27

2288 Words

Sepanjang perjalanan yang kupikirkan hanya Lian seorang. Rasa kesal terhadapnya kalah dengan besarnya rasa bersalah gara-gara marah dan membentak lelaki tersebut. Apakah dia akan marah? Akankah dia kembali dekat denganku seperti dulu lagi? Pikiranku kacau. Benar-benar takut kehilangan dirinya. Lebay? Mungkin. Tapi nyatanya inilah yang kualami. “Mas, nggak jadi ke perum Nirwana. Tolong berhenti ke kosan besar di kiri jalan Merpati itu. Seratus meter sebelum pintu gerbang kompleks,” pintaku pada pengendara ojek yang masih berusia belia tersebut. Lelaki itu tak banyak cakap. Dia langsung memperlambat laju kendaraannya saat tiba di depan rumah besar bertingkat dua dengan halaman parkir dan teras yang cukup luas tersebut. Setelah membayar beberapa ribu rupiah kepada mas ojol, aku langsung t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD