Sesaat aku menahan napas. Menimbang kata-kata apa yang pas untuk diutarakan pada Pak Toto. Takut jika ada salah kata yang bakal menyinggung perasaannya. Tentu saja aku sangat menjaga agar lelaki yang sudah kuanggap orangtua sendiri ini tak salah paham atau malah sakit hati. Beliau sudah sangat terlalu baik, itulah pertimbanganku. “Umm, maaf, Pak. Anak Bapak kan masih bujangan. Orang terpelajar dan mapan. Sedang Vana ... janda dan dengan dua anak.” Pelan-pelan aku menjelaskan pada Pak Toto. Wajahku bimbang. Takut apa yang telah kulontarkan barusan tak pantas atau membuat Pak Toto tak berkenan. Beliau malah terkekeh. Kedua tangannya masih sibuk menyetir sembari memperhatikan jalanan yang lumayan macet karena saat ini sudah memasuki jam makan siang. “Mbak Vana, Pradipta itu orangnya ber

