32

1264 Words

Sejenak aku mengatur segala emosi yang tiba-tiba menyeruak dari dalam d**a. Marah, kecewa, sedih, dan muak, kusiram dengan air ketenangan demi menghalau nyala baranya. Aku tak ingin terbakar oleh perasaan berlebihanku sendiri. “Oke, Cla. Trims atasan undangannya. Jam berapa?” Aku bertanya dengan nada santai. Padahal, demi Tuhan, dadaku sampai sesak memendam amarah. “Ijab qabulnya pukul sembilan. Datang ya, Mbak. Kan hari Minggu. Kami sengaja ambil hari libur agar semua keluarga dan kerabat bisa hadir.” Suara Clara terdengar begitu penuh harapan. “Oke.” Langsung kumatikan ponsel. Pak Toto menatapku dengan wajah yang penasaran. Mungkin dia bertanya-tanya, ada apakah gerangan? “Kenapa, Mbak?” Pak Toto melangkah ke lantai dua untuk mengantarkan Adiva yang telah lelap di gendongannya, s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD