Bagai di tengah padang bunga pada awal musim semi, hatiku merasakan bahagia tiada tara. Telah lama tak ada yang menyentuh perasaan ini dengan ungkapan cinta, meski hanya bual semata. Lian, malam ini sempurna mengukir sebuah hasrat yang menggelora. Bara api mencinta yang lama padam akibat sebuah pengkhianatan, mampu kembali nyala oleh kata-kata lelaki muda barusan. Aku menopang dagu sembari tak berhenti mengulas senyuman. Oh, indahnya hidupku belakangan. Semua dendam mulai terbalas dan begitupun dengan perasaan. Tak disangka Lian malah semakin menunjukkan rasanya. Tetapi, apakah ini hanyalah semu belaka? Apakah Lian hanya menyukaiku sesaat? Kugigit bibir ini. Ada perasaan bimbang yang tiba-tiba menyergapi. Tak ingin hatiku kecewa untuk kesekian kali. Cukup Irsyad saja yang membuatku sak

