***
Giana mengangakan mulutnya. Gama memberi perintah tanpa persetujuan darinya. Seenak jidat lelaki di sebelahnya itu memutuskan sesuatu. Padahal Giana tak ingin berurusan dengan keluarga Dea lagi, sebab entah kenapa perasaan Giana tidak enak. "Tapi di perjanjian nggak kayak gitu, Pak Gama," protesnya. Membuat Gama menolehkan kepala.
Lelaki itu menarik sudut bibirnya membentuk senyum yang teramat tipis. "Aku akan memperpanjang kontrak. Bayaran akan jadi dua kali lebih banyak dan semua kebutuhanmu selama jadi Putri Pradipta akan aku penuhi," janjinya.
Namun, tetap saja hal itu tidak membuat Giana merasa senang. Ia tak ingin ikut campur terlalu jauh dalam sandiwara ini. Khusus untuk kasus Gama, Giana bagai tak sanggup menangani.
Giana menggeleng tegas. "Tapi aku nggak mau!" ujarnya.
"Kenapa?" tanya Gama tak mengerti. Semua baik-baik saja di matanya. Sandiwara mereka terlihat berjalan sangat lancar. Giana menguasai perannya dengan sangat tepat.
"Keluarga kekasihmu tampak aneh di mataku!"
Pupil mata Gama membesar. Apa yang Giana maksud sikap Dea? Sekali lagi senyum tipis ia perlihatkan pada Giana, membuat gadis berparas cantik itu curiga mengenai Gama yang sudah menyadari situasi.
"Maksudmu sikap Dea? Kamu tenang aja, Dea udah tahu kalau kamu bukan Kakak perempuanku. Dea sendiri yang mengusulkan untuk menyewa seorang Kakak perempuan," terang Gama.
Alih-alih Giana mendapatkan perasaan lega, dirinya justru semakin khawatir saja. Untuk pertama kalinya orang yang ingin ia bohongi justru yang paling mengetahui kebohongannya. "A ... Apa?" terang saja hal itu membuat Giana terkejut. Semakin lengkap kecurigaannya. Keluarga Dea tidak beres. Sesuatu pasti mereka sembunyikan dari Gama.
"Gimana sama orangtuanya? Mereka juga tahu?" tak sabar Giana ingin mengetahui kebenaran. Ia tidak percaya orang-orang yang sempay dirinya temui beberapa saat lalu adalah penipu juga.
Namun, Gama tampak menggelengkan kepalanya. Membuat Giana mengerutkan dahi dengan dalam. "Maksudmu?" tanyanya.
"Orangtua Dea nggak tahu soal ini. Tujuan kami adalah membuat lamaran ini berjalan lancar,"
Tidak! Entah kenapa Giana tak yakin akan jawaban Gana. Giana mencium kebohongan di sana. Ia curiga orangtua Dea juga mengetahui sandiwara mereka, tetapi kenapa masih saka setuju? Apa sebenarnya tujuan keluarga Dea menipu Gama? Apa karena hal ini pula yang membuat orangtua Gama tidak setuju Gama menikah dengan Dea?
Terlalu banyak pertanyaan dalam benak Giana, hingga tanpa sadar mobil yang terus bergerak membawanya kembali sampai ke rumahnya. Giana masih terdiam ketika benda beroda empat itu berhenti bergerak.
"Sedang apa kamu?" Gama menatap Giana yang tampak diam di temptanya. "Sana turun!" ujar lelaki itu.
Giana tampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Ia merasa sikap keluarga Dea benar-benar mengganggunya. Demi apa Gama tidak sadar? Giana yakin sebuah rahasia besar sedang mereka sembunyikan dari Gama.
"Kayaknya ...," Giana menggantungkan ucapannya. Dia sedang menimbang apakah harus mengatakan ini atau tidak. Melihat ekspresi dan sikap Gama, akhirnya Giana menolak untuk ikut campur. Ia menghela napasnya dengan berat, lantas membuka pintu dan keluar dari mobil lelaki itu.
"Terimakasih atas bantuannya hari ini," ucap Gama. Giana mengerjapkan matanya, tak percaya seorang Gama Pradipta mengucapkan kata itu padanya. Giana pikir Gama tak mengerti makna pertolongan, tetapi ternyata dirinya salah. Gama terlihat menusiawi bila seperti ini.
Giana tersenyum lembut. Ia mengangguk singkat. "Sama-sama. Soal kontrak yang ingin diperpanjang, minta saja ke Farel," balasnya. Bukan hanya karena uang yang Gama janjikan Giana menyanggupi, tetapi karena cinta yang tulus di mata Gama untuk perempuan bernama Dea.
Apapun urusan keluarga Dea. Apapun rahasia yang coba mereka sembunyikan dari Gama sungguj bukan urusan Giana. Tugasnya hanya membantu klien sebisanya.
Gama mengangguk singkat. Tanpa mengatakan apa-apa, ia menjalankan mobilnya. Meninggalkan Giana yang terpaku menatap kepergiannya. Giana mencoba untuk tidak peduli pada perasaan khawatir serta ragu yang menyelimuti hatinya. Berkali-kali ia tegaskan bahwa segala hal yang bersangkutan dengan Gama, jelas bukan urusannya.
"Pacar Mbak Gia?"
Giana menoleh cepat saat tiba-tiba saja pertanyaan itu terdengar di telinga. Gufta berdiri tak jauh darinya. Entah sejak kapan adik kesayangannya itu ada di sana. "Pacar?" kekeh Giana. Dari mana Gufta bisa mendapatkan pertanyaan seperti itu? Giana menggelengkan kepalanya.
"Bukan, teman." jawab Giana berbohong. Tak mungkin ia mengatakan bahwa Gama adalah kliennya. Gufta pasti akan memberinya pertanyaan lain.
"Apa iya? Tapi Mbak dandan secantik ini untuk makan malam sama dia," Gufta mengedikan dagunya beberapa saat setelah ia sampai tepat di depan Giana. Tubuhnya yang tinggi membuat Giana mendongak. Entah berapa tinggi tubuh Gufta, Giana yang sedang mengenakan sepatu hak tinggi saja masih harus mendongak untuk menatapnya.
"Iya, dia teman Mbak. Kenapa sih? Kok curigaan?" Giana menunjuk Gufta.
Gufta tersenyum tipis. Ia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Soalnya ini pertama kalinya Mbak Gia di antar sama cowok," ucapnya.
Memang benar, selama ini Giana tak pernah ingin diantar oleh kliennya. Biasanya, Giana lebih memilih naik bus untuk pulang ke rumah atau kembali ke kantor.
"Pernah ah, itu si Farel sering anterin Mbak pulang!"
"Ya bedalah! Bang Farel pacarnya Kak Aya," balas Gufta.
"Farel juga cowok," bela Giana.
"Hemm terserah Mbak aja, tapi sama yang ini aku pikir beda,"
Giana tergelak mendengar pendapat Gufta. Beda? Dari mananya? Namun, Giana mengangguk juga. Memang berbeda sebenarnya, Farel adalah bosnya di kantor, sementara Gama adalah kilennya.
"Anggukan apa itu, Mbak? Benar kan cowok tadi pacar Mbak Gia?" selidik Gufta.
"Astaga bukan! Dia cuma temen. Barusan lamaran ke rumah orangtua ceweknya. Udah ah yuk masuk, gaun Mbak yang tipis bikin kedinginan." Giana berlalu dari hadapan Gufta. Ia melangkah pasti menuju pintu rumah sederhana yang mereka sewa.
Gufta mengekor di belakangnya setelah menatap punggung kakaknya yang selalu terlihat tegar. Ingin rasanya Gufta merengkuh punggung itu, menenangkan bahwa suatu hari nanti ia sanggup merebut apa yang pernah menjadi milik mereka. Rumah misalnya.
"Mbak!" panggil remaja berumur Lima Belas tahun itu.
"Iya?" Giana menoleh padanya.
Lama Gufta terdiam. Lagi-lagi rasa penasarannya tentang pekerjaan Giana muncul ke permukaan, tetapi Gufta urung menanyakan itu. Ia pikir salah bila memaksa Giana. Gufta sadar selama ini kakaknya selalu berusaha menyembunyikan hal itu. "Selamat istirahat," ucapnya pada akhirnya.
Dari pada melihat raut kesal yang coba kakaknya sembunyikan setiap kali ia bertanya soal pekerjaan, Gufta lebih senang melihat senyum manis di bibir kakaknya. Hal itu membuat Gufta tenang sekaligus senang. Gufta percaya, Giana tidak mungkin merendahkan dirinya serendah-rendahnya hanya demi mendapatkan uang.
Gufta percaya pada Giana, meskipun seringkali rasa ingin bertanya seperti tadi menyerangnya.
"Kamu juga dek. Istirhat," balasan Giana membuat Gufta tersenyum. Ia pun menganggukan kepalanya.
Setelah itu, Giana masuk ke dalam. Begitu pula dengan Gufta. Remaja itu membuntuti Giana sampai di ruang tamu saja. Kemudian ia masuk ke kamarnya sendiri setelah memastikan neneknya sudah tidur terlebih dahulu.
Sementara itu, Giana bersiap untuk mandi. Rumah sederhana ini hanya memiliki satu kamar mandi saja. Terletak di luar kamarnya, tak jauh dari dapur sana. Namun, masih berada di dalam rumah.
Selesai mandi, Giana mengintip kamar neneknya sebentar untuk memastikan neneknya tertidur pulas atau tidak. Senyum tulus terlihat di wajah cantik Giana saat melihat mata neneknya terpejam rapat dengan napas yang teratur. Pelan-pelan Gia kembali menutup pintu kamar neneknya, lalu meninggalkannya untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Giana mengistirahatkan tubuhnya di tempat tidur. Ia mencoba memejamkan mata agar sedikit lupa pada setiap masalahnya. Jujur, hanya Giana yang tahu betapa sulitnya ia tertidur, sebab setiap kali memejamkan mata, bayang-bayang Sepuluh tahun yang lalu terus saja menghantuinya. Membuat Giana sulit lupa. Tiada jeda menyakitinya. Padahal sudah Sepuluh tahun berlalu.
"Mama, Papa, yang tenang di sana. Kami baik-baik aja di sini," kata-kata itu selalu menjadi mantra bila Giana mengalami kesulitan dalam tidurnya. Namun, tak selalu menjadi obat untuk mengundang kantuknya. Apalagi saat ini tak hanya bayangan orangtuanya yang memenuhi benaknya, tetapi juga bayangan seorang Gama.
Entah kenapa Giana menempatkan lelaki itu dalam daftar seseorang yang harus ia khawatirkan. "Apa benar Dea cinta sama Gama?" tanyanya pada diri sendiri. Meskipun sudah memperingatkan diri berkali-kali untuk tidak peduli, tetapi Giana merasa tidak bisa. Sesuatu seolah mendorongnya agar mencaritahu semuanya. "Untuk apa?" tanyanya sambil menghela napas dengan berat.
Untuk apa dirinya mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi? Gama tidak mungkin percaya pada firasatnya. Gama percaya pada Dea beserta orangtua perempuan itu. Sementara Giana tidak. Hidup bertahun-tahun dalam kesengsaraan membuat Giana selalu waspada. Membaca gerak gerik seseorang menjadi kebiasaannya. Giana akan gelisah setiap kali ia menemukan sesuatu yang mengganjal hatinya, seperti saat ini.
Tck.
Namun, ini benar-benar bukan urusannya. Gama pasti marah bila ia mengatakan kecurigaannya. Gama tidak akan pernah percaya padanya.
"Udah nggak usah begok! Hidupmu sudah terlalu sulit, Gi. Nggak perlu ikut campur urusan Gama," bisiknya.
Malam ini, Giana benar-benar berusaha menemukan kantuknya. Syukurlah, meskipun sudah sangat larut, akhirnya Gia tertidur juga. Giana baru bangun pada pagi keesokan harinya. Itu pun karena mendengar ketukan pintu dari neneknya.
"Iya, Nek. Ini Gia udah bangun," balas Gia saat neneknya memanggil namanya.
"Sarapan Gi, nenek udah masak tadi,"
Pupil mata Giana membesar. Ia meringis saat melihat jam berukuran kecil yang berdiri tegak di atas nakasnya menunjukan pukul setengah Delapan pagi. Astaga! Biasanya Giana bangun pukul Enam pagi untuk membuatkan Gufta dan neneknya sarapan.
Giana merasa bersalah karena tugas itu diambil alih oleh neneknya. Buru-buru ia bangun untuk mencuci muka, lalu keluar kamar menuju dapur yang sekaligus bersatu dengan ruang makan minimalis mereka. "Maaf aku kesiangan," ucapnya pada Nek Rahma.
Wanita tua itu hanya tersenyum singkat. "Kamu pasti lelah," balasnya.
Giana menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, Nek. Gufta mana?" sengaja Giana mengalihkan pembicaraan.
"Sudah berangkat. Tadi cuma berpesan pulang telat,"
Giana mengerutkan dahinya. Akhir-akhir ini Gufta sering sekali pulang terlambat. "Dia les lagi, Nek?" tanya Giana. Gufta selalu mengabari ada les bila pulang terlambat. Namun, biasanya jadwal itu hanya sesekali dalam seminggu.
"Nenek juga nggak tahu. Katanya ada pelajaran tambahan dari sekolah secara gratis,"
"Gratis?"
Kenapa Giana mulai curiga? Sekolah tempat Gufta menimba ilmu tak mungkin mengadakan pelajaran tambahan secara gratis. Sekolah elit selalu saja memiliki biaya tambahan bila ingin menambah kecerdasan lewat pelajaran ekstra.
Giana kenal pembohong yang seperti ini. Ia yakin Gufta sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Nanti akan Giana cari tahu. Gufta akan mendapatkan pelajaran darinya bila berani membohonginya.
"Ayo sarapan, Nek. Hari ini aku libur,"
"Kamu libur? Wahh bagus, Nenek jadi ada temannya," Rahma tampak senang mendapati Giana libur bekerja.
Giana mengangguk riang. Ia sudah memberitahu Aya bahwa hari ini dirinya ingin libur. Untung saja tidak ada klien. Sehingga semua lebih mudah.
"Nenek mau apa hari ini? Nonton? Jalan-jalan?" tanya Gia antusias. Namun, neneknya menggelengkan kepala.
"Kalau kamu mau temani Nenek ke makam kedua orangtuamu ya, Nenek rindu mereka," seperti biasa, Rahma akan sangat berhati-hati bila sudah menyangkut anak dan menantunya. Giana akan sedih bila kembali diingatkan lagi. Namun, rindu yang ia rasakan saat ini terlalu menggebu. Rahma betul-betul ingin bertemu anak dan menantunya yang telah lebih dulu berbaring di peristirahatan terakhir mereka.
"Baiklah Nek, Giana juga rindu sama Mama dan Papa. Setelah sarapan dan mandi, kita langsung ke makam ya, Nek!" balasan Gia membuat Rahma menghela napas dengan lega. Syukurlah, cucunya mengerti.
Rahma mengangguk setuju. "Ayo sarapan dulu, Gi. Nenek masak makanan kesukaanmu," ucapnya.
"Makasih, Nek. Tapi lain kali nggak usah masak ya, biar Gia aja,"
Bukan karena tak senang dimanjakan dengan masakan neneknya, tetapi Giana tak tega. Tubuh tua neneknya sudah saatnya istirahat. Tak perlu lagi melakukan apa-apa selain makan dan tidur. Biar semua Giana yang kerjakan.
"Nenek cuma mau bikinin kamu sarapan yang enak, Sayang," sahut Rahma sambil mengambilkan lauk untuk Giana.
"Jangan khawatir, Nenek bisa kerjain ini. Nenek juga harus banyak gerak biar badannya nggak pegal,"
Alasan yang sama yang selalu Rahma berikan agar Giana tak merasa khawatir. Rahma hanya ingin melakukan sesuatu agar tak selalu merepotkan kedua cucunya. Tubuh tuanya hanya sanggup memasak saja. Ia tak lagi bisa bekerja untuk menopang perekonomian mereka. Rahma merasa kasihan bila harus dibebankan pada Giana seorang.
"Nggak boleh pokoknya, tugas Nenek hanya harus sehat saja. Jangan sakit, nanti Gia sama Gufta gimana kalau Nenek sakit?" ketegasan Giana dalam menjaga Rahma memang tak pernah main-main.
"Iya, Nenek akan selalu sehat Gi. Kamu makan yang banyak ya!"
"Ini badan kamu kurusan, Nenek nggak suka!" ujar wanita tua itu.
Giana terkekeh. Ia mengangguk berulang kali. Lalu sarapan dengan lahap. Memang, masakan neneknya tiada tandingan. Persis seperti masakan mamanya dulu. Jujur, setiap kali neneknya masak, Giana merasa sedih sekaligus bahagia. Cita rasa yang ada pada masakan neneknya selalu mengingatkan Giana pada almarhumah mamanya.
"Ini enak, Nek," komentar Giana sambil tersenyum. Ia memuji sekaligus mengingat mamanya tercinta.
.
.
Bersambung.