bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

book_age16+
122
FOLLOW
1.2K
READ
family
HE
single mother
drama
bxg
serious
assistant
brutal
civilian
like
intro-logo
Blurb

Nira terkejut dengan kedatangan mantan kekasih dan keluarganya yang tiba-tiba dalam hidupnya. Mereka yang dulu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya, sekarang datang untuk meminta hak asuh Ayuni, putrinya.

Nira yang sekarang bukan lagi wanita lemah seperti dulu. Ancaman keluarga itu untuk mengambil anaknya secara paksa sama sekali tidak membuatnya takut.

Apakah Nira akan berhasil mempertahankan anaknya?

chap-preview
Free preview
Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang
"Aku mau mengambil cucuku darimu. Serahkan hak asuhnya kepada kami." Mata Nira melebar mendengar perkataan wanita berumur enam puluh tahun yang ada di hadapannya. Dia masih diam, tanpa menjawab apapun. "Kamu tenang saja. Aku akan berikan berapapun yang kamu minta. Anggap saja itu untuk mengganti biaya yang kamu keluarkan untuk membesarkannya." 'Apa dia pikir putriku barang, bisa diambil dan diminta seenaknya seperti itu?' batin Nira. Nira tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang tidak tahu malu seperti mereka. Dulu mereka tidak mau mengakui anak dalam kandungannya, tetapi setelah sekian lama berlalu, kini mereka datang ingin meminta hak asuh putrinya begitu saja. "Untuk apa putriku ikut dengan kalian?" Nira bersedekap menatap tajam pasangan suami istri itu. "Ayuni adalah keturunan keluarga kami. Darah Keluarga Wiratama ada dalam dirinya, kami lebih berhak atas dia," tegas Gita. Nira menarik ujung bibirnya ke atas, merasa lucu mendengar pernyataan Gita, ibu dari mantan kekasihnya dulu. "Dia putriku dan hanya milikku, di akte kelahirannya tertera dia hanyalah putriku. Sejak kapan dia menjadi cucu kalian? Kalian tidak ada hak apapun atas dirinya. Bukankah kalian sendiri yang mengatakan itu dulu, padaku?" kata Nira menekankan ucapannya. "Sebaiknya kalian pergi dari sini. Kalian mengganggu pengunjung yang datang." Nira berdiri dan hendak berlalu. "Dasar perempuan sombong. Hanya pelayan saja belagu," teriak Gita. Nira mendengkus karena lagi-lagi mendengar hinaan keluar dari mulut Gita. Sudahlah meminta anak kesayangannya ikut bersama mereka, masih juga bisa menghinanya. "Nira, pikirkan baik-baik. Putrimu akan jauh lebih baik nasibnya jika ikut kami. Masa depannya akan lebih terjamin." Kali ini laki-laki di sebelah Gita yang bicara, seolah mengatakan hal bijak. Padahal dulu laki-laki itu begitu marah saat tahu ada benih yang sedang tumbuh dalam rahim Nira, hasil perbuatan anak laki-laki satu-satunya. "Sudahlah Om, sebaiknya Om dan Tante pergi dari sini. Sekali aku bilang tidak, akan tetap tidak. Dan jangan pernah kembali ke sini lagi. Aku dan putriku baik-baik saja selama ini tanpa dukungan kalian," ucap Nira merendahkan suaranya agar tidak memancing perhatian orang-orang yang sedang menikmati makanannya. 'Byuur' Gita menyiramkan minuman yang ada di meja ke wajah Nira. "Dasar perempuan murahan tidak tahu diri!" Nira mengelap wajahnya dengan tangan. Sumpah serapah ingin sekali dia lontarkan untuk membalas Gita. "Kamu ngapain sih, Ma." Surya menarik lengan istrinya setelah melihatnya menyiram Nira. Orang-orang mulai berkasak-kusuk dan melihat ke arah meja mereka. Apalagi melihat kondisi Nira yang basah kuyup. "Bu Nira." Shira, seorang karyawan di sana, mendekat dan memberikan tisu untuk mengeringkan wajah Nira. "Sebaiknya Bapak dan Ibu pergi dari sini. Jangan berbuat gaduh di sini atau saya panggil security untuk mengusir kalian," kata Shira pada pasangan suami istri yang masih berdiri menatap nyalang pada Nira. "Dasar pelayan kurang ajar. Berani sekali kamu mengusir kami. Kamu tidak tahu kami siapa, hah! Aku ingin bertemu dengan manajer tempat ini. Akan kuadukan kalian dan kupastikan dipecat dari restoran ini." Gita kembali membuka mulut, tidak terima diusir oleh Shira. "Kalian yang membuat keributan malah menyalahkan kami. Kalian tidak tahu kalau Bu Nira ini ...." Ucapan Shira terpotong karena Nira memegang tangan Shira dan menggeleng. "Aku akan anggap semua ini tidak pernah terjadi. Kalian sebaiknya segera pergi dari sini." Nira membalikkan badan untuk pergi dari hadapan mereka, tapi baru saja dia berbalik, tubuhnya menegang. Ayuni, putrinya, sudah berdiri di depannya, menatapnya dengan wajah penuh tanya. "Ibu kenapa basah begini?" Ayuni menyentuh kemeja Nira yang masih basah. "Disiram sama ibu itu, Mbak." Shira menunjuk Gita. "Nenek ... Kakek ... kalian?" Ayuni menatap kebingungan pada dua orang tua itu. "Ayuni, baru pulang sekolah ya?" Ekspresi wajah Gita berubah lebih ramah. Dia mendekat dan menanyai Ayuni dengan lembut, seketika lupa kalau sudah membuat Nira basah kuyup. "Kenapa Nenek menyiram ibuku?" Ayuni melihat Gita dengan tajam. "Tadi nggak sengaja kok sayang. Sini sama Nenek. Ikut Nenek pulang ke rumah besar mau? Di sana banyak makanan enak," kata Gita sambil tersenyum dan mengelus kepala Ayuni. Nira menggeleng mendengar perkataan Gita. Wanita tua itu seperti sedang bicara dengan anak kecil saja. Dia pikir Ayuni anak TK yang bisa diiming-imingi dengan permen agar mau ikut bersamanya. Ayuni mundur satu langkah, menghindari sentuhan Gita. Dia menepis tangan Gita yang ada di kepalanya, lalu menjawab, "Untuk apa aku ikut dengan Nenek? Apalagi Nenek memperlakukan ibuku seperti itu. Jahat!" Ujung bibir Gita berkedut. Dia berpaling kembali pada Nira. "Kamu pasti udah ngajarin hal yang nggak baik ke Ayuni sampai dia bisa mengataiku jahat," kata Gita sambil menunjuk Nira dengan jarinya. "Ayuni sudah besar Tante, dia bisa menilai sendiri orang baik dan orang jahat. Nggak usah playing victim." Nira berdecak, sudah muak dengan drama yang ada di depannya. Dia berjalan meninggalkan mereka, dapat dia dengar Surya yang masih berusaha menenangkan istrinya yang masih berisik mengatainya dengan bermacam kata yang tidak pantas. Nira menyuruh Shira untuk memanggil security dan mengusir mereka. Dia tidak ingin pengunjung yang sedang menikmati makan siang mereka terganggu. Dulu mereka bisa menginjak-injaknya. Tapi Nira yang sekarang bukan Nira yang dulu. Dia bukan lagi wanita lemah yang hanya diam saat dihina dan diremehkan. Masih diingat Nira dengan jelas, dia yang dulu sedang berbadan dua diseret dan diusir keluar dari rumah kediaman Wiratama saat meminta pertanggung jawaban dari putra keluarga itu. Sekarang setelah tujuh belas tahun berlalu, tiba-tiba mereka datang ingin mengambil hak asuh anak yang sangat Nira sayangi. Nira masuk ke dalam ruangannya dan mengambil kemeja di dalam lemari yang ada di ruangan itu lalu ke kamar mandi untuk berganti baju. Saat dia keluar, Ayuni sudah duduk di kursi dengan menopang dagu. Sorot matanya meminta penjelasan. "Kakek dan Nenek itu siapa sih, Bu? Kenapa kasar banget sama Ibu." Nira duduk di sebelah putrinya. Ditatapnya mata Ayuni dan membenarkan rambut putrinya itu ke belakang telinga. Nira menarik napas panjang, berusaha mengontrol emosi dalam dirinya. Mungkin memang sudah saatnya dia memberi tahu semuanya pada putrinya. "Mereka orang tua dari ayah kamu sayang." Ayuni menegakkan badannya dan membelalakkan matanya mendengar jawaban Nira.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook