Makan malam usai. Bagi Pak Toto dan istri, ini adalah makan malam yang berkesan. Tetapi, tidak bagiku. Perasaanku hancur. Lian pun tampak begitu. Dia hanya banyak terdiam dan seperti dianggap tak ada oleh si pemilim rumah. Tak ada satu pun pertanyaan yang terlontar untuk lelaki muda dengan potongan rambut baru itu. Hei, lihatlah, dia sampai rela-rela memangkas rambut dengan potongan yang bagus. Dipangkas cepak dan sangat rapi. Tampan. Tetapi kehadirannya tak direspon dengan baik seolah juga tak diharapkan. Aku sebagai orang yang menumpang di sini pun tak dapat banyak bercakap padanya. Tuan rumahlah yang mendominasi obrolan dan yang membuatku sebal adalah temanya hanya seputar Pradipta dan Pradipta lagi. “Saya pamit, Pak, Bu.” Begitu Lian berkata saat makan malam usai. Padahal, Adiva da

