Tepat pukul 6 sore kami sampai di rumah. Saat itu Mbok Darmi yang sedang duduk di depan teras sembari menginang sirih tersenyum melihat kedatangan kami. Masih tergurat kecantikan di wajah nya walau usianya sudah senjah. Mbok Darmi , wanita yang kehilangan suaminya tiga puluh tahun yang lalu saat mencari kayu bakar di Hutan Raung, sampai detik ini masih yakin bahwa suami tercintanya itu masih hidup dan akan kembali padanya suatu saat nanti.
"Sudah pulang ndok ?, jalan jalan kemana aja tadi ?" Tanya mbok Darmi kepadaku sembari menyuntilkan sebundal tembakau ke mulutnya.
"Keliling keliling kampung mbok sekalian tadi singgah ke rumah pak dhe Jarwo, kami lama di sana, ngobrol ngobrol dengan pak dhe tentang seputar gunung Raung ."jawabku sambil duduk di sebelah mbok Darmi.
" Ohhh... kamu menemukan orang yang tepat ndok, pak dhe Jarwo memang sangat faham mengenai seluk beluk gunung raung. Masa mudahnya dulu banyak di habiskan untuk bersemedi di sana sehingga beliau berteman dengan penguasa gunung raung itu."
Sembari bercerita mbok Darmi terus menyuntilkan tembakau dan sesekali menggosok gosokkan ke giginya yang masih nampak utuh di usianya yang sudah lanjut.
"Mbok, Sum pamit enggeh , besok Sum datang lagi mengambil pucuk daun ubi yang mau di jual di kedai ibu" Ucap Sumiati setelah memasukkan sepeda ontel mbok Darmi ke dalam rumah.
" Enggeh Sum, sore tadi sudah mbok petik dan mbok letakkan di atas genteng belakang rumah biar tetap segar kena air embun. " jawab mbok Darmi
"Apa gak sebaiknya kamu nginap di sini saja Sum . Hari sudah mau magrip." Ujarku
" Ndak usah teh, rumah Sum dekat kok dari sini paling sepuluh menit jalan kaki. Besok pagi Sum datang lagi. Sum pamit ya teh Asalamualaikum "
"Waalikum salam . Hati hati ya Sum titip salam sama ibu " ucapku
Suamiati pun mengangguk beranjak pergi dan menghilang di peremparan jalan
" Hari sudah hampir magrip ndok, cepat mandi sana nanti keburu gelap. Pamali anak gadis mandi saat magrib nanti bisa di kawinin sama jin loh " ucap mbok Darmi
" Haaaaaaa..... apa bener gitu mbok padahal aku sering kali mandi saat menjelang magrip sekalian mau sholat rasanya segar mbok, jadi kalau mau tidur masih fres, jadi takut mbok " buluh kudukku meremang mendengar ucapan mbok Darmi.
"Yoo wes, pergi mandi sana, Kalau mau makan sudah mbok siapkan di atas meja. Habis magrip nanti mbok mau pergi di mintai tolong mengusuk warga yang sedàng sakit. Non Lisa beranikan sendirian dì rumah." Ucap mbok Darmi
"Iya mbok saya berani, saya mandi dulu ya mbok ." Jawabku sambil berdiri dan pamit kepada mbok Darmi masuk ke rumah.
Akupun bergegas mengambil peralatan mandiku menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi ku basuh wajahku terlebih dulu.
Air dingin pengunungan terasa membuat sendi sendiku meregang. Aku yang biasa tinggal di udara panas harus bisa beradaptasi di udara yang sedingin ini.
Desiran angin terasa menyentuh lembut tengkukku, seketika aku berhenti membasuh wajah ku alihkan netra ku menyapu area sekitar. Aku merasa ada orang yang selalu mengikutiku sejak tadi. Dan terus mengawasi gerak gerikku. Apa ada orang yang sengaja mengintipku?. Tanyaku dalam hati.
Angin malam mulai berhembus dan udara semakin dingin, kembali netraku menyapu sekeliling dan memastikan tidak ada siapapun di sana. Kamar mandi itu hanya di halangi dinding yg terbuat dari ayaman bambu dengan bagian atas yang terbuka. Sehingga dengan mudah aku melihat di sekelilingku.
Tidak ada siapapun . Hanya ada aku sendirian . Aaahhhh... mungkin itu hanya perasaanku saja. Akupun cepat cepat mandi dan mengambil air wudhu.
Kemudian aku bergegas kembali kekamar. Setelah berganti pakaian, tak berapa lama terdengar suara Adzan Magrip berkumandang .
Ku raih mukena yang tersangkut di gantungan kamar dan ku hamparkan sajadah. Sembari memakai mukena tiba tiba aku teringat sama si meow. Sejak aku kepulqngan ku tadi aku sama sekali tidak melihatnya. Pergi kemana dia? ataukah pulang ke rumah tuannya?. Tanyaku dalam hati.
Ku alihkan pandangan melihat kesekelilingku mencari cari keberadaan si Meow . Tapi meow benar benar sudah pergi. Ku hembus kan nafas panjang ada perasaan sedih menggelayut di hati akan si meaw. Tapi ya mau gimana lagi itukan memang bukan kucingku. Mungkin saja kucing cantik itu kembali kepemiliknya.
Setelah Adzan selesai ku tunaikan kewajibanku pada sang pencipta, Aku benar benar berserah dan memohon yang terbaik untuk hidupku. Selesai Sholat ku buka mushaf Alquran yang selalu ku bawa. Musaf kecil itu menjadi teman perjalananku saat keluar kota.Kubaca perlahan surat Arraman sampai selesai. Surah yang ketika di lantunkan akan menentramkan dan menenangkan jiwa.
Setelah selesai kucium mushaf Alquranku sambil membaca selawat nabi dan ku letakkan kembali ke atas tempat tidur.
"Meeeoooowwww...." seketika aku di kejutkan suara kucing yang entah darimana datangnya tiba tiba muncul di sebelahku . Dan melompat kepelukanku
"Heeeyyyy....Meeeooow... dari mana aja kamu sayang ? Dari tadi aku mencarimu. Aku sangat merindukanmu kucing nakal !!."
Ku belai dan ku cium kepala kucing cantik itu . Kucing itu pun menggesek gesekkan kepalanya seraya menjilati tanganku dengan manja. Membuat hatiku semakin gemas dengan tingkah kucing cantik itu.
Aku beranjak dari tempat duduk dan naik ke atas ranjang dengan si meaw di pangkuanku sembari terus mengajaknya bercanda.
" Dari mana saja kamu sayang, aku mencarimu sedari tadi. Ku sangkah kau sudah meninggalkan aku dan tak kan kembali lagi. " bisikku sembari membelai lembut kepalanya yang di tumbuhi buluh halus.
"Tapi si meow masuk dari mana ya ? Pintu dan jendela sudah tertutup semua." Ujarku penasaran. Sembari melihat ke arah pintu dan jendela yang semuanya tertutup rapat . Atau apa mungkin si meow sembunyi di bawa tempat tidur sedari tadi . Ujarku menerka nerka sembari melongokkan kepala ke bawa ranjang
Aahhhh... sudahlah yang penting si meow sudah kembali. Aku bersandar ke tembok sembari mendekap kuat si meow ke pelukanku.
Tiba tiba hawa dingin di sertai harum mawar itu kembali datang menyeruak memenuhi ruangan. Semakin lama semakin tajam dan hawa dingin yang menusuk tulang membuat sendi sendi ku meregang hingga sulit untuk ku gerakkan. Seketika netra ku juga terasa sangat berat. Di tambah harum bunga mawar yang begitu tajam membuat aku benar benar tidak sadar.
*************
Dengan santai dan berdendang kecil aku berjalan menyusuri jalan setapak membawa seikat mawar merah yang batu saja ku petik di rerimbunan pinggir hutan . Sesekali ku hirup harum mawar di genggamanku. Keharuman yang sangat aku sukai dan membuat hati terasa tenang dan nyaman.
Sejak kecil aku memang menyukai bunga mawar . Bahkan aku selalu menanam bunga mawar di halaman rumahku . Tapi yang ku tanam kebanyakan jenis mawar hutan . Karna mawar ini sangat harum . Berbeda dengan mawar mawar lainmya. Walaupun mawar ini memiliki duri yang cukup tajam dan menyakitkan jika tertusuk.
Bahkan aku sangat menyukai kelopak bunganya untuk ku makan. Rasanya agak getir tapi gurih namun membuat kita segar dan harum sepanjang hari karna mengurangi bau badan jika kita rutin mengosumsinya.
Aku terus berjalan , sembari melihat indahnya panorama alam di sekelilingku. Saat tengah asik berjalan aku mendengar suara genericik air yang di mainkan serta canda tawa beberapa perempuan di dalam hutan di sertai suara generisik air terjun.
Langkahku terhenti sejenak. Entah kenapa aku sangat penasaran dan seperti ada sesuatu kekuatan yang menarikku mendekati tempat itu.
Perlahan aku berjalan memasuki hutan dan mencari sumber suara itu. Ku singkapkan dahan dan ranting yang menghalangi jalanku. Sesekali terdengar patahan ranting kering yang terinjak di bawa kakiku.
Tak terasa aku terus masuk sampai ke tengah hutan yang sangat lebat. Aku terus mencari keberadaan suara suara itu. Sampai akhirnya aku medengar dengan jelas suara deruhan air yang jatuh menghantam batu batu besar di bawahnya. Ya suara air terjun. Aku mempercepat langkahku dan terhenti saat aku melihat sebuah air terjun di tengah hutan mengalir dari atas langit dan jatuh berderai membentuk kristal kristal bening yang berhamburan seperti hujan.
Air terjun yang sangat indah dan eksotis dengan bebatuan yang besar besar terhampar di bawahnya. Di tambah curahan air yang seperti tercurah langsung dari langit membuatku semangkin terpesona.
Mendadak mataku tertuju pada enam sosok gadis cantik yang sedang bersendah gurau bermain air di bawah air terjun
Siapa mereka ? Pakaian yang mereka gunakan tidak seperti pakaian yang biasa ku pakai. Seperti pakaian peri dalam dongeng, wajah mereka juga sangat jelita. Apa mereka adalah pemain filim yang sedang syuting filim bertema kerajaan ya? Tapi aku tidak melihat adanya kru filim di sini.. Tanyaku dalam hati sembari menebak nebak.
Aku terus memandangi ke enam gadis cantik yang asik bersenda gurau satu sama lain itu dari balik batu yang cukup besar untuk menyembunyikan tubuhku. Sembari mataku terus mencari sesuatu. Seperti ada yang kurang tapi aku tidak tau siapa yang aku cari.
"Kanda Gayatri ayoo lah kemari..!!!"
Gadis yang memakai gaun serba kuning itu terdengar memanggil kakaknya yang memakai pakaian serba putih yang sedang duduk di atas sebuah batu besar agak jauh dari tempat adiknya berada.
" Kanda di sini saja dinda Cahaya mengawasi kalian." Jawabnya.
"Ohhh rupanya gadis bergaun kuning itu bernama cahaya." Ucapku dalam hati sambil terus memperhatikan mereka.
" Dinda Cempaka Biru ...Dinda Selasih kemari !!! Lihat ini airnya sangat sejuk dan segar."
Kali ini gadis yang memakai gaun serba hijau itu memanggil kedua gadis kembar yang sama sama menggunakan gaun berwarna biru sembari meneguk air yang ada di telapak tangannya.
Kedua gadis ini pasti kembar karna wajahnya sama dan pakaian yang mereka gunakan juga sama . Yang membedah kan hanya mahkota yang mereka pakai. Satu terbuat dari emas kuning , yang satunya terbuat dari emas putih bertahtahkan permata.
"Iya kanda Nawangsih kami kesana." Si kembar nampak berlari kearah gadis yang di panggil Nawangsih.
Aneh sekali mereka berlari mengambang ringan seperti angin di atas bebatuan.
Kemudian gadis yang menggunakan pakaian serba merah nampak berjalan ringan menuju gadis yang bernama gayatri dengan wajah tidak bersahabat.
"Kanda, kenapa dinda Embun belum kembali juga , pergi kemana dia gerangan kanda.? Tanyanya kepada Gayatri
"Sudahlah dinda Kencana Sari, jàngan cemas sebentar lagi Embun juga akan kembali " jawabnya dengan lembut dan tenang
"Ini karna kanda Gayatri selalu memanjakan Embun makanya dia semakin melunjak " ucapnya dengan nada kesal.
Gayatri terlihat hanya tersenyum melihat adik adiknya kemudian menyuruh Kencana sari duduk di sebelahnya.
"Sudah lah dinda , mari sini duduk, kita awasi adik adik kita dari sini saja. Sambil menunggu Embun datang" terlihat Gayatri sedang menenangkan Kencana sari.
Aku termangu terbawa suasana ke enam saudara itu sembari terus mengintip mereka dari balik bebatuan .
Tba tiba seberkas cahaya keperakkan melayang dan meliuk liuk indah mendekati tempat itu dan berhenti tepat di atas sebuah batu besar di tengah tengah air terjun.
Aku mengusap kedua mataku mungkin ini hanya mimpi. Dan akan hilang ketika aku membuka mata. Namun cahaya itu tetap ada . Berarti ini nyata dan bukan mimpi. Ujarku.
Aku melebarkan kedua kelopak mataku dan terus menyaksikan ke arah cahaya putih itu. Luar biasa indah benar benar seperti dalam cerita filim fiksi.
Berlahan lahan cahaya itu menghilang dan menjelma menjadi sesosok gadis cantik berambut perak. Rambut yang tergerai meliuk liuk indah di terpa angin
Aku sangat terkejut. Mataku melotot seketika dan mulutku terbuka lebar melihar sosok gadis itu.
Gadis itu... gadis itu seperti gadis yang ada dalam mimpiku tempoh hari. Aku menatapnya tanpa berkedip dari atas sampai bawah. Benar tidak salah lagi . Dia benar benar gadis dalam mimpiku itu. Gadis itu berbalik ke arahku dengan senyum menawan tersungging di bibir merah merekah nya.
" Wajahnya ...aahhhkkkk ...tidaaakk... wajah itu sama persis seperti wajahku."
Aku terpekik sambil memegang wajahku sendiri seraya tidak percaya dengan apa yang ku lihat ku hadapanku.