putri Ibu ini ingin berlibur sepertinya.” “Kau ingin apa, Tuan Putri?” suara baritone Karl memasuki ruangan di mana biasa keluarga mereka berkumpul. “Ayah!!!” teriaknya bangkit dari sofa dan menghampiri Karl, memeluk tubuh sang ayah yang sudah beberapa hari ini berada di Italia untuk perjalanan bisnis. “Ayah merindukanmu, Tuan Putri...” ucap Karl mengecup lembut puncak kepala putrinya. “Halsey juga…” cengirnya dan menenggelamkan kepala di d**a bidang ayahnya. “Jadi apa yang kau inginkan, Tuan Putri?” tanya Karl lagi. “Halsey ingin bekerja!” jawabnya lantang dan berhasil membuat Karl melepas pelukannya. “Maksudnya?” tanya Emily memastikan pendengarannya. “Halsey ingin bekerja,” rengeknya lagi dan kembali duduk di sofa. “Kau yakin ingin bekerja?” tanya Karl ikut memastikan jika putri kecilnya mengatakan ingin bekerja, karena seingatnya Halsey tidak bisa bekerja dan hanya bisa mengganggu kakak-kakaknya saja. Gadis cantik dan berwajah manis itu mengangguk antusias, tentu saja dengan puppy eyes andalannya. Kali ini dia berhasil membuat Karl mengehela napas panjang sebeluk duduk di sisinya. “Kalau Halsey serius, Ayah akan siapkan di perusahaan mana bisa bekerja,” ucap Karl membawa tubuh putrinya dalam pelukan. “Benar, Ibu akan siapkan semuanya,” ucap Emily ikut bergabung dengan putri dan suaminya, membuat tubuh Halsey diapit oleh kedua orang tuanya. “Tidak! Halsey ingin melamar pekerjaan seperti orang-orang, wawancara kerja, ditolak dan diterima. Halsey mau mengikuti seperti itu,” ucapnya dengan wajah polos andalannya. “Apa?” kedua orang tuanya terperanjat mendengar keinginan putri bungsu mereka. “Halsey serius...” rengeknya lagi dengan mata berkaca-kaca. “Mengapa kau ingin melakukan hal yang seperti orang biasa lakukan, Sayang?” tanya Karl. “Benar. Ibu bisa meminta Kakek atau kakak-kakakmu menyiapkan semuanya,” ucap Emily membenarkan perkataan suaminya. “Kali ini aku hanya ingin menjadi Halsey Claire, tanpa ada nama Jacob di belakangnya. Ayah dan Ibu bisa mengurus semuanya, kan? Halsey ingin ke kamar dulu untuk membuat lamaran pekerjaan,” ucap gadis manja itu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terheran-heran dengan permintaan tidak biasanya. Karl memijat pangkal hidungnya, setidaknya melakukan hal itu bisa mengurangi sedikit rasa pening di kepalanya. Berulang kali menggelengkan kepala pun tidak akan merubah fakta perihal permintaan sang putri. Gadis kesayangannya sudah beranjak dewasa, gadis itu ingin memiliki kehidupan normal seperti gadis-gadis sebayanya. Tanpa ada nama besar keluarga di balik setiap tingkah lakunya, hanya ingin menjadi dirinya sendiri. “Sepertinya kita harus meningkatkan penjagaan untuk Halsey,” ucap Karl sebelum melumat bibir sang istri. Sedangkan Halsey yang sebelumnya mengatakan ingin ke kamar untuk membuat lamaran pekerjaan, nyatanya gadis itu tengah berada di dalam mobil. Mendadak pikirannya berubah, dia ingin membeli beberapa novel untuk dibaca. Dia tampak membaca beberapa hal menarik di media sosial miliknya, walau tidak begitu banyak hal menarik baginya. Karena dia tidak memiliki banyak teman selama ini, atau lebih tepatnya dia tidak memiliki teman. Perlakuan yang selalu diterimanya selama ini tidaklah seperti yang dipikirkan oleh orang lain, hanya karena latar belakang sosialnya yang berbeda. Mobil yang dikendarai sopir keluarga Karl Jacob telah berhenti tepat di depan lobi sebuah pusat perbelanjaan yang masuk dalam jaringan bisnis keluarganya. Gadis itu keluar dari mobil dengan wajah ceria, sia jarang sekali bis amenikmati waktunya seorang diri seperti sekarang ini. Karena biasanya akan ada penjagaan cukup ketat dari keluarganya, dan hari ini dia bebas melakukan apa saja tanpa adanya penjaga. Rupanya menyenangkan bisa melarikan diri dari penjagaan sang ayah, dan kakenya. Dia terus berjalan dengan bersenandung kecil, menyanyikan sebuah lagu yang akhir-akhir ini menjadi kesukaannya. Orang-orang menatapnya dengan tatapan biasa saja, tidak ada yang berlebihan ketika dirinya bebas berjalan tanpa penjaga. Karyawan pusat perbelanjaan ini tidak banyak yang mengenalinya, kecuali mereka dari kalangan atas. Karena biasanya mereka sering menghadiri semua pesta yang diadakan oleh keluarganya, jadi mustahil mereka tidak mengenali sosok yang tengah kebingungan menatap banyaknya buku di depan wajahnya. Gadis itu melihat semua judul yang ada di punggung buku, tanpa membaca sampul belakangnya, dia tahu bahwa kini dia berada di tempat yang tepat. Banyak buku bagus yang harus dia miliki, masuk ke dalam rak perpustakaan pribadinya, menjadi bacaan pengantar tidurnya yang lelap. Tetapi, apa dia harus membeli semuanya? Jika dia membeli semuanya, hal itu akan menarik perhatian pengunjung lain. “Tetapi Halsey ingin semua buku di rak ini...” gumamnya sangat pelan sembari melirik beberapa buku yang telah berada di dalam tas belanjanya. “Nona ingin membeli buku apa lagi?” tanya sorang petugas toko buku yang sejak tadi menemani Halsey berkeliling. Halsey menoleh dan tersenyum simpul, “bisa tolong tinggalkan aku? Jujur saja aku merasa tidak nyaman karena terus kau ekori seperti induk bebek,” ucapnya berusaha selembut mungkin. Pegawai toko yang sejak tadi menemani Halsey mengangguk dan meninggalkan gadis itu seorang diri. Sebenarnya dia juga tidak ingin mengekori Halsey seperti anak bebek, tetapi kepala toko menugaskannya untuk mendampingi Halsey. Berjaga-jaga kalau gadis berambut pendek sebahu itu menginginkan sesuatu, atau sekadar membutuhkan bantuannya. Halsey merasa jauh lebih leluasa sekarang, perlahan dia mulai membaca sinopsis di setiap sampul belakang buku. Semuanya menarik, membuatnya semakin yakin untuk membeli semua buku di rak bertuliskan penjualan terbaik itu. Hingga matanya menangkap sebuah judul menarik, “The Billionaire’s Daughter” sebuah novel yang sepertinya sama seperti dirinya. Tetapi rasanya begitu sulit untuk menggapai buku yang berhasil menarik lebih banyak perhatiannya tersebut. Meski tinggi tubuhnya cukup semampai, tetapi tangannya berulang kali gagal menjangkau buku itu, bahkan berjinjit pun dia tetap tidak mampu menggapainya. “Jika kau tidak bisa menjangkaunya, mengapa tidak meminta bantuan orang lain, hum?” Halsey memalingkan wajah ke arah datangnya suara baritone yang terasa familier di telinganya. Wajahnya terlihat lucu ketika melihat sosok yang kini berada di sisi tubuhnya, dengan mata membola nyaris keluar, mulutnya juga terbuka sebelum akhirnya dia merubah tampilan wajahnya menjadi biasa saja. Namun gerakan bibirnya yang dia gigit dari dalam terus bergerak, dengan sebelah tangan memegang d**a kirinya yang terus berdebar kencang. Rasanya dia nyaris saja terkena serangan jantung dan kehabisan napas melihat wajah tampan lelaki itu. “Alex...!!!” serunya yang membuat Alex terpaksa membekap mulutnya dengan tangan dan berbisik di depan telinganya. “Jangn berisik, Halsey. Kau hanya akan menarik perhatian mereka,” ucapnya pelan sebelum melepas bekapan tangannya dari mulut Halsey. “Mengapa kau ada di mana-mana? Aku bisa terkena serangan jantung kalau bertemu denganmu,” sungut Halsey kesal dan kembali berusaha mengambil buku yang sejak tadi tidak berhasil dia dapatkan. Tetapi sepertinya usaya yang sejak tadi dia kerahkan untuk mengambil buku tersebut sia-sia ketika tangan Alex lebih dulu mengambilnya. Lelaki itu sengaja mengangkat tinggi buku tersebut hingga semakin sulit untuk Halsey gapai. Bersusah payah gadis manis tersebut berjinjit untuk meraih apa yang dia inginkan, tidak peduli jika harus menarik-narik kemeja yang dikenakan oleh Alex. Dan ekspresi tersebut semakin membuat Alex ingin menjahilinya, karena tingkah Halsey terlampau menggemaskan untuknya. “Berikan!” rengek Halsey berjinjit dan berusaha keras untuk mendapatkan buku itu. “Akan ku berikan, tetapi ada syaratnya,” ucap Alex dengan wajah seriusnya. “Syarat? Apa?” Halsey kelelahan dan berjongkok sehingga kepalanya tepat berada di depan kaki jenjang Alex. Gadis itu mendongak dan mencoba untuk menatap manik mata Alex. Dia sungguh menginginkan buku itu, namun saat ini dia masih harus berjuang untuk mendapatkannya dari tangan putra sulung Perdana Menteri Inggris itu. “Berikan...” rengeknya lagi yang membuat Alex semakin gemas untuk menggodanya. “Berkencanlah denganku, maka akan kuberikan buku ini untukmu. Dan bahkan akan aku bayar semua tagihan bukumu yang lain,” ucap Alex penuh percaya diri untuk mengajak Halsey berkencan. “Tidak bisa!” jawabnya tegas kembali berdiri di hadapan Alex. “Mengapa?” Alex menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Halsey. “Aku bisa terkena serangan jantung jika berkencan denganmu,” jawabnya polos dan semakin membuat alis Alex menyatu. Alex menaikkan sebelah alisnya sebelum membuat wajah serius, “Serangan jantung? Kau memiliki masalah dengan kerja jantungmu?” tanya Alex terdengar khawatir. “Iya, aku memiliki masalah dengan kerja jantungku. Kata Kak Luke dan Kak Nick, aku harus menghindarimu agar sakit jantungku tidak kumat,” jawabnya dengan puppy eyes andalan. “Huh? Apa hubungannya denganku?” tanya Alex semakin bingung. “Karena setiap kali bertemu dan berada di dekatmu, jantungku rasanya mau meledak. Sepertinya aku terkena gejala serangan jantung, jadi lebih baik kau jangan muncul di depanku lagi. Kalau sampai aku terkena serangan jantung sungguhan, ku pastikan keluargaku akan membuat perhit—“ jawabnya panjang lebar tanpa jeda atau membiarkan Alex bicara, sehingga membuat lelaki itu harus membungkam mulut Halsey dengan ciuman. Berulang kali Halsey mengerjapkan mata karena mendapat serangan mendadak dari Alex yang perlahan menyesap bibirnya bergantian. Belum lagi kerja jantungnya yang semakin cepat tak terkendali. Gadis itu masih bingung dengan perlakuan Alex tidak memberi balasan dari serangan mendadak itu, dia lebih memilih untuk memegang d**a kirinya. Berbeda dengan Alex yang semakin merasa berada di atas awan karena tidak mendapat penolakan dari sang gadis, meski dia juga tidak mendapat balasan. Hal itu semakin membuatnya gemas untuk semakin menjelajahi bibir manis sang gadis pujaannya dengan lembut. Membuat Halsey merasa nyaris mati dan kehabisan napas di waktu yang bersamaan. “Kau jatuh cinta padaku, hum?” tanya Alex ketika selesai mencium bibir Halsey dan membersihkan saliva di bibir sensual gadis itu dengan ibu jarinya. “Jatuh cinta? Cinta saja belum dan mengapa aku harus jatuh? Jatuh itu sakit dan bisa membuat luka atau patah tulang,” sungutnya kesal sembari terus memegangi d**a kirinya yang terus berpacu cepat. Alex tersenyum mendengar jawaban polos Halsey, membuatnya harus membawa tangan Halsey yang terbebas menuju dadanya. Dia meletakkan telapak tangan Halsey di d**a kirinya, membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang juga berkejaran. “Apa seperti ini rasanya? Apa debarannya sama?” tanya Alex lembut yang dijawab Halsey dengan anggukan di dadanya. “Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu beberapa tahun lalu,” lirih Alex membawa tubuh Halsey ke dalam pelukannya. “Maksudnya?” tanya Halsey tidak mengerti. “Suatu saat kau akan tahu, dan yang terpenting sekarang kau tahu aku mencintaimu.” “Tetapi kau sudah mengambil ciuman pertamaku,” rengek Halsey teringat jika ciuman pertamanya jauh dari impiannya selama ini. Dia ingin melakukan ciuman pertama di tengah sebuah pesta, di bawah lampu-lampu kristal yang indah. Bukan antara rak-rak buku dan tumpukan buku di toko buku seperti saat ini. “Mana bisa itu dianggap ciuman jika kau tidak bisa membalasnya,” kekeh Alex menciumi pipi Halsey dengan gemas, apalagi warnanya sudah semerah jambu. “Jadi?” tanya Halsey bingung mencoba untuk membalas pelukan Alex. “Jadi sekarang kita berkencan, kau kekasihku dan aku kekasihmu,” ucap Alex lagi sebelum mengecup sekilas bibir Halsey dan memberikan buku yang sejak tadi diincar gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD