Herman sedang ada di ruang kerja pribadinya, tengah membaca proposal yang diajukan Binar kepadanya. Dia mengurut pangkal hidungnya. "Proposal macam apa ini?" Herman melemparkan berkas di tangannya, membuat Binar dan Mita terlonjak di tempatnya. "Kenapa, Om?" Binar memberanikan diri bertanya. Herman menatap Binar tajam, lalu melirik pada istrinya yang juga ada di ruangan itu. Kalau bukan karena bujukan Mita, dia juga tidak tertarik untuk membuka kesempatan investasi dengan dengan keluarga Binar. Perusahaannya sama sekali tidak berhubungan dengan bisnis restoran, dia pikir semua itu hanya akan membuang waktu dan uangnya saja. "Tidak masuk akal. Proposal macam apa itu? Kalau semua keuntungan masuk pada kalian, lalu aku dapat apa? Ini bisnis, bukan amal, aku tidak bisa menyetujuinya."

