24

1655 Words

Faiz masih berlutut di hadapanku sambil terus memohon, mengeluarkan kata-kata cengeng berharap aku mencabut laporan atas istri dan iparnya. Aku mendesah risau. Memejamkan mata sesaat, mempertimbangkan keputusan paling manusiawi seperti apa yang harus kulakukan. Saat pergulatan antara memaafkan dan terus memperkarakan kedua adik beradik itu menggumuli perasaanku, tiba-tiba aku teringat akan segala penyiksaan baik verbal maupun fisik yang pernah mereka lakukan kepadaku. Hinaan, caci dan maki, serta pukulan. Sudah berapa kali aku memaafkan mereka dan tak mempermasalahkan semua, namun mengapa tak kunjung ada perubahan dari keluarga iblis itu? Dengan serta merta aku langsung menggeleng. Hatiku mantap. Tak ada maaf untuk keduanya. “Aku malah ingin menambah laporan untuk Mama. Karena pela

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD