***
Diandra baru saja pulang dari rumah sakit tempat suaminya dirawat saat melihat mobil Gama terparkir tak jauh dari mobil putri sulungnya. “Tumben,” komentarnya mengingat Gama jarang sekali pulang ke rumah. Putranya itu tak suka berada di rumah lantaran Diandra selalu mengusik hubungan percintaannya dengan Dea.
“Mau apa Gama pulang?” Diandra melangkah pasti untuk masuk ke rumahnya. Di ruang tamu, ia menemukan Aninta Putri Pradipta bersama Gama Pradipta, buah hatinya bersama suaminya tercinta.
Kedua anaknya itu tampak mengobrol. Terlihat sekali Gama merindukan Aninta. Melihat itu membuka Diandra bersemangat untuk menghampiri mereka. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar Gama bicara.
“Aku mau nikahin Dea, Kak,” emosi Diandra tersulut begitu nama Dea disebut oleh bibir Gama. Putranya belum juga sadar betapa liciknya Dea. Entah bagaimana lagi caranya agar Gama melupakan Dead an mengikuti kemauannya. Diandra tidak banyak meminta, ia hanya ingin Gama menikahi wanita lain selain Dea. Terserah bagaimana asal usulnya, yang penting jangan Dea. Gadis itu terlalu licik menurut Diandra.
“Nikahin Dea kamu bilang? Jangan harap Mama mau melamarnya untuk kamu, Ga! Mama tetap nggak akan kasih restu!” Diandra pikir ucapannya teramat jelas. Namun, Gama tampak tidak peduli.
Jujur saja, sejak mengenal Dea, Gama banyak berubah. Gama yang dulu menuruti semua perintah Diandra, kini lebih sering membangkang. Gama terlihat tidak peduli padanya, padahal sampai detik ini, sejak sepuluh tahun yang lalu hati Diandra belum sembuh dari lukanya. “Kamu akan lihat Mama mati kalau masih nekat nikahin perempuan itu, Gama!” ujarnya frustrasi.
“Ma, jangan ngomong kayak gitu. Nanti Anin yang bicara sama Gama,” sahut Anin dengan cepat. Bagaimana pun juga mereka memiliki alasan yang kuat untuk tidak menerima Dea dalam keluarga mereka.
Tck.
Gama semakin tidak menyukai mamanya. Entah apa kesalahan Dea sampai mamanya it uterus saja menentang hubungannya. Menurut Gama, Dea adalah calon istri yang baik. Dea tidak seperti yang mamanya duga, tetapi di mata mamanya Dea adalah orang jahat.
“Kenapa Mama nggak pernah suka sama Dea? Salah apa Dea, Ma?” tanya Gama dengan suara yang dalam dan berat. Ia menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun.
Diandra berdecak tidak suka. “Dea bukan perempuan baik-baik seperti yang kamu bayangkan, Gama!” harus berapa kali lagi Diandra mengatakan ini? Gama tak juga ingin mengerti atau berusaha untuk memahami. Sungguh, firasat seorang ibu tak mungkin salah. Dindra benar-benar menyayangkan sikap membangkang yang Gama miliki saat ini.
Gama seolah buta pada ketulusan Dea yang hanya pura-pura. Memang, Diandra baru bertemu dengan perempuan itu satu kali selama Gama memiliki hubungan ini. Sejak itu pula Diandra memutuskan untuk menentang hubungan mereka. Dari matanya saja Diandra tahu betapa seorang Dea memiliki banyak sekali siasat untuk melumpuhkan Gama. Memanfaatkannya lewat mana pun saja.
Gama berdiri dari duduknya. “Dea perempuan baik-baik, Ma! Dia jauh lebih terhormat dari perempuan mana pun yang pernah Mama pilihkan untuk Gama!” pembelaan yang Gama berikan untuk Dea semakin membuat Diandra sakit hati. Sikap buruk Gama bertambah saat ia mulai membentak Diandra.
“Perempuan baik-baik kamu bilang? Lihat Gama! Apa yang udah dia lakukan ke Mama, kamu berubah dan membentak mama karena dia.”
Gama terdiam. Ia menyesal telah memebntak Diandra. Ternyata dirinya tak sanggup menahan emosi yang sejak tadi begitu pekat menyelimuti. “Aku minta maaf,” ucapnya.
Diandra menggelengkan kepala. “Mama kecewa sama kamu, Gama. Sampai mati pun Mama nggak akan pernah restuin kalian,” tegasnya. Tanpa mengatakan apa-apa, Diandra meninggalkan kedua anaknya itu.
Melihat kepergian Diandra dengan wajah marahnya, membuat Gama menghela napasnya dengan berat. Ia kembali terduduk seraya mencengkram rambutnya dengan kuat. Hari ini ia bermaksud membicarakan masalah ini baik-baik bersama keluarganya, tetapi kini Gama tahu ia telah salah dalam mengambil keputusan. Sampai kapan pun mamanya tidak akan pernah merestui hubungan percintaannya dengan Dea. Padahal, Gama masih berharap mamanya hadir di acara pertunangan hingga pernikahannya kelak.
“Gama, jangan marah sama Mama. Kami punya alasan untuk nggak nerima Dea di keluarga ini,” ucap Anin sambil menyentuh punggung Gama. Anin sungguh mengerti kenapa mamanya menolak Dea. Tak hanya karena menilai betapa liciknya perempuan itu, tetapi ada kecurigaan yang belum bisa mereka ungkapkan hingga saat ini mengenai keluarga Dea.
“Hanya karena menurut kalian Dea bukan perempuan baik-baik, lantas kalian semua menghakiminya,” tegasnya Gama dalam membela Dea benar-benar meyakinkan Aninta tentang betapa tulusnya Gama mencintai Dea. Entah bagaimana nanti perasaan Gama bila mengetahui alasan kenapa mereka tidak pernah merestui hubungan keduanya.
Barangkali perasaan Gama akan hancur berkeping-keping. Namun, Anin tak yakin Gama percaya bila semua kecurigaan itu ia katakana sekarang. Sebab, sampai detik ini mereka belum memiliki bukti yang nyata.
“Entah apa yang buat kamu menilai Dea sebaik itu, tapi kakak minta kamu turutin maunya Mama. Seenggaknya lihat perjuangan Mama selama Supuluh tahun ini tanpa Papa, Ga. Kamu nggak kasihan sama Mama?”
“Aku sayang sama Mama Kak Anin! Tapi apa Mama peduli sama pilihanku?” kekeras kepalaan yang Gama miliki membuat Anin menatapnya sedih. Anin tidak tahu lagi bagaimana caranya menasihati Gama. Semua sudah ia dan Diandra coba, tetapi tetap saja Gama memilih Dea.
“Mama selalu peduli, itu lah kenapa Mama nggak mau kamu nikahin perempuan yang menurutnya nggak baik buat kamu, Gama.”
Bertahun-tahun menjadi seorang dokter membuat Anin memahami arti kesabaran dan ketulusan. Ia mencoba yang terbaik untuk membuat Gama mengerti Diandra. Aninta tak ingin adik dan mamanya itu bermusuhan. Mereka akan sama-sama terluka bila masih saling keras kepala.
“Tapi Gama akan tetap nikahin Dea, terserah kalian mau setuju apa nggak!” keputusan Gama sudah bulat sejak ia nekat melamar Dea menggunakan sister contract. Gama tak lagi peduli soal restu yang mamanya katakan atau kata setuju yang kakak kandungnya berikan. Segala konsekuensi berupa karma akan Gama terima di kemudian hari. Dia akan menanggung semua itu tanpa mengeluh. Gama yakin ia bisa menghadapi semuanya bersama Dea.
Anin mengembuskan napasnya dengan berat. Ia meraih ponselnya untuk melihat jam di sana. “Kakak pulang dulu, ponakanmu pasti udah nungguin di rumah,” ucapnya. Lima tahun yang lalu Anin menikah dengan seorang pengusaha yang juga menjadi rekan kerja Gama. Anin hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, tetapi sejak mamanya mengeluhkan tingkah Gama, Anin merasa ada yang kurang dari kebahagiaannya.
Namun, hingga detik ini Anin tidak bisa melakukan apa-apa. Anin hanya berharap semua akan baik-baik saja selagi mama dan suaminya mengumpulkan bukti yang nyata atas segala praduga mereka.
“Aku juga mau pulang. Nggak betah lama-lama di sini.”
Perkataan Gama menyentak relung hati terdalam Anin. Ia begitu sedih melihat sikap Gama yang tampak kurang ajar di matanya. Tidakah Gama tahu betapa Diandra akan sakit hati ketika ia mengatakan itu?
“Jangan pernah mengatakan itu di depan Mama!” peringatnya pada mulut Gama yang tak berpikir dulu sebelum bicara. Anin kecewa melihat Gama yang banyak berubah. Ia sudah lama tidak menemukan Gama yang menuruti semua larangannya. Gama yang dulu seolah telah lama mati. Kini, tergantikan dengan lelaki dewasa yang merasa sanggup memutuskan segalanya sendiri.
Tak ingin membuat perasaannya semakin buruk, Anin berlalu pergi dari hadapan Gama. Ia merasa Gama benar-benar sudah terpengaruh oleh Dea. Mamanya benar, Dea adalah perempuan licik yang sanggup melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya.
Melihat emosi yang tampak di wajah kakaknya, Gama menggenggam tangannya dengan erat. Mama dan kakaknya sama saja. Mereka tak pernah benar-benar peduli pada perasaannya. Hal itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Mereka selalu saja sibuk dengan urusan masing-masing, lalu ketika Dea masuk ke dalam hidupnya, dan memberi warna yang berbeda yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya, kenapa mereka harus menghalangi?
Tidakah yang seharusnya mereka lakukan adalah berterima kasih pada Dea? Bukan justru membenci seperti ini. Gama pikir ia benar-benar tidak memiliki harapan lagi. Keluarganya benar-benar sudah keterlaluan.
Sama seperti Anin, Gama pun meninggalkan rumah itu tanpa pamit pada Diandra yang sejak tadi berada di sudut ruangan, mendengarkan pembicaraan kedua anaknya. Diandra menatap kepergian Gama dengan sedih. Ada luka tak kasat mata yang terus saja Gama torehkan padanya sejak mengenal Dea.
Diam-diam Dindra menyesal karena tak bisa menjaga Gama dengan baik. Sejak suaminya mengalami kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, sejak itu pula dunia Dindra berubah. Semua yang sebelumnya tampak penuh warna, perlahan menghitam. Pekatnya sampai menyakiti Diandra hingga membuat sesak. Namun, kepada siapa ia sanggup menceritakan itu? Dirinya hanya mampu memendam dan bersikap seolah semua baik-baik saja di mata anak-anaknya.
“Ini adalah cara Mama menjagamu, Gama. Mama nggak mau kamu menyesal suatu hari nanti,” lirihnya setelah mendengar deru mobil Gama meninggalkan rumah besar ini.
Diandra menatap ke seluruh ruangan. Sunyi, senyap. Tak ada lagi suara lain selain miliknya di rumah ini. Diandra kesepian. Ia merasa percuma memiliki rumah seperti istina bila tidak memilki penghuni. Dulu, rumah ini dipenuhi oleh banyak orang.
Ada suaminya yang jika pulang dari bekerja selalu memanggilnya terlebih dahulu. Ada Aninta juga walaupun selalu sibuk di rumah sakit selalu pulang ke rumah. Lalu ada Gama yang meskipun menempuh pendidikan di luar negeri, pun memanggil namanya untuk pertama kali setelah pulang ke rumah ini.
Sekarang semua itu hanya kenangan. Rumah sebesar ini terasa sepi bagi Diandra meskipun ia memiliki asisten rumah tangga. Namun, dirinya patut bersyukur karena ia masih memiliki Bik Darmi yang setia menemani. Sehingga Diandra merasa tidak benar-benar sendiri. Seperti saat ini, Bik Darmi segera menghampiri usai melihat Anin dan Gama meninggalkan rumah.
Tanpa banyak bicara, Bik Darmi menemani Diandra yang baginya setiap hari selalu bersedih hati. Darmi adalah saksi hidup Dindra sejak tuannya mengalami kecelakaan. Diandra adalah sosok tegar yang tak ingin membuat anak-anaknya khawatir, tetapi tanpa mereka ketahui, Diandra bisa selemah ini ketika ia sendiri.
Jujur, Bik Darmi kasihan, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Nyonyanya sendiri yang memilih untuk hidup seperti ini. Terlihat baik-baik saja, padahal ia tersiksa.
.
Bersambung.
Jadi, jadwal up aku untuk Sister Contract itu pagi sama sore atau (malam) ya. Terimakasih sudah mampir :)