Goresan misterius

1103 Words
Krringggg....kringggg... terdengar suara alarm hp berbunyi nyaring membangunkan tidurku . Aku sengaja menyetelnya pukul 5 pagi supaya terbangun untuk sholat subuh . Tempat ini agak jauh dari Masjid takut tidak terdengar suara adzan subuh, itu sebabnya sengaja aku mengaktifkan alarm handphone sebelum tidur Bising alarm hp itu terus berbunyi nyaring berulang ulang..."aahhhhkk.... bentar lagilah aku bangun 10 menit lagi tidak mengapalah" rintihku sembari menarik selimut yang merosot di pinggang menutupi tubuhku kembali. Entah mengapa badanku terasa sangat lelah seperti terasa habis berlari berkilo kilo meter jauhnya. Aku pun memutuskan tidur untuk sebentar lagi mengingat waktu sholat subuh masih satu jam lagi. Apalagi hawa di desa ini sangat dingin di pagi hari. Tanpa sadar Aku kembali terlelap dalam dunia mimpi di balik kehangatan selimut tebal yang menutupi tubuhku. " Took...tookkk...non...non lisa.. bangun non sudah pagi. Ini sarapannya non.. non ...non lisa buka pintu non ...took ...tokk tokk" Terdengar suara mbok Darmi pemilik rumah tempat aku menginap mengetuk pintu dan memanggil manggil namaku dengan keras. Aku menggeliat sesaat dan melirik jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Serta merta aku melompat dari tempat tidur dengan melempar selimut ke tepi ranjang. Ya Allah ... aku kesiangan bagaimana ini aku bahkan belum sholat subuh tadi, gegas berlari menuju pintu dan segera membuka pintu kamar. " Mbok Darmi , maaf, aku kesiangan " keluhku sembari mengusap wajah. "Endak apa apa non , non Lisa pasti capek toh.... habis dari perjalanan jauh. Ini saya bawakan wedang jahe biar hangat, udara di sini sangat dingin, biar non Lisa endak masuk angin, dan ini getuk ubi buat sarapan. Maklum lah non di desa ya cuma beginian makanannya. " ujar mbok Darmi Dengan ramah Mbok Darmi menyodorkan nampan berisi sarapan itu kepadaku. Mbok Darmi seorang janda berumur hampir 60 tahun yang hidup sebatang kara tanpa mempunyai anak. Suami mbok Darrmi Pak Atmo hilang di dalam hutan saat mencari kayu bakar. Warga sekitar sudah berusaha mencari keberadaan pak Atmo dengan menyisir ke dalam hutan namun pak Atmo tidak pernah di temukan dan tidak pernah kembali sampai saat ini. Masyarakat menyimpulkan bahwa pak Atmo sudah meninggal dan mayatnya sudah di makan harimau di dalam hutan, ada juga yang menyimpulkan pak Atmo tersesat ke dunia lain itu sebabnya mayatnya tidak bisa di temukan. Namun mbok Darmi tetap yakin bahwa suaminya itu masih hidup dan suatu saat akan kembali kepadanya, itu sebabnya sampai saat ini dia tetap setia menunggu tidak pernah kehilangan harapan dan yakin suatu saat suaminya akan kembali dengan selamat. "Terimakasih banyak ya mbok saya jadi merepotkan mbok Darmi " ujarku sungkan Dengan malu malu aku menerima nampan berisi sarapan itu dari tangan mbok Darmi. Entah kenapa aku memang sangat lapar pagi ini. Mbok Darmi tersenyum dan berlalu kembali ke dapur. Aku meletakkan makanan itu di atas meja kemudian membuka jendela kamar dan duduk disamping jendela sembari mengaduk wedang jahe dengan sebatang serai yg ada di dalam gelas . Tiba tiba hawa dingin yang begitu menusuk tulang menyeruak masuk kedalam kamar melalui jendela yang ada di depan yang sengaja ku buka lebar. Tengkuk ku sampai meremang karna dinginnya . Aku mengusapnya sebentar dan kembali menyeruput wedang jahe di tangan. Pandanganku menyapu alam di sekitar. Sangat indah dan asri ini adalah kali pertama aku berkunjung di desa ini. Desa Rowo Sari , desa yang sangat subur dan indah yang terletak di kaki gunung Raung Jawa Timur. Mataku terus menyusuri alam di sekitar sembari mengamati puncak gunung Raung yang tampak exotis terlihat dari kejauhan dengan menikmati getuk ubi buatan Mbok Darmi yang lembut dan manis. Rimbunnya dedaunan dan lebatnya hutan gunung Raung dari kejauhan samar samar terlihat membentuk seperti atap bangunan perumahan yang tersusun rapi dan indah Sangat terasa aura mistik yang kuat terpancar dari puncak gunung Raung, sehingga membuat buluh kudukku jadi meremang. Aku bergidik sesaat dan kembali menyeruput wedang jahe sembari menggoyang goyangkan kaki supaya terasa sedikit hangat. "Hi..hi..hi...dasar otak penulis misteri . Dimana pun berada dan apa pun yang ter lihat selalu saja berimajinasi hi...hi..hi..." gumam ku dalam hati sembari tertawa kecil. Tiba tiba aku teringat mimpiku tadi malam. Mimpi yang terasa sangat nyata. Siapa wanita berambut perak dalam mimpi itu kenapa wajahnya sama persis seperti wajahku. Dan pemuda itu.....pemuda itu sangat tampan dan berwibawa air mukanya sangat mempesona seperti artis artis korea yang melakukan operasi plastik .Bahkan lebih ganteng lagi , seperti pangeran dari negri Awan.... hadeehhh... otakku terus berselancar berkhayal kemana mana Tapi tiba tiba aku teringat sebuah nama, " Putri Embun" ya, teringat jelas pemuda itu memanggilnya Putri Embun. Tidak ....bukan memanggil nya tapi dia menyebutku ..."Putri Embun " ...kakiku berhenti bergoyang menegang. Aku terus mencoba mengingat mimpi tadi malam. Mimpi yang sangat aneh dan benar benar terasa nyata. Hadeeeehhh.....dasar penghayal bukannya mencari inspirasi untuk tulisan yang harus kuselesaikan secepatnya malah sibuk memikirkan mimpi. Kalau ceritaku tidak siap tepat waktu pasti kena damprat pak Burhan pemilik redaksi tempatku bekerja. "Ha...ha...ha.. lisa...lisa...sudah lah habiskan sarapanmu , mandi dan kemudian keluar jalan jalan untuk mencari insfirasi " ucapku dalam hati. Dengan sigap aku menghabiskan gigitan terakhir getuk yang ada di tangan dan menghabiskan sisa wedang jahe di gelas. Aku berdiri dan bergegas menuju kamar mandi sederhana yang terletak di belakang rumah . Sebuah mata air yang di selang dengan bambu airnya mengalir tak pernah berhenti di atas bak yang terbuat dari tanah liat berbentuk kendi besar serta sebuah gayung dari tempurung kelapa. Suara gemerisik airnya terdengar sampai di kamarku. Dengan memakai sebuah sarung aku membaca bismilah dan membasuh wajahku dengan air . Alaamaaakkkk dinginya , pelan pelan membasahi tubuhku dengan air . Tapi saat air menyentuh kaki, aku menjerit, aakkkhhhhh .....aduuhhh perihnya...Perlahan ku singkapkan sarung yang menutupi kaki dan betapa terkejutnya saat aku melihat banyak memar serta goresan luka di kaki, seperti tergores ranting pohon. Apa yang terjadi kepadaku ? Dari mana luka luka ini ? Sejak kedatanganku semalam di desa ini sepertinya aku belum pergi kemana mana. Tapi memar dan goresan ini dan mimpi itu ? Apakah mimpi itu nyata ?. Aaahhhkkk... tidak mungkin jelas jelas itu mimpi. Tapi luka ini darimana berasal. Aku terduduk sembari mengelus elus kaki yang terasa perih dengan menghela nafas panjang dan segera berdiri melanjutkan mandiku karna tidak mau berlama lama berada di kamar mandi. Suara angin yang berdesir dan dedaunan yang saling bergesekan menciptakan suara suara yang semakin membuat buluh kuduk semakin meremang di tambah air yang sangat dingin menusuk ke sendi sendiku. Aku bergegas meraih handuk yang tersangkut di gantungan paku kamar mandi dengan bibir bergetar karna menahan dingin yang teramat sangat. Dengan berlari kecil aku meninggalkan kamar mandi. Terasa ada sepasang mata yang terus mengawasiku sejak tadi. Namun tak seorang pun yang terlihat di sini. Ataukah itu hanya perasaanku saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD