Kucing misterius

1134 Words
Setelah berganti pakaian aku mengolesih memar di kaki dengan minyak kelapa yang ada di dapur Mbok Darmi. Kemudian berjalan jalan mengitari pekarangan mbok Darmi yang cukup luas mencari udara segar sembari melihat lihat pemandangan alam pedesaan yang sangat asri dan indah. Semua jenis tanaman hampir ada sini dari bumbu dapur sampai sayur sayuran semua tertanam dengan rapi dan terurus. Ya....bisa dinamakan warung hidup karna semua kebutuhan dapur ada tinggal ambil tidak perlu membeli lagi. Mbok Darmi benar benar sangat rajin. Waktunya setiap hari di habiskan dengan berkebun . Rumah Mbok Darmi memang agak terpencil dan agak jauh dari rumah warga lainnya. Mungkin beliau sengaja memilih tempat ini supaya mendapat ketenangan Aku baru datang dua hari yang lalu ke desa ini karna ada studi banding yang di adakan dari kantor tempat aku bekerja dan sekaligus mencari insfirasi untuk tulisanku. Aku seorang penulis novel bergenre misteri yang bekerja untuk sebuah majalah misteri di kota medan. Awalnya aku ingin mencari tempat kos . Karna baru pertama kali datang ke desa ini tentu saja aku tidak tau penginapan yang terdekat dengan gunung Raung. Kebetulan di perjalanan aku yang sedang kebingungan bertemu dengan Mbok Darmi yang hendak pulang setelah selesai menjual hasil kebunnya di kota Banyu Wangi. Beliau menyapaku dengan ramah dan aku pun menjawabnya dengan sopan , kami mengobrol sesaat , kemudian aku bertanya kepada beliau di mana tempat kos yang bisa aku tinggali namun dekat dengan gunung Raung. Mbok Darmi menawarkan untuk tinggal di rumahnya yang kebetulan berada di kaki gunung Raung. Kebetulan beliau tinggal sendiri jadi tidak ada yang mengganggu saat aku menulis nanti. Dengan senang hati aku menerima tawarannya. Dan akubpun mengikuti Mbok Darmi ke rumahnya dengan menaiki angkot . Di sepanjang jalan Mbok Darmi dengan antusias menceritakan kisah hidupnya . Dia hidup sebatang kara tanpa sanak saudara karna dia anak tunggal begitu pula suaminya. Tak betapa lama setelah satu tahun pernikahannya suaminya hilang lenyap tanpa jejak di hutan dekat air terjun Telunjuk Raung saat mencari kayu bakar. Dan ia tidak pernah kembali sampai saat ini. Tampak mata wanita tua itu berkaca kaca kala mengenang sang suami. terlihat jelas kesedihan terpancar dari kedua manik matanya yang bening. Aku hanya bisa menguatkan wanita malang itu dengan menggenggam erat tangannya. Di sepanjang jalan aku memandangi hutan Gunung Raung yang sangat Lebat . Lama di pandang semakin terasa hawa mistik yang menyeruak . Tiba tiba aku merasakan udara yang begitu dingin dan aroma bunga mawar yang sangat aku sukai . Sama seperti parfum yang aku pakai . Buluh kuduk ku meregang seketika aku bergidik sesaat sembari memegang tengkuk ku yang terasa kaku sambil menoleh ke samping. Tanpa sengaja pandanganku langsung tertuju pada sosok seorang pemuda tinggi tegap berdiri di pinggir jalan dengan memakai topi yang terbuat dari anyaman bambu, sebagian wajahnya tertutup dengan helai ujung topi. Bibir pemuda itu tersungging manis ke arahku. Walau hanya terlihat sebagian namun tidak bisa menyembunyikan ketampanan wajahnya yang penuh wibawa dan berkarisma. Saat angkot yang ku tumpangi berpapasan dengannya tanpa sadar kami saling bertatapan Hatiku berdebar kencang aku pun langsung menundukkan wajahku sambil memegang dadaku yang terasa mau lompat keluar. Ada perasaan aneh yang menyeruak dari relung hatiku . Raut wajahnya seperti pernah aku lihat, tapi dimana ??.. Aku baru pertama kali datang ke desa ini. Mana mungkin aku pernah bertemu dengan pemuda itu.di sini. Atau kah itu hanya perasaan ku saja. Aku masih penasaran dengan pemuda itu dan kembali melongokkan kepalaku ke arah belakang . Namun pemuda itu sudah menghilang. " Braaakk.....Meoong....meeeongg..." "Akkkhhhh....aduuhhhh....." Lamunanku di kejutkan oleh seekor kucing berwarna kuning yang keluar dari jendela kamar dan menubrukku. Membuat aku terhuyun dan terjatuh ketanah. Kucing itu mendatangiku dan menjilati tangan dan kemudian melompat ke pelukanku. Rasa kesal akibat di tubruk dan terjatuh menjadi rasa sayang dan lucu melihat kucing cantik yang begitu menggemaskan itu. Aku tersenyum dan ku bopong kucing kuning cantik itu kemudian berdiri . "Dasaarrr... meong nakal... kamu menabrakku tadi ya....heemmmm" Aku memeluk dan mengelus elus kepala kucing itu. Dan membawanya masuk ke dalam rumah menjumpai mbok Darmi yang sedang memasak di dapur . "Mbok... masak apa Mbok ? harum sekali " "Ini non rebus daun ubi, sambal terasi dan goreng ikan asin. Kalau non lisa tidak suka , non lisa bilang aja mau makan apa nanti Mbok masakin " ucap Mbok Darmi sembari memindahkan rebusan daun ubi ke piring. "Suka mbok ...suka... saya tidak pernah pilih pilih makanan kok mbok . Apa pun saya makan kecuali daging merah. Saya tidak makan daging kecuali daging ayam Mbok." Aku mendekati Mbok Darmi dan mengambil sepotong ikan asin .kemudian menggigitnya dan secara refleks sisa gigitanku kuberikan kepada kucing yang sedang ku peluk. "Loohhh kenapa non lisa tidak suka daging kan enak non. Bukannya orang kota itu sering makan daging.? " tanya Mbok Darmi yang nampak penasaran . "Ndak tau Mbok , sejak kecil jika ibu memberiku makan daging sebagai lauk aku pasti muntah bahkan mencium bekasnya saja aku tidak tahan. Perutku akan terasa mual." Jawabku sembari mengelus elus kepala kucing di pelukanku. "Oalahhh non , kok ya aneh non lisa ini.Daging enak kok malahan ndak suka toh" Ucap Mbok Darmi "Oh ya mbok siapa nama kucing ini?" Tanyaku kepada mbok Darmi. "Kucing mana non ? saya tidak piara kucing non." jawab Mbok Darmi sembari melihat ke arahku. " Loohhh... jadi ini bukan kucing Mbok Darmi toh.? Kucing ini keluar dari kamar dan menabrakku saat di kebun samping tadi" "Bukan non ..saya juga baru melihat kucing ini. Waaaaah....kucingnya cantik ya non buluhnya kuning emas . Aku baru melihat kucing secantik dan sebersih ini , mungkin kucing liar yang tersesat." Mbok Darmi mendekati dan memeriksa kucing di tanganku yang dari tadi nampak sangat jinak dalam pelukanku. "Ohhh ini kucing jantan non " " Mbok boleh kah saya piara kucing ini di sini ? Nanti kalau saya pulang ke Medan akan saya bawa . Saya sangat menyukai kucing ini Mbok." " Iya non boleh saja kalau non Lisa mau." Ucap Mbok Darmi sembari berjalan kembali ke tungku meneruskan pekerjaannya. "Mbok hari ini aku ingin berkeliling desa. Boleh mbok ?" Tanyaku meminta ijin kepada Mbok Darmi. "Iya non boleh , tapi non Lisa harus hati hati . Non Lisa kan belum tau seluk beluk desa ini . Dan satu lagi jangan dekati gunung Raung kalau tidak ada yang menemani. Banyak pendatang yang hilang di sana. Hutan itu sangat angker non. Nanti biar non lisa di temani Sumiati keponakan jauh saya kalau mau jalan jalan. Hari ini dia mau datang." Ucap Mbok Darmi. Mbok Darmi sangat baik kepadaku walaupun baru dua hari aku tinggal di rumahnya , tapi Mbok Darmi sudah menganggapku seperti putrinya sendiri. Mungkin karna Mbok Darmi tidak punya anak . Makanya Mbok Darmi begitu menyayangiku. Aku meninggalkan si Mbok yang terus berkutat di dapur menuju teras. Kutatap Gunung Raung yang menjulang gagah. Gunung yang indah dan eksotis namun penuh misteri yang belum terkuak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD