***
Sesuai janji, seusai sarapan lalu mandi, Giana membawa nenek Rahma menuju makam kedua orangtuanya. Selalu ada rindu setiap kali Giana menuju ke sana. Dadanya akan sesak karena menahan airmata. Sungguh, Gia ingin sekali menumpahkan sesaknya andai dirinya bisa. Namun, Giana t*i bisa melakukan itu, apalagi di depan neneknya.
“Kita beli Bunga dulu ya, Nek. Bunga kesukaan Mama,” ucap Giana ketika tak jauh dari gerbang makam ada penjual bunga. “Nenek tunggu di sini dulu,” pintanya.
Berlari kecil, Giana meninggalkan neneknya untuk membeli bunga yang sudah berbentuk bouqet. Lili putih yang selalu menjadi kesukaan almarhumah mamanya sudah ada di tangan. Usai mengucap terimakasih pada si penjual bunga, buru-buru Giana kembali berlari kea rah neneknya.
“Bunganya cantik,” komentar Rahma saat Giana menunjukan bouqet yang ia beli. “Untung ada yang jualan di sana ya, Gi. Tadi Nenek lupa untuk bawa bunga kesukaan mamamu,”
“Bibi yang di sana selalu jualan kok, Nek. Aku langganan,”
“Kamu langganan? Itu artinya kamu sering ke makam orangtuamu, Gia?” demi apa Giana tidak sengaja mengatakan itu. Mulutnya lemas karena membongkar rahasianya sendiri. Buru-buru Gia menambahkan agar neneknya tidak curiga, karena yang selama ini neneknya ketahui adalah ia yang jarang mengunjungi makam orangtuanya. Padahal kenyataannya justru sebaliknya.
Ke mana lagi Giana pergi usai membantu klien membereskan masalah selain ke tempat ini. Giana sering keluar masuk ke makam hingga penjaga makam pun mengenalnya. Penjaga itu juga yang membuat Giana tak bisa mengelak dari pertanyaan neneknya.
“Loh Mbak Gia? Perasaan seminggu yang lalu sudah berkunjung,” Pak Somat namanya. Penjaga makam yang telah lama mengenal Giana akibat terlalu sering menemui makam kedua orangtuanya. Giana tak sempat meminta Pak Somat untuk tetap diam saat neneknya menatap curiga. “Kamu benar-benar rutin datang ke sini rupanya,” lalu berucap dengan sangat lirih.
Giana pun menghela napasnya dengan berat. Tak ada jalan untuk membohongi neneknya lagi. Giana menyempatkan diri mengangguk pada Pak Somat sebelum kembali memperhatikan neneknya. “Kadang Giana rindu sama mereka, Nek,” ucapnya sambil tersenyum. Seolah beban di pundaknya sungguh tidak berarti.
“Dari kapan kamu bolak balik ke tempat ini, Gia?” Rahma betul-betul tidak menyangka cucunya sering mendatangi tempat ini. Padahal dirinya sendiri hanya datang setahun sekali. Itu pun tidak berlaku selama beberapa tahun ini lantaran sering sakit.
Rahma menggelengkan kepalanya. Melihat bagaimana penjaga makam tampak akrab pada Giana, Rahma yakin waktu berkunjung Gia tidak dapat dihitung dengan jari. Barangkali Giana melakukan rutinitas itu sejak sepuluh tahun yang lalu.
“Baru setahun ini, Nenek! Gia mana ada waktu sih Nek untuk datang ke sini,” jawab Giana penuh kebohongan. Bukan setahun melainkan sepuluh tahun ini. Sejak kedua orangtuanya terkubur, Giana selalu mendatangi mereka secara diam-diam. Banyak hal yang tidak bisa Gia ceritakan pada neneknya atau pun Gufta, sehingga makam kedua orangtuanya adalah pilihan. Namun, Giana tidak pernah memberitahu siapa pun apa lagi Nenek dan adiknya lantaran takut mereka khwatir.
“Nenek nggak usah khawatir, Gia ke sini karena nggak ada kerjaan aja. Masuk aja yuk, Nek,” tutur Giana mengalihkan perhatian neneknya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa agar neneknya tidak curiga dan mempercayai ucapannya.
Seperti yang ia lakukan selama ini, Giana selalu mencoba menyembunyikan rasa sakitnya seorang diri. Biarlah di mata Gufta dan neneknya tercinta, Giana tampak baik-baik saja.
“Itu makam Mama dan Papa. Ayo senyum Nek, nanti mereka sedih lihat Nenek cemberut,” kelakarnya.
Rahma menghela napas dengan berat. Memaksa Giana tidak akan berguna. Telah lama Rahma tahu bahwa cucunya memiliki watak yang keras kepala. Sekali itu menjadi rahasia baginya, maka selamanya akan menjadi rahasia.
Rahma tidak akan mengetahui rahasia itu sampai Giana sendiri yang bercerita. Rahma menganggukan kepalanya. Ia bukan teralihakan karena ucapan Giana, tetapi dirinya mengalah demi membuat cucu perempuannya itu merasa nyaman.
Lagi pula lebih makam kedua orangtuanya menjadi pelarian dari pada dunia malam yang kejam. Rahma seharusnya bersyukur karena sampai detik ini Giana tidak terjebak. Ia tampak kuat dan berdiri tegak. Rahma sangat yakin cucunya tak pernah menyentuh yang namanya alkohol sekalipun. “Ayo Gi,” balasnya dengan suara yang lirih.
Tak jauh dari gerbang, sampai lah keduanya di depan makam. Mati-matian Giana menahan airmatanya. Selalu seperti ini, Giana memaksa dirinya untuk menahan cairan bening itu agar tetap berada di tempat persembunyiannya. Sedangkan neneknya sudah beruraian airmata.
Tidak ada yang lebih menyakitkan selain kehilangan. Sesak rasanya bila mengingat kejadian Sepuluh tahun yang lalu. Meskipun sudah tua, tetapi sampai detik ini Rahma masih mengingat dengan jelas bagaimana pihak berwajib mengabarinya tentang kecelakaan maut yang merenggut anak menantunya.
Dalam sekejap mata kebahagian yang melengkapi mereka lenyap begitu saja sejak dokter mengumumkan waktu kematian anak dan menantunya. Tubuh tua Rahma barangkali masih sangup menopang dirinya sendiri waktu itu, tapi ia tak sanggup menguatkan cucunya yang tampak hancur tak bersisa. Semuda itu Giana dan Gufta harus kehilangan orangtua mereka. Gufta kecil mungkin mengerti sakitnya kehilangan, tetapi Giana remaja harus menerima segalanya tanpa dapat menolak.
Giana harus menanggung segala yang tersisa. Masa remaja yang penuh rasa manis hilang dalam waktu yang singkat. Giana terpaksa menerima beban yang seharusnya ditanggung orangtuanya. Siang malam Giana banting tulang hanya demi melangsungkan kehidupan mereka. Terlebih ketika pamannya merebut apa yang tersisa.
“Kenapa semua harus terjadi? Lihat lah Giana, Nak, dia sudah dewasa sekarang,” ratapan itu benar-bena menguji Giana. Masih dengan sekuat tenaga ia menahan segalanya. Giana tidak ingin menangis, ia tidak bisa menjatuhkan airmatanya di depan Nenek dan makam keuda orangtuanya.
“Putri sulung kalian sudah dewasa, dia kuat dan mandiri. Kalau bukan karena dia, ibu nggak akan sanggup melanjutkan hidup,”
“Nek, sudah jangan nangis,” pinta Giana. Ia mengusap punggung neneknya dengan penuh kasih sayang. Ia mungkin kuat menahan isakan dan kesedihan, tetapi neneknya pasti menderita karena harus kehilangan anak dan menantunya hingga tak sanggup menahan tangisnya.
Giana ikut bersimpuh di samping neneknya. Ia menatap dua makam yang saling berdampingan. Matanya terasa basah akibat ingin menangis, tetapi Giana tidak akan membiarkan tangis itu benar-benar pecah. Giana akan menahannya dengan sekuat tenaga sesakit apapun perasaannya. Giana sudah berjanji bahwa ia tidak akan menangis lagi sejak orangtuanya menyatu dengan tanah.
“Ma, Pa, semoga kalian tenang di sana. Gia hanya ingin kalian tahu bahwa Giana sangat mencintai kalian berdua,”
“Jangan khawatirkan kami di sini karena Gia akan berjuang sekuat tenaga untuk kelangsungan hidup kami,” seperti biasa, Giana akan mengatakan itu setiap kali ia mengunjungi makam kedua orangtuanya. Giana berharap, kedua orangtuanya tenang di alam sana. Giana tidak ingin menjadi beban untuk mereka.
Mendengar bagaimana Giana mengungkapkan harapannya, membuat Rahma semakin terisak sedih. Sungguh tegar hati cucunya karena tak juga menjatuhkan airmata. Seakan semua beban yang ditinggalkan benar-benar sanggup ia pikul, padahal Rahma tahu betul Giana tak pernah baik-baik saja sejak kedua orangtuanya dinyatakan telah meninggal dunia.
Mau tak mau Giana memikul beban itu. Giana rela menjadikan pundaknya yang ringkih menahan semua kesedihan sejak masih remaja. Kini, gadis itu sudah dewasa. Ia yang menjadi tulang punggung keluarga dan menyekolahkan Gufta.
“Semoga Mama dan Papa bangga atas apa yang aku usahakan selama ini,” bisikan itu menutup obrolan Giana pada batu nisan kedua orangtuanya. Giana mengusap satu persatu batu nisan mama dana papanya. Lalu meletakan bunga lili di sana. Diam-diam, Giana memanjatkan do’a, semoga Tuhan menyediakan tempat paling istimewa untuk malaikat tanpa sayapnya itu.
“Ayo pulang, Nek. Matahari semakin terik. Nggak baik untuk kesehatan Nenek,” ucap Giana sambil memapah neneknya. Rahma menurut saja, ia memang sedikit lelah akibat menangis tadi. Kepalanya pun agak pusing dan berkunang, tetapi Rahma tidak akan memberitahu Giana mengingat beban cucunya itu begitu besar.
***
Usai meninggalkan makam, Giana segera membawa neneknya pulang ke rumah sederhana yang mereka sewa. Giana menyadari kondisi neneknya tidak sebaik ketika mereka berangkat pagi tadi. Nek Rahma terlihat lemah dan pucat di mata Giana.
“Istirahat, Nek,” Giana membaringkan Rahma ke atas tempat tidur setelah mereka sampai di rumah. Giana pun sudah memberi segelas air putih untuk neneknya itu. Ia juga tak lupa memijit kaki tua neneknya tercinta. Dalam diamnya Giana sedikit menyesal telah membawa neneknya bereprgian cukup jauh. Terlebih itu adalah makam, tempat yang pasti mengandung banyak sekali kesedihan.
“Gi ponselmu bergetar. Angkat saja, Nenek nggak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan,” wajah tua Rahma tampak memaksakan senyumnya. Kesedihan akibat kehilangan membuat Rahma merasa letih. Ia tidak sanggup menahan kepedihannya.
“Biarin aja Nek, itu Aya,” balas Giana sekenanya. Sejak tadi Aya memang menghubunginya, tetapi Giana sengaja tidak mengangkatnya karena ingin menjaga neneknya yang mendadak lemas.
“Angkat aja. Siapa tahu penting,”
“Tapi Nek …”
Rahma mendelikan matanya agar Giana menurut. “Ya udah Gia angkat dulu. Tapi janji Nenek harus istirahat!” ujarnya. Rahma pun mengangguk setuju. Rasa lelah yang dia alami membuatnya mengantuk, sehingga tak lama setelah Giana keluar dari kamar, dia pun tertidur pulas.
Sementara itu, Giana berdecak sebal karena Aya mengganggu waktu liburnya. “Ada apa Ay?” tanyanya setelah mengangkat telepon Aya.
“Gama mau perpenjang kontak, Gi! Kamu harus tahu nominal yang dia tawarkan!” balas Aya sambil berteriak kesenangan. Namun, entah kenapa berita itu tidak membuat Giana senang. Ia justru merasa terbebankan, padahal tugasnya hanya menemani Gama ketika pernikahannya tiba.
“Urus aja dulu Ay, aku baru pulang dari makam bareng Nenek,” terangnya. Aya akan mengerti bila ia sudah berkata seperti itu.
“Ohhh sorry Gi, ya udah kamu istirahat aja. Nanti aku kabarin gimana perjanjiannya,” balas Aya.
Giana mengangguk singkat meskipun Aya sama sekali tidak melihatnya. “Terimakasih, aku tutup kalau gitu,” pamitnya. Setelah mendengar sahutan Aya, Giana segera memutus panggilan itu. Ia menghela napas berat. Baru kali ini dirinya plin plan. Sesekali merasa senang karena kan mendapatkan biaya tambahan yang pasti fantastis. Sekali juga merasa menyesal karena telah terlibat ke dalam rencana tak masuk akal ini.
Namun, Giana tahu dirinya tak mungkin bisa menolak lagi. Giana terlanjur mengiyakan permintaan Gama kemarin. “Semangat Gi! Semua demi masa depan Gufta!” serunya untuk diri sendiri.
Giana memutuskan untuk kembal ke kamar neneknya, tapi saat sampai di sana ia melihat neneknya sudah tertidur lelah. Sudut bibir Giana membentuk senyum manis. Ia membenarkan selimut neneknya terlebih dahulu sebelum beranjak dari sana.
.
.
Bersambung.