Kisah sang Penguasa Gunung Raung.

1812 Words
"Sini ndok duduk dulu , ngasoh sebentar. " Ajak pak dhe Jarwo melihat kedatanganku. Akupun mengangguk dan menuruti permintaan pak dhe untuk menghormatinya. Wajah tua yang penuh misteri itu tersenyum menatapku. Ada perasaan takut terkesiap di hatiku. Bukan takut pada paa dhe Jarwo, namun takut mendengar kenyataan bahwa Putri Embun ada hubungan nya dengan ku. Sumiati berjalan menghampiri dengan membawa sebuah nampan berisi secangkir kopi pahit. Sudah menjadi kebiasaan pak dhe Jarwo di tengah hari minum secangkir kopi pahit sembari ngasoh. "Yo wes.. kita pulangnya bakda Ashar aja ya teh. Sum mau bantu buk dhe Asih bentar di warung. " ujar asih sambil sembari meletakkan kopi pahit di atas meja kemudian meninggalkanku bersama pak dhe Jarwo dan Aryo mendatangi buk dhe Asih yang nampak sibuk membuat kopi untuk pelanggannya. Asih memang terlihat sangat cekatan dan rajin. Sumiati kerap kali membantu Buk dhe Asih yang nota bene kakak kandung ibunya di warung saat ada waktu senggang. "Iya sum ." Jawabku singkat Aku bergegas duduk si kursi yang berhadapan dengan pak dhe Jarwo. Aryo yang diam seribu bahasa sejak tadi menatapku dengan tersenyum manis. Pemuda tampan itu mempersilahkan aku duduk di sebelahnya. Pemuda 28 tahun dengan jambang dan potongan rambut cepak itu menyodorkan setoples kue jahe untuk cemilan di hadapanku. "Seperti inilah keadaan kampung kami ndok, agak sunyi karna rumah warga agak berjauhan. Dan kalau siang hari warga di sini rata rata pergi kesawah semua yang tinggal di rumah hanya satu dua orang wanita itupun karna punya anak kecil yang gak bisa di tinggal ." Ujar pak dhe menjelaskan situasi kampung yang ku kukunjungi itu. "Ohhh.... begitu ya pak dhe. Tapi aku suka kampung ini sangat indah dan asri. Udaranya sangat sejuk dan alami tidak terkontaminasi dengan polusi, warganya juga sangat ramah. " jawabku sambil memandang keluar. Kegagahan gunung Raung terlihat dengan jelas dari tempat aku duduk. Itu di karenakan rumah pak dhe Jarwo tepat di bawa kaki gunung Raung. Beberapa warga yang melihatku dari warung buk dhe tersenyum menyapa sembari menganggukkan kepala dengan ramah. Dan ku balas tersenyum dan ku anggukkan kepala kembali . "Syukurlah , semoga cah ayu betah tinggal di desa ini." Ucap pak dhe sembari menyesap kopi pahit di hadapannya dan di lanjutkan menghisap cerutu tembakau yang sudah di linting di dalam sebuah kotak yang terbuat dari tembikar. "Oh ya Aa' Aryo masih kuliah ? ". Tanyaku pada Aryo yang dari tadi terus termangu memandangku . Pertanyaanku cukup membuatnya terkejut. Mungkin Aryo tak menyangkah aku akan bertanya kepadanya. Dengan tergagap Aryo menjawabku. " Eeehhhh anuuhh... tidak teh , saya sudah lulus kuliah jurusan pertanian tiga tahun lalu. Sekarang bantu bapak mengurus sawahnya. Kebetulan saya juga kerja menjadi penyuluh pertanian di kampung ini. Kalau teteh sendiri apa kegiatannya ?" Aryo balik bertanya kepadaku. "Aku seorang penulis yang bekerja di sebuah redaksi majalah bergenre misteri di kotaku Aa'. Selain Study Banding aku juga berencana menyelesaikan novel ku di sini. Oooh iya Aa', sekalian aku ingin sekali mengunjungi Air Terjun Telunjuk Raung. Aku sangat penasaran dengan tempat itu. Menurut cerita tempatnya sangat indah dan excotis, mitosnya kalau orang mandi di Air terjun itu orang tersebut akan awet muda. " Ucapku penasaran dan penuh antusias. "Itu benar " sela pak dhe sembari menghembuskan asap cerutunya ke udara "Air terjun itu memang sangat indah dan airnya juga berkhasiat . Tapi pengunjung di sana tidak boleh sembarangan . Ada beberapa aturan yang harus di taati jika datang kesana , tidak boleh berkata kotor, tidak boleh melakukan maksiat, tidak boleh membuang sampah sembarangan dan satu lagi tidak boleh membawa air nya pulang sembarangan tanpa minta ijin dari yang menunggu Air terjun itu" sambungnya lagi, sembari menyesap sisa kopi pahit di hadapannya. "Memangnya siapa penunggunya pak dhe ?" Tanyaku penasaran. "Putri Kencana Sari, Seorang Putri yang di hukum ayahandanya di kurung di Air terjun Telunjuk Raung karna ketamakan yang mengakibatkan ke tujuh saudarinya terbunuh karna memperebutkan cinta Pangeran Tawangulun, Namun Pangeran Tawangulun jatuh cinta pada Putri Embun adiknya. Karna cintanya bertepuk sebelah tangan Putri Kencana Sari murka dan mencelakai para saudari nya." " Siapakah Pangeran Tawangulun itu Pak dhe ?. Entah mengapa aku merasa sangat familiar dengan sosoknya begitu mendengar namanya atau itu hanya perasaanku saja. Entahlah mengapa dadaku berdebar dan darahku terasa bergejolak. Atau mungkin karna efek dari rasa penasaranku yang berlebihan tentang cerita ini. Aaahhhkk....entahlah. "Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan cah ayu !" Sesaat aku tersentak dari lamunanku, Suara pak dhe membuyarkan lamunanku yang mulai menjelajah ke alam pikiranku. "Maaa...maaf pak dhe ...aku hanya penasaran dengan cerita pak dhe.he..he.." Aku nyengir malu malu menjawab pak dhe karna ketahuan sedang melamun di tengah cerita kami. Pangeran Tawangulun masih keturunan kerajaan Majapahit yang sakti mandra guna. Beliau terjebak selamanya di dunia gaib dan menjadi mahluk abadi sampai hari kiamat karna perbuatan Putri Kencana Sari. Setelah bertapa ratusan tahun saat ini beliau menjadi penguasa kerajaan gaib di Gunung Raung . Beliau sering menjelma menjadi seekor macan putih di saat saat tertentu. Dan setiap malam jumat beliau yang menjelma menjadi macan putih akan mengeliĺingi seluruh kampung yang berada di kaki Gunung Raung. Dengan suara raungan yang menggema memecah kesunyian malam, memanggil kekasihnya yang menghilang ratusan tahun lalu. Aku beberapa kali berkunjung di kerajaanya. Kerajaan yang sangat indah dan megah yang terbuat dari emas dan permata. " tutur pakdhe dengan tatapan nanar seakan menyimpan banyak rahasia yang tak terkatakan sembari menatap puncak gunung Raung yang menjulang penuh misteri. Aku manggut manggut mendengarkan cerita pak dhe dengan antusias tanpa memperdulikan Aryo yang terus terdiam sembari terus menatapku tanpa berkedip. Aku semakin penasaran dengan cerita pak dhe Jarwo tentang penguasa Gunung Raung. Melihat aku yang semangat dan antusias pak dhe kembali melanjutkan ceritanya. "Kalau mau mendaki Gunung Raung ada pos pos yang harus di waspadai ketika melewatinya cah ayu. Tidak boleh sembarangan dan gegabah jika sampai di beberapa lokasi tersebut. Ada Pondok Sumur yang biasa digunakan seorang pertapa sakti asal Gresik dahulu kala. Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada hingga kini, namun tidak dapat dilihat kasat mata. Para pendaki yang kerap berkemah di kawasan ini sering mendengar suara derap kaki kuda yang melintas di belakang tenda. Tetapi saat dilihat ke belakang, tidak ada apa-apa" "Sedangkan Pondok Demit dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat jual-beli para lelembut atau Pasar Setan. Lokasi tempat manusia dan mahluk gaib melakukan perjanjian keramat atau pun bertukar barang yang mereka inginkan. Pada hari-hari tertentu, di kawasan ini selalu terdengar keramaian seperti dalam pasar dengan alunan musik gamelan. Lokasi pasar setan terletak di sebelah timur jalur atau lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu. Bagi orang-orang tertentu, lokasi ini kerap dijadikan tempat pesugihan" " Pos selanjutnya adalah Pondok Mayit. Sejarah pos ini sangat menyeramkan. Dulu kala, di kawasan ini pernah ditemukan sesosok mayat menggantung di pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh para pejuang. Dan arwahnya sering gentayangan menyesatkan para pendaki yang melanggar aturan aturan yang ada." "Yang terakhir adalah Pondok Angin yang berada di puncak bukit, ini merupakan pos yang sangat dinanti para pendaki. Dari pos ini, para pendaki bisa melihat pemandangan alam pegunungan dan gemerlap Kota Bondowoso dan Situbondo yang sangat indah. Tempat ini juga adalah pintu masuk menuju kerajaan Alas Kuningan milik Ki Tawangulun. Walaupun indah tetap harus berhati hati sebab di situ sering terjadi angin kencang yang datang secara tiba tiba dengan suara meraung raung. Sangking kencangnya bahkan sering membuat orang terpental ke jurang dan tentunya mayatnya tidak akan di temukan dan akan menjadi warga kerajaan Alas Kuningan." Aku terdiam dan menarik nafas ketika pakde mengakhiri ceritanya. Benar benar luar biasa misteri di gunung Raung. "Cah ayu bila saatnya sudah tiba ada seseorang yang akan bertemu dengan mu nanti." Ucap pakde sembari kembali menatap puncak gunung Raung. Aku tertegun dengan ucapan pak dhe. Belum hilang rasa ingin tahuku sayup sayup aku mendengar suara raungan harimau dari kejahuan. Netraku ikut menatap puncak Raung yang tinggi menjulang di selimuti pepohonan yang rimbun tak bercelah cahaya gelap gulita. Aku penasaran dengan apa yang di maksud pak dhe. Rasanya di sini aku tidak mengenal siapapun . "Tapi siapa yang mau ketemu dengan ku pak dhe?. Apakah aku mengenalnya." Tanyaku penasaran . "Nanti kalau saatnya tiba cah ayu akan tahu sendiri dan akan mengenalinya. " Jawab pak dhe tersenyum sambil kembali menghisap cerutunya yang sudah hampir habis. Aku kembali menarik nafas panjang untuk menenangkan hatiku dan mengurangi rasa tegangku karna ucapan pak dhe Jarwo tentangku. Belum puas rasa hati bertanya tiba tiba Sumiati masuk dan mengajakku pulang. " Teh ... sudah sore ayok kita pulang ." "Ohhh. Iya sum ... keasyikan ngobroĺ dengan pak dhe jadi tidak terasa kalau waktu sudah sore..he..he..he.." ucapku meringis sambil melihat jam di tanganku yang sudah menunjukkan setengah lima sore. Akupun berdiri dan berpamitan kepada Pak dhe dan Aryo yang sepanjang cerita kami tadi hanya diam dan tanpa bosan terus menatapku. "Gak apa apa , kapan pun cah ayu mau datang pintu rumah pak dhe selalu terbuka untuk Cah Ayu." Ucap pak dhe sambil berdiri mengantarku keluar di ikuti Aryo. "Bagai mana kalau saya antar saja teh lisa? Naik sepeda motor " ucap Aryo menawarkan bantuan, untuk yang pertama kali dia buka suara. "Terima kasih Aa' , biar kami naik sepeda saja. Lagian sambil jalan jalan lihat pemandangan di kampung . Ya kan Sum ?" Ucapku sambil menoleh Sumiati yang sedang mengambil sepeda di samping rumah. "Iya teh" jawabnya singkat. "Buk dhe , pak dhe , Aa' Aryo kami pamit ya Asalamualaikum ? " Akupun berpamitan sambil menyalami mereka . "Waalaikum salam , hati hati ya cah ayu, dan jangan kapok datang ke rumah buk dhe. Ucap buk dhe Asih sembari mencium kedua pipiku." "Iya buk dhe" jawabku sembari mengikuti Sumiati dari belakang Setelah berpamitan akupun naik di boncengan sepeda. Dengan lincah Sumiati mengayuh pedal sepeda ontel yang kami naiki. Kami pun kembali bersenda gurau di perjalanan, Sumiati adalah seorang gadis yang ramah dan menyenangkan serta supel pergaulan. Aku terus menggodanya sambil netraku melihat lihat pemandanngan indah Gunung Raung di sepanjang jalan . Tiba tiba netra ku menangkap sesosok harimau putih yang berdiri menatapku di semak semak pinggir hutan yang kami lewati. Awalnya kukira itu hanya ilusiku saja namun semakin lama semakin jelas ku lihat, itu benar benar seekor harimau putih yang bersimpuh di atas batu sembari menatap ke arahku. "Astaqfirullah haladzimmm" teriakku tiba tiba membuat Sumiati menghentikan sepedanya. Dengan nafas yang tèrengah engah ketakutan aku kembali melihat semak semak itu. Untuk memastikan kembali apa yang kulihat. Tapi ternyata tidak ada apa apa. Akupun menoleh kesana kemari seperti orang kebingungan. "Ada apa teh....?. Tanya Sumiati kepadaku setelah menghentikan lajuh sepeda ontel kami. Aku tadi melihat sesosok harimau di semak semak itu. Tapi ahhkkkk....sudahlah mungkin ini semua hanyalahbkhayalanku saja. ayook kita jalan lagi biar cepat sampai ke rumah mbok Darmi." Pintaku. " Sumiati kembali mengayuh sepedanya. Kali ini di sepanjang jalan aku hanya diam . Memikirkan apa yang ku lihat tadi dan teringat semua cerita pak dhe Jarwo. Semuanya bagaikan segitiga tak berujung yang membuat kepalaku terasa terhimpit batu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD