Bab 3. Berbagi Tidak Membuatmu Kekurangan

1177 Words
Terkadang keadaan sering kita jadikan kambing hitam ketika apa yang diinginkan tidak tercapai.   Sedikit gugup, Sofi mencoba untuk fokus melakukan pelayanan semampu yang ia bisa. Mulai dari mencoba ponsel rusak yang sudah diganti baru itu di depan Nevan, sampai-sampai membantu laki-laki itu untuk memindahkan nomor telepon penting ke dalam ponsel barunya itu. "Sudah semua ya Mas." "Oke. Udah nggak rusak lagi kan," senyumnya lebar ketika menerima ponsel barunya dari Sofi. "Besok saya ke sini lagi membawa dus lamanya," sambung Nevan menjelaskan. Sofi di sampingnya mengangguk. Melirik Nevan dari sudut matanya. Laki-laki itu nampak puas atas pelayanan yang diberikan oleh Sofi beserta teman-teman. Karena terkadang pembeli bukan hanya mempermasalahkan tentang harga, namun juga kualitas pelayanan. Percuma bila suatu toko menjanjikan harga murah, namun pelayanannya nol. Lebih baik harga tinggi. Tetapi kualitas pelayanan terjamin. "Terima kasih, Mbak." "Panggil Sofi aja, Mas." Senyum Sofi. "Iya, Mbak Sofi. Terima kasih," ucap Nevan sekali lagi. "Nggak diminum dulu Mas," tegur Sofi ketika ia melihat gelagat Nevan sudah akan bergerak untuk pergi. "Ah, sudah. Kembung saya banyak minum," jawabnya sambil menepuk-nepuk bagian perutnya. Sofi mendadak diam, dia melihat Nevan membuka dompet hitamnya yang laki-laki itu keluarkan dari celana pendek yang kebetulan ia pakai. "Buat Mbak Sofi sama teman-temannya," ucap Nevan sambil menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan ketika ia menyalami Sofi. "Ah, nggak usah Mas. Jangan begitu. Pelayanan kami bukan untuk uang. Kami tidak dipekerjakan seperti itu," tolak Sofi. "Nggak papa, hanya sedikit. Untuk makan sama-sama," ucap Nevan dengan tatapan memberikan kode kepada Rama dan Lina yang berdiri di balik meja kasir. Sebelum Sofi menolak uang itu, Nevan sudah lebih dulu pergi. Melambai sejenak kepada Rama dan Lina sebelum tubuhnya berjalan pergi keluar dari outlet mereka. "Uwwwoo ... Rezeki di hari senin. Udah sepi, terus disuruh lembur. Kan lumayan dapat rezeki dari Tuhan," cengir Rama. Laki-laki itu langsung mengambil alih uang tersebut. Menghitung jumlahnya yang ternyata berjumlah 300ribu. "Mau pesan makan apa, Neng?" goda Rama pada Lina. "Apa aja, Bang. Yang penting makan," "Kalau Neng yang ini mau makan apa?" tanya Rama pada Sofi yang sudah turut merasakan kebahagiaan anak buahnya. Mungkin bagi orang kaya, uang sejumlah 300 ribu tidak ada artinya. Tetapi bagi Sofi dan kawan-kawan, ditanggal tua seperti ini, uang dengan jumlah nominal tersebut bisa menyambung hidup mereka. Setidaknya pada tanggal-tanggal rawan akan gizi buruk bisa teratasi. "Apa aja. Tapi jangan dihabiskan. Sisakan Ferdy juga besok. Itu kan customer dia kemarin. Setidaknya dia pun juga punya andil di sini," nasihat Sofi yang diterima begitu baik oleh Rama dan Lina. Kedua anak buahnya itu tidak ada yang menolak usul baik tersebut. Karena bagi mereka rezeki datangnya tidak bisa diduga. Tinggal bagaimana mereka mensyukuri semuanya. *** Tepat jam 10 malam, Sofi baru sampai  rumah. Ditangannya ada setengah lusin donat kesukaan kedua orang tuanya serta adiknya. Walau rezeki yang dia dapatkan hari ini tidak seberapa, namun dia tidak pernah lupa akan keluarganya di rumah. "Des, nih Mbak bawa donat," panggil Sofi. Adiknya yang baru keluar dari pintu kamar, langsung tersenyum bahagia. Berkumpul bersama Ayah, Ibu serta kakaknya. "Mbak udah gajian ya? Desi minta uang jajan dong Mbak. Uang Desi udah habis untuk foto kopi soal kemarin," rengek Desi. "Belum Des, kan kamu tahu Mbak gajian selalu diakhir bulan. Kalau satu bulan itu ada 30 hari, ya Mbak gajiannya ditanggal 30. Kalau ada sampai tanggal 35, mungkin perusahaan Mbak akan menggaji karyawannya ditanggal itu," ujar Sofi yang begitu bahagia melihat ketiga keluarganya memakan donat itu dengan lahap. "Nanti kalau udah gajian, lebihin kasih ke Papa ya 100 ribu. Soalnya sabtu besok Papa ada undangan sunatan. Itu loh, anaknya Om Alan sunat. Papa nggak enak kalau nggak datang. Kamu kan tahu gimana Om Alan baik banget sama keluarga kita," Sofi diam. Hatinya terasa sakit hanya karena mendengar permintaan Ayahnya. Bukan karena dirinya tidak ikhlas dijadikan tulang punggung keluarga. Tapi Ya Tuhan, gajinya saja belum masuk ke dalam rekening. Tetapi pengalokasian dari uang itu sudah mengantri untuk dibagi-bagi. "Iya, Pa." sahut Sofi lemah. Kedua kakinya melangkah masuk ke dalam kamar. Dia takut bila semakin lama Sofi berkumpul bersama keluarganya, kalimat tidak pantas akan keluar dari bibirnya. Uang lagi, uang lagi. Apa isi pikiran kedua orang tuanya hanya uang? Setelah merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang ada di dalam kamarnya, pikiran Sofi melayang jauh. Membayangkan kapan penderitaan ini berakhir? Dia juga ingin seperti yang lainnya. Menikmati uang gajiannya untuk kepentingan pribadinya. Bukan hanya untuk keluarga. Tetapi apa daya, Sofi masih tidak dilepas oleh kedua orang tuanya. Dulu Sofi sempat berpikir ingin ngekos jauh dari keluarganya. Namun hati kecilnya kembali menolak. Kalau baru seperti ini saja dia meninggalkan orang tuanya, apa kabarnya dulu perjuangan Ibunya dalam melahirkan dia? Ini belum seberapa. Uang yang setiap saat Sofi berikan belum bisa mengganti semua cinta, perjuangan, dan kasih sayang kedua orang tuanya. Tapi apakah Sofi akan terus tersiksa seperti ini? Ketika ide muncul di otaknya, Sofi menyalakan ponselnya. Membuka laman pencarian untuk mengetahui info harga sebuah ginjal. Iya, bila tidak ada jalan lain dia ingin menjual salah satu ginjalnya saja. Siapa tahu bisa meringankan beban hidup keluarganya. "70-90 juta. Cuma segitu?" gumam Sofi. Rata-rata kisaran harga menjual salah satu ginjal di Indonesia yakni tidak seberapa. Namun ketika Sofi membuka laman lain, di sana ditulis bila menjualnya di luar negeri harganya pun berbeda. "Di Malaysia 1,5M sampai 1,8M. Ini lumayan juga. Sisa uangnya bisa disimpan untuk biaya kuliah Desi," gumam Sofi. "Mbak lagi ngapain?" tegur Desi yang masuk tiba-tiba ke dalam kamar. Sofi langsung menutup laman itu, tersenyum ke arah Desi yang terlihat bingung. "Nggak papa, cuma lagi mikir aja," jawabnya tak bermaksud membohongi Desi. Gadis SMA itu terlihat tidak yakin dengan jawaban Sofi. Kemudian dia duduk di atas ranjang miliknya, sembari menatap Sofi lekat. "Mikirin siapa, Mbak? Pacarnya ya?" "Pacar?" ulang Sofi. "Iya. Biasanya kan gitu. Aku baca disosial media, perempuan yang melamun di kamar biasanya terkena syndrom jatuh cinta. Benar nggak?" Bibir Sofi meringis malu mendengar pertanyaan Desi. Syndrom jatuh cinta dari mana? Sedangkan dia punya pacar saja tidak. "Siapa lagi pacar Mbak sekarang? Kaya nggak? Kan Mama maunya anak orang kaya," ledeknya. "Mau dia anak orang kaya atau anak orang miskin, yang penting menurut Mbak dia anak orang. Kalau anak setan siapa yang berani? Emang kamu mau punya Kakak ipar mirip setan. Cukup orang tua kita aja yang kelakuannya mirip setan kredit. Yang lain jangan," kekeh Sofi menggoda adiknya. "Idih, dasar Mbak durhaka. Bilang Mama sama Papa setan kredit." "Makannya kamu jangan sampai kayak Mbak nanti ketika udah kerja. Mudah-mudahan kamu nggak merasakan hal yang sama. Cukup Mbak aja yang merasakan begini," lirih Sofi. Desi yang tidak mengerti maksud dari kata-kata Sofi hanya bisa diam. Namun tiba-tiba saja kebisuan di antara mereka dipecah dari suara dering ponsel Sofi. Nomor yang tidak dia kenal muncul pada layarnya. "Siapa ya? Setengah 11 malam telepon," ucap Sofi. "Angkat coba." "Halo ..." "Halo, Sofi." "Iya, saya Sofi. Ini siapa ya?" "Saya Nevan. Ini nomor saya. Kamu bisa save. Besok kamu ada di toko?" "O ... Oh ... Mas Nevan. Iya besok saya ada. Saya masuk pagi," lirik Sofi pada Desi yang terlihat penasaran. "Nanti ada supir saya yang bawa dus serta aksesoris ponsel yang lama. Tolong kamu bantu ya." Hening. Sofi hanya diam mendengarkan sambil mencermati. Kalimat penjelasan dari Nevan memberikan satu kesimpulan, berarti besok laki-laki itu tidak datang ke tempatnya. "Halo, Sof. Kamu dengar saya?" Saya selalu dengar kata-kata Mas Nevan. Tetapi Mas Nevan tidak pernah dengar jeritan hati saya yang merasa kecewa. Batin Sofi. _____ Continue Taplove dan komen jangan ketinggalan. BTW... yang udah taplove, sekali aja. Jangan berulang kali
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD