Nala terbangun dari tidurnya ketika mendengar ada suara pintu dibuka. Ternyata itu Kiana yang baru saja pulang.
"Udah pulang, Ki? Dari mana?" tanya Nala sambil mengucek matanya lalu menguap lebar-lebar. "Lo bawa makanan, nggak? Gue buka kulkas isinya minuman doang."
Kiana mendelik. "Ya elah nih orang, bangun tidur yang diingatnya makan mulu."
"Setiap bangun tidur, gue emang ngerasa lapar. Nggak tau kenapa. Penyakit apa, ya?"
"Makan banyak tapi badan lo segitu-gitu aja. Heran. Tuh, gue udah beliin lo ayam kremes. Makan, gih!"
Nala melirik kantong plastik yang ada di meja kecil di bawah TV.
"Lo udah makan? Bareng, yuk?"
"Gue udah tadi di luar."
"Lo habis dari mana?"
"Nyari kerjaan buat lo."
"Baik banget. Tapi, lo nggak usah repot-repot, biar gue yang nyari sendiri."
"Enggak, enggak! Lo nggak boleh ke mana-mana. Lo di sini aja, biar gue yang cariin. Ini tuh Bali, lo aja nggak pernah ke sini! Kalo nanti lo nyasar, gimana?"
Nala memberengut. "Ya masa gue enak-enakan di rumah tapi lo yang nyari, sih? Yang mau kerja siapa, yang nyari siapa...."
"Udah, woles. Makan dulu sana!"
Nala beranjak dan mengambil kantong plastik berwarna ungu itu lalu membuka isinya. "Enak kayaknya, hmmmmm."
Kiana terkekeh kecil. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. "Oh, iya, gue tadi beliin lo kartu perdana. Nih!"
Nala yang sedang menikmati makannya mendelik. "Kartunya doang, HP-nya kagak?"
Karena Kiana beranjak, Nala buru-buru berkata, "Eh, canda doang, Ki. Lo nggak mau ngusir gue dari sini, kan?"
Kiana berjalan mendekati lemari pakaiannya, mengeluarkan sebuah kotak dan tampak sumringah setelah melihat isinya.
"Ini, gue ada handphone lama. Jadul banget malah. Tapi, masih bagus, sih. Bisa dipake buat nelpon sama SMS-an." Kiana mengangsurkan sebuah ponsel berukuran kecil keluaran tahun 2000-an.
"Ini handphone???" Nala mengambil ponsel tersebut dan menelitinya. Ekspresinya seolah-olah menggambarkan jika dia baru saja melihat benda yang berasal dari jaman purba.
"Iya, dikasih temen gue dulu pas kuliah. Masih bagus dan charge-nya juga masih ada. Sini, gue masukin simcard." Kiana lantas merebut ponsel berwarna hitam itu dari tangan Nala dan memasukkan kartu SIM ke dalamnya.
Nala mengangguk-angguk. "Makasih. Tapi, beneran gue nggak enak. Meskipun itu cuma HP jadul, tapi gue berterima kasih banget lo udah mau kasih itu ke gue."
"Iya, hitung-hitung sedekah buat orang nggak mampu."
Nala menggigit bibirnya lalu menjambak rambut temannya itu dengan maksud bercanda. "Kalo ngomong suka bener."
"Hahahaha."
Nala tersenyum. Tuhan memang baik. Dia selalu menyertakan orang-orang berhati baik di saat seseorang sedang merasa kesulitan.
"Nih, udah. Gue juga udah isiin pulsa. Jadi, lo bisa telepon keluarga lo."
Nala tidak merespon, entah dia pura-pura tidak mendengarnya, entah memang dia tidak ingin membahas mengenai keluarganya.
Kiana berdeham, kemudian berkata dengan penuh perhatian, "Na, apapun yang terjadi, lo harus kabarin keluarga lo dan kasih tau kalo sekarang lo baik-baik aja. Mereka pasti kuatir banget sama lo. Apalagi handphone lo hilang, mereka pasti udah coba menghubungi lo. Kasihan sama nyokap lo, Na. Gue yakin, orang yang paling sedih sekarang itu, pasti nyokap lo."
Nala mendongak, menatap Kiana dengan sebuah senyum manis. "Iya, nanti gue telepon mereka. By the way, thanks, ya, buat semuanya."
Kiana mengangguk. "Okey."
***
Anggita sedang mengerjakan tugas sekolahnya ketika melihat ada panggilan masuk di ponselnya yang dia letak di atas meja belajarnya.
Nomor tak dikenal. Siapa?
Anggita lalu menjawab panggilan tersebut. "Halo?"
"Nggi, ini Kakak."
Anggita memelotot kaget ketika mengenali suara itu. "Kak Nala? Ya ampun, Kak! Kakak ke mana aja, sih? Kenapa nomornya nggak aktif? Terus, sekarang lagi di mana? Ibuk kuatir banget sama Kakak!"
Nala tersenyum. Dia bersandar di sisi jendela, melihat pemandangan di luar. "HP Kakak hilang di jalan. Bilang sama Ibuk, nggak usah kuatir. Kakak baik-baik aja."
"Ya ampun! Kok bisa, sih? Terus, sekarang lagi di mana?"
"Ra-ha-sia."
"Aku janji nggak akan bilang siapa-siapa, kok."
Alah, dusta! Memangnya Nala ini siapanya? Jelas-jelas Nala tahu kalau adiknya itu tidak bisa dipercaya.
"Ya udah, Kakak cuma mau bilang itu aja. Pokoknya, kamu harus jaga makan Bapak dan Ibu baik-baik, ya? Ingat mereka punya penyakit apa aja. Terus, bilangin sama Mas Rangga, Kak Nala pasti pulang, jadi nggak usah dicari. Percuma, nggak bakal ketemu."
"Pesan buat Bapak nggak ada?"
"Bilangin kalau Kakak sayang Bapak. Kakak pergi bukan berarti nggak nurut. Tapi, Kakak... harus pergi, demi masa depan Kakak. Karena masa depan itu, Kakak yang menjalaninya...."
Anggita bisa mendengar nada lain dari suara Nala. Seperti sedang menahan tangisnya.
"Oh, ya, aku mau bilang, kalau aku punya foto calon suaminya Kakak. Mau lihat nggak? Aku kirim lewat chat, ya?"
"Nggak bisa. HP yang Kakak pake sekarang ini, HP jadul. Jadi, nggak bisa terima gambar-gambar gitu."
"Punya siapa emang? Nyolong?"
"Sembarangan! Dikasih temen."
"Cowok?"
"Cewek."
"Jangan macem-macem pokoknya."
"Iya, bawel."
"Ya udah gini deh, aku kirim fotonya ke email Kakak aja, ya?"
"Buat apa, sih? Udah deh, Kakak nggak mau dijodohin pokoknya. Titik!"
"Aduuuh, udah deh lihat dulu aja. Mana tau, setelah Kakak lihat orangnya, Kakak langsung pulang terus minta kawin."
Nala mendelik. Adiknya mulai meresahkan. "Ya udah, kamu kirim aja, nanti Kakak lihat."
"Okeeeeh!"
***
Sebenarnya, Nala sudah tidak penasaran lagi dengan wujud calon suaminya yang digadang-gadang sang Paman bukanlah orang biasa. Tapi, mumpung Kiana punya laptop dan jaringan WiFi juga ada, jadilah Nala membuka email untuk melihat foto yang sudah dikirimkan Anggita padanya.
Namun, pada saat foto itu akan dibuka, tiba-tiba layar laptop tersebut berubah gelap.
"Lah? Kok mati?"
Kiana yang saat itu baru keluar dari kamar mandi, bilang, "Maklum, mesinnya udah tua, jadi suka mati sendiri."
"Terus, kok nggak bisa hidup lagi?"
"Masa?"
"Iya, nih gue tekan tombol powernya nggak nyala."
Kiana mendekat lalu mengecek laptopnya lalu mendengus. "Yaaah, rusak."
Nala mengerjapkan mata lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Ya elaaaah."
"Emang mau ngapain?"
Nala tidak langsung menjawab. Dia berpikir kalau itu bukan suatu hal yang penting jadi Kiana tidak perlu tahu.
"Nggak ada sih, mau browsing doang."
"Pake HP gue aja."
"Nggak deh, makasih."
"Ya udah. Tapi, kalau perlu apa-apa, pake HP gue aja, oke?"
Nala mengangguk. Lebih baik dia memikirkan apa yang harus dilakukannya besok ketimbang mengurusi foto yang dikirimkan Anggita. Nanti saja kalau ada kesempatan, dia akan melihatnya. Itu juga kalau ingat.
****
***Mana komentarnya, gais? Nggak seru ya ceritanya, hahahaha