Pemuda tampan misterius

1581 Words
Aku berpamitan kembali ke kamar sembari menunggu Sumiati datang. Ku peluk terus di meow yang tidak tau kenapa sangat anteng di pelukanku seperti peliharaan yang merindukan tuannya. Mata meaw yang indah dengan warna biru muda sangat menarik hatiku. terkadang tampak seperti berkaca kaca menatapku seperti ingin menyampaikan sesuatu. aaahh.... dasar mungkin karna aku seorang penulis yang selalu berkutat dengan dunia gaib membuatku jadi halu. Ku letakkan si meow di atas meja kerja gegas membuka labtop . Seketika jari jemariku menari nari di atas keyboard laptop sembari imajinasiku berselancar ke alam khayalan. Meneruskan cerita misteri yang ku tulis tadi malam. Sebuah kisah tentang sepasang kekasih yang terpisah bukan hanya jarak dan waktu namun karna dunia yang berbeda. Kali ini judul novelku "Kisah Cinta Dua Alam " aku tidak tau kenapa aku memilih judul itu. Secara spontan tanganku mengetiknya di laptop ketika pak Burhan memintaku membuat sebuah novel misteri bernuansa romantis. Biasanya aku membuat novel misteri bernuansa horor. Pikiranku terus menembus batas alam bawah sadar berimajinasi sembari tanganku terus menari nari dengan lemah gemulai di atas keyboard Sesekali ku lirik di meow di sebelahku , mata si meow terus menatapku tajam sembari mengibas ngibaskan ekornya. Tiba tiba bibir meow yang berwarna merah muda seakan akan menyeringai ke padaku. Aku tersentak, seketika jari jemariku berhenti sejenak. Aku menatap si meaw dengan seksama untuk memastikan apa yang aku lihat tadi. Kutatap mata indahnya yang sayu menatapku. Tiba tiba hawa dingin di sertai aroma harum mawar kembali datang membuat hatiku berdebar debar tak menentu. Tanpa berkedip aku menatap mata meow. Mata itu sangat lah indah berwarna biru muda bening seperti mata manusia . Tiba tiba si meow tersenyum kembali padaku. Aku terperanjat dan mundur kebelakang seketika karna terkejut " Akkkkhhhhh.... meoooow....." Aku kembali menatapnya dan tak percaya dengan apa yang kulihat tadi. Kucing cantik itu mengibas ngibaskan ekor nya. Ku tatap kembali kucing cantik itu. Dia nampak biasa saja tidak ada hal yang aneh. Ahhhh...aku benar benar terhanyut dalam.khayalanku sendiri. "Meoowwwww....meooowwww..." Kucing itu bersuara manja sembari melompat ke arahku . Hadeehhh.....ini kan hanya kucing biasa , mungkin karna aku sedang menulis tentang alam gaib . Makanya pikiranku membayangkan hal yang bukan bukan karna terbawa suasana. aku mencium dan mengelus kepala kucing cantik itu seraya melemparkan pandangan ke arah gunung Raung yang terlihat gagah menjulang dan penuh misteri. Esok rencananya aku akan mendatangi kantor majalah misteri yang berada di Banyu Wangi . Seorang teman lama yang bekerja di sana yang akan menemaniku mendatangi Air Terjun Telunjuk Raung. Aku penasaran dengan Air Terjun itu. Konon kabarnya siapa pun yang mandi di Air Terjun ini akan awet mudah. Dan menurut Legenda masyarakat sekitar, di sekitar air terjun itu ada sebuah kerajaan gaib yang berusia lebih dari 500 tahun dan di pimpin oleh seorang raja yang sangat baik hati. Terkadang sang raja sering menjelma menjadi manusia biasa dan menolong warga yang tersesat. Dan menurut cerita , sang raja sedang mencari calon istrinya yang menghilang ratusan tahun yang lalu akibat pengkhianatan yang di lakukan oleh saudaranya karna orang yang ia cintai lebih memilih adiknya sendiri. "Toook..tokkk non Lisa ini Sumiati sudah datang" Terdengar suara Mbok Darmi memanggil dari luar kamar. "Iya Mbok sebentar " Jawabku sambil menutup laptop dan meletakkan si meow di atas tempat tidur. "Meow, kamu di rumah saja ya , tunggu aku pulang . Ingat jangan nakal dan jangan kemana mana ya." Ku raih tas di gantungan sembari mengelus lembut kepala si meow dan segera bergegas keluar . "Meowww....."si meow seperti faham apa yang kukatakan ia mengeluarkan suara lembutnya menjawabku. Seakan akan mengatakan dia akan menungguku pulang. Aku tersenyum dan meninggalkan dia di kamar sembari menutup pintu. "Non Lisa ini keponakanku Sumiati. Sum ini non Lisa , " ujar Mbok Darmi memperkenalkan kami "Sumiati " ucap Gadis bertub*h sintal itu memperkenalkan diri sembari menjabat tanganku dengan ramah. "Alisa " Jawabku l membalas jabatan tangan Sumiati sembari tersenyum. Suamiati gadis mungil yang ramah dan enerjik, walau tubuhnya kecil namun nampak kuat dan berisi. " Kamu temani non Lisa keliling kampung ya Sum. Ingat jangan di tinggal , soalnya non Lisa baru datang di kampung kita. Kamu kan tau sendiri gunung Raung selalu memakan korban pendatang yang tersesat." "Iyo Mbok, ayok teh, nanti keburu siang ," "Iya ayook Sum, Kami pamit ya Mbok ." Setelah mencium tangan Mbok Darmi kami pergi dengan menaiki sepeda ontel tua milik si Mbok "Sinih te, biar Sum yang bonceng " ucap sumiati sembari meraih sepeda yang ku pegang" "Beneran nie Sum kamu yang bonceng , badanku berat loh sum . Sementara badanmu kecil gitu . Aku bisa kok naik sepeda Sum " "Sudah teteh tenang wae, biar Sum aja yang bonceng lagian kan sum hafal jalan di sini ." "Iya juga . Ya sudah ini sepedanya." Dengan ragu aku memberikan sepeda itu ke Sumiati. Badannya memang kecil namun terlihat kuat dan sehat. Sumiati meraih sepeda itu dan memintaku naik ke boncengan . Dengan lincah sumiati mengayuh sepeda ontel tua itu menyusuri jalan pedesaan. "Sum kamu lincah sekali ya , berapa umurmu " tanyaku "Tahun ini 23 tahun teh " jawabnya sembari terus mengayuh sepedah nya dengan lincah "Waahh ternyata kamu awet mudah ya Sum. Kupikir masih 17 tahun sebab badanmu kecil dan imut gitu . Ternyata kita cuma selisih 2 tahun aja lebih tua aku. " "Hi...hi..hi... teteh bisa aja." Jawab Sumiati agak tersipu dengan pujianku. Sepanjang jalan aku terus menggoda Sumiati sembari tertawa dan bercanda, di sela sela perjalanan pandanganku tak lepas menikmati panorama alam yang sejuk dan asri di sekelilingku. Tiba tiba aku melihat pemuda msterius yang tempo hari ku lihat tepat di depanku , pemuda yang berdiri di pinggir jalan saat aku pertama kali masuk kampung ini. Pemuda misterius yang menggunakan kaos kuning dan topi yang terbuat dari anyaman bambu itu , berdiri di pinggir jalan yang sedang kami lewati dengan membawa seikat kayu bakar. Aku terus memandanginya sampai sepeda kami melewati pemuda itu. Berharap dia menatapku agar aku bisa menyapanya. Senyum di wajahku sengaja ku pasang dengan sangat ramah . Tapi anehnya dia tidak memandangku dan hanya menundukkan wajahnya ke bawah . Padahal aku yakin dia tau kami melewatinya . "Suum, siapa pemuda itu Sum?" Tanyaku penasaran "Pemuda yang mana teh?" "Itu yang baru kita lewati tadi. Pemuda yang pake baju kuning dan topi bambu, pemuda yang bawa seikat kayu di punggung nya." "Yang mana teh?....Teteh ini ono ono wae lah... dari tadi tidak ada siapa siapa loh teh sunyi sepi . Lagian ini kan hari Jumat. Para laki laki di kampung ini kalau tengah hari gini di hari Jumat pada ke masjid sholat Jumat teh. Jawab Sumiati agak bingung dengan pertanyaanku. "Itu loh Sum sekarang ia di belakang kita ! Karna sudah kita lewati tadi. Berhenti Sum berhenti .!!. Ituuu " Sumiati menghentikan sepedanya dan kami pun bersamaan menoleh ke belakang Tapi ketika tanganku menunjuk ke belakang aku sangat terjejut . Tidak ada siapa pun di sana padahal jelas jelas tadi kami lewati dan belum jauh. Tapi kok sunyi sepi tidak ada siapa pun . "Lohhh... kok tidak ada sih...tapi tadi beneran loh Sum pemuda itu berdiri di situ bawa kayu bakar, berpapasan dengan kita tadi dan kita lewati dia. Masak iya sih Sum kamu tidak lihat wong begitu dekat dengan kita." "Beneran loh teh tidak ada siapa pun yang lewat dari tadi di sepanjang jalan." Sumiati tetap meyakinkan aku bahwa memang tidak ada siapa pun yang lewat dari tadi dan hanya kami berdua. Aku masih tidak mengerti mengapa secepat itu pemuda itu menghilang. Aku terpaku bengong sembari tanganku menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal. Tiba tiba hawa dingin kembali melintas menyapu wajahku di sertai harum mawar yang sangat semerbak. Membuat tengkukku merinding. Di tambah desiran angin dan suara dedaunan yang menambah hama mistik yang semakin menyeruak. " Sum harum sekali ya Sum dari mana asal harum mawar ini. Aku pake parfum mawar juga tapi tak seharum ini ." Tanyaku kepada Sumiati yang masih menoleh kesana sini mencari pemuda yang ku maksut tadi. "Harum apa sih teh , teteh semakin aneh deh. Tidak ada harum apa apa . Cuma harum parfum tete saja. Sudah lah teh ayok kita segera pergi dari sini . Mungkin saja yang teteh lihat itu memedi penunggu Gunung Raung. Lagian ini sudah jam dua belas siang , hari jumat lagi , pamali kalau keluyuran . Banyak setan lewat." Ucap Sumiati yang membuat buluh kudukku semakin merinding. Sumiati menyuruhku naik kembali di boncengan . Aku menurut saja mengikutinya. dengan lincah kedua kakinya kembali mengayuh sepeda ontel itu menyusuri jalanan yang di penuhi semak belukar di kanan dan kiri. Hatiku mengatakan aku benar benar melihat pemuda itu. ini nyata, tapi kenapa Sumiati tidak melihatnya padahal tadi kami lewati dan sangat dekat. Tapi kenapa pemuda itu hilang bagai di telan bumi. "Kita istirahat di warungnya Pak dhe Jarwo dulu ya teh, sembari nunggu matahari lengser nanti kita keliling lagi. Sembari numpang sholat Juhur juga" "Iya deh Sum , terserah kamu aku ngikut saja gimana baiknya." Ucapku tak bersemangat karna kejadian tadi. "Selain sebagai kepling di kampung ini , Pak dhe Jarwo juga orang pintar teh. Beliau bisa melihat dan berinteraksi dengan dunia gaib . Pak dhe Jarwo juga bisa mengobati orang yang di ganggu jin." Sembari mengayuh sepeda Sumiati mberceloteh menjelaskan siapa Pak dhe Jarwo. Aku mendengarkan dengan seksama. Kebetulan aku bisa tanya tanya nanti kalau bertemu, siapa tau bisa dapat insfirasi dari beliau untuk tulisanku, ujarku dalam hati. Sepeda tua itu terus melaju menyusuri jalan setapak menuju sebuah dusun tempat tinggal Pak dhe Jarwo. Matahari semakin terik dan akhirnya kami pun memasuki semua halaman rumah yang Asri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD