34

1676 Words

Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya termenung menatap jalan dari balik kaca jendela taksi. Beberapa kali Lian mengajakku untuk bercakap, namun aku sama sekali tak selera untuk menanggapinya. Hatiku begitu mati rasa pagi ini. Entah mengapa, bayang-bayang akan wajah Adiva dan Raina berputar bagai slideshow presentasi yang tak kunjung usai di kepala. Betapa susahnya hatiku jika kelak mereka akan mengetahui bahwa papanya sudah menikah lagi dengan seorang perempuan yang menghancurkan keutuhan rumah tangga orangtua kandungnya. Risau sekali jiwa ini. Tak tertampung lagi benih kekecewaan yang mulai luber tumpah dari bejana emosiku. Kenapa semua ini harus terjadi pada kami? Ah, Livana. Bukankah perpisahan ini yang kau inginkan sebelumnya? Hal yang wajar, kan, jika akhirnya Irsyad mereguk kebah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD