Kuputar otak sekeras mungkin, mencari jawaban terbaik untuk menjelaskan pada Adiva tanpa melukai perasaan dan masa kecilnya. Pelan, kuterangkan pada gadis kecil itu. “Tante Clara mencintai Papa seperti kita semua, Kak. Kakak cinta kan sama Papa? Nah, begitulah Tante. Karena kita kan semua bersaudara jadi harus saling cinta dan sayang. Begitu.” Kuusap puncak kepala Adiva. Gadis itu tersenyum ramah. Wajahnya tak lagi bingung ataupun cemburu. “Jadi, Tante Clara saudara kita, Ma?” Adiva mengerjapkan matanya dengan begitu manis. Kutarik napas perlahan, mencoba tersenyum untuk meyakinkan si buah hati. “Iya, kita semua saudara. Keluarga, Sayang.” Aku tersenyum ke arah Clara yang hanya terdiam sembari menghapus air matanya. Tersurat air muka yang penuh penyesalan dari wajah tirus miliknya. K
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


