Rasa itu tidak pernah salah dalam mengeja cinta. Tetapi rasa sering kali keliru dalam memperhitungkan luka.
Pagi-pagi Ferdy sudah disuguhkan wajah cemberut dari Sofi. Bertugas shift jaga pagi berdua dengan store headnya itu membuat laki-laki 23 tahun ini mati kutu.
Mau melakukan apa saja ditatap salah oleh Sofi. Padahal dia tidak tahu apa-apa mengenai perkara isi hati Sofi yang kesal.
"Biar gue aja yang ngepel sama nyapu, Mbak."
"Hm ...."
Laki-laki itu semakin kikuk atas jawaban singkat Sofi. Di dalam gudang, Ferdy bertanya pada kedua temannya yang lain melalui pesan singkat mengenai keanehan Sofi pagi ini.
Biasalah, perempuan di akhir atau awal bulan emang moodnya suka berubah. Itu tanda-tanda mau kedatangan tamu.
Jawaban dari Lina sangat masuk akal. Memang Ferdy akui perubahan mood perempuan biasanya terjadi atas dua faktor, yakni karena laki-laki atau karena memang tamu bulanan mereka.
Takut disemprot omelan dari Sofi, Ferdy sengaja menghindar. Ketika ia selesai membersihkan outlet mereka, membuka rolling door, Ferdy langsung standby berdiri di depan. Padahal pagi itu belum ada satu pengunjung mall pun yang datang. Tetapi dia lebih memilih menghindar.
Dari kejauhan Ferdy melihat seorang bapak-bapak paruh baya berjalan menuju outletnya. Membawa sebuah tas berlogo tokonya yang berwarna merah menyala.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Ferdy.
"Pagi Mas. Anu, itu saya disuruh bawa ini ke sini," tunjuknya pada dus ponsel yang ada di dalam tas tersebut.
Ferdy mengambil dus ponsel tersebut, membaca invoice yang tertera di sana.
Merk ponsel terbaru tertulis di dalamnya dengan mode pembayaran debit BCA. Mata Ferdy langsung melirik nama sales serta nama customer yang tercetak.
Namanya ... Ferdy.
"Oh, ini miliknya Mas Nevan ya?" tanya Ferdy langsung mengingat kejadian pada waktu sabtu kemarin.
"Iya, Mas. Miliknya Bapak Nevan."
Tanpa pikir panjang Ferdy langsung membawanya masuk ke dalam toko.
Sofi yang masih duduk di belakang meja kasir menatapnya curiga. "Apaan tuh?"
"Ini Mbak, dusnya ponsel yang kemarin ganti baru. Miliknya Mas Nevan."
Nevan ...
Sofi mengusap wajahnya gusar. Dari tadi moodnya tidak menentu karena sosok itu. Sosok Nevan yang baru dua kali dia temui tetapi benar-benar membuatnya terhipnotis.
Padahal Sofi sendiri tahu, semua yang Nevan lakukan tidak sama sekali bertujuan untuk menggodanya. Tetapi mengapa hatinya malah tergoda?
Memang selalu begini menjadi seorang perempuan. Ada laki-laki yang mengejar-ngejar untuk dicintai, malah diabaikan. Tetapi perempuan malah sering kali mengejar-ngejar cinta laki-laki yang tidak peduli padanya.
Lalu ketika rasa kecewa yang didapat, pasti satu kalimat sama diucapkan hampir oleh seluruh perempuan Indonesia.
Bila semua laki-laki sama saja!!
"Ya udah, layanin." Jawab Sofi sedikit membentak.
Ferdy mencoba sabar. Dia melakukan apa yang Sofi perintahkan. Mengganti dus lamanya dengan dus baru. Tetapi aksesorisnya masih menggunakan yang lama. Karena yang rusak hanya ponselnya saja.
Setelah pertukaran barang itu Ferdy juga membuatkan surat penukaran barang sesuai prosedur. Dia mengabaikan Sofi yang terus saja cemberut di sampingnya.
"Mbak kenapa sih?" tanya Ferdy ketika dia menunggu hasil surat itu diprint.
"Nggak papa."
"Takutnya gue punya salah sama Mbak."
"Nggak kok," jawabnya singkat tanpa ingin dilanjutkan.
Akhirnya Ferdy diam kembali. Menyerahkan surat penukaran serta aksesoris lama dan dus ponsel barunya.
"Mbak, KTPnya mas Nevan udah belum?" tanya Ferdy.
"Eh ... belum," sahut Sofi kaget.
Dia mencari di laci meja kasir, dan menemukan KTP Nevan di sana.
Nevan Byantara, 28 Oktober 1987. Agama Islam, dan status single. Tinggal di perumahan yang letaknya tak jauh dari mall ini. Itu yang Sofi tahu.
"Ini Pak, KTPnya Mas Nevan," ucap Sofi sambil memberikan KTP tersebut yang masa berlakunya sudah lewat. Yakni Oktober 2017.
"Terima kasih, Mbak. Pasti ini Mbak Sofi ya. Tadi Bapak Nevan bilangnya saya harus ketemu Mbak Sofi. Soalnya Mbak Sofi yang paling tahu masalah ini. Tapi ternyata Mas nya yang melayani,"
Tertusuk tepat di hati Sofi. Kalimat yang diucapkan Bapak itu sangat sederhana. Tapi sungguh luar biasa menyakitkan.
Harusnya dia yang sudah berjanji dengan Nevan akan melayani ketika supirnya tiba malah ia tinggal berpangku tangan saja. Hanya karena bukan Nevan yang datang, mood Sofi langsung hancur. Padahal sekali dia berjanji sudah seharusnya Sofi tepati.
Apalagi sebagai pekerja yang memberikan pelayanan jasa sudah seharusnya dia bisa membedakan mana pekerjaan dan mana masalah hati.
Jika sudah seperti ini terlihat sekali Sofi sama sekali tidak dewasa dalam bersikap.
"Ah, iya Pak. Saya Sofi. Bilangin Mas Nevan terima kasih banyak."
"Sama-sama, Mbak."
Selepas Bapak itu pergi, Ferdy tertawa geli melihat wajah Sofi yang cemberut kembali. "Tuh, dengerin Mbak. Mbak sendiri kan yang kena tegur. Makanya jangan cemberut aja. Senyum dikit gitu, siapa tahu ada salah satu pelanggan nanti jadi suami Mbak,"
"SIAPA?" Tanya Sofi galak.
"Ya siapa tahu Mas Nevan jadi suami Mbak. Kan ganteng tuh, impian perempuan jaman sekarang. Suka yang brewokan manja gitu. Hahahaha. Efek kalau nyapu rumah nggak bersih," sindir Ferdy masih dengan tawa gelinya.
"Bisa syukuran 7 hari 7 malem gue kalau Nevan mau jadi suami gue."
"Aamiin."
***
Semua orang bersorak bahagia karena tiba-tiba saja gajian masuk sebelum akhir bulan. Mungkin karena akhir bulan adalah tanggal merah. Maka mereka-mereka yang adanya di kantor pusat mencoba mengerti karyawan lapangan seperti mereka ini.
"Kantor tahu aja ya, mau liburan, gaji dibayar duluan." Tawa Lina geli.
"Gue sih nggak nungguin gaji. Gaji mah setiap bulan juga bakalan masuk ke rekening. Yang gue tungguin itu bonus. Bonus gue yang bulan lalu jualan banyak apa kabarnya ya?" celetuk Rama.
"Bang Rama, kalau bonusnya gede jangan lupa traktiran ya," seru Lina girang.
"Beres. Tapi bonus Sofi yang lebih gede deh. Secara outlet kita ini achieve target penjualan terus. Bonusnya storehead juga pasti gede," goda Rama melirik Sofi yang sejak mereka datang sampai sore begini, wajahnya masih tertekuk saja.
"Kenapa sih Mbak?" tanya Lina.
"Kalian kenapa pada senang gajian masuk lebih cepat? Pikirkan bulan depan. Bisa-bisa belum masuk tanggal 20 udah kekurangan gizi semua."
"Oh iya, benar juga." sahut Lina paham maksud Sofi.
"Itu dia. Jangan langsung bahagia ketika mendapatkan rezeki. Tapi dipikirkan bagaimana mengelolanya untuk bisa tercukupi semua."
Rama dan Ferdy kompak menepuk tangan mereka. Kata-kata Sofi barusan sangat-sangat bijak didengar oleh telinga mereka.
"Siap, Ibu Sofi," goda Rama.
Namun ketika mereka berempat sibuk bercanda-canda bahagia mengenai gaji mereka yang masuk tanpa diduga-duga. Tiba-tiba muncul sosok Nevan di depan outlet mereka. Tersenyum ke arah mereka semua dengan sebuah bingkisan di tangan kanannya.
"Buat kalian," ucapnya sambil menyerahkan bingkisan itu kepada Lina yang tersenyum paling lebar.
"Apa nih?" seru gadis belia itu.
Ternyata ketika dia intip, ada berbagai macam roti dalamnya. Mulai dari yang bertabur abon, hingga yang digulung dengan daging didalamnya.
"Wow ... Makasih banyak Mas Nevan."
"Bagi-bagi woy," sahut Rama tak mau kalah.
Mereka bertiga seperti anak kecil yang berebut makanan. Nevan yang melihatnya tidak mampu menutupi senyumannya.
Tetapi laki-laki itu segera sadar bila Sofi tidak ikut berebut di sana.
"Kamu nggak suka?" tegurnya pada Sofi.
"Lagi PMS dia Mas, jadinya jaga makan. Takut gemuk," sindir Ferdy yang diberi pelototan tajam dari Sofi.
"Oh, begitu. Memangnya ngaruh?"
"Ngaruh kali,"
"Jangan didengerin, Mas. Mereka sukanya bercanda aja,"
Sofi pura-pura mengabaikan laki-laki yang berdiri di hadapannya. Mereka hanya terbatas meja kecil yang menghalangi kedekatan keduanya.
"Terima kasih untuk yang tadi pagi," suara Nevan tiba-tiba.
Sofi kikuk. Andai Nevan tahu bukan dia yang melayani, pastinya laki-laki itu akan kecewa.
"Walau bukan kamu yang melayani langsung. Tapi kamu sudah membentuk tim tokomu begitu hebat," sambung laki-laki itu.
"Asik-asik, kita dipuji Mas Nevan," kekeh Rama mengintrupsi pembicaraan Nevan dan Sofi.
Nevan ikut tertawa mendengarnya. Dari sudut matanya dia melirik Sofi yang juga melirik ke arahnya.
"Kamu free malam ini?"
"Sa ... Saya Mas?" jawabnya kikuk.
"Iya. Saya mau nonton. Tetapi tidak ada temannya." ajaknya sambil menatap Sofi lekat dengan salah satu tangannya mengusap bagian bibir bawahnya.
Kedua mata Sofi langsung terbuka lebar. Apa ini yang dinamakan karma?
Dia menyukai Nevan, dan laki-laki itu membalas dengan menyukainya juga
"Boleh," jawab Sofi dengan senyum manisnya.
Pikir perempuan itu, kapan lagi merasakan menonton berdua dengan laki-laki tampan seperti Nevan?
____ Continue.
Sekali taplove, dan komen berkali-kali