Akhirnya sampai juga kami di rumah Pak dhe Jarwo setelah melewati beberapa rumah penduduk. Rumah lama yang bernuansa Jawa dengan pilar pilar terbuat dari kayu jati dan di hiasi beberapa ukiran wayang yang sangat indah.
Di depan rumah Pak dhe Jarwo membuka sebuah warung kecil kecilan yang di jaga oleh Buk dhe Asih. Beliau menjual kopi dan kue kue tradisional. Beberapa warga nampak sedang nongkrong di warung sembari bercengrama menghangatkan diri dengan segelas kopi di udara pegunungan yang dingin menusuk tulang.
:Asalamualaikum buk dhe"
"Waalaikum salam ..eeehh kamu ndok...lama ndak kesini kemana aja? ...Lah..siapa cah ayu yang bersamamu itu ndok ?"
Kebetulan saat itu buk dhe Asih sedang berada di warung. Dan sedang melayani beberapa warga yang membeli kuenya.
Buk dhe Asih menyapa kami dengan sangat ramah dengan senyuman menghias wajah yang masih nampak ayu di usia senja nya. Setelah menyandarkan sepeda kami menyalami bukde asih yang datang menghampiri seraya mempersilahkan kami masuk kedalam rumahnya. Aroma khas Cendana menyeruak begitu memasuki ruang tamu yang bernuansa khas jawa dengan ukiran yang mendominasi setiap tiang di rumah itu. Pandanganku tertuju pada beberapa kering kuno yang tersusun rapi di dalam sebuah etalase kaca di sudut ruangan dengan bunga tujuh rupa sebagai alasnya. Aroma cendana yang tercium ternyata keluar dari sebuah dupa yang di letak kan tepat di tengah keris keris yang berjajar
"Ini teh Alisa bukde datang dari Medan , teh Lisa menginap di rumahnya mbok Darmi sudah beberapa hari ini."
Sumiati memperkenalkan aku kepada buk dhe Asih sambil berjalan masuk kedalam rumah .
"Ohhh dari medan toh cah ayu. Jauh nya pasti capek ya habis perjalanan jauh. Kalau buk dhe boleh tau dalam rangka apa kemari cah ayu ?" Tanya buk dhe kepadaku.
"Study banding buk dhe, sekaligus ingin menyelesaikan novel misteri yang sedang ku tulis ...ya sekalian juga ingin mengunjungi Air Terjun Telunjuk Raung. Aku penasaran . Kata orang tempatnya sangat indah."
"Ohhhh... cah ayu seorang penulis novel toh. Dulu sewaktu masih muda buk dhe sangat suka membaca novel. Sekarang sudah tua sudah gak nampak huruf jadi berhenti membaca. Tapi, betul itu yang cah ayu bilang, air terjun telunjuk raung memang sangat indah, lokasinya juga tidak terlalu jauh dari desa ini . Dalam 2 jam perjalanan masuk kedalam Gunung Raung. Tapi harus hati hati cah ayu kalau bisa bawa teman yang mengenal seluk beluk lokasi di sini. Karna Gunung Raung masih angker banyak pendatang yang hilang tersesat dan tidak pernah kembali lagi."
"Iya buk dhe , rencananya aku akan di temani seorang teman dari Banyu Wangi dia sering ke Gunung Raung dia juga berasal dari salah satu desa yang dekat dengan gunung Raung " ucap ku.
"Oyah buk dhe , pak dhe Jarwo kok tidak terlihat kemana dia ?" Tanya sumiati di sela sela pembicaraan kami
"Sedang sholat jumat Sum sama Aryo, bentar lagi juga pulang."jawab buk dhe
"Oh iya, ijin sekalian numpang sholat boleh buk dhe ? "Tanyaku.
"Tentu saja boleh cah ayu. Sum antar cah ayu ke belakang mengambil air wudhu mukenanya sudah ada di ruang sholat. Buk dhe mau siapkan makan siang dulu. Pasti kalian lapar kan ?" Ujar buk dhe dengan ramahnya menyambutku .
"Terimakasih buk dhe , jadi merepotkan buk dhe "ucapku sungkan.
"Ahhh.. tidak merepotkan kok malahan buk dhe seneng kedatangan tamu cantik dari jauh " jawab buk dhe sambil bercanda.
"Ayook teh , Sumi antar ke belakang "
Aku mengangguk dan mengikuti Sumiati dari belakang . Rumah pak dhe Jarwo ternyata cukup besar. Sambil berjalan aku melihat kesekeliling ruangan . Nampak banyak barang antik tersusun rapi di sudut dan dinding ruangan.
Bukan hanya aneka jenis keris kuno berbagai bentuk dan ukuran yang di koleksi pak dhe Jarwo tapi juga barang barang antik lainnya nampak tersusun menghiasi setiap sudut ruangan. Entah kenapa saat melihat koleksi barang barang antik milik pak dhe Jarwo buluh kuduk ku meremang. Seperti ada beberapa pasang mata yang sedang mengawasiku .
Sesampainya di kamar mandi Sumiati meninggalkanku setelah memberitahu letak ruang sholat. Kebetulan hari ini dia sedang tidak sholat karna sedang ABC (Allah Bagi Cuti ).
Aku masuk ke kamar mandi dan ku buka jilbabku kemudian aku ambil air wudhu. Saat aku membasuh wajahku kurasakan ada seseorang berdiri dan menatapku dari belakang . Ku pikir itu Sumiati akupun menoleh memastikannya. Tapi saat aku menoleh tidak ada siapa siapa. Ahhhh mungkin itu hanya perasaanku saja .
Aku pun kembali meneruskan wudhuku . Saat kembali ku basuh wajahku tiba tiba aroma harum mawar itu datang lagi di sertai desiran angin dingin dari arah belakang badanku . Secara spontan aku pun kembali menoleh ke belakang . Namun tidak ada siapa siapa lagi. Bukan hanya dingin nya air yang menusuk tulang namun suasana mistik yang ku rasakan membuat buluh kudukku meremang
Ya Allah....kok perasaanku seperti ini sih. Ku lihat pori pori tanganku berdiri semua, akupun buru buru menyelesaikan wudhuku dan segera keluar dari kamar mandi menuju ruang sholat dengan setengah berlari.
Ku ambil mukena yang tersedia . Dan tanpa buang buang waktu segera ku tunaikan sholat Juhur. Saat rakaat kedua entah kenapa aku kembali merasakan ada beberapa pasang mata terus mengawasiku dari belakang. Sangat dekat bahkan kurasakan kelebatan bayangan mereka di belakangku.
Ingin rasanya aku menoleh dan memastikan , tapi tidak kulakukan karna akan membatalkan sholatku. Akupun putuskan untuk terus menyelesaikan sholat dan tak ku hiraukan perasaanku yang berkecamuk takut sekaligus penasaran.
Selesai berdoa langsung ku buka mukenaku sambil menoleh kebelakang . Namun tetap tidak ada siapa siapa . Sunyi yang terdengar hanya suara pancuran air yang bergemerisik dari kamar mandi.
Buru buru kupakai jilbabku dan pergi meninggalkan tempat itu mencari keberadaan sumiati. Ku lihat Sumiati tengah duduk di ruang makan menungguku bersama buk dhe dan lelaki setengah baya dengan perawakan tegap dan kumis yang melintang mungkin beliau pak dhe Jarwo. Di sebelahnya duduk seorang pemuda berwajah tampan sedang asik ngobrol dengan Sumiati.
Kutarik nafas panjang dan ku dekati mereka dengan senyum yang kupasang di wajah.
"Kemari cah ayu kita makan siang bersama. Kebetulan pak dhe mu dan Aryo sudah pulang dari masjid."
Masih dengan keramahannya buk dhe memintaku duduk bersama mereka.
Dengan agak sungkan akupun duduk di sebelah Sumiati tepat di hadapan pak dhe Jarwo.
"Ayook sini ndok kita makan sama sama jangan sungkan "ucap pak dhe Jarwo sembari menyendokkan nasi ke piring di hadapannya tanpa melihatku seakan tau kalau aku sedang sungkan. Bakul nasi itu di tarik supaya dekat denganku seraya mempersilakan untuk aku mengambilnya. Sekilas pak dhe menatapku yang menerima bakul nasi pemberiannya dan menyendokkan nasi ke piringku. Wajahnya berubah seketika saat melihatku. tangannya bergetar dan tatapannya tajam ke arahku.
"Haaaa... Putri Embun ...."
Pak dhe terkejut melihatku sampai nasi yang tadi di sendokkannya jatuh di atas meja tersenggol olehnya. Tangannya bergetar sambil matanya melotot dengan mulut setengah ternganga menatapku.
Di derah kebingungan aku menoleh ke belakang . Siapa yang pak dhe maksud dengan Putri Embun. Jelas pak dhe tadi menyebut nama itu.
"Pak e ini kenapa sih , wong ngambil nasi saja kok bisa tumpah gini jadi malu sama cah ayu." Ucap buk dhe Asih sambil memasukkan kembali nasi yang tumpah ke atas piring pak dhe Jarwo.
"Ohhh... anu....tidak apa apa buk e. Maaf ya cah ayu. Pakde tadi terkejut wajah cah ayu mirip orang yang pak dhe kenal. Ya sudah mari makan . Ayok jangan malu malu anggap saja rumah sendiri yo ndok. Tapi ya cuma gini lah makannya makanan kampung." Ucap pakde sembari menutupi rasa canggungnya.
Pak dhe langsung mengalihkan tatapannya ke arah buk dhe tangannya masih nampak sedikit bergetar. Dan kemudian beliau menyuruhku makan dengan tersenyum ramah setelah mengendalikan suasana keterkejutannya. Tapi masih kulihat sesekali pakde memandangku seakan akan memastikan kalau aku ini orang yang pernah dia kenal .
Kemudian buk dhe mengambilkan nasi ke atas piringku dan meletakkan sepotong ikan goreng dan lalapan daun kemangi
"Orang medan biasanya suka pedas kan cah ayu. Kebetulan buk dhe tadi buat sambal cobek karna si Aryo ini suka pedas juga ."
Buk dhe menambahkan sesendok sambal cobek ke atas piringku.
"Terimakasih bukde "ucapku.
"Iya jangan sungkan , ayo makan cah ayu. Oh iya kenalkan ini Aryo putra buk dhe."
Akupun tersenyum kepada Aryo yang sejak tadi terus memandangiku sambil menganggukan kepala. Dia pun tersenyum padaku sembari menyendokkan nasi kepiringnya .
Dengan perasaan agak sungkan aku menyantap makanan yang di hidangkan buk dhe Asih. Selama makan sesekali pak dhe berbicara kepadaku tapi tidak melihat wajahku, seakan segan untuk menatapku.
"Oya teteh rencananya berapa lama di sini.?" Tanya Aryo kepadaku mencairkan suasana.
"Rencananya 2 bunggu Aa' " Jawabku
"Ohhh tadi Sum cerita kalau teteh mau ke Air Terjun Telunjuk Raung . Kalau tidak keberatan biar nanti saya temani."
" Iya ndok biar di temani si Aryo ke Gunung Raung , berbahaya kalau kesana sendirian apalagi pendatang." Ujar pak dhe Jarwo sambil menghabiskan sisa makanan di piringnya.
"Iya pak dhe, terimakasih ya Aa' Aryo. Rencananya lusa aku mau kesana . Nanti ada teman ku juga yang mau ikut dari Banyu Wangi " ucapku
"Aryo kamu jaga Embun selama di sini ya jangan sampai kenapa kenapa ."
Pak dhe Jarwo berkata kepada Aryo dengan tatapan serius.
Ku lihat Aryo menganggukkan kepala seperti mengerti apa yang di maksudkan pak dhe Jarwo.
Berbeda dengan ku yang di landa kebingungan Hatiku masih terus tanda tanya dengan apa yang di maksudkan pak dhe Jarwo.
"Embun siapa Embun apakah itu aku . Tapi kan namaku Alisa bukan Embun . Tadi ku dengar jelas pak dhe menyebut nama Embun, sebenarnya siapa Embun ini ?. " tanyaku dalam hati.
Sebenarnya aku sangat penasaran dengan ucapan pak dhe Jarwo tapi aku tidak berani untuk bertanya. Akhirnya aku putuskan untuk pura pura tidak mendengar kata kata pak dhe, aku yakin suatu saat nanti aku pasti akan mengetahui kebenaran siapa Putri Embun ini.
Hari itu makan siang kami pun selesai . Aku dan Sumiati membantu buk dhe membersihkan piring kotor di dapur . Sedangkan pak dhe dan Aryo ngobrol di ruang tamu.
Selesai membersikan piring kotor aku dan Sumi pun kembali keruang tamu menemui pak de dan Aa' Aryo sekalian mau pamit. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Namun pak dhe mencegahku. Dia masih ingin ngobrol panjang lebar padaku. Dan ingin tau maksud dan tujuanku ke tempat ini. Akupun mengikuti keinginan pak dhe dengan duduk di sebelahnya dan berhadapan dengan Aryo yang sedari tadi menatapku. Sembari menghisap sebuah cerutu pak dhe mulai bertanya maksud dan tujuanku datang ke tempat ini.