Nala kini berusia 23 tahun dan enam bulan yang lalu baru menerima gelar sarjana pendidikannya. Nala mengira dia akan langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, nyatanya pengangguran menjadi gelar barunya setelah itu.
Dan sekarang Nala mulai berpikir, mungkin karena terus-menerus menjadi beban keluarga, Nala akhirnya dijodohkan dengan orang tak dikenal.
Menyedihkan sekali, bukan?
Lalu, apa yang akan dilakukannya sekarang?
Melamar pekerjaan atau mencari sugar Daddy?
Dikaruniai wajah nan cantik jelita, Nala yakin ada banyak pria yang mau mendekatinya. Sayangnya, wajah Nala terkadang tidak serupa dengan tingkah lakunya yang pembangkang, nyinyir dan blakblakan. Jadi, kemungkinan agak sulit menemukan pria yang mau menerimanya apa adanya.
Nala mendesah sambil menatap langit yang mulai gelap. Sudah berjam-jam dia duduk di warung itu, melihat kendaran yang berlalu-lalang di jalanan.
Tiba-tiba, dia kembali merasa lapar. Untungnya tadi dia sempat memasukkan beberapa sisa ayam goreng ke dalam tasnya, untuk bekal makan malamnya.
Namun, ketika paha ayam goreng ketiga itu hampir menyentuh bibirnya, seorang anak kecil berusia sekitar sembilan tahun datang menghampirinya. Dia terus mengamati Nala sambil menelan ludah hingga Nala merasa risih lalu memutar posisi tubuhnya hingga membelakangi anak itu.
"Aduh, mau minta deh dia kayaknya. Mana tinggal satu pula," gumam Nala lalu menggigit bagian paha ayam itu sambil sesekali mencuri pandang ke arah anak tersebut.
Kok nggak tega, ya? Tapi, ini kan ayam goreng terakhir. Nala bahkan tidak tahu lagi harus mencari makanan ke mana nanti.
"Kamu lapar?" tanya Nala lalu kembali duduk menghadap anak itu.
"Saya belum makan dari siang, Kak."
"Kenapa?"
"Nggak punya uang."
"Kamu tinggal di mana? Orantua kamu mana?"
"Saya tinggal di rumah kardus. Saya sudah nggak punya orangtua lagi...."
Nala seketika membisu. Dia kemudian menyodorkan ayam gorengnya ke hadapan anak itu sambil berkata, "Kakak cuma punya satu. Kamu mau? Tapi tadi udah Kakak gigit sedikit. Nggak apa-apa, kan?"
Anak laki-laki itu mengangguk lalu menerima paha ayam tersebut dan dengan lahap memakannya.
"Makasih, ya, Kak," katanya di sela kunyahannya.
Nala tersenyum sambil mengamati penampilan anak tersebut. Wajahnya kumal dan pakaiannya kotor. Dia bahkan tidak memakai sandal.
Kasihan sekali anak ini. Nala memandanginya dengan perasaan sedih. Betapa beruntungnya dia yang telah dibesarkan oleh keluarga yang utuh dan berkecukupan. Nala menyeka air matanya yang tak disangka-sangka merembes membasahi pipinya.
"Bapak, Ibu, maafkan Nala," lirihnya pilu.
Di langit, bintang mulai bermunculan. Nala akhirnya memutuskan untuk beranjak, mencari tempat untuk tidur malam ini. Nala terus berjalan menyusuri jalanan kota. Mirisnya tidak ada satu pun orang yang mau memberikannya tumpangan. Nala benar-benar sudah seperti gembel sekarang.
Tak punya uang, kelaparan, dan tak punya tempat tinggal.
"Ini semua gara-gara Kakek!" ucapnya tiba-tiba dan berhenti di sebuah tempat hiburan berupa klub malam. "Kenapa sih Kakek harus jadoh-jodohin Nala sama orang yang Nala nggak kenal! Nala belum mau menikah, Kek! Nala pengen kerja! Pengen bikin Bapak dan Ibu bangga!"
Nala berbicara sambil menatap langit, berharap Kakeknya yang sudah tiada bisa mendengarnya, meskipun dia tahu itu mustahil.
"Hais, bisa dikata orang gila gue ngomong sendirian gini!" Nala berjongkok di pinggir pagar, kemudian celingukan.
Nala tidak tahu tepatnya di daerah mana dia sekarang. Mungkin sekitar lima kilo meter dari warung tempatnya beristirahat tadi. Tempat pelataran parkir itu terbilang ramai oleh kendaraan pribadi. Di seberang sana ada bangunan hotel bertingkat dengan tulisan Harmony Hotel.
Nala melihat ke belakangnya dengan kening berkerut samar. Mungkinkah itu yang dinamakan klub malam? Tempatnya tertutup, ada beberapa orang pria berbadan besar berdiri di depan pintu, mungkin penjaga keamanan.
Beberapa gadis berpakaian seksi tampak keluar-masuk dari pintu itu. Ada yang sendiri, dengan pasangannya, dan ada juga yang beramai-ramai. Bukan hanya para gadis, Nala juga melihat pria dewasa seperti om-om yang masuk ke sana.
Nala menyeret kopernya, mendekat ke area tersebut. Tiba-tiba, ada sebuah gagasan muncul di kepalanya.
"Apa gue jual diri aja ya di sini? Laku enam puluh juta kan lumayan buat makan gue berapa tahun," katanya mulai melantur.
Pasti di dalam sana banyak om-om tajir yang mau menjadikannya simpanan. Ah, ya, maafkan Nala yang mau menyerah karena keadaan ini.
Tahu-tahu, seorang wanita bertubuh sintal tidak sengaja menabraknya.
"Aduh, sori, sori!" katanya lalu membantu Nala mengambil kopernya yang tadi sempat terlepas dari genggamannya.
"Kiana?" ucap Nala, memajukan kepalanya ke arah wanita berambut panjang tersebut.
Wanita yang dipanggilnya dengan nama Kiana itu lantas mendongak, balas menatap Nala. "Nala?!"
"Kiana, kan? Temen SMA gue? Yang pacarnya gue ambil?" tanya Nala beruntun.
Kiana mendelik. "Iya, gueee! Lo ngapain di sini? Bukannya lo tinggal di negeri antah berantah sana? Kok bisa teleportasi ke sini?"
"Sembarangan kalo ngomong! Tempat tinggal gue udah jadi kota ya sekarang. Nggak denger gimana gue ngomong? Udah kayak orang kota, kan? Hellooo!"
"Masih aja lebay nih anak. Ya udah, ya udah, terus ngapain lo di sini? Mau jual diri juga?"
Nala memelototi Kiana, melihatnya dari atas hingga ujung jempol. "Lo di sini jual diri?"
"Jual ginjal."
"Serius? Laku berapa? Mau dong, ginjal gue yang sebelah nganggur nih."
Kiana mendelik lagi. Sejak dulu, Nala memang tukang ngawur.
"Perasaan yang minum alkohol gue, kok lo yang mabuk, sih?"
Nala mendecak lalu menjentikkan jarinya. "Gue bukannya mabuk, tapi udah mau gila."
Sepertinya teman SMA-nya itu sedang ada masalah. Jadi, Kiana akhirnya memutuskan untuk membantunya.
Kiana melihat sekitar lalu menarik Nala untuk menyeberang jalan.
"Eh, eh, mau ke mana?"
"Ikut aja!"
"Gue laper, Kiana. Lo punya duit nggak buat beli makanan? Dompet gue hilang, mau makan siang tadi aja gue nipu orang dulu. Harta satu-satunya yang gue punya cuma keperawanan gue," kata Nala panjang lebar sambil mengikuti langkah Kiana yang rupanya menuju hotel.
"Entar kita delivery."
"Alhamdulillah, nggak jadi mati."
****
Nala duduk di depan meja berisi pizza, ayam kentucky, dan beberapa makanan lainnya yang tadi dipesankan oleh Kiana. Nala langsung menyantap semuanya dengan lahap.
"Emangnya udah berapa hari nggak makan, sih?" tanya Kiana, terheran-heran.
Nala tidak menjawab dan terus saja mengunyah. Tapi, setelah dia menelan makanannya, dia lalu menjawab.
"Gue makan banyak, biar gue kuat menghadapi kenyataan hidup."
"Emang ada masalah apa?"
"Gue kabur dari rumah."
"Hah? Kenapa?"
"Gue mau dijodohin sama orang yang nggak gue kenal. Mana maulah gue."
"Ganteng nggak?"
"Nggak tau, orang nggak pernah lihat fotonya."
"Tajir?"
"Katanya bukan orang sembarangan. Dukun deh kayaknya."
"Ya elah, dukun dari mananya? Bukan orang sembarangan itu, bisa jadi berasal dari kasta yang lebih tinggi. Keluarga konglomerat. Atau, mereka dari kerajaan mana gitu...."
"Kerajaan dari Hongkong! Emangnya gue siapa? Artis? Anak sultan? Pengikut i********: gue aja nggak nyampe sepuluh. Gimana ceritanya seorang gue yang tukang rebahan, pengen kaya tapi malas, dijodohin sama seorang Pangeran?"
Kiana garuk-garuk kepala, bingung bagaimana caranya berbicara serius dengan Nala yang sejak dulu memang agak oleng.
"Udah deh, entar aja ngobrolnya. Mungkin, kalo lo udah kenyang baru agak waras."
Nala manggut-manggut, tapi kemudian dia menatap Kiana dengan mata sedikit menyipit. "Ini semua makanan belinya pake duit halal, kan? Bukan dari hasil jual diri?"
Kiana mendecih. "Mau habis baru nanyain. Udah, makan aja. Kalo urusan dosa bisa belakangan."
"Gue muntahin, nih!"
"Astaghfirullah, Nala. Walaupun dari luar penampilan gue kayak gini, gue masih ingat dosa. Gue bukan jual diri, ya! Gue jadi DJ di sana."
"DJ? Yang muter-muter piring itu?"
"Vinyl record."
"Iya, itu. Jadi lo kerja di tempat yang tadi?"
"Enggak. Gue kerja di Bali, tapi malam ini gue jadi DJ sementara di sana. Lagian, masa sih lo nggak tau gue? Gue kan sering bikin konten Qutube gitu. Subscriber gue juga lumayan banyak."
"Gue buka itu cuma buat nonton mukbang."
"Oh, pantesan aja lo makannya gitu."
Nala terkekeh dan terus melahap makanan yang tersisa di meja.
"Cariin gue kerjaan dong! Terserah apa aja yang penting halal. Jadi babu lo juga nggak pa-pa."
"Aduh, jangan deh. Bangkrut gue ngegaji lo. Belum lagi nanggung makan lo yang porsinya gede."
"Ya hitung-hitung sedekah."
Kiana diam sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Lo mau ikut gue ke Bali?"
"Hah? Serius? Mau, mau, mauuu!"
"Tapi, lo janji dulu, kalo lo udah dapat kerjaan di sana, lo bayar semua biaya yang udah gue keluarin buat lo selama di Bali."
"Janji!"
"Lo beneran nggak mau pulang?"
"Nggak."
"Nggak kasihan lihat orangtua lo?"
"Gue udah besar, Kiana. Gue berhak menentukan apa yang terbaik buat gue."
"Okey, besok kita ke Bali."
"Lo nggak berniat ngejual gue ke om-om bule, kan?"
Kiana mengerling. "Ya kali ada yang mau."
"Hahahaha."
Malam itu, sebelum tidur, Nala berdoa dan menyimpan harapannya dalam hati.
Semoga esok hari menjadi lebih baik.
****
Di sebuah rumah mewah di Uluwatu, Bali
Seorang pria bertubuh kurus memasuki ruangan bernuansa biru. Dia menaruh beberapa lembar foto ke atas meja yang ada di sana sambil berkata, "Ini dia orangnya, Tuan. Kabar terakhir yang saya dengar, dia ada di hotel Harmony bersama teman perempuannya."
Pria yang duduk di balik meja kebesarannya itu mengangkat wajahnya dan mengambil satu lembar foto, memandangi wajah di gambar itu dengan seksama.
"Siapa namanya?"
"Kaynala Mentari."
"Usianya?"
"Dua puluh tiga tahun. Apa Tuan Muda ingin kami membawanya ke sini?"
"Tidak perlu. Suatu hari nanti kami pasti akan bertemu. Biarkan takdir yang bekerja."
*****