Bukanlah musuh yang kutakuti. Melainkan perasaan cinta ini yang diam-diam masih menginginkanmu untuk selalu di sisi. Sofi menunggu dengan sabar pengobatan yang akan dilakukan oleh Ayahnya. Setelah mendaftar dan mendapatkan nomor urut, dia duduk dengan gelisah di salah satu kursi pada ruang tunggu. Jujur saja saat ini banyak sekali yang dia pikirkan. Mulai dari bagaimana tentang kesembuhan penyakit Ayahnya bahkan sampai nominal yang harus dia keluarkan untuk biaya pengobatan kali ini. Apakah uang yang dia bawa cukup, atau mungkin bila tidak cukup Sofi akan mengurangi jumlah obat sang Ayah agar sesuai uang yang dia bawa. "Nanti kalau nggak ada uang, obatnya jangan ditebus dulu ya Mbak," ucap sang Ayah. Sofi yang sejak awal menundukkan kepala, mulai menatap wajah Ayahnya. Pada bagian

