Nala dan Kiana tiba di Denpasar pada pukul sepuluh pagi. Selanjutnya mereka menempuh perjalanan lebih dari setengah jam untuk tiba di kosan Kiana di daerah Pura Luhur Uluwatu, Pecatu, Kabupaten Badung dengan menggunakan taksi online. Sejak turun dari pesawat, Nala tidak berhentinya berceloteh tentang bagaimana indahnya Bali.
"Ini pertama kalinya lo ke Bali, ya?" tanya Kiana sambil mereka berjalan menuju kamar Kiana yang berada di lantai dua.
"Iya, bagus banget pemandangannya! Pasti lo betah banget ya tinggal di sini?"
Kiana mengangguk. "Iya dong, masa enggak. Di sini banyak bule cakepnya lagi."
"Tapi, gue penasaran, Ki. Kok lo bisa tinggal di Bali? Memangnya orangtua lo nggak di Bandung lagi?"
Kiana tampak terdiam sesaat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu, karena melihat Nala menunggu jawabannya, dia pun menjawab, "Mereka udah pisah sejak gue lulus SMA. Jadi, ya gitulah...."
Nala tidak merespon, takut kalau-kalau dia justru salah bicara. Dulu, yang Nala tahu, Kiana adalah salah satu temannya yang beruntung. Cantik dan kaya raya. Hanya dengan menunjuknya saja, Kiana bisa memiliki apa pun yang dia inginkan. Tapi, siapa yang mengira, bahwa kehidupannya akan berubah seperti sekarang.
"Papi gue sampai sekarang masih di penjara gara-gara kasus korupsi. Mami, nggak tau ke mana. Kayaknya udah bahagia sama keluarga barunya," curhat Kiana setelah mereka tiba di kamar kos Kiana.
Nala menaruh kopernya kemudian duduk di sofa depan TV. "Kenapa hidup lo jadi berubah gini, Ki? Jadi, sekarang lo tinggal sendirian?"
"Apa yang kita miliki, itu kan semata-mata cuma titipan, Na. Kita nggak pernah tahu, kapan titipan itu akan diberi dan kapan akan diambil. So, ya udah, gue ikhlas kok terima semuanya."
Nala tersenyum. "Lo dari dulu emang teman gue yang paling strong! Gue bangga banget sama lo! Walaupun anak satu-satunya, tapi lo nggak pernah manja. Lo mandiri, Ki."
"Makasih loh atas pujiannya. By the way, ya beginilah kamar kos gue. Sempit," ucap Kiana sambil melihat sekeliling.
Ruangan itu terdiri dari satu tempat tidur berukuran sedang, dapur mini, kamar mandi dan beberapa furnitur seperti lemari dan sofa single. Semua isi kamar ini didominasi dengan warna merah muda. Oh, ya, ada sebuah TV gantung di depan sofa yang sedang mereka duduki. Kosan ini memang tak begitu luas, namun cukup jika hanya ditinggali oleh satu orang.
"Nggak apa-apa, gue bisa tidur di sofa. Yang penting, makan gue lo tanggung sampe gue dapat kerjaan, hehehe."
Kiana tertawa kecil. "Ya udah, mendingan sekarang lo istirahat. Gue mau keluar sebentar, oke? Kalau ada apa-apa, sebut aja nama gue tiga kali. Bye!"
"Udah kayak jin aja," kata Nala. Kiana justru terkikik mendengarnya.
Sepeninggal Kiana, Nala berjalan menuju jendela. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat Kiana pergi menaiki sebuah mobil sedan entah milik siapa. Nala lalu mengembuskan napas panjang. Dipandanginya langit yang cerah sambil memikirkan kabar keluarganya di kampung. Apa semua baik-baik saja?
****
"Anggi udah coba nelpon ke nomor Kak Nala berkali-kali tapi nomor itu udah nggak aktif lagi, Pak. Anggi kuatir banget sama Kak Nala. Semoga aja dia nggak kenapa-kenapa." Anggita mondar-mandir di depan kedua orangtuanya sambil memegangi ponselnya.
"Ya Allah, Nala. Di mana kamu, Nak? Kenapa nggak pulang saja. Perjodohan ini bisa dibatalkan kalau kamu nggak mau," isak tangis Elis, ibunda Nala.
"Dibatalkan apanya? Nala tetap harus menikah dengan orang itu!" ucap Bahri dengan tegas.
"Bapak ini bagaimana? Nala sudah kabur dari rumah, Pak! Tapi, Bapak masih saja mau memaksa Nala menikah dengan orang itu! Sudahlah, Pak, kita batalkan saja perjodohan ini," bujuk istrinya.
"Apa Ibuk tidak dengar apa kata orang itu? Bukannya marah karena Nala sudah membuat keluarganya kecewa, tapi dia justru mengatakan akan menunggu Nala. Mana ada laki-laki sebaik itu yang mau dengan anak kita, Buk! Coba pikirkan baik-baik."
Elis terdiam sejenak. Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Pada saat mengetahui Nala pergi dari rumah, pria itu tidak banyak bicara di saat beberapa orang dari pihak keluarganya mengungkapkan kekecewaan mereka. Pria itu justru menengahi dan berkata, "Aku akan menunggunya."
"Tapi, Pak. Kita nggak tahu Nala ada di mana sekarang. Kita harus cari dia ke mana? Nomornya nggak bisa dihubungi. Ibuk takut sesuatu terjadi sama Nala, Pak."
Anggita menghampiri ibunya dan memeluknya dari samping. "Buk, jangan mikir yang macam-macam, ya. Kita doakan aja Kak Nala baik-baik di mana pun dia sekarang."
Bahri menoleh menatap Rangga yang sejak tadi diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Cari adikmu dan bawa dia pulang!"
Rangga mengangguk. "Iya, Pak."
"Perjodohan tidak boleh dibatalkan," tutur pria berusia 50 tahun itu dengan tegas dan tak terbantahkan.
****
Di sebuah tempat, di Uluwatu.
"Selamat siang, Tuan."
"Apa ada masalah?"
"Nona Kaynala sudah tiba di Bali jam sepuluh tadi. Dia masih bersama teman perempuannya. Mungkin dia akan tinggal di rumahnya selama beberapa waktu."
Seperti biasa, tidak ada respon yang berarti.
"Apa Tuan ingin saya melakukan sesuatu?"
Dahi itu berkerut samar. "Tidak. Saya hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja."
"Apa yang membuat Tuan begitu tertarik mencari tahu tentang nona itu?"
"Seseorang sedang menunggunya. Saya harus memastikan kalau dia akan datang dalam keadaan baik."
****