31

2370 Words

“Mbak Vana, Mbak sudah sadar?” Bau minyak angin masuk ke dalam hidungku. Aroma menyengat yang begitu khas tersebut membuatku tersadar. Aku tengah berbaring di kursi panjang, kutebak ini berada di ruang sidang tadi. Kuperhatikan orang di sekelilingku. Ada Agnes yang sedang memangku kepalaku. Kemudian Putik, Pak Toto serta istrinya yang tengah menggendong kedua anakku, dan Lian di ujung kakiku tengah berdiri dengan wajah cemas. “Ayo, kita pulang.” Aku berusaha untuk bangun, tetapi kepalaku masih berat dan pening. Agnes dengan sigap membantuku untuk bangkit. “Jangan langsung berdiri, Mbak. Duduk dulu sebentar.” Agnes merangkul tubuhku. Pandanganku rasanya goyang, seperti sedang naik kapal laut. Mungkinkah ini yang dinamakan serangan . “Mbak Vana mau minum?” Suara Lian terdengar begitu p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD