28

1428 Words

Pak Toto dan Agnes ternyata tengah menunggu dengan sangat bosan di lobi pengadilan agama sembari masing-masing memaikan gawainya. Aku merasa menyesal. Setelah minta maaf dan menjelaskan perihal obrolan kami di cafetaria tadi, keduanya berkata tak apa-apa dan sama sekali tak keberatan. Meski begitu, tetap saja aku tak enak hati. “Kita rayakan kemenangan hari ini dengan makan malam. Tapi besok, di rumah Bapak. Bagaimana?” Pak Toto langsung semringah. Senyumnya mekar bagai mawar yang indah. “Wah, aku diundang juga, nih?” Agnes begitu tampak bersemangat. Perempuan itu tak kalah antusiasnya. “Sudah pasti! Mbak Agnes silakan request menu apa? Biar dimasakin sama Ibu dan Mbak Vana nanti. Betul kan, Mbak?” Pak Toto tersenyum ke arahku. Aku menyahutnya dengan anggukan dan acunga jempol. “Ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD